Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 44


__ADS_3

Jakarta, Indonesia


Mina membuka kedua matanya dengan perlahan saat ia merasakan seseorang membelai pahanya dengan gerakan lembut. Siapa yang mengganggu tidur siangnya sih.


"Kak Foster?" gumamnya kuat. Sedikit kaget bercampur senang. Senang? Ia senang melihat laki-laki itu pulang? Harusnya kan tidak. Karena ia tahu berada di dekat seorang Foster harus siap lahir batin. Laki-laki yang delapan tahun lebih tua darinya ini bisa menggempurnya kapan saja ia mau.


"Kakak sudah pulang?" pandangan Mina berpindah ke dapur. Ia ingat ada pembantu sewaan kakak iparnya yang memasak di sana tadi. Tapi sekarang sudah tidak ada. Apakah sudah pulang?


"Kenapa tidur di sini?" bukannya menjawab, pria itu malah balik bertanya.


"Tadi aku nonton tv, nggak sadar udah ketiduran." sahut gadis itu seadanya.


"Lalu kenapa wajahmu kusut begitu? Seperti orang yang banyak pikiran. Ada masalah?" Foster mengelus lembut kening Mina. Padahal dia yang harusnya kelelahan, tapi malah gadis ini yang lebih mengkhawatirkan.


"Nggak, mungkin karena baru bangun tidur."


"Kau yakin?


"Mm."


Foster menatap Mina lekat-lekat. Mungkin benar, dia saja yang terlalu berpikir berlebihan.


"Aku sangat lelah." Mina menoleh ke Foster yang tiba-tiba merebahkan kepalanya di atas pangkuan gadis itu, kemudian menatap ke arah bantal sofa yang baru saja pria itu lemparkan begitu saja di lantai.


"Jangan begini kak. Nanti ada yang lihat." Mina mendorong Foster tapi pria itu malah membenamkan kepalanya kuat-kuat di paha Mina.


"Sssttt ... tidak ada siapa-siapa di sini." gumam pria itu.

__ADS_1


"Tapi tadi ada bibi di ..."


"Aku sudah menyuruhnya pulang."


"Kalau kakak lelah, istrihat di kamar aja. Aku pengen mandi."


ucapan Mina sontak mengundang pikiran iblis Foster. Ia menatap Mina.


"Mau mandi bersama?" tawarnya dengan senyum menggoda. Mina sukses melotot lebar.


"Jangan harap!" gadis itu mendorong kuat kepala Foster dan cepat-cepat kabur ke lantai dua. Foster tertawa.


"Apa yang perlu ditakutkan sih." gumam laki-laki itu lalu kembali merebahkan dirinya di sofa. Ia sudah terlalu capek, tidak ada kekuatan lagi untuk bermain-main. Nanti saja, Mina juga tidak akan lari.


                                     ***


Ketika memasuki kamarnya, pria itu memandang ke rak buku sebentar. Masih rapi seperti sebelum ia ke luar kota, tidak ada tanda-tanda ada orang yang memasuki kamar itu dan menyentuh barang-barangnya. Tampaknya Mina belum jadi meminjam bukunya. Pria itu mengedikan bahu kemudian melepaskan seluruh pakaian dan masuk ke kamar mandi.


Habis mandi Foster siap-siap ke kamar gadisnya. Ia sangat kangen dengan gadis itu. Wajarlah. Sudah lebih dari seminggu mereka tidak ketemu. Apalagi Iren lagi ke luar negeri. Tidak akan ada gangguan beberapa hari ini. Pria itu tersenyum senang.


Saat tiba didepan kamar Mina, Foster menghentikan langkahnya sebentar. Ia mendengar suara muntah-muntah. Mina muntah? Raut wajahnya berubah khawatir, dengan langkah sigap ia mendorong pintu di depannya dan berlari ke kamar mandi.


"Kau kenapa?" pria itu sudah berdiri dibelakang Mina. Tangannya mengusap-usap punggung belakang gadis itu. Mina masih terus muntah di wastafel. Sebelah tangan Foster membantu memegangi rambut panjangnya yang terurai.


