Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 56


__ADS_3

"Kak Foster,"


"Mm?"


"Kayaknya sih Dian Dian itu nggak suka banget deh sama aku. Apa jangan-jangan dia mantan pacarnya kak Foster lagi." Mina bertanya dengan badannya bersandar di punggung belakang Foster. Keduanya telah kembali ke rumah. Sekarang tengah bersantai di bangku panjang balkon kamar Foster.


Foster mengganti posisi Mina, menidurkan gadis itu di pahanya lalu menyentil pelan dahinya. Mulut Mina mengerucut.


"Mana ada. Aku dan perempuan itu tidak pernah berpacaran. Aku tidak pernah menyukainya. Tapi dia jenis perempuan yang cukup nekat. Kamu harus hati-hati sama dia. Usahakan menghindarinya dikantor." ujar Foster. Dia tahu watak Dian, ia tidak menyukai wanita yang terus-menerus berlindung dibelakang mamanya itu.


"Tapi aku lihat mama kakak dekat banget sama dia. Gimana caranya dia ambil hati mamanya kak Foster?" bukannya iri, Mina hanya penasaran bagaimana mereka bisa dekat.


Foster mengusap-usap lembut kepala Mina yang tidur-tiduran di pahanya itu.


"Mamaku dan almarhumah mamanya adalah sahabat dekat. Kami juga tetanggaan. Namun waktu Dian SMP kelas tiga, mamanya meninggal karena sakit. Papanya menikah lagi. Dian tidak cocok dengan ibu tirinya, ia terus mengadu ke mamaku sambil nangis-nangis. Karena kasian, mama bawa dia tinggal di rumah kami, dan menganggapnya sebagai putri sendiri.  Hanya saja Dian selalu berpikir kalau mama akan menjodohkan aku dengan dia, jadi dia selalu menganggap aku adalah miliknya. Karena itu waktu dia di ajak tinggal mama di rumah, aku langsung cari kos di tempat lain. Kami tidak pernah bertemu lagi sampai mama maksa aku terima dia kerja dikantor tahun lalu. Menurutku wanita itu sakit." Foster bercerita panjang lebar.


Ia hanya belum punya alasan yang kuat untuk memecat wanita itu. Dian selalu berhati-hati dan menunjukkan profesionalisme bekerja pada orang-orang dikantor. Sebenarnya bisa saja Foster memecatnya kalau lelaki itu mau, tapi ia tidak mau Dian membuat drama yang pada akhirnya membuat orang-orang akan menggosipkan mereka. Foster tidak sudi di gosipkan dengan wanita itu.


Mina baru tahu sekarang. Ternyata ada ceritanya sih Dian jadi begitu. Tapi kan wanita itu harusnya mundur saja kalau tahu Foster tidak menyukainya. Jangan memaksa. Jangan sampai membuat orang yang di sukai risih. Benar kata kak Foster, wanita itu sakit.


"Pokoknya kalau dia menampar kamu kayak yang waktu itu lagi, langsung lapor ke aku. Paham?" kata Foster lagi.


Mina mengangguk.


"Sekarang  jangan bahas wanita itu lagi. Ayo bahas pernikahan kita. Kamu mau kapan?" pria itu mengubah topik. Kalau ikut maunya sih, besok juga ia ingin langsung mendaftarkan pernikahan mereka. Biar pesta pernikahannya menyusul. Apalagi hubungannya dengan Mina memang sudah seperti pasangan suami istri, hanya belum di sahkan saja.


"Kan harus bahas sama orang tua kita dulu kak." ucap Mina. Ia takut mengambil keputusan sendiri tanpa bilang ke mama dan papanya.


"Hufftt ..." Foster sengaja memasang raut wajah cemberut. Hanya pada Mina seorang laki-laki dingin macam Foster ini bisa mengeluarkan berbagai macam ekspresi. Mina tertawa menangkup pipi lelakinya.


"Sabar calon suami aku, kan sekarang aja kita udah hidup kayak suami istri. Tetap aja nggak bakalan ada malam pertama, karena malam pertamanya udah." lalu gadis itu mengedipkan matanya menggoda Foster. Akhir-akhir ini Mina memang sudah tidak malu-malu lagi menggoda pria itu. Ia bahkan tambah lihai di atas ranjang.


"Oh, makin nakal ya sekarang."


"Ahh ..." Mina memekik begitu Foster mengangkat tubuhnya masuk ke kamar.

