Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 82


__ADS_3

"Bos, kami menemukan sebuah gubuk di hutan dan ada dua orang pria bersama satu wanita dengan luka tembak yang mereka ikat. Kami sudah mengamankan kedua orang itu." lapor Aldo di telpon. Garra mendesis marah. Sialan. Masih ada wanita lain lagi?


"Keadaan wanita itu bagaimana?"


"Lukanya cukup parah, tapi dia masih hidup. Sekarang kami sedang membawanya ke rumah sakit."


"Baiklah. Segera bawa kedua orang itu ke kantor polisi untuk diperiksa. Aku akan segera sampai." kata Garra lagi dan pembicaraan tersebut berakhir.


"Mereka menemukan pelakunya?" tanya Matthew. Ia bersama pria itu. Dia sudah janji pada Foster akan membantu mencari pelaku penculikan Mina. Mereka tidak tahu saja Foster telah mengetahui dalang sebenarnya di balik kejahatan itu adalah Dian. Tapi Foster belum memutuskan bilang ke mereka. Iya tahu pasti kalau Dian tertangkap lebih dulu oleh Garra, akan terlalu enak pada wanita itu.


Karena itu Foster akan menangkapnya lebih dulu untuk menyiksanya. Enak sekali kalau dia ditangkap dan langsung di kurung.


"Hm, tapi aku belum tahu mereka adalah pelaku yang sama yang menculik istri Foster atau tidak. Ada wanita lain juga."


"Pasti mereka." kata Matthew yakin. Tapi ia tidak tahu wanita yang lain itu siapa? Apa alasan sebenarnya dibalik mereka menculik Mina. Apakah ada dendam pribadi? Tapi Mina sangat baik pada semua orang. Hampir tidak mungkin karakter seperti itu dibenci orang lain, kecuali orang yang iri.


"Kita akan tahu nanti." ucap Garra, Matthew mengangguk. Lalu Garra memutar balik mobilnya menuju kantor polisi.


                                   ***


Di tempat lain, Dian bolak-balik dikamarnya dengan wajah panik. Ia masih berada di rumah orangtua Foster ketika anak buat menelpon Mina kabur. Sial, Mina sialan. Sudah ia siksa seperti tadi tapi masih bisa kabur juga. Kalau tahu begitu ia habisin saja sekalian tadi.


Tapi sekarang tidak bisa lagi. Pada waktu menelpon tadi, ia mendengar anak buahnya di ringkus polisi. Sial sekali. Berarti Dian harus secepatnya melarikan diri. Kemanapun, jangan sampai dirinya tertangkap. Ia tahu Dalam waktu beberapa jam ke depan, Foster mungkin akan tahu kalau dia adalah pelaku yang menculik Mina.


"Dian, kamu di dalam?" suara tante Mia membuatnya kaget. Brengsek! Kenapa wanita tua itu belum tidur tengah malam begini sih. Apa jangan-jangan wanita itu sudah diberitahu kalau dia mencoba menculik Mina?

__ADS_1


Dian makin tegang. Ia harus kabur secepatnya dari sini.


"Dian, kamu dengar tante nggak?" tante Mia terus mengecek. Wanita itu belum tahu apa-apa. Ia hanya mengecek Dian sudah pulang atau belum. Beberapa hari ini tante Mia merasa ada yang aneh dengan Dian. Entah benar atau tidak, firasatnya mengatakan begitu. Tak lama kemudian pintu terbuka.


"Kenapa tante?" Dian akhirnya membuka kamar. Ia mencoba terlihat santai, melihat tante Mia yang masih baik padanya, sepertinya wanita itu memang belum tahu. Berarti Foster juga belum tahu. Dia masih ada waktu kabur secepat mungkin.


"Nggak, tante ngecek doang. Soalnya dari kemaren-kemaren tante liat kamu sangat sibuk.


"Nggak kok tante, akhir-akhir ini memang aku lagi banyak kerjaan jadi ..."


Perkataan Dian terjeda karena pintu depan terbuka, menandakan ada yang masuk rumah itu. Beberapa saat kemudian Mariam muncul. Tante Mia menghela napas.


