
"Ngghh ... Ssshh ..." Mina terus mend esah keras dengan aksi liar Foster yang keluar masuk di dalam tubuhnya. Gerakannya naik turun semakin lama semakin cepat hingga Mina merasa ia akan segera keluar.
"Agghh ... Mmmph ..." rintihan dan erangan kencang pasangan yang baru saja mendapatkan orgasme mereka berkali-kali itu menggema di seluruh ruangan kamar besar milik Foster.
Tubuh Mereka dipenuhi peluh dan cairan percintaan yang luar biasa hebatnya. Foster tidak pernah puas bercinta dengan Mina. Ia mau lagi dan lagi. Gadis itu seperti magnet yang terus menariknya, yang membuat Foster selalu ingin menempelinya seperti lintah.
Sayang sekali perempuan yang sudah ia porak-poranda bagian intimnya itu mengaku menyerah. Ia sudah sangat kelelahan, tidak sanggup lagi melayani laki-laki itu. Tapi sungguh, setiap hentakan-hentakan panas Foster di dalamnya membuatnya serasa terbang. Kenikmatan itu tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Mungkin inilah alasannya kenapa banyak orang yang memiliki hobi bercinta. Karena enak, enak sekali. Apalagi bersama dengan laki-laki yang di cintai.
Apa? Cinta? Ya ampun Mina. Apa yang kamu pikirkan? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta pada kakak iparmu sendiri. Bagaimana ini? Tidak, tidak boleh.
Singkirkan pikiranmu itu jauh-jauh. Laki-laki ini adalah suami dari saudari kandungmu sendiri. Lagipula belum tentu kak Foster mencintaimu juga. Pria itu mungkin hanya menganggapmu sebagai partner ****-nya. Memikirkan hal itu, pikiran Mina jadi galau.
"Mau satu ronde lagi?" Foster bertanya. Walau ia tahu Mina sudah sangat kewalahan, ia masih bertanya. Mungkin saja kan gadis itu mengangguk setuju. Sayangnya tidak. Mina menggeleng.
Foster tersenyum lembut, mengecup singkat kening gadis itu. Dia tidak akan memaksa lagi. Setidaknya puasanya lebih dari seminggu ini mendapatkan hasil yang amat sangat memuaskan.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi." ucap lelaki itu.
Mina bangkit dari kasur, dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Sementara gadis itu memakai pakaiannya, Foster mengamati dari atas ranjang sambil menopang dagunya.
"Aku balik ke kamar dulu," kata Mina tanpa menatap Foster. Pria itu mengernyitkan dahi.
"Apa dia malu?" Ia berucap pada dirinya sendiri, tapi bukan begitu ekspresi malu-malu yang biasa dia lihat dari Mina. Foster ikut terusik.
Sementara itu diluar kamar antara kamar Mina dan Foster, berdiri Iren. Wanita itu barusan sampai. Dari bandara ia langsung ke rumah ini. Ia begitu bersemangat bisa menginjakkan kakinya lagi di negara tercintanya. Wanita itu mengingat kejadian pas dia baru sampai tadi.
Saat masuk rumah itu Iren langsung naik ke lantai atas menuju kamar Mina. Hanya untuk sekedar memeriksa adiknya ada di rumah atau tidak. Begitu sampai dilantai atas, langkah Iren berhenti di depan kamar Foster.
Ada suara-suara aneh yang ia dengar dari dalam sana. Iren jelas tahu suara apa itu. Suara khas orang yang sedang bercinta. Wanita itu mendekat ke pintu dan memasang telinganya lebar-lebar, dan mulai mendengar suara-suara laknat itu.
"Uch ... Kak ... Foster ..."
"Mau lebih dalam? Astaga kau sempit sekali sweety ..."
"Mmph ..."
"Aku akan keluar di dalam, aku ingin kau hamil anakku Mina, apa kau mau mengandung anakku? Owh ..."
__ADS_1
"Ahh ... ahh ..."
"Ayo k ... keluar bersama ..."
Suara-suara aneh itu membuat Iren merasa geli. Tapi juga sedikit terbawa suasana. Mengingat kalau dulu ia juga mengeluarkan suara yang sama saat bercinta dengan mantan kekasihnya yang brengsek.
Wanita itu cepat-cepat bersembunyi begitu mendengar langkah kaki seseorang mendekati pintu. Antara Foster atau Mina pasti.
Ah, ternyata Mina.
