
BRAKK !!!
"Ahhh ... Ampun Foster, aku salah ... Maafkan aku ... Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, ahhh ..." pekik Dian kesakitan. Ia tak sanggup lagi. Dirinya sangat tersiksa. Foster betul-betul kejam, tak ada belas kasihan sedikitpun. Ia mau mati rasanya.
"Tolongg ..." pinta Dian lagi dengan sisa-sisa kekuatannya. Airmatanya tak terbendung. Ketakutan yang amat sangat menyelimuti dirinya. Lebih baik mati saja dari pada harus menderita seperti ini. Foster tertawa sinis,
"Aku tidak akan pernah mengasihani wanita kejam yang sudah menyiksa istriku seperti dirimu. Sudah pernah ku ingatkan bukan kalau aku akan menghabisi siapa pun yang menyakiti wanita yang aku cintai?" katanya dingin.
Airmata Dian, tubuhnya yang kini penuh luka dan basah karena darah tak kunjung membuat Foster merasa iba sedikitpun. Tapi lelaki itu akui Dian sangat tahan dengan siksaan yang dia alami. Biasanya orang lain apalagi perempuan pasti sudah tidak sadarkan diri disiksa seperti itu.
Kemudian lelaki itu mundur beberapa langkah. Bersiap-siap menendang Dian. Wanita di depannya sudah pasrah. Tapi sebelum Foster berhasil, pintu ruangan itu terbuka.
BRAKK !!!
Matthew, Garra dan ... Mariam muncul di depan pintu.
Garra berlari cepat menghentikan Foster.
"Lepaskan aku, aku harus menghabisinya sekarang juga. Orang sepertinya tidak pantas hidup!" Foster memberontak. Garra memang kuat, tapi untuk menghadapi seorang Foster yang sudah marah dan menjadi-jadi seperti ini, ia tidak sanggup seorang diri. Untung Matthew cepat mengerti dan langsung membantunya.
"Hei, jangan diam saja, ayo bantu tahan dia!" seru Matthew pada kedua anak buah Foster. Dua laki-laki bertubuh kekar itu bergegas membantu. Mariam mencari tempat agak di sudut, ia hanya menjadi penonton.
__ADS_1
Ketika Mariam melihat kondisi Dian, gadis itu meringis ngeri. Gila, gila, gila! Kakaknya ternyata lebih kejam dari yang ia bayangkan. Untung mereka sampai cepat, kalau tidak Mariam yakin Wanita itu sudah mati dibunuh oleh kakaknya sendiri.
Pagi-pagi tadi Garra datang ke rumahnya untuk mencari keberadaan Dian. Awalnya Mariam dan mamanya juga tidak percaya dalang penculikan Mina adalah wanita yang tinggal bersama mereka itu, tapi waktu Garra dan Matthew datang ke rumah, Dian sudah menghilang. Ketika mereka cek cctv depan rumah, tampak dua orang membius dan membawa wanita itu pergi. Dengan kecepatan dan kepintaran Garra sebagai detektif, tak butuh waktu lama bagi mereka menemukan keberadaan Dian.
Dan ternyata oh ternyata, yang penculik wanita jahat itu adalah kakaknya sendiri. Tentu saja untuk balas dendam karena sudah menyakiti istrinya. Walau merasa ngeri dan sedikit kasihan, tapi Dian memang pantas menerimanya. Siapa suruh dia yang mulai.
"Foster! Kau akan membunuhnya, lihat, keadaannya sudah seperti itu! Lebih baik berhenti sebelum kau menjadi pembunuh dan merusak semuanya!" bentak Garra, lelaki itu berhasil mendiamkan Foster yang terus berontak.
Mariam diam-diam tercengang melihat ketegasan detektif tampan itu. Oh, ternyata ada gunanya juga dia ikut. Tidak sia-sia. Ia bisa lihat para lelaki tampan berkumpul, wanita gila yang sudah tak berbentuk itu ditangkap dan ... kebrutalan kakak kandungnya sendiri. Apakah harus cerita ke mamanya nanti?