__ADS_1


"Aku mau itu lagi sekarang, kamu masih mampu kan?"


"Nggak ah. Besok aja. Aku udah capek, pengen tidur." tolak Mina.


"Beneran capek? Tapi kamu sendiri yang mancing-mancing aku tadi."


"Iya beneran nggak bohong. Tubuh aku pegal-pegal semua. Kakak sih nggak kasih aku waktu istirahat beberapa hari. Paling nggak kasih jeda dong, jangan terobos terus."


Foster tertawa pelan.


"Habisnya kamu terlalu nikmat, bikin aku ketagihan terus." ia membaringkan Mina di ranjang dan ikut berbaring di sebelah gadis itu. Mereka berbaring berhadap-hadapan dengan tangan Foster memeluk pinggang Mina.


"Tidurlah. Malam ini aku puasa dulu. Kesehatan kamu lebih penting." gumam pria itu.


"Kak Foster,"


"Tidur sayang, tutup mata kamu."


"Aku ingat kakak belum penuhin janji kakak." Foster membuka matanya.


"Kak Foster ingat nggak waktu di rumah Oma Winda kakak janjiin aku mau pake baju pink-pink ke kantor?"


Oh ya ampun. Benar. Foster merutuk dalam hati, kenapa dia pakai berjanji sih.


"Kamu yakin, mau aku pake begituan di depan banyak orang? Itu bisa turunin citra perfect aku loh."


Mina mengangguk.


"Yakinlah. Kakak udah janji. Bajunya juga sudah aku beli. Tinggal di pakai."


"Kapan?"


"Besok."


Hening sebentar ..

__ADS_1


"Kak Foster nggak akan ingkar janji kan?"


Foster menghembuskan napas panjang.


"Baiklah." angguknya kemudian. Demi calon istri tercintanya. Tak lama kemudian keduanya tertidur sambil berpelukan.


____________


Pagi-pagi sekali, begitu Foster turun dari mobil, ia langsung mendapat perhatian semua orang. Penampilannya hari ini adalah penampilan teraneh seumur dia hidup. Baju pink, dasi, pink, celana bahkan sepatu semuanya serba pink. Mina benar-benar niat sekali membeli benda-benda itu. Sudah begitu, warna pinknya norak sekali lagi. Ia bisa lihat semua orang tertegun dan kaget melihat penampilannya.


Tetapi sebagai karyawan yang di gaji olehnya, tentu mereka takut menertawai dia terang-terangan. Hanya bisa bersikap biasa dan membungkuk hormat saat pria itu melewatinya, terbahak setelah sang bos pemilik perusahaan menghilang dari hadapan mereka.


Mina, kau akan aku habisi malam nanti. Gumamnya dalam hati.


Ketika ia memasuki ruangannya, Matthew sudah ada di sana. Pria yang sedang asyik menyesap kopinya tersebut langsung muncrat begitu melihat kemunculan Foster dengan penampilan anehnya. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


"Apa kau sedang cosplay? Penampilanmu unik sekali, Man!"


Seru Matthew. Pria itu meletakan cangkir kopinya di atas meja dan bertepuk tangan di depan wajahnya dengan tatapan mengejek Foster. Foster langsung menimpuknya dengan bantal sofa. Wajah pria itu jengkel bukan main.


Memalukan. Sangat memalukan. Matthew ikut duduk di depannya.


"Katakan, ide siapa ini?"


"Menurutmu?" raut kesal Foster bikin Matthew tertawa ngakak.


"Mina. Hanya gadis itu yang bisa membuatmu melakukan tindakan yang konyol begini. Haha, ternyata seorang Foster bisa tidak berdaya juga karena kekasihnya." Matthew betul-betul puas. Ia berterimakasih ke Mina karena hari seperti ini datang juga pada Foster.


Tok tok tok ...


suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Foster dan Matthew. Mereka memandang ke arah pintu. Mina sudah berdiri di sana sambil memegangi sebuah map. Gadis itu menahan tawanya saat melihat Foster.


"Aku di suruh anterin ini." ia cepat-cepat menaruh map ditangannya ke meja sofa, menyempatkan diri menjulurkan lidah meledek Foster dan berbalik kabur secepat kilat. Matthew sampai tercengang dengan kelakuan gadis itu.


Ia melirik ke Foster yang malah tertawa-tertawa sendiri sambil melonggarkan dasinya.

__ADS_1


Tunggu saja nanti malam sweety, kau tidak akan lolos.


__ADS_2