Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 78


__ADS_3

Garra langsung menerobos masuk ke semak-semak. Pria itu memeriksa perempuan yang penuh dengan luka-luka di sekujur tubuhnya itu.


"Berikan penerangan!" perintahnya. Salah satu anak buahnya dengan sigap mengarahkan center yang ia pegang ke arah mereka. Ketika Garra mencoba menyentuh wajah Mina, wanita itu menepisnya kasar. Wajahnya ketakutan bukan main. Ia berpikir mereka adalah orang-orang jahat.


"Tenanglah. Kami bukan orang jahat!" seru lelaki yang memegangi center. Suara kuatnya membuat Mina kaget dan sedikit mundur ke belakang. Garra langsung memberi laki-laki itu tatapan tajamnya. Sih pemegang center bernama Aldo hanya menyengir meminta maaf dengan ekspresinya.


Garra kembali menatap wanita di depannya.


"Hei, jangan takut. Aku seorang detektif kepolisian. Aku akan menolongmu. Biarkan aku memeriksamu." gumam Garra lembut. Ia tidak tahu apa yang sudah di alami wanita ini, tapi orang yang memperlakukannya sampai sebegininya benar-benar bejat. Tangan Garra terangkat ke kepala Mina, mengelus bagian itu pelan, mencoba memberinya rasa aman.


Suara lembut itu seakan menghilangkan rasa khawatir Mina. Lelaki itu tampak baik, hati Mina berkata demikian.


"Tolong aku ..." akhirnya Mina buka suara. Tangannya menggapai tangan besar pria didepannya dengan mata penuh permohonan. Garra terdiam sesaat. Merasa kasihan pada wanita itu.


Rasa sakit diperut Mina kembali menjadi-jadi.


"Ahhh ..." Mina berteriak kesakitan. Airmata yang sempat kering itu kembali membasahi pipinya. Tangannya memegangi perutnya.


Pandangan Garra ikut turun ke bawah.


"Bos ... Dia berdarah." kata Aldo. Menunjuk ke bagian kaki Mina. Garra sadar betul darah tersebut bukan karena luka dibagian kaki, darah itu jelas-jelas keluar dari paha wanita itu. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mengangkat wanita itu dan menggendongnya.


"Aldo, kau ikut aku. Kalian berdua, lanjutkan mencari anak yang hilang."


Para bawahannya mengangguk. Lalu Garra berjalan keluar dari hutan itu sambil menggendong Mina. Aldo mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


Karena di desa kecil ini tidak ada rumah sakit, Garra hanya bisa membawa wanita itu di periksa di sebuah klinik. Dokter di klinik itu adalah salah satu teman lamanya. Untung ia bertemu secara kebetulan dengan teman lama tadi pagi, jadi ia bisa tahu wanita itu membuka sebuah klinik di desa ini. Setidaknya untuk menangani tiga sampai empat pasien sekaligus bisa, tentu hanya untuk pengobatan darurat.


"Garra!"


Seorang wanita berkulit agak hitam dengan tubuh tinggi keluar menghampiri Garra. Pandangannya jatuh ke perempuan dalam gendongan pria itu.


"Indah, tolong aku memeriksanya. Dia mengalami pendarahan hebat." kata Garra.


"Segera bawa dia ke dalam!" balas wanita dewasa bernama indah. Garra mengikuti langkah dokter itu. Ia melihat dua orang lainnya bergegas membantu.


"Kalian tunggu di sini." kata Indah menatap Garra dan Aldo bergantian.


Garra menahan wanita itu sebentar sebelum ia masuk ke dalam.


"Tolong periksa tubuhnya, apakah ia mengalami kekerasan seksual atau tidak." kata pria itu. Indah menatapnya sebentar, lalu mengangguk dan berbalik masuk ke ruangan khusus pasien.


Ketakutan yang ia lihat dalam mata wanita itu seakan menariknya untuk tetap tinggal. Kira-kira satu jam kemudian dokter perempuan hitam manis tadi keluar. Garra langsung berdiri. Dokter Indah sekaligus teman lamanya menghampiri laki-laki itu, wajahnya keliatan serius.


