
Habis sarapan Mina pamit pada ketiga makhluk yang lebih tua darinya itu. Ia cepat-cepat naik ke kamar dengan alasan mau siap-siap ke kampus, padahal mau menghindar dari Foster yang terus memberinya tatapan mematikan sejak tadi.
Mina tidak sadar Foster mengikutinya dari belakang.
"Lihat dia, sepertinya adikmu tidak akan selamat ditangannya." kata Matthew menunjuk Foster yang sudah berada di tengah-tengah anak tangga.
"Biarkan saja. Selama dia berjanji aku setia dan tidak pernah menyakiti Mina, aku akan merestui mereka."
"Bagaimana kalau dia menyakiti adikmu?"
"Tentu aku tidak akan segan-segan menghabisinya."
Matthew terkekeh. Iren tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Wajar sih. Kalau dia jadi wanita itu juga ia pasti akan melakukan hal yang sama. Apalagi Iren adalah tipikal seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya.
"Aku akui adikmu memang lucu. Dan aku bisa mengerti kenapa lelaki balok itu tergila-gila padanya. Semua yang ada dalam dirinya adalah impian banyak laki-laki." kata Matthew lagi.
"Termasuk dirimu? Kau juga tertarik pada adikku?" Iren memicingkan mata menatap Matthew. Pria itu hampir tersedak mendengarnya.
"Tidak! Aku tidak suka bersaing dengan sahabatku sendiri. Karena dia adikmu, aku akan memperlakukannya seperti adikku juga. Lagian dimataku dia adalah seorang bocah." balasnya langsung. Iren terkekeh.
"Aku hanya bercanda." gumamnya. Matthew kan hobinya sama wanita yang sepadan, bahkan yang lebih tua darinya pun dia mau.
Sementara itu dilantai atas, ketika Mina hendak menutupi pintu kamarnya, seseorang menghentikan dia dan ikut masuk ke dalam kamar.
"Kak Foster?" matanya melotot lebar. Ia ingin menutup pintu itu cepat-cepat tapi lagi-lagi dirinya kalah. Pria itu jauh lebih kuat, pastinya.
Dengan sekali sentak Foster sudah berhasil masuk ke dalam kamarnya, bahkan mengunci pintu dari dalam.
"Kakak, kok masuk ke sini sih? Gimana kalo kak Iren ..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, lelaki itu sudah mendorongnya hingga tubuhnya terjatuh ke atas tempat tidur. Foster menggunakan kesempatan itu menindihnya. Menatap gadis itu lekat-lekat.
"Jadi Matthew lebih tampan dariku?" nadanya begitu rendah dan mengintimidasi. Ia tidak suka Mina memuja-muja laki-laki lain selain dirinya, apalagi di depannya seperti tadi. Sungguh membuatnya merasa kesal setengah mati.
Mina menelan saliva. Wajah Foster sangat dekat hingga ia bisa merasakan hembusan napas pria itu diwajahnya.
"A ... Aku hanya bercanda," katanya takut-takut. Foster tertawa di depan wajahnya. Lalu membelai pipinya, membuatnya merasa geli.
__ADS_1
"Bercanda?" ia mengulangi kata terakhir gadis itu.
"Kau tahu? Bercanda seperti itu membuatku cemburu. Dan kalau aku cemburu aku akan menghukum-mu seperti ini,"
"Ahh ..." tangan Foster turun ke bawah, masuk ke dalam celana tidur Mina dan langsung mengusap kew*nitaannya tanpa aba-aba, dengan tekanan kuat hingga Mina mend esah pelan. Jempolnya menggesek-gesek kli t oris Mina dengan sangat ahli sehingga tubuh gadis itu bergetar kuat. Tangannya mencengkeram pundak Foster sekuat tenaga.
"Katakan siapa lebih tampan, aku atau Matthew?" tanyanya. Sementara tangannya bergerak makin cepat. Menyiksa Mina, membuat mulutnya membuka lebar akibat siksaan kenikmatan itu, siksaan yang banyak wanita pun pasti mau. Siapa coba yang bisa menolak gejolak kenikmatan sebesar ini.
"Ahh ... K ... kak Foster ... hh ..." Mina menggigit bibirnya kuat-kuat untuk meredam suara des a han yang keluar dari mulutnya, tapi permainan tangan Foster begitu liar. Mulutnya makin membuka lebar hingga gadis itu tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara mesum itu.
