
Foster tetap terjaga di rumah sakit. Tinggal dirinya. Yang lain sudah pulang. Sebenarnya mertuanya tidak mau pulang, mereka ingin ikut menjaga Mina. Namun karena Foster melihat mereka sudah sangat lelah, laki-laki itu dibantu Iren membujuk mereka pulang.
Sekarang sudah tengah malam. Pandangan Foster masih tidak beralih dari sang istri yang belum bangun-bangun juga. Tapi perasaan Foster sedikit lega karena kata dokter jaga yang memeriksa Mina, istrinya baik-baik saja. Kondisinya tidak mengkhawatirkan. Ia belum bangun-bangun karena ketiduran.
"Sweety, kamu cepat bangun ya." gumam Foster terus menempelkan tangan Mina ke pipinya. Sejak tadi pria itu tidak berhenti-berhenti bicara pada istrinya.
Saat ini yang ada dalam pikiran Foster adalah terus berada di sisi sang istri dulu. Tapi bukan berarti dia akan diam saja tanpa mencari sih pelaku. Ada Matthew dan Garra yang membantunya. Dan kalau sampai orang brengsek itu ditemukan, Foster bersumpah akan membuatnya merasakan siksaan yang berkali-kali lipat lebih besar dari yang dirasakan oleh istrinya.
Kemudian Foster merasakan ada pergerakan dari tangan Mina. Lelaki itu duduk tegak. Matanya yang tadi hampir tertutup karena mengantuk kembali terang.
"Sayang," gumamnya. Ia melihat Mata Mina perlahan membuka. Tangannya yang lain menyapu-nyapu kepala istrinya.
Ketika Mina membuka mata, wanita itu masih tampak bingung. Begitu melihat suaminya, dan mengingat kejadian mengerikan yang baru saja ia alami, wanita itu langsung bangun dengan wajah panik memeluk Foster.
"Kak Foster!" serunya menghambur ke dalam pelukan Foster, memeluk pria itu kencang, dan menangis tersedu-sedu.
Foster mengusap-usap punggung Mina, sembari menenangkan istrinya.
"Ssstt ... jangan takut, kamu aman sekarang."
Mina melepaskan pelukan sebentar,
__ADS_1
"Ba ... Bayi kita gimana?" ia teringat bayi dalam kandungannya. Tadi ia mengalami pendarahan parah. Mina takut ... Ia takut ia akan mendengar kalimat yang tidak ingin dia dengar. Kalau ia sampai kehilangan bayinya ... Kalau hal itu sampai terjadi ... Mina yakin dia akan ...
"Tenang sayang, bayi kita nggak apa-apa. Kata dokter bayi kita selamat." Foster menggenggam tangan Mina lembut. Sementara Mina langsung bernapas lega. Ia berterima kasih kepada Tuhan yang mendengar doanya. Wanita itu memeluk perutnya, masih menangis tapi itu adalah tangisan lega.
Kamu selamat nak. Gumamnya pada janin dalam perutnya. Sesaat kemudian ia merasakan tangannya digenggam erat oleh suaminya disertai dengan tatapan serius laki-laki itu.
"Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi. Apa yang sudah kamu alami hari ini? Siapa yang tega menyakitimu sampai seperti ini?" Foster menatap sang istri lekat-lekat.
Raut wajah Mina berubah.
"Dian." jawabnya. Wajahnya marah saat menyebut nama itu. Siapa tidak marah coba kalau diperlakukan seperti binatang oleh perempuan sakit jiwa itu. Bayinya bahkan hampir mati. Mina ingin Dian di hukum berat.
"Dian sengaja memancing aku datang dengan memalsukan kematian Paul. Wanita itu juga menggunakan Dira agar bisa menghubungiku. Dan ...
"Dira!" Mina langsung teringat sahabatnya tersebut.
"Kak Foster, Dira tadi membantuku kabur tapi dia malah kena tembak. Aku ... Aku takut dia kenapa-napa." wanita itu kembali panik. Tapi Foster keliatan biasa saja. Ia marah karena gadis itu salah satu penyebab Mina sampai datang ke tempat yang Dian mau.
"Dia pantas mendapatkannya. Temanmu itu termasuk orang yang menyebabkan kamu jadi seperti ini. Dia bantu kamu kabur itu sudah seharusnya karena dia yang salah." ujar Foster tak ada rasa kasihan sedikitpun. Mina yang mendengar ucapan suaminya menggeleng-geleng.
"Nggak, Dira juga dipaksa sama Dian. Waktu aku datang dia sudah babak belur. Dia terpaksa mengiyakan Dian karena takut perempuan jahat itu menyakitinya. Kakak tolongin Dira ya. Mereka pasti masih di hutan itu." pinta Mina.
__ADS_1
"Tapi ..." Foster masih berat hati.
"Pleasee kak, kalau sampai terjadi apa-apa pada Dira aku akan merasa bersalah seumur hidup." ucap Mina lagi. Ia mendongak menatap Foster penuh permohonan. Melihat itu Foster hanya menghela napas.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan berusaha menemukan keberadaan temanmu? Kamu masih ingat di tempat seperti apa Dian membawa kalian tadi?"
Mina mulai menjelaskan. Sesekali ia akan berhenti bicara karena merasa kesakitan dibagian wajah. Perutnya juga masih sedikit sakit. Walau penjelasannya tidak begitu rinci karena ia tidak begitu mengamati tadi, Foster bisa mengerti.
"Aku tahu. Sekarang polisi sedang mencari di lokasi tempat mereka menemukanmu. Aku akan menyuruh mereka mencari temanmu juga. Sekarang kamu istirahat lagi ya. Tubuhmu masih lemah." ucap Foster. Pria itu membantu Mina kembali berbaring.
Bangsal itu sangat tenang. Jelas dong, karena itu adalah bangsal khusus pasien VVIP. Jadi pasien di bangsal tersebut bisa tidur dengan tenang.
Setelah mendengar semua cerita Mina tentang bagaimana Dian menyiksanya, Foster mulai menyusun rencana pembalasan. Ia pastikan akan menghukum perempuan itu sebelum polisi menangkapnya. Foster adalah tipe laki-laki yang sangat berbahaya dan pendendam kalau ada yang dengan begitu berani mengusik hidupnya, apalagi melukai orang-orang yang dia cintai. Terutama istrinya
Begitu melihat Mina sudah tertidur pulas, Foster menelpon anak buahnya.
"Aku telah mengirimkan foto seorang wanita padamu, lacak keberadaannya sampai dapat lalu kurung di tempat yang aku bilang tadi. Oh ya, jangan lupa datangi rumah orangtuaku, periksa kalau dia ke sana atau tidak. Tapi ingat ingat, lakukan diam-diam. Kalau kalian berhasil menemukannya segera hubungi aku." setelah anak buahnya mengangguk, panggilan terputus. Foster menatapi Mina lagi dengan wajah serius, lalu merapikan anak rambut sang istri.
Aku janji akan membuat perempuan yang menyakitimu merasakan penderitaan yang sama. Bahkan lebih.
Ucap Foster dalam hati kemudian tersenyum sinis. Dia tidak akan membiarkan Dian lolos sekarang. Sudah cukup ia menahan diri sampai saat ini. Psikopat itu harus dia balas dengan kejam.
__ADS_1