
Iren tahu kode masuk apartemen Matthew. Wanita itu sudah berkali-kali ke apartemen itu dan tentu ia sudah merasa tempat Matthew ini seperti tempat tinggalnya sendiri. Sudah beberapa kali pula ia nginap di sini kalau lagi keasyikan ngobrol dan malas pulang. Biasanya kalau nginap, dia akan tidur dikamar Matthew sedang lelaki itu sendiri tidur di sofa. Tapi waktu itu Iren tidak ada perasaan apa-apa pada Matthew, murni masih menganggapnya sahabat.
Beda dengan sekarang. Bahkan untuk menekan kode masuk apartemen pria itu saja, ia harus berpikir berulang kali. Apa tindakan ini benar? Apakah yang akan mereka lakukan di dalam nanti akan dia sesali setelahnya? Tapi wanita itu tidak menampik kalau sekarang ini dia sangat menginginkan pria itu. Ia tidak tahu apakah karena dia hanya sedang membutuhkan se k s saja dan kebetulan cuma pria itu yang didekatnya yang memberinya tawaran, atau dia memang sudah ada perasaan suka sebelum ini?
Perasaan yang sama seperti pengakuan Matthew siang tadi. Jangan-jangan dia memang sudah menyukai pria itu sebelum ini? Kalau tidak kenapa dirinya merasa senang dan bersemangat begitu Matthew menyatakan perasaannya dikantor tadi? Iren terus berpikir keras.
Tanpa dia sadari pintu di depannya terbuka sendiri tanpa ia menekan kode, lalu tangan Matthew menariknya dari dalam.
"Ahh, Matthew!" pekik Iren.
Matthew kembali mendorongnya ke tembok, mengunci tubuhnya seperti tadi siang. Membuat jarak antara keduanya tersisa hanya beberapa senti saja. Iren bisa merasakan napas pria itu. Wanita itu terus menunduk, malu menatap wajah Matthew, apalagi sedekat ini. Lalu ia merasakan telunjuk pria itu menyentuh dagunya, mengangkatnya hingga wajahnya menengadah ke atas, menatap pria itu.
"Kenapa tidak langsung masuk, hm? Aku menunggumu sejak tadi. Apa yang kau pikirkan dengan serius diluar?" gumam pria itu bertanya dengan suara serak. Matthew sebenarnya sudah tidak tahan lagi untuk menyerang Iren langsung. Tapi ia masih berusaha keras menahan diri. Ini pertama kalinya bagi mereka berdua. Pertama kali dari sahabat berubah sedekat ini, dan nantinya akan menyatu bersama.
Mereka masing-masing memang sudah pernah bercinta dengan pasangan yang berbeda. Tapi rasanya kali ini berbeda. Perasaan keduanya ...
Ya ampun, Iren bahkan tidak segugup ini ketika berhadapan dengan mantan pacarnya pertama kali. Tapi dengan Matthew ...
Ada sesuatu yang berbeda. Seolah Matthew adalah laki-laki pertama yang berhasil membuat jantungnya berdetak sangat cepat hanya dengan tatapan pria itu. Tatapan yang begitu dalam, yang menyatakan ketulusan tercampur dengan hasrat yang membara. Yang menarik Iren untuk merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Apa kau sedang memikirkan bagaimana aku menyentuhmu?" pria itu mulai menggoda. Dulu ia tidak berani menggoda wanita ini, karena ia tahu Iren mungkin akan jijik padanya. Tapi sekarang, sepertinya godaan kecil saja akan membuat wanita itu malu. Buktinya wajah Iren memerah.
Matthew tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia memakai kesempatan itu me ***** bibir Iren. Lidahnya masuk dan bermain di dalam rongga mulut wanita itu. Iren yang awalnya masih ragu-ragu, kini membalas ciuman panas Matthew. Lama mereka berciuman hingga ciuman itu terhenti dengan dahi mereka yang saling menyentuh. Napas mereka terengah-engah.
Matthew kembali beraksi. Ia mengangkat kedua tangan Iren di atas kepala wanita itu dan mulutnya mulai menjelajahi leher jenjang perempuan itu. Ia selalu berkhayal menyentuh Iren dibagian-bagian sensitif wanita itu. Dan sekarang, akhirnya datang juga waktunya.