Tidak deh, hubungan mamanya dan Dian kan terbilang sangat dekat. Mamanya pasti masih syok mendengar kabar Dian adalah penculik saudari iparnya. Kalau dia juga cerita dengan senang hati apa yang baru saja di alami wanita itu, yang ada mamanya tambah sedih. Lebih baik tidak. Tapi Mariam yakin mamanya pasti kecewa sekali setelah tahu kebusukannya seorang Dian. Secara yang paling dia andalkan di rumah ternyata adalah seorang monster kejam.
Mariam menatap ke sang kakak. Foster sudah diam, tidak memberontak lagi. Ia merasa perkataan Garra benar. Kalau Dian sampai mati ditangannya, dia pasti masuk penjara. Dan itu akan membuat hidup keluarga kecilnya kacau, Mina tidak akan bahagia. Kalau dia dipenjara, siapa nanti yang menjaga Mina? Yang menemaninya melahirkan. Tidak, Foster tidak mau. Dia sendiri yang akan menemani istrinya.
Foster akhirnya diam. Matthew menghembuskan napas lega. Pandangannya berpindah ke Dian. Astaga, Foster memang kejam sekali. Ia tidak mengasihani perempuan itu sama sekali.
"Aku akan membawanya ke kantor polisi sekarang." ujar Garra kemudian. Lelaki itu mendekati Dian, membuka ikatan dan mengangkat wanita yang sudah tidak berdaya itu sedikit kasar. Penjahat kejam memang tidak pantas dikasihani.
"Dengan keadaan begitu? Kau tidak akan membawanyanya ke rumah sakit terlebih dahulu? Aku takut dia mati ditengah jalan dan Foster akan menjadi pembunuh." balas Matthew. Pikirannya panjang, segala kemungkinan bisa terjadi.
"Ya ampun ka Matt, mana mungkin ratu sembilan nyawa itu mati." Mariam tertawa. Suasana yang tegang sedikit mencair karena suara cempreng dan gelak tawanya. Garra dan Matthew menatap gadis itu lama.
__ADS_1
"Ada apa? Aku hanya mengatakan pendapatku. Aku ingat dia pernah sakit berat dan bilang sama mama kalau dirinya adalah ratu sembilan nyawa. Jadi aku berpikir kalau nyawa satunya mati kan masih ada delapan nyawa, artinya dia masih bisa hidup delapan kali lagi setelah mati kan?" kalimat polos itu meluncur begitu saja dan mulut Mariam, hingga Matthew, Garra dan dua anak buah Foster dibuat tercengang.
Bisa-bisanya di situasi seperti ini dia masih bisa kepikiran akan bilang begitu. Foster dan Matthew tersenyum tipis, sedang Garra berusaha menahan senyumnya. Bahkan tidak terlihat senyum sedikitpun. Tidak mau wibawanya jatuh di depan gadis itu.
Detektif tampan itu berdeham kemudian.
"Aku pergi dulu." ucapnya, tidak mau berlama-lama lagi.
"Aku ikut denganmu!" seru Mariam. Entah kenapa ketertarikannya ke Garra kembali muncul.
"Aku akan ke kantor polisi, kau pulang dengan kakakmu saja. Tidak ada gunanya kau mengikutiku." kata Garra.
"Nggak mau. Aku ingin ikut. Memangnya tidak bisa?" balas Mariam cepat.
Garra ingin menolak lagi tapi akhirnya mengurungkan niatnya. Kalau begini terus, yang ada wanita yang sudah terluka berat ini benar-benar akan kehilangan nyawanya.
"Terserah kau saja." katanya kemudian. Mariam tersenyum puas kemudian berjalan mendahului Garra, masuk ke mobil detektif itu. Garra menggeleng-geleng melihat sikap adiknya Foster itu.
Di dalam gedung Matthew menatap Foster. Penampilan laki-laki itu sudah kacau.
"Sebaiknya kau pulang dan perbaiki penampilanmu baru kembali ke rumah sakit." kata Matthew. Ia memiringkan kepala ke anak buah Foster.
__ADS_1
"Antarkan bos kalian pulang." perintahnya lalu menatap Foster lagi.
"Aku akan istirahat sebentar di rumah dan menyusul ke rumah sakit saat terbangun nanti." katanya. Dari semalam lelaki itu memang belum tidur. Foster menganggukkan kepala. Perasaannya sudah kembali seperti biasa, ia sudah puas menyiksa Dian.