
Semua orang lega mendengar kabar penangkapan Dian.
"Pokoknya perempuan itu harus di hukum sampai dia jera." Iren mengangguk setuju dengan mamanya. Papa mereka sudah ke kantor. Foster baru saja sampai menyusul Matthew.
Tak lama sesudah kedua pria itu sampai, Mariam dan tante Mia ikut muncul.
"Mina ..." panggil tante Mia pelan. Mariam berjalan dibelakang wanita tua itu.
Iren berdiri memberi ruang ke mama Foster agar bisa berdiri dekat Mina. Tante Mina mengamati keseluruhan penampilan Mina. Wajah sang menantu masih penuh dengan luka-luka dan lebam. Ia meringis.
"Mama nggak nyangka Dian bisa tega melakukan semua ini sama kamu. Mama minta maaf atas nama dia ya." gumam tante Mia. Ia menatap ke mamanya Mina yang langsung berubah raut wajahnya begitu ia menyebut nama Dian.
"Nama perempuan itu tidak pantas di sebut. Sebagai mama aku tidak akan pernah memaafkan dia. Lihat, putriku sampai seperti ini. Aku bahkan tidak pernah bicara kasar apalagi menamparnya. Tapi perempuan itu," suara mama Mina bergetar, merasa sakit hati putri kesayangannya.
"Tenang ma," Iren mengusap-usap punggung mamanya. Mencoba menenangkan.
Tante Mia mendesah berat, ia bisa mengerti bagaimana perasaan perempuan itu. Ia sadar betul karena ia sendiri pun kecewa berat pada Dian. Ia ikut merasa bersalah, menurutnya dia juga salah karena Dian selama ini tinggal dengannya. Bahkan dia selalu membela wanita itu dan marah-marah pada Foster dan Mariam yang sudah berkali-kali bilang padanya kalau kelakuan tidak sebaik yang dia pikirkan. Ia menganggap anak-anaknya sengaja bilang begitu karena tidak menyukai Dian. Ternyata memang benar, dirinyalah yang bodoh.
"Mina maafin mama ya," tante Mia menatap Mina lagi. Mina menggeleng.
"Mama nggak salah kok, aku bisa ngerti." balas Mina. Ia tidak menyalahkan wanita itu.
__ADS_1
"Jadiin pelajaran aja ma. Lain kali jangan nampung orang asing lagi di rumah, kebuktikan kata aku, sih Dian itu aneh, sakit jiwa pula. Tuh buktinya udah di depan mata, bonyok gitu sih korban." timpal Mariam dari belakang. Ia cepat-cepat menatap ke arah lain begitu mendapat tatapan tajam mamanya.
"Mina, ini aku beliin buah segar buat kamu. Di makan ya biar cepat sembuh." Mariam menaruh buket buah ditangannya ke atas tempat tidur, di atas Mina. Foster yang melihat cepat-cepat mengambil buah segar tersebut dan menatap adiknya tajam.
"Badannya masih sakit semua, kalau dia ngeluh sakit kamu mau tanggung jawab?" kata Foster menatap adiknya jengkel. Yang lain menahan tawa dengan sikap pria itu yang terkesan berlebihan. Tapi mereka tahu itu karena Foster tidak mau istrinya kesakitan. Mariam saja yang terlalu ceroboh. Tapi Iren dan Matthew tahu gadis itu memang begitu dari dulu. Tidak heran lagi.
"Hehe, maaf pangeran, hamba bersalah." Mariam menyengir lebar ke sang kakak dan buru-buru pergi ke bagian tengah, membanting tubuhnya ke sofa dan berdiam diri di sana. Dari pada kena tembak lagi, mending jauh-jauh dari situ.
"Astaga anak itu, jangan hiraukan dia." kata tante Mia tersenyum malu. Dia memiliki sepasang anak cewek-cowok, dan sifat mereka berbanding terbalik. Foster yang dingin dan Mariam yang kelebihan ceria, sering berbuat konyol, juga sedikit nakal. Kadang otaknya pusing menghadapi dua anaknya tersebut.