"Apa wanita itu istrimu?" tanyanya. Maklum ia bertanya. Mereka sudah lama tidak bertemu, jadi ia tidak tahu apakah Garra sudah menikah atau belum. Dokter itu hanya menebak-nebak saja. Ia melihat rekan Garra tertawa pelan, artinya wanita di dalam kemungkinan bukan istri pria itu.


"Bukan. Bagaimana kondisinya? jawab Garra, kemudian bertanya.


"Begini, wanita itu sedang mengandung. Kami memeriksa tubuhnya dan mendapati dia mengalami kekerasan fisik yang cukup parah. Ia juga mengonsumsi obat penggugur kandungan. Itu sebabnya ia mengalami pendarahan hebat ..." dokter itu berhenti sebentar. Garra dan Aldo mendengar dengan saksama.


"Tapi dia beruntung karena kalian cepat membawanya ke sini, reaksi obat penggugur kandungannya belum sampai membunuh bayinya. Bayi dalam kandungannya selamat." lanjut Indah, mengatakan kalimat terakhirnya sambil menghembuskan napas lega. Entah apa yang telah di alami wanita di dalam sana, sebagai sesama wanita Indah merasa kasihan. Namun ia lega bayi wanita itu selamat.

__ADS_1


Garra ikut merasa lega. Ia memang tidak kenal perempuan di dalam, tapi ia lega mendengar bayinya selamat. Kalau sampai bayi itu tidak selamat, ia tidak yakin apa yang akan terjadi pada wanita ini. Iya yakin semua ibu di dunia ini akan merasa hancur kalau sampai kehilangan anak mereka.


"Oh iya, kami juga sudah melakukan visum, hasilnya akan keluar dalam beberapa jam atau paling lambat besok." kata dokter itu lagi.


"Aku sarankan wanita itu segera dipindahkan ke rumah sakit. Bayinya memang selamat, tapi kondisi wanita itu sangat lemah. Sebaiknya ia mendapatkan perawatan terbaik, untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi." tambahnya.


"Aldo," Garra bersuara.


"Iya bos?"


"Hubungi semua tim, kau bersama mereka cari tahu ada apa di dalam hutan. Periksa semua orang yang mencurigakan. Kalau kalian menemukan sesuatu, hubungi aku secepat mungkin." perintah Garra, suaranya sangat berwibawa. Aldo mengangguk cepat lalu berbalik pergi.


"Aku akan memindahkan wanita itu ke rumah sakit sekarang juga." kata Garra pada Indah setelah rekannya pergi.


"Kau akan membawanya ke rumah sakit keluargamu?" Indah bertanya. Ia tahu Garra bukan dari keluarga sembarangan. Ayahnya pemilik salah satu rumah sakit swasta bergengsi di dalam kota.


"Ya. Apakah aku bisa membawanya sekarang?"


"Iya. Akan gampang membawanya dalam kondisi tidak sadar, karena aku tidak tahu bagaimana ia akan bereaksi waktu sadar. Menurutku dia akan sangat syok"


"Mm, aku tahu." Garra berjanji akan membantu wanita itu mencari keadilan. Tunggu sampai dia sadarkan diri, barulah pria itu menanyakan identitasnya.


"Aku akan mengirim hasil visumnya padamu besok pagi." kata Indah. Garra mengangguk. Keduanya berjalan memasuki ruang rawat Mina.


Pakaian Mina sudah diganti oleh perawat. Tubuh dan wajahnya sudah bersih. Hanya banyak lecet-lecet yang terdapat di wajahnya.

__ADS_1


"Dia sangat cantik." puji Indah. Dengan wajah dipenuhi lebam dan luka saja dokter itu tahu perempuan yang terbaring di depan mereka itu amat cantik. Garra mengiyakan dalam hati. Lalu kembali geram pada orang jahat yang membuat wanita itu terluka seperti ini. Keluarga wanita itu pasti sedang mencarinya sekarang.


"Aku akan membawanya sekarang." ucap Garra lalu mengangkat Mina dengan sangat berhati-hati. Takut melukainya.


__ADS_2