
Matthew membawa Iren ke apartemennya.
"Kenapa membawaku ke sini?" Iren sedikit was-was. Walau ia tahu Matthew hanya bercinta dengan wanita kalau ia sedang mabuk, tetap saja Iren harus hati-hati. Apalagi ketika ia tiba-tiba mencium pria itu tadi, Matthew membalasnya dengan liar. Dan Iren bisa merasakan keja n tanan pria itu yang sudah keras ketika duduk di pangkuannya.
"Matt, aku bertanya kenapa kau membawaku ke sini? Kau tidak sedang berpikir mau macam-macam kan?" katanya lagi to the point.
Matthew terkekeh.
"Tidak usah terlalu khawatir. Aku membawamu ke sini karena di sini lebih tenang. Kau tampak tidak leluasa di keramaian tadi. Aku akan masak sesuatu untukmu." pria itu bersuara dan Iren akhirnya bisa bernapas lega.
Dia pikir Matthew tidak tahan dengan ciuman panas mereka tadi dan membawanya ke tempat ini untuk melampiaskan hasratnya, ternyata tidak. Dia saja yang terlalu banyak pikiran.
"Buatkan aku omelet. Aku menyukai omelet buatanmu." Iren mengikuti pria itu ke dapur.
"Baiklah, tuan putri." Iren terkekeh, ia merasa lucu dengan cara Matthew memanggilnya. Wanita itu mengamati gerak-gerak pria itu sambil duduk di meja makan. Iren baru sadar tubuh bagian belakang pria itu sangat indah. Ia baru memperhatikan. Punggungnya tegak, dan dilihat dari sisi manapun, sahabat laki-lakinya yang satu ini memang begitu menawan. Pantas saja Matthew dan Foster mendapat gelar laki-laki tertampan dan terpopuler waktu mereka kuliah dulu. Semua orang di kampus iri berat sama Iren dulu. Tapi Iren malah biasa-biasa saja bisa dekat dengan mereka.
"Perfect."
Tanpa sadar Iren menyebutkan satu kata itu.
"Apa kau bilang?"
Mata wanita itu mengerjab-ngerjab. Omelet buatan Matthew sudah jadi. Pria itu berdiri di depannya sekarang. Iren menyengir lebar, menyembunyikan rasa malunya.
"Tidak ada. Aku tidak bilang apa-apa. Mungkin kau salah dengar." elaknya berpura-pura polos. Matthew hanya menggeleng aneh.
"Makanlah." katanya kemudian. Iren lalu mencicipi masakan pria itu. Ia menikmati sekali. Rasanya sangat enak. Memang omelet buatan Matthew adalah yang terbaik di lidahnya.
"Apakah seenak itu?" Matthew tertawa geli melihat cara makan Iren yang sudah seperti orang kelaparan.
"Mm, aku sangat suka omelet buatanmu. Sungguh," sahut wanita itu di sela-sela makannya.
__ADS_1
"Apa kau punya minuman?" tak ada dalam bayangan Matthew Iren akan menanyakan hal itu.
"Ini masih siang Iren. Memangnya kau tidak kembali kerja? Kau juga tidak mau minum denganku bukan?"
"Siapa yang bilang aku mau minum denganmu? Aku ingin minum sendirian. Kau jangan minum sedikitpun. Hari ini aku sangat kesal pada laki-laki brengsek itu, aku butuh alkohol."
"Kau yakin?"
"Iya. Keluarkan alkoholmu." Iren lalu berdiri dan membuka lemari yang ada di dekat situ. Matanya jatuh ke beberapa botol minuman yang tersusun rapi di sana. Ia tersenyum senang.
"Dapat!" wanita itu lalu meraih sebotol Wiski dari dalam lemari.
"Iren, jangan yang ini. Kadarnya terlalu tinggi untukmu." Matthew mencoba mengambil botol berisi alkohol dari tangan Iren tapi wanita memukuli tangan pria itu.
"Aku mau yang ini! Jangan mengganggu kesenanganku Matt." wanita itu menatap tajam pria itu. Matt meringis. Iren susah dibilang. Baiklah, biarkan saja wanita itu melakukan apa yang dia mau.
"Mm ...," Rasanya enak. Seru Iren begitu meneguk minuman itu langsung dari botolnya.
