
Dian tergelak senang melihat Mina memohon-mohon. Bubuk penggugur kandungan sudah ada ditangannya. Ia masukan ke sakunya sebentar. Ia ingin membuat wanita itu menderita perlahan.
Wanita jahat itu kembali mencengkeram dagu Mina kasar. Kebencian terhadap wanita itu sudah begitu besar, jadi jangan harap ia akan melepaskan perempuan yang sudah berada dalam genggamannya tersebut.
BRAKK!!!
Tanpa aba-aba Dian melempar tubuh Mina dengan keras. Mina jatuh membentur lantai. Ia meringis, punggung sakit dan kepalanya terasa pusing sekali. Tak puas dengan itu, Dian menarik pergelangannya dan menampar wajah Mina berkali-kali sampai luka. Ujung bibirnya mengeluarkan darah.
Dira yang menjadi saksi kekejaman Dian kembali menangis. Gadis itu berusaha berdiri dengan tangan terikat ingin memohon ampun dari wanita jahat itu, namun Dian merasa gadis itu sangat mengganggu dan mendorongnya hingga kepala Dira membentur tembok dengan keras. Untung tidak pingsan.
"Sialan! Sekali lagi kau menggangguku, aku jamin hari ini juga keluargamu melihat mayatmu." ancam Dian sarkas. Dira ketakutan.
Dian makin marah. Dengan ganas ia menarik lengan Mina dan membenturkan Mina ke dinding, menyebabkan dahi dan kening Mina berdarah. Tidak puas dengan itu, Dian mengeluarkan plastik berisi bubuk tadi.
Mina yang sudah tak mampu bicara menjadi panik. Dira ikut panik. Mereka tahu apa itu.
"Bunga mulutmu, aku akan membunuh bayimu lebih dulu setelah itu kamu." kata Dian kejam. Dengan sisa-sisa kekuatannya Mina menutup mulutnya rapat-rapat, tapi pada akhirnya ia tenaganya sudah habis. Ia tidak berdaya. Dian berhasil memasukan bubuk itu ke dalam mulutnya, membuatnya menelan habis bubuk tersebut.
Airmata Mina jatuh membanjiri pipinya, bersatu dengan darah yang keluar dari bagian kepala dan pelipisnya. Bayinya ... Ia memohon agar bayinya selamat.
Detik itu juga Mina merasa hancur dan jatuh pingsan. Dira yang melihat Mina tidak sanggup. Matanya sudah sangat bengkak karena tiada habis-habisnya ia menangis. Mina yang malang. Ia merasa bersalah.
Sementara Dian tertawa puas. Ia terus melihat Mina yang sudah tak sadarkan diri.
"Dua jam lagi obat itu akan bereaksi. Kau akan merasakan sakit yang luar biasa, dan booom! Bayi dalam perutmu mati. Hahahaha ..." wanita itu tertawa keras persis orang psiko.
Dira tidak menyangka ada orang sekejam wanita itu di dunia ini.
"Ayo keluar. Biarkan mereka beristirahat sebentar. Jangan ganggu perempuan yang sedang berduka. Kalian jaga di luar saja. Aku akan pulang sebentar, jangan sampai mereka kabur." kata Dian pada kedua anak buahnya lalu keluar dari situ.
***
Sementara itu dikantor, sopir Foster menerobos masuk ke ruang rapat dan melaporkan tentang hilangnya Mina. Foster kaget dan langsung panik.
__ADS_1
"Istriku hilang? Bukankah sudah kubilang jangan tinggalkan istriku sendiri saat dia keluar? Kalian pakai otak kalian tidak hah?!"
Sopir pria itu dan dua orang bodyguard yang datang bersamanya menunduk takut. Kemarahan Foster menggelegar di seluruh ruangan, berhasil membuat orang-orang yang ikut rapat kaget karena amarahnya.
"Foster, tenangkan dirimu." tegur Matthew. Pria itu lalu mewakili Foster bicara pada karyawan mereka.
"Kita tunda dulu rapatnya. Kalian keluar dulu." katanya. Mereka semua mengangguk mengerti dan mulai keluar satu persatu.
Foster berkacak pinggang. Pikirannya kacau.
