Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 62


__ADS_3

Setelah hampir setengah jam menunggu dengan harap-harap cemas, Foster akhirnya melihat Mina keluar dari ruang pemeriksaan. Lelaki itu berdiri begitu melihat Mina.


"Bagaimana? Dokter bilang apa?" Foster sedikit cemas melihat raut wajah Mina. Gadis itu menekuk wajahnya. Bagaimana Foster tidak khawatir coba. Ia menangkup wajah kekasihnya, membuat Mina menengadah menatapnya.


"Dokter bilang apa, hm?" ia bertanya sekali lagi.


"Kata dokter aku hamil," ucap Mina pelan di ikuti dengan senyum lebarnya.


Foster terdiam mematung. Apakah dia salah dengar? Ia harus bertanya sekali lagi.


"Aku hamil kak Foster." kali ini suara Mina lebih kuat.


Masih hening sesaat, kemudian Mina merasa tubuhnya melayang.


"Ahh ..." Foster mengangkat wanita itu tinggi-tinggi dan berputar-putar di tempat untuk mengekspresikan betapa senangnya dia mendengar kehamilan Mina.


"Yeah! Aku akan segera menjadi ayah. Aku akan segera menjadi ayah!" pria itu berseru senang. Beberapa orang yang melewati tempat itu sampai-sampai menatap aneh ke mereka. Mina jadi malu.


"Turunkan aku kak Foster, aku malu diliatin orang." katanya.


Foster menurut. Ia menurunkan Mina lalu menciumi seluruh bagian wajah gadisnya. Salah, Mina lebih cocok di bilang wanita. Karena ia sudah tidak gadis lagi. Tindakan Foster itu malah membuat Mina tambah malu. Tapi mau bagaimana lagi, lelaki itu hanya mengekspresikan rasa senangnya. Bahagia sekali Mina melihat pria itu yang sangat senang dengan berita kehamilannya.


"Ayo ke kantor catatan sipil, kita daftarkan pernikahan kita hari ini juga." kata Foster kemudian. Tangannya menggapai pergelangan tangan Mina, menariknya keluar dari sana.


Mata Mina membulat lebar. Tentu kaget mendengar kalimat yang dilontarkan Foster.


"Tapi mama, papa gimana? Mereka belum tahu kak."

__ADS_1


"Nanti aku telpon. Setelah dari catatan sipil kita langsung temui mereka. Membicarakan pesta pernikahannya bagaimana."


"Tapi ..."


Karena Mina masih ragu, Foster berhenti sebentar dan berbalik menghadapnya. Lelaki itu meletakan tangan sebelahnya yang bebas di atas kepala Mina.


"Kamu sudah hamil anakku, Mina. Tidak bisa di tunda lagi. Aku mau hari ini kita resmi jadi pasangan suami istri. Kamu mau kan?"


Seakan terhipnotis dengan suara lembut pria itu, Mina mengangguk. Foster tersenyum kemudian menarik kembali Mina, membantunya masuk ke dalam mobil.


Pria itu menelpon Laya dan meminta wanita itu mengurus semua urusan kantor ini karena hari ini ia tidak bisa datang. Seharian ini dia akan sibuk dengan mengurus kehidupan pribadinya bersama Mina. Kenapa harus Laya dan bukan Matthew?


Karena Matthew akan dia suruh datang ke kantor Capil bersama Iren untuk menjadi saksi nikah dia dan Mina. Kedua sahabatnya itu jelas kaget, tapi mereka tetap datang.


Foster punya segalanya dan memiliki banyak relasi. Bahkan petinggi di capil kenal baik dengannya. Terbukti dalam waktu singkat, urusan di kantor tersebut selesai. Kini dia dan Mina sudah resmi menjadi pasangan suami istri secara hukum. Foster bernapas lega, ia memeluk erat Mina.


"Karena sekarang dia sedang hamil anakku." sahut Foster dengan bangganya. Iren melotot lebar.


