Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 51


__ADS_3

"Laya, batalkan meeting hari ini. Aku tidak akan masuk kantor selama dua hari. Sekarang aku sedang berada di luar kota, ada kucing liar yang perlu aku jinakkan." setelah mengatakan hal itu pada asistennya, Foster mematikan panggilan.


Sementara Laya yang mendengarkan perkataan atasannya merasa aneh.


"Kucing liar?" Laya kebingungan. Bosnya memang kadang-kadang sedikit aneh. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran sih bos. Wanita itu lalu mengedikan bahu tidak peduli. Tidak penting juga, itu kan urusan pribadi bos-nya


"Foster tidak masuk kantor?" suara tersebut membuat Laya membalikan badan. Dian sudah berdiri dengan angkuh di depan sana. Walau Dian tahu Laya bukanlah saingannya, tapi terkadang ia tidak begitu suka dengan wanita itu. Tentu karena Foster selalu mempercayai wanita itu mengurus semua urusan penting kantor. Laya ... Dian lebih suka bekerja di posisi wanita itu. Karena tiap hari bisa melihat Foster dari dekat.


"Iya, pak Foster ada urusan pribadi di luar kota." kata Laya.


"Urusan pribadi? Sama istrinya? Diluar kota di mana?" Wanita itu langsung menodong Laya dengan pertanyaan bertubi-tubi. Ia ingin tahu  Foster pergi kemana dan sama siapa, mereka lagi ngapain di sana.


"Aku tidak tahu." Laya mengedikan bahu.


"Kenapa kau tidak bertanya?" Suara Dian meninggi seperti orang marah. Laya menatap wanita itu aneh. Apaan sih? Memangnya dia siapa? Terserah dong atasannya mau pergi ke mana pun dia suka dan mau buat apa.


"Aku hanya asistennya Dian, mana mungkin aku menanyakan semua kegiatan pribadinya."


"Dasar bawahan tidak becus, kalau sampai terjadi apa-apa sama Foster, aku akan langsung memecatmu!" perempuan itu berkata dengan nada tinggi lalu berbalik pergi dari situ.


Laya tercengang. Astaga, siapa dia? Ada hak apa coba dia memecatnya. Wanita sinting. Padahal Foster sudah menikah dan tidak pernah menggubrisnya. Tapi masih saja wanita itu bersikap tidak tahu malu dengan menganggap Foster adalah miliknya.


"Perempuan gila." ucapnya. Lama-lama ia kesal juga dengan sikap semena-mena Dian. Padahal wanita itu bukan siapa-siapa.


                                    ***


"Good morning, sweety."


Foster menyapa Mina yang pagi-pagi sudah berada di dalam kolam berenang rumah oma Winda. Pria itu menginap di rumah itu juga, tentu atas izin dari pemilik rumahnya. Ia tidak akan pulang sendiri tanpa Mina, kalau begitu kan percuma dia mengejar gadis itu sampai ke sini.


Foster ingat kemarin ketika dirinya mengetahui Mina kabur dari rumah, ia langsung panik dan kelabakan. Untungnya ia bisa melacak keberadaan gadis itu lewat GPS. Begitu mengetahui gadis itu ke Bandung, Iren langsung tahu Mina pasti ke rumah nenek mereka. Karena Iren ada kesibukan lain, hanya Foster yang pergi. Dan di sinilah dia sekarang.


Mina masih ngambek, belum mau bicara padanya. Namun Foster memiliki banyak cara untuk menaklukan wanitanya. Di tambah lagi Oma Winda sudah mengajarinya kemarin cara-cara ampuh bikin Mina luluh.


Foster tertawa pelan begitu Mina membuang muka darinya. Malah tindakan gadis itu yang begini yang membuatnya makin tertantang untuk menggoda. Tanpa aba-aba, pria itu membuka baju bagian atas dan melompat ke dalam kolam dengan celana boxer-nya.

__ADS_1


Airnya memancar ke Mina sampai-sampai gadis itu harus mengucek-ucek matanya yang kemasukan air. Ia kemudian menatap kesal ke Foster. Mulutnya merengut.


Pria itu mendekatinya, lalu meraih pinggangnya hingga badan mereka saling menempel di dalam air. Mina berusaha melepaskan diri, namun Foster terus menahannya dengan tangan kekar laki-laki itu.