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Matthew yang jauh lebih tenang bertanya ke sopir Foster.
Laki-laki itu menjelaskan dengan panjang lebar, hingga Foster yang mendengarnya makin panik.
"Mina di culik!" pria itu langsung menyimpulkan, selesai berkata seperti itu ia berlari keluar secepat kilat. Matthew mengikutinya bersama sopir dan kedua bodyguard tadi.
Mereka pergi ke rumah yang di datangi Mina. Rumah itu kosong. Matthew bertanya ke beberapa orang yang tinggal dekat rumah itu namun kebanyakan dari mereka menjawab rumah tersebut sudah lama tidak ada penghuninya. Pemilik rumahnya telah meninggal dan anak-anak mereka sudah pindah ke kota lain.
Foster mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya Mina di mana? Ia terus menghubungi ponsel istrinya namun ponselnya tidak aktif lagi.
Mereka berbalik ke sopir Foster yang datang menghampiri.
"Saya menemukan ponsel nyonya muda." kata sih sopir menyodorkan ponsel milik Mina ke tangan Foster.
Foster mengambil, ia melihat ponsel Mina sudah pecah layarnya. Pasti jatuh.
"Kau dapat di mana?" Matthew yang bertanya.
"Di ruangan belakang rumah ini."
Lalu Foster dan Matthew di ikuti tiga laki-laki berbadan besar itu berjalan masuk ke ruangan yang dikatakan oleh sih sopir. Mereka memeriksa ruangan tersebut dan menemukan ada tali di sana. Mungkin itu bekas ikatan terhadap seseorang.
"Brengsek!"
__ADS_1
Mereka berani mengikat Mina? Saat ini yang ada dalam benak pria itu hanyalah rasa cemas luar biasa dan rasa marah yang hebat kepada orang yang berani menculik istrinya. Ia yakin Mina memang di culik.
Matthew tahu kecemasan sahabatnya. Ia juga cemas, tapi masih bisa bersikap tenang. Semuanya belum pasti. Mina hilang baru beberapa jam. Memang dari cerita yang di dengar dari sopir dan bodyguard Foster, hampir bisa dipastikan ada orang yang berniat jahat kepada Mina. Kemungkinan dia diculik adalah seratus persen.
"Ini sudah jelas kasus penculikan. Kita harus lapor polisi." ujar Matthew.
Sopir Foster ikut mengangguk.
"Kami akan bersaksi dikantor polisi," kata laki-laki tersebut.
"Kau bilang ada yang menelpon Mina, kau tahu siapa yang menelponnya?" Matthew bertanya.
"Saya tidak tahu tuan Matt,"
"Bagaimana dengan temannya yang katanya meninggal?"
"Kalau tidak salah ingat, namanya Paul. Ya. Nyonya menyebut nama itu."
Paul? Foster ingat. Dia adalah laki-laki yang pernah Foster tinju. Mina pernah cerita kalau laki-laki itu adalah senior dikampusnya, pria yang pernah Mina suka diam-diam. Tentu saja Mina tidak menyukainya lagi sekarang. Karena hatinya sudah milik Foster.
"Kau kenal dia?" Matthew menatap Foster.
"Dia senior Mina."
"Bagaimana kalau menghubunginya? Mereka menggunakan namanya untuk memancing Mina keluar, mungkin kita bisa dapat petunjuk darinya." tawar Matthew.
Foster diam saja. Tidak menolak ataupun setuju. Karena ia sendiri merasa bahwa laki-laki itu pasti tidak tahu apa-apa.
Pandangan Matthew turun ke ponsel yang dipegang Foster, otaknya langsung jalan. Ia tahu Foster masih linglung karena hilangnya Mina, jadi ia yang akan berpikir keras sekarang.
"Coba periksa ponsel Mina? Lihat orang terakhir yang menelponnya. Pasti orang itu juga terlibat." ujar Matthew lalu pandangannya berpindah ke sih sopir dan dua orang bodyguard.
"Kalian segera ke kantor polisi. Laporkan tentang penculikan Mina." katanya. Menurutnya mereka sudah harus bergerak cepat.
__ADS_1
"Baik."