"Mmmph ... Sshh ..." erangnya kuat saat dirinya mencapai puncak kenikmatan yang diberikan oleh Foster. Sisa-sisa rasa perih dan nikmat bercampur menjadi satu dibagian intimnya. Dan semua itu gara-gara perbuatan sih kakak ipar.
"Cukup kak, pleasee ..." pinta Mina masih terengah-engah. Ia takut kak Iren tiba-tiba datang dan memergoki mereka.
"Sekarang kau sudah tahu salah?" pria itu bertanya lagi. Menatap mata Mina lekat-lekat. Gadis itu mengangguk.
"Anak manis," Foster mengacak-acak rambutnya pelan.
"Apa itumu masih perih?" pandangan pria itu beralih ke bawah, menunjuk area sensitif Mina yang ia mainkan dengan tangannya tadi.
"Menurut kakak?" ada nada jengkel dalam suaranya. Foster terkekeh.
"Dua hari ini jangan kemana-mana. Istirahatlah di rumah. Beberapa hari ke depan aku akan sibuk, nikmatilah waktu bebasmu." kata pria itu. Mina merasa sedikit lega mendengarnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Kak, ba ... bagaimana kalau aku hamil?" tanyanya. Ia ingat saat mereka bercinta kemarin, kakak iparnya tidak pakai pengaman. Terus terang ia takut.
Foster tersenyum lembut kemudian mengecup keningnya.
"Aku akan bertanggung jawab." gumamnya.
"Tapi kak Iren? Biar bagaimanapun dia istri kakak."
Foster menatap Mina lama. Apakah ia katakan saja yang sebenarnya? Kasihan juga Mina selalu beranggapan kalau gadis itu sudah mengkhianati kakaknya. Pria itu menarik napas. Baiklah, dia akan cerita tentang hubungan nikah kontraknya dengan Iren. Tidak akan main-main lagi. Dia akan mengaku kalau perasaannya terhadap gadis ini benar-benar tulus, bukan sekedar main-main. Dan setelah pernikahan kontraknya dengan Iren berakhir, ia akan segera menikahinya. Membangun keluarga kecil mereka yang bahagia.
"Dengar baik-baik. Sebenarnya aku dan Iren ..."
__ADS_1
"Mina!" panggilan dari luar kamar mengagetkan Mina. Gadis itu langsung gelagapan, gugup setengah mati. Ia cepat-cepat berdiri dan menarik Foster keluar ke balkon. Untung kamar mereka bersebelahan, jadi kakak iparnya bisa lewat situ menuju ke kamarnya.
"Kak Foster balik ke kamar kakak lewat situ aja, cepet!" katanya dengan wajah panik. Sementara Foster malah biasa-biasa saja, cenderung sangat santai.
"Tidak perlu takut, aku ingin bilang padamu kalau ..."
"Cepat kak!" dorong Mina lagi. Mau tak mau Foster mengikuti apa katanya. Biar deh, padahal dia baru mau menjelaskan tentang hubungannya dan Iren. Mau jujur tentang perasaannya juga. Sudahlah, masih ada waktu lain.
Usai mengusir Foster, Mina mengatur napasnya, melangkah ke arah pintu dan membukanya.
"Tumben kamu kunci pintunya." kata Iren. Ia membawa beberapa potong pakaian yang sudah dilipat ditangannya.
"Oh, aku nggak sadar kak." jawab Mina. Iren percaya-percaya saja.
"Ini kakak bawain pakaian kamu yang udah bersih, udah kakak setrika dan lipat." Iren berjalan melewati Mina dan membuka lemari baju gadis itu, kemudian meletakkan pakaian yang ia bawa ke dalam sana.
Kakaknya adalah wanita yang sangat mandiri. Bahkan tidak terlalu butuh pembantu karena ia juga sudah terbiasa melakukan pekerjaan begitu dari dulu. Berbeda jauh sama Mina yang masak pun tidak bisa. Kadang Mina suka jadi perempuan mandiri seperti kakaknya. Melihat kakaknya yang begitu baik padanya, Mina jadi makin merasa bersalah.
"Kak Iren,"
"Mm?" Iren berbalik menatap sang adik.
"Maaf." ucap Mina lirih. Karena udah ngekhianatin kakak. Kalimat selanjutnya hanya bisa ia ucapkan dalam hati.
"Maaf kenapa sayang, emang kamu salah apa?"
"Pokoknya Mina banyak salah sama kakak."
Iren tertawa.
"Ya udah. Kalo gitu kakak juga minta maaf sama kamu." balasnya. Mina balik bingung.
"Kakak nggak ada salah sama Mina kok." ucapnya.
"Ada, nanti kamu tahu."
__ADS_1