Iren memandangi adiknya yang berjalan secepat mungkin berjalan dan menghilang dibalik kamarnya. Iren menghela napas. Foster sudah merusak adiknya. Apalagi tadi ia dengar pria itu ingin Mina segera hamil. Sepertinya mereka harus segera bilang ke Mina yang sebenarnya. Foster mencintai Mina, kalau adiknya juga ada rasa pada pria itu, seharusnya langkah mereka selanjutnya akan lebih gampang.
Iren tahu Mina pasti merasa berdosa terhadap dirinya. Jadi ia akan bicara pada Foster untuk tidak bermain-main lagi. Mereka harus memberitahu Mina agar tidak jadi masalah yang rumit nantinya.
Wanita itu lalu melangkah mendekati kamar Foster lagi dan mengetuk.
"Siapa? Bi Rina?" suara berat Foster dari dalam kamar terdengar malas. Iren mendengus. Dasar pemilih. Kalau Mina yang datang menemuinya pasti ia akan langsung bersikap selembut mungkin.
"Bukan, ini aku." sahut Iren dengan suara pelan. Ia tidak mau Mina mendengar suaranya.
"Iya, tolong buka pintunya. Ini penting."
Sesaat kemudian pintu kamar terbuka. Menampilkan penampilan Foster yang acak-acakan. Pria itu sudah mengenakan kaos putih lengan pendek dan boxer dongker.
Iren mengamati keseluruhan ruangan kamar pria itu. Tempat tidurnya sudah seperti kapal pecah. Iren bisa membayangkan bagaimana buasnya percintaan Foster dan Mina tadi.
"Wow ... Bravo ..." wanita itu bertepuk tangan takjub.
"Seumur hidup baru sekarang aku mendapati kamarmu acak-acakan seperti ini." seru Iren. Ia mendekat ke Foster.
"Katakan, apa senikmat itu bercinta dengan adikku?"
Foster tertawa.
"Tentu saja. Tidak ada yang seperti dia. Aku memang laki-laki yang beruntung." katanya bangga. Iren tertawa geli.
"Kapan kau sampai?" tanya pria itu kemudian.
__ADS_1
"Barusan."
"Bagaimana dengan Matt, kau sudah berkenalan dengan tunangannya?"
Iren mendengus. Tunangan?
"Jangan tanyakan itu. Laki-laki sinting itu tidak jadi bertunangan. Dia sengaja membawaku ke Hawaii, untuk membantunya merusak pertunangannya. Aku dijadikan tameng." Iren masih kesal mengingat kejadian di Hawaii. betapa malunya dia pada orangtua laki-laki itu.
Foster tertawa. Sudah ia duga. Laki-laki yang menyukai kehidupan bebas seperti Matthew tidak mungkin menerima perjodohan orangtuanya segampang itu. Apalagi Matthew menyukai wanita lain.
"Lupakan Matthew. Sekarang kita bahas tentang kau dan adikku dulu." Iren berbicara dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Aku ingin bertanya sekali lagi." Iren melanjutkan.
Foster ikut menatap wanita itu serius.
"Apa kau sungguh-sungguh mencintai Mina? Ingin dia menjadi istrimu? Ingin dia mengandung anak-anakmu? Kau akan bersamanya apapun yang terjadi?"
"Bukankah sudah pernah aku katakan dengan jelas padamu?"
"Aku hanya ingin memastikan lagi. Kau tahu Mina putri kesayangan di keluarga kami bukan?"
"Ya, aku serius. Aku mencintai Mina. Bukan sekadar tergiur bercinta dengan tubuh indahnya. Perasaanku tulus. Aku ingin bersamanya, ingin dia melahirkan anak-anakku."
"Bisakah kau berjanji tidak akan pernah menyentuh perempuan lain lagi selain Mina?" Iren harus memastikan semuanya.
"Aku sudah melakukannya. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri. Mungkin hubunganku dan adikmu tidak akan selalu berjalan mulus, itu hal yang biasa terjadi pada pasangan. Tapi apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan Mina. Itu sumpahku." Foster begitu serius. Karena yang dia pikirkan sekarang memang keseriusannya terhadap Mina. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa Mina. Hatinya hanya yakin pada gadis itu.
Iren tampak puas. Kalau begitu ia tidak perlu takut lagi.
"Baiklah, aku percaya padamu. Kalau begitu, ayo temui adikku dan bilang pernikahan kita berdua hanyalah sebatas pernikahan kontrak."
"Apa?"
Suara lantang Mina terdengar kuat begitu pintu kamar Foster terbuka lebar-lebar.
"Nikah kontrak?!
__ADS_1