"Kak Foster, aku dengar Dira dirawat di rumah sakit ini juga?" Mina menatap Foster, ia teringat Dira.
Kak Iren bilang tadi sahabatnya selamat tapi kena luka tembak yang cukup parah. Ada dua peluru yang menancap di kaki dan bagian perutnya. Bersyukur Dira masih selamat setelah di operasi.
"Aku pengen besuk Dira." ucap Mina lagi.
"Nanti saja. Keadaan kamu masih lemah, sweety." ujar Foster.
"Tapi Dira ..."
"Mina, Foster benar. Kamu jenguk Dira nanti aja ya. Kalau kondisi kamu udah jauh lebih kuat dari hari ini. Lagian kakak dengar Dira masih belum sadar. Kondisinya lebih parah dari kamu dan butuh perawatan khusus. Belum bisa sembarangan temuin dia." kata Iren panjang lebar. Ia mengatakan yang sebenarnya karena ia sempat mendatangi kamar rawat Dira. Dan dokter rawat gadis itu menjelaskan begitu tadi.
__ADS_1
Mina akhirnya hanya bisa mengangguk setuju. Yang penting Dira selamat. Dian pun sudah tertangkap. Mina bisa lega. Wanita jahat itu, Mina tidak mau melihatnya lagi.
"Kakak, kebetulan ada di sini, bisakah aku meminta nomor handphone Garra? Aku lagi kejar tuh cowok buat jadi pacar, jadi pengen dong tahu nomor telponnya." seru Mariam dari sofa. Tak ada rasa malu sedikitpun. Yang lain saling bertukar pandangan menahan senyum, kecuali Foster dan mamanya.
Tante Mia sampai malu karena kelakuan sang putri.
"Mariam, ini rumah sakit. Jangan teriak-teriak gitu. Jangan malu-maluin mama ya." tante Mia mengingatkan dari jauh. Mariam sendiri malah santai, tidak peduli dengan kata-kata mamanya. Sedang Foster sudah berjalan ke arah gadis itu. Dan menoyor kepalanya. Mariam melotot kesal.
"Lagi?" ini sudah kedua kalinya dia ditoyor begitu. Tadi Garra, sekarang kakaknya. Ya pasti sebal.
"Kalau cuma mau main-main, cari laki-laki lain. Jangan Garra." kata Foster. Dia bilang begitu karena dirinya tahu jelas Garra adalah tipikal laki-laki yang sangat serius dalam menjalin hubungan. Main perempuan saja tidak pernah. Foster bahkan berpikir Garra belum pernah menyentuh satu pun perempuan sampai sekarang. Laki-laki itu masih perjaka. Dia itu jomblo akut. Dan itu sudah menjadi berita dikalangan teman-teman SMA mereka waktu datang reunian.
"Aku nggak main-main, orang serius begini malah dianggap main-main." balas Mariam. Tapi dilihat dari segi manapun, Foster melihat adiknya hanya main-main. Mungkin sang adik hanya sebatas kagum saja sama Garra.
Foster terus menatap sang adik. Ya sudahlah. Biarkan saja dia. Kalau dia berhasil mendapatkan hati seorang jomblo akut dan gila kerja seperti Garra, gadis itu memang hebat.
"Nih, simpan cepat. Awas kalau kamu ketahuan mainin Garra." pria itu akhirnya memberikan nomor Garra. Mariam berseru senang.
"Yeah, makasih kakakku yang lebih banyak nyebelinnya." sorak Mariam, langsung di tatap kesal oleh Foster. Untung adik.
Di depan sana, tante Mia malu pada mamanya Mina dan Iren.
__ADS_1
"Jangan hiraukan dia ya. Kelakuannya memang begitu." ucap tante Mia merasa tidak enak.
"Nggak kok, putri kamu menyenangkan." balas mama Mina tidak merasa terganggu sama sekali. Mina dan Iren ikut mengangguk setuju. Tapi tetap saja tante Mia masih malu.