"Mari, kamu dari mana lagi sih sayang? Kamu itu tiap hari kerjaannya keluyuran terus, nggak sadar ini sudah tengah malam apa?Papa kamu udah pusing karena kamu sama kakak kamu nggak pengen nerusin perusahaannya. Bagusan kakak kamu buat bisnis sendiri, tapi kamunya malah keluyuran terus." omel wanita paruh baya itu pada putri bungsunya.


"Kan bergaul ma, mama kayak nggak tahu anak gaul aja." katanya santai.


"Bergaul apanya? Ini sudah tengah malam. Mana ada anak perempuan bergaul sampai jam segini? Kamu main ke club? Jangan bilang kamu bergaul nggak baik diluar sana? Kamu bergaul sama temen-temen cowok apa cewek? Jujur sama mama." semprot sang mama.


"Ya ampun ma, mama tega banget deh ngomong begitu sama putri kandung sendiri. Mama kan tahu dari dulu aku nggak sampe senakal itu. Aku masih perawan loh ma. Kalo mama pikir aku suka main ke club dan temenan sama laki-laki, mana bisa aku masih perawan sampe sekarang." Mariam sengaja memasang tampang terlukanya. Wajar sih kalau mamanya  mikir gitu, jadi dia santai saja selama dia tidak melakukan yang aneh-aneh.


"Bagus deh kalau kamu bisa jaga diri. Terus kenapa pulangnya tengah malam terus?" mamanya menyipitkan mata.


"Udahlah ma, jangan pikirin aku dulu. Masih ada yang lebih penting dari aku. Mama tahu nggak, Mina di culik."


Tante Mia melotot lebar. Sementara  Dian menahan napas, berusaha terlihat biasa. Cepat sekali berita perempuan itu diculik menyebar.

__ADS_1


"Mina di culik? Terus gimana sekarang? Udah lapor polisi?"


"Tenang ma, udah ketemu kok. Sekarang lagi di rawat di rumah sakit. Tapi wajahnya penuh luka. Aku dengar sih penculik juga sengaja mau gugurin kandungannya, untung bayinya selamat. Kalo nggak, nggak kebayang deh gimana kak Foster. Sekarang polisi masih cari siapa penculiknya." cerita Mariam panjang lebar. Sesekali ia menatap Dian.


Mariam dan wanita yang lima tahun lebih tua darinya itu tidak begitu dekat. Mereka jarang sekali bicara walaupun serumah. Dian tetap orang asing di mata Mariam.


Mariam tidak begitu suka Dian karena menurutnya wanita itu terlalu pura-pura baik di depan seluruh keluarganya. Dia bisa merasakannya.


"Tapi Mina nggak apa-apa kan?" tanya mamanya lagi.


Mariam mengangguk.


"Jangan khawatir ma, udah ditangani sama dokter. Kak Foster juga ada di sisinya terus. Aku sumpahin tuh penculik di hukum berat, kalo perlu di siksa lebih berat dari yang dirasain sama sih Mina."


Dian tersentil. Dalam hati ia memaki Mariam. Ia harus secepatnya kabur dari sini sebelum mereka tahu.


"Ta ... Tante, aku udah ngantuk. Aku masuk duluan ya." kata Dian kemudian. Mariam dan tante Mia menatapnya.Tante Mia mengangguk dan Dian langsung berbalik masuk. Tatapannya sempat bertemu dengan Mariam dan menatap gadis itu tidak bersahabat.


"Cih, mama kenapa baik banget sama dia sih? Emang mama nggak sadar apa tuh perempuan sifatnya aneh begitu? Tadi aja dia natap aku kayak natap musuh. Pantesan kak Foster milih pindah rumah pas tuh perempuan pindah ke sini." kata Mariam enteng. Sengaja memperbesar volume suaranya biar Dian dengar dari dalam.


"Hush, jangan ngomong begitu. Kamu juga masuk kamar sana." Mariam berdecih ptapi tetap menurut sama mamanya masuk kamar.


Di dalam kamarnya, Dian dengan gugup dan panik mengambil barang-barang yang akan dia bawa. Satu jam kemudian, setelah melihat keadaan sudah sepi ia kabur dari rumah itu diam-diam.


Sayangnya rencana kabur Dian saja sekali tidak berjalan mulus, karena begitu ia keluar rumah, ada yang membiusnya dari belakang hingga ia tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2