Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 59


__ADS_3

Habis mengantar Iren, Matthew kembali ke kantor. Ia masih terngiang-ngiang dengan kejadian tadi, dan menyesalinya kemudian.


"Hufftt ... Matthew, Matthew, kau memang bodoh."


"Bodoh kenapa kak?" pria itu melirik ke kiri, ia berpapasan dengan Mina dalam lift. Pria itu tersenyum lebar.


"Eh ada sih cantik rupanya." Mina ikut tersenyum. Ia berani menyapa akrab Matthew kalau tidak ada siapa-siapa saja. Makhlum, walau baru beberapa hari menjabat sebagai sekretaris Foster di kantor ini, nama Matthew sudah terkenal di seluruh penjuru kantor. Bahkan mungkin nama fanbase-nya sudah ada. Mina tidak berani dekat-dekat dengan pria itu, apalagi menyapanya kalau ada banyak orang.


"Kak Matt kayak banyak pikiran." ujar Mina.


Iya benar. Lagi pikirin kakak kamu.


Gumam pria itu dalam hati. Lalu tertawa sendiri. Mina menatapnya aneh. Ganteng-ganteng gila, giliran gadis itu yang tertawa.


"Kenapa tertawa?" Matthew menatapnya bingung.


"Nggak."


"Oh ya, kamu harus siap-siap hadepin Foster nanti." kali ini Matthew bicara setengah berbisik.


"Kau sudah membuatnya kehilangan muka di depan banyak orang. Sejak tadi dia terus mengatakan akan menghabisimu. Kamu tahu maksudku kan?"


Mina tersenyum canggung. Ya ampun, merinding juga dia dengarnya. Kemudian pintu lift terbuka.


"Aku duluan ya kak." ucap gadis itu. Matthew mengangguk.


"Jangan lupa pesanku tadi." seru Matthew sebelum lift tertutup lagi. Ia tertawa melihat raut wajah Mina yang tiba-tiba berubah aneh.


"Mina, kamu sendiri? Kemana Ester?"


wanita bernama Rika bertanya. Ia adalah salah satu pegawai tetap di tim itu yang paling banyak menyuruh. Tapi masih dalam hal wajar, jadi Mina menurut-menurut saja.


"Esternya masih ada urusan sedikit di kampus mbak, tapi sekarang dia mungkin udah di jalan menuju ke sini." jawab Mina.


"Kalau begitu kamu saja yang pergi ke toko bunga sama Indy."


Indy adalah anak magang yang satunya lagi. Ester yang akrab sama dia. Mina tidak. Tunggu,

__ADS_1


Toko bunga? Ya ampun, baru juga dia sampai dari kampus. Bisakah dia bilang tidak, atau pura-pura sakit perut lagi? Tidak, pasti akan langsung ketahuan. Terus bagaimana dong?


"Rika," Rika membalikan badan,


"Iya bu Laya?" ia menatap Laya yang sudah berdiri di depan pintu.


"Biarkan Indy pergi sendiri saja ke toko bunga. Aku ingin Mina membantuku." Mina bernapas lega begitu Laya bilang begitu. Yes, dia tidak jadi pergi. Sudah sore begini juga. Sebentar lagi jam pulang. Namun keputusan Laya sepertinya tidak membuat sih Indy senang. Gadis itu melemparkan tatapan tidak sukanya ke Mina. Mina yang sadar langsung pura-pura sibuk.


"Mbak, pesanan bunganya banyak nggak sih? Emang bisa aku sendiri?" Gadis itu bicara ke Rika dengan nada keberatannya.


"Pesanannya memang cukup banyak. Tapi kamu tidak akan bawa kok. Nanti mereka yang telpon."


"Kalo begitu bisa pesan lewat online aja kan?" kata Indy lagi.


"Tidak bisa Indy, kamu harus lihat langsung barangnya bagus atau tidak. Sudah, jangan banyak ngomong, cepat pergi sana!" nada Rika sedikit meninggi. Mau tak mau Indy akhirnya pergi. Ia sempat melirik Mina dengan ekspresi yang sama seperti tadi. Tidak senang.