"Eumph ..." Iren melenguh saat Matthew menggigit lehernya, memberikan tanda kepemilikan pria itu di sana. Mulut Matthew terus turun hingga ke belahan kemeja Iren.
Wanita itu menahan napas. Sebelah tangan Matthew yang bebas membuka satu persatu kenop kemejanya. Iren malu ketika pria itu berhasil membuka kemeja dan melepaskan bra putih yang menutupi gunung kembar miliknya.
"Sangat padat." gumam Matthew. Matanya berbinar-binar bahagia menatap bagian itu. Sementara Iren menggigit bibirnya, ia sangat malu. Memang Matthew bukanlah laki-laki pertama yang sudah lihat bagian itu, tapi pria itu adalah laki-laki pertama yang membuatnya malu bukan main hanya dengan melihat ia bug il. Padahal baru bagian atas saja. Bagaimana jadinya kalau pria itu melihat bagian bawahnya. Iren tidak sanggup membayangkan. Ia pasti akan malu sekali.
"Eungh ..." wanita itu melenguh lagi ketika telunjuk Matthew menyentuh put i ng kanannya.
"Ini sudah keras. Kau tegang Iren," Matthew berbisik serak lalu mulai memilin bagian itu dengan gerakan memutar. Menyiksa Iren dengan kenikmatan yang tertahan. Iren malu mengeluarkan suara-suara laknat itu. Ia malu. Ia takut Matthew merasa jijik. Matthew sangat lihai membuat tubuhnya bergetar hebat.
"Jangan malu. Ini bukan kali pertamamu kan? Kenapa harus malu? Aku tahu kau seorang master sayang. Mendes ah lah untukku." Matthew mengedipkan sebelah matanya. Padahal ia sendiri sempat ragu dan takut akan membuat Iren membatalkan keputusannya. Tapi ketika melihat raut wajah Iren yang begitu mendamba sentuhan laki-laki, Matthew jadi makin tertantang. Ia ingin Iren tahu kalau dia berbeda dari lelaki sebelumnya.
Kalau lelaki sebelumnya hanya memberinya rasa sakit dan trauma, maka ia akan menyembuhkannya. Matthew ingin Iren melupakan semuanya dan memulai kembali dengannya. Matthew akan memberikan kenikmatan yang tidak akan pernah Iren lupakan. Karena ia akan bertaruh dengan perasaannya yang tulus terhadap wanita ini.
__ADS_1
Mulut Matthew bermain di pucuk merah muda milik Iren, memberikan gigitan kecil di sana hingga Iren membusungkan dada. Rasa geli dan enak bercampur. Oh ... Matthew betul-betul pandai menyentuh titik yang dia sukai.
Setelah puas bermain di dada Iren, Matthew mengangkat wanita itu. Ia membawa Iren ke dapur, mendudukkannya di atas meja makan.
Iren bingung.
"Ke ... Kenapa di sini?" ia bertanya. Ia pikir Matthew akan membawanya ke kamar.
"Diam dulu. Kau akan suka." lagi, pria itu kembali mengedipkan matanya. Tangannya membantu Iren melepaskan celana kain yang ia pakai. Kemudian melucuti celana da lamnya.
Iren menutup kakinya rapat-rapat. Malu? Jelaslah malu. Baru bagian atas saja yang pria itu lihat tadi ia sudah malu bukan main. Apalagi area yang paling sensitif dari seluruh bagian tubuhnya ini. Ia sangat malu.
Matthew berlutut di bawah meja, menarik Iren lebih ke ujung. Tangannya membuka paha Iren lebar-lebar, namun Iren terus berusaha merapatkan pahanya.
"Ja ... jangan begini Matt. Aku malu."
"Jangan malu sayang, biarkan aku lihat milikmu yang indah." gumam Matthew menatapnya dalam. Iren tidak tega, akhirnya gadis itu mengangguk. Ia membiarkan Matthew membuka pahanya lebar-lebar, mengang kang di depan pria itu.
Matthew tampak puas saat melihat bagian tengah berwarna merah muda dalam paha Iren. Pria itu menelan ludah. Ia menatap Iren lagi.
__ADS_1
"Kau sangat cantik." pujinya. Iren menggigit bibir bawahnya, tubuhnya begitu tegang.
"Ahh ..." Kemudian di rasanya lidah Matthew sudah masuk ke dinding lu b ang kenikmatannya.