"Diamlah." Iren tidak mempedulikan perkataan laki-laki yang duduk didepannya. Ia terus meneguk Wiski itu, saat Matthew ingin mengambil botol tersebut darinya, lagi-lagi wanita itu memukulinya pelan.
"Sudah kubilang jangan menggangguku kan," Mata gadis itu mulai berkunang-kunang, sesekali menutup, menandakan dia sudah mabuk. Matthew meringis.
"Kau sudah mabuk, jangan minum lagi." kata pria itu tegas. Kali ini ia menggerakkan seluruh tenaganya untuk merampas botol di tangan Iren. Sayangnya isinya ternyata sudah dibabat habis oleh wanita itu. Matthew menghela napas. Wanita ini benar-benar.
"Kau tahu, aku sangat benci laki-laki itu. Dia memperlakukanku seperti binatang di atas ranjang. Aku tahu bercinta itu enak, kau juga tahu kan?" Iren mulai meracau. Tapi Matthew mendengarnya dengan serius.
"Jawab aku Matt."
"Mm." Matthew mengangguk.
"Awal-awal pria itu memang sangat lembut padaku. Tapi lama-kelamaan dia jadi aneh. Dia memiliki kelainan ****. Sangat kasar, dia membeli alat-alat aneh untuk menyiksaku. Kau tahu, itu rasanya sangat sakit. Itu sebabnya aku minta putus."
__ADS_1
Brengsek. Emosi Matthew bangkit. Jadi itu alasannya kenapa Iren putus. Laki-laki brengsek, jangan sampai mereka bertemu lagi.
"Semenjak itu aku pikir aku tidak tertarik bercinta lagi ..." ucap Iren dalam mabuknya. "Tapi aku merasa tersiksa tiap kali mendengar suara-suara aneh dari kamar Foster. Aku pernah memergoki mereka berhubungan intim di sofa, dan kau tahu, itu sangat menyiksaku? Aku jadi ingin melakukannya juga, tapi aku tidak punya kekasih sekarang. Aku juga takut bertemu dengan sosok yang sama seperti mantan pacarku. Astaga, ada apa denganku?"
Iren membuka matanya menatap Matthew. Pria itu terus diam menatapnya datar. Entah apa yang dia pikirkan. Iren lalu tersenyum.
"Matt, aku baru sadar kau sangat tampan. Apa kau marah aku tiba-tiba menciummu tadi? Apa ciumanku enak?"
Marah? Dibanding marah Matthew malah senang. Ia sudah lama ada rasa pada wanita itu. Hanya saja Iren hanya menganggapnya sahabat, dan wanita itu sangat tidak peka. Jadi Matthew hanya bisa menyembunyikan perasaannya.
"Kau sudah mabuk, ayo kuantar pulang." Matthew berdiri mencoba mengangkat tubuh Iren. Tapi Iren malah mendorongnya hingga lelaki itu terduduk di lantai. Lebih parahnya lagi, wanita itu kembali mendorong tubuhnya hingga tertidur di lantai dan kini duduk di perutnya.
Matthew kelabakan. Astaga. Posisi ini sangat berbahaya. Iren tidak akan menyerangnya tiba-tiba kan?
"Aku tahu kau pasti menikmatinya tadi, karena kau membalas ciumanku tadi. Aku juga merasa di sini tadi sudah tegang."
Matthew melotot lebar begitu tangan Iren menyentuh kejantanannya.
"I ... Iren ... Kau mabuk ..."
"Ssttt ... Diam saja, karena tadi kau sudah membantuku di depan pria brengsek itu, sekarang giliranku membantumu. Aku tahu kau butuh bantuan,"
Lalu dengan santainya wanita itu membuka risleting celana Matthew dan menggapai benda panjang yang sudah mengeras di dalam sana. Matthew menelan ludah.
"I ... Iren ..." pria itu menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Ahh ..." satu de s a han lolos dari mulut Matthew begitu tangan Iren mulai bergerak naik turun di batang k e malu annya.
Oh ya ampun. Matthew memang sering memimpikan melakukannya dengan Iren, tapi ia sadar betul Iren pasti menyesal nanti. Sekarang belum waktunya. Lalu dengan sekali sentak, pria itu melepaskan diri dari Iren dan berdiri, mengunci kembali resletingnya. Astaga, dia pasti sudah gila menyia-nyiakan kesempatan ini. Tapi ia tidak mau Iren menolaknya.
"Ayo aku antar pulang." kata Matthew kemudian.
__ADS_1