Indy telah memperhatikan beberapa kali. Tiap kali Mina mau di suruh melakukan pekerjaan yang pergi keluar kantor, Laya selalu muncul bilang dia butuh bantuan gadis itu. Apa hubungan mereka? Indy jadi curiga mereka saling kenal dan Mina sengaja memanfaatkan hubungan dengan Laya agar wanita itu bisa membantunya sewaktu-waktu. Apalagi posisi Laya di kantor ini terbilang cukup tinggi.


Kalau benar seperti dugaannya, Indy makin tidak menyukai gadis itu. Ini tidak adil namanya.


Kira-kira kabar kak Foster gimana ya sekarang? Mudah-mudahan pria itu masih rapat. Dengan langkah sigap Mina turun ke lantai bawah dan langsung naik taksi. Sampai rumah, ia mandi bersih-bersih dan mengunci diri dikamarnya.


"Semua sudah terkunci. Kak Foster nggak mungkin bisa masuk." gumam gadis itu sambil menatap ke seluruh penjuru kamar, lalu tersenyum puas.


"Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak." katanya lagi kemudian membanting dirinya ke ranjang empuknya. Tak lama setelah itu gadis itu tertidur.


Sepuluh menit ...


Dua puluh menit ...


Satu jam ...


Ketika Mina membuka mata, sosok laki-laki tinggi besar yang sangat ia kenali sudah berdiri menatapnya di ujung tempat tidur sambil melipatkan kedua tangannya di dada.


"Sudah puas tidurnya?"


Wajah mengantuk Mina langsung melek seketika. Ia bangun.

__ADS_1


"K ... Kak Foster, kok bisa masuk?" gadis itu menatap ke arah pintu dan setiap sela yang sudah dia kunci tadi. Semuanya masih sama seperti tadi. Jadi, bagaimana lelaki di depannya ini bisa masuk coba?


Lalu Mina melihat Foster mengangkat sebelah tangannya yang memegangi sebuah kunci.


"Kau lupa aku pemilik rumah ini? Tentu saja kunci duplikatnya ada padaku." lelaki itu tersenyum menang.


Mina mengutuk dalam hati. Kenapa dia tidak terpikir sih dari tadi? Kalau tahu begitu, ia sudah kabur ke rumah orangtuanya. Papa mama kan sudah pulang.


"Karena kau sudah tidur, sekarang waktunya menerima hukumanmu."


kata Foster menyeringai. Pria itu mulai membuka satu persatu kancing kemeja sambil terus menatap Mina. Tak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari gadis itu.


"Hukuman? Memangnya aku salah apa? Aku nggak ngerasa ada salah tuh."


Foster mendengus lalu mengangguk-angguk.


"Ya ya ya, anggap saja seperti itu. Tapi aku akan tetap menghukummu." tidak tahu apa hari ini dia malu bukan main akibat pakaian yang gadis itu beli.


Mina cepat-cepat ingin turun dari ranjang dan kabur, tapi Foster sudah lebih dulu menangkap kakinya hingga Mina refleks memekik kencang.


"Ahhh ..."


Foster tertawa.


"Kamu seperti gadis perawan yang mau di perkosa saja."


Benar juga. Mina ikut tersadar. Kenapa juga dia harus teriak?


Bret ...


Lalu ia melihat piyamanya tanpa ijin langsung di robek oleh Foster, menampilkan dua bukit indahnya yang makin besar akibat terus di pegang dan di **** oleh sih pelaku. Ia sengaja tidak pakai bra karena mau tidur tadi.


"Kak Foster, kok di robek sih? Piyama ini belum lama aku beli tahu," gadis itu menggerutu.


"Nanti beli lagi." Foster ikut duduk di tempat tidur dan langsung memainkan pay u dara Mina dengan lidahnya.


"Mmph ..."

__ADS_1


__ADS_2