Wajahnya pucat pasi, makin menambah kekhawatiran Foster.  Pria itu membimbingnya duduk di ranjang, lalu berlutut di depan gadis itu sambil mengusap-usap telapak tangannya lembut.


"Sudah enakan?" ia bertanya. Mina menggeleng. Perutnya terasa sangat sakit, ia masih mual. Tenaganya hampir habis. Melihat gadisnya yang tidak berdaya, Foster mulai panik.

__ADS_1


"Tunggu di sini sebentar," pria itu berlari secepat kilat ke kamarnya untuk mengambil hape. Tak sampai satu menit ia sudah berada di kamar Mina lagi. Duduk disamping gadis itu seraya menyandarkan kepala Mina dibahunya.


"Aku akan telpon dokter pribadiku." ujar Foster. Ia menekan nomor dokter pribadinya tapi sialnya tidak aktif. Pria itu menarik napas gusar. Mina masih sangat kesakitan, ia bisa lihat sudut mata Mina mengeluarkan air.


"Ayo ke rumah sakit sekarang." tidak ada pilihan lain. Ia takut terjadi apa-apa pada Mina. Pria itu menggendong Mina dan melangkah cepat keluar. Kepanikannya makin bertambah. Ya ampun, ia belum pernah sepanik ini sebelumnya.


"Tahan sayang, kita akan segera sampai." gumamnya.


Kira-kira sepuluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit terdekat. Foster kembali menggendong Mina sambil berlari cepat ke dalam gedung besar itu.


"DOKTER!" teriaknya menggelegar dan panik, sampai-sampai orang-orang di koridor menatapnya heran.


Begitu mendengar teriakan kencang pria itu, dua orang perawat langsung datang sambil mendorong brankar,


"Letakan dia di sini." kata salah seorang perawat. Foster membaringkan Mina dengan amat berhati-hati lalu membantu kedua perawat itu membawa Mina ke IGD. Tak lama kemudian seorang laki-laki berusia tiga pulu-an dengan pakaian dokter datang memeriksa Mina.


Dokter tersebut memeriksa Mina dengan sikap tenang. Lalu memerintahkan salah seorang suster memasangkan infus lalu menyuntiknya dengan beberapa jenis obat, entah obat apa itu. Setelah itu, Mina mulai merasa lebih membaik. Perutnya tidak sesakit tadi lagi, dan ia sudah tidak merasa mual.


"Kenapa dengannya, apa dia hamil?" Foster bertanya dengan antusias, sontak Mina melotot lebar dan merasa malu sekali didepan dokter dan para perawat di situ. Astaga, mau taruh di mana mukanya? Lebih baik tadi dia pingsan saja daripada malu mendengar pertanyaan dari kakak iparnya.


Mina tahu orang-orang di situ sedang menahan senyum mereka, pasti merasa lucu. Lagian tidak mungkin kan dia ada gejala hamil, kan baru lewat seminggu sejak ia berhubungan badan dengan lelaki itu. Ada-ada saja.


"Dia bukan hamil. Lambungnya yang bermasalah. Kemungkinan besar makanan yang masuk ke dalam tubuhnya tidak higienis. Kalau boleh tahu apa saja yang kau makan hari ini?" kata dokter yang memeriksanya, sekaligus bertanya.


Mina menatap sang dokter, lalu menatap Foster. Ia sadar sekali beberapa hari terakhir ini dirinya sering makan makanan pinggiran jalan yang pedas-pedas. Sampai tadi siang dia masih mampir makan baso tusuk pedas. Tapi Mina takut bilang jujur, ia takut kak Foster akan mengomelinya dari A sampai Z.


"Apa yang kamu makan selama aku tidak ada di rumah, nona kecil, hm?" Foster menatapnya tajam. Ia langsung tahu begitu melihat ekspresi Mina saat menatapnya. Masih hening, sesaat kemudian Mina dengan terpaksa menjawab.

__ADS_1


"Hanya baso tusuk, hehe ..." gadis itu menyengir lebar. Perawat dan dokter yang masih di situ ikut tersenyum. Lucu juga pasien baru mereka dengan pasangannya ini.


__ADS_2