"Sampai kapan kau akan seperti ini, hm?"


Mina membuang muka lagi.


"Aku dan kakakmu sudah minta maaf,  kau akan ngambek sampai kapan sih, nona kecil?"


Kali ini Mina kembali menatap pria itu dengan raut wajah kesal.


"Terserah aku. Siapa suruh kalian semua berani mempermainkan aku!" ketusnya. Foster terkekeh.


"Kan sudah minta maaf,"


"Biar. Emang maafin orang segampang itu?"


"Lalu kamu maunya bagaimana? Aku akan melakukan apapun asal kau mau memaafkan aku." Foster sungguh-sungguh dengan ucapannya. Mau bagaimana lagi coba, dia sudah terlalu bucin pada gadis ini. Apapun akan dia lakukan agar Mina mau bicara dengannya lagi.


"Mm, apa pun." Foster bergumam di depan wajahnya. Otak Mina mulai berpikir.


"Kak Foster masuk kantor nanti pakai baju pink-pink. Atasan sama bawahannya. Nanti aku yang beli." kata gadis itu semangat.


Foster melotot lebar.


"Sweety, kau yakin akan mempermalukan priamu yang gentleman ini di depan umum?"


Pria mu?


Mina senang mendengar kata itu. Foster menganggapnya sebagai pria dari gadis itu.


"Mau tidak, jangan-jangan kak Foster nggak berani. Ya cemen ..."


"Apa katamu? Baiklah, aku akan melakukannya untukmu." Putus Foster langsung.

__ADS_1


"Sekarang, kau masih marah?" Mina tidak menjawab. Sebenarnya dari semalam pun amarahnya sudah hilang, hanya kadang merasa jengkel saja kalau mengingat mereka nge-prank dia.


"Kalau masih ngambek, aku akan memanjakanmu seperti ini."


Lalu Foster mendorong tubuh Mina hingga membentur dinding kolam dan tangannya dengan nakal menyusup masuk ke dalam celana renang Mina, membelai kema l uan gadis itu dengan jarinya.


Mina membeku di tempat.


"Ahh ... kak Foster, kita di kolam kak. Bagaimana kalau a ... ada yang lihat. Klo Oma Winda tiba-tiba datang gi ... gimana ..." sesekali mata Mina tertutup akibat sentuhan-sentuhan nikmat Foster yang menggosok naik turun dinding v*ginanya.


Oh ya ampun, rasanya sangat enak. Mina serasa melayang.


"Oma kamu sudah keluar pagi-pagi tadi. Mau ke kebun teh katanya. Nikmati saja. Aku tahu kau suka." Foster terus mengocok bagian itu, gerakannya makin cepat.


"Ahh ..." tangan Mina mencengkeram bahu Foster dengan sekuat tenaga. Ia sudah mau keluar.


"Mmmhpph ..." erangan panjangnya menandakan bahwa dirinya sudah orgasme. Foster tersenyum puas, membiarkan gadis itu menikmati orgasmenya beberapa saat. Kemudian ia berbisik ditelinga Mina.


"Kau mencobanya di dalam air?"


"Nggak,"


"Ayolah, aku ingin."


"Aku takut ada yang memergoki kita." Mina kan malu kalau sampai ada yang memergoki dirinya bercinta dengan seorang laki-laki di dalam kolam. Yang benar saja, ia tidak mau. Apalagi di rumah oma-nya ini ada banyak pembantu.


"Nanti saja kak."


"Tapi milikku sudah tegang sekali, sweety."


Mina berdecak.


"Biar aku kocok dengan tangan." kata gadis itu. Daripada Foster bersikeras mau memasukinya di dalam kolam.


Mina mengganti posisinya dengan pria itu. Giliran Foster yang bersandar di dinding kolam, dan Mina memulai aksinya. Mengeluarkan benda panjang yang sudah sangat tegang itu dari dalam boxer Foster, kemudian mulai mengocok dengan gerakan naik turun. Setelah melakukannya beberapa kali, Mina makin hebat dan tahu titik-titik kelemahan pria itu.

__ADS_1


"Ohh ... ya begitu, mmphh ..."


__ADS_2