"Hamil?!" wanita itu menatap adiknya. Mina menunduk malu.


"Papa dan mama sudah tahu?" Iren bertanya. Karena tadi ia dengar Foster sudah menelpon mereka dan meminta persetujuan mereka mendaftarkan pernikahannya dengan Mina. Ia tidak tahu apakah pria itu cerita tentang kehamilan Mina juga atau belum.


"Sudah." Foster yang menjawab.


"Reaksi mereka?"


"Kita berdua disuruh langsung menghadap mereka begitu urusan dikantor ini selesai."

__ADS_1


Iren mengangguk-angguk. Ia masih tidak percaya dengan semua hal yang mendadak terjadi ini. Semuanya tidak ada dalam bayangannya, dan itu rasanya aneh. Belum lagi hubungannya dengan Matthew.


Iren melirik Matthew. Pria itu sedang menatapnya juga. Malah Iren yang jadi salah tingkah karena tatapannya. Ia ingat pengakuan pria itu tadi pagi, dan itu membuatnya canggung.


"Habis ini kak Iren mau kembali ke kantor papa?" tanya Mina. Iren mengangguk.


"Bagaimana rapat tadi?" giliran Foster yang bertanya menatap Matthew.


"Semuanya lancar, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." sahut Matthew. "Sudahlah, jangan pikirkan soal pekerjaan dulu. Bukankah kalian berdua harus pergi menghadap orang tua?" pria itu mengingatkan. Foster melirik arlojinya lalu menatap Matthew lagi.


"Kalau begitu kami pergi dulu. Terimakasih untuk bantuan kalian tadi." ujarnya pamit. Kemudian meraih pergelangan tangan Mina, membimbingnya masuk ke mobil mahal pria itu. Meninggalkan Iren dan Matthew yang masih berdiri melihat kepergian mereka.


Tak ada satupun di antara kedua orang itu yang bicara. Iren kembali merasa canggung. Begitupun Matthew. Iren berdeham kemudian.


"A ... Aku juga harus balik ke kantor, " gumamnya, melirik Matthew. Habis berkata begitu wanita itu cepat-cepat berbalik untuk meninggalkan Matthew, tapi Matthew dengan sigap meraih pergelangan tangannya hingga langkahnya terhenti.


Iren menatap Matthew. Ia hampir tidak kuat menatap pemilik mata hitam pekat itu. Ia benci seperti ini. Benci karena tiap kali melihat Matthew sekarang, jantungnya tidak mau berkompromi.


"Kau tidak lupa sebentar malam kan?" pria itu mengingatkan. Iren berpikir dulu, lalu menjawab Matthew.


"Tunggu saja. Aku datang atau tidak terserah aku." wanita itu sengaja ingin membuat Matthew dilema. Entah kenapa dia suka menggoda pria itu. Lihat sekarang, pria itu seperti agak jengkel dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.


Matthew mendekatkan wajah ke Iren lalu berbisik pelan di wajah wanita itu.


"Sebaiknya kau datang. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mendatangimu nanti." pria itu tak mau kalah. Ia tahu Iren memang sengaja mau bermain-main dengannya. Jadi, ia juga akan meladeni permainannya.


"Siapkan dirimu baik-baik, sebentar malam akan menjadi malam yang sangat panjang untuk kita berdua." Matthew mengedipkan sebelah matanya ke Iren dan melangkah meninggalkan perempuan itu. Iren tertawa. Sungguh aneh, ia tidak pernah berpikir hubungannya dengan Matthew yang dia anggap sahabat baiknya akan berkembang sejauh ini. Dan Matthew sendiri ...

__ADS_1


Ya ampun, pria itu sudah menyukainya dari lama. Kenapa dia tidak sadar sama sekali? Padahal mereka selalu bertemu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Matthew memang selalu mengutamakan dia kalau ada apa-apa. Dia saja yang buta, tidak melihat pria itu. Tidak menyadarinya sama sekali.


__ADS_2