Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 50


__ADS_3

Empat jam kemudian,


Sekitar jam tujuh malam Mina baru sampai di Bandung, tepatnya di depan rumah oma tercintanya. Mina senang sekali datang ke sini lagi. Terakhir kali ia datang ke sini adalah tiga bulan lalu. Waktu oma-nya jatuh sakit.


"Non Mina?" Salah satu satpam memanggil nama Mina seakan ingin memastikan sosok yang berdiri di depan gerbang memang benar adalah cucu dari majikannya.


"Pak Dudi, apa kabar pak?" Mina balas menyapa satpam paruh baya tersebut.


"Baik non. Non Mina ke sini sendirian?" satpam bernama Dudi itu bertanya lagi karena tidak melihat siapapun bersama gadis itu.


"Iya pak. Yang lain lagi sibuk, kalo aku nggak." ia beralasan.


"Oh,"


"Oma Winda ada di dalam kan?"


"Iya non. Ayo masuk non. Tadi nyonya besar lagi santai-santai di kebun belakang rumah." kata sih satpam.


"Ya udah, aku ke dalam dulu ya pak." setelah berkata begitu, Mina melangkahkan kakinya ke dalam rumah besar tersebut.


Semenjak ia pergi, oma-nya hanya tinggal sendirian. Tapi ada asisten rumah tangga yang di sewa keluarganya buat jagain perempuan tua tersebut. Terkadang, saat Mina melihat oma-nya yang hanya tinggal sendirian, ia jadi ingin tinggal bersama wanita tua itu lagi. Sayangnya ia masih kuliah dan akan mulai masuk dalam dunia pekerjaan, jadi ia tidak bisa.


Mina dan orangtuanya sebenarnya sudah membujuk Oma Winda pindah ke Jakarta, tinggal sama mereka. Tapi Oma Winda tidak mau. Alasannya ia lebih menyukai tinggal di Bandung karena itu adalah tempat kelahirannya.


"Omaaa ..." Mina berlari kecil begitu melihat oma-nya. Perempuan tua itu sedang duduk-duduk santai di taman belakang.


"Mina cucu Oma,"


Mereka berpelukan. Oma Winda paling sayang sama cucunya yang satu ini. Apalagi dari kecil Mina tinggal lama dengan wanita tua itu. Hubungan merasa sangat dekat.


"Kamu ke sini sama siapa?"

__ADS_1


"Sendirian Oma. Naik kereta."


"Loh, mama sama papa kamu tahu?" Yang Oma Winda ingat, anak dan menantunya tidak akan mengijinkan Mina naik kereta apalagi sendirian. Paling-paling di anterin sama sopir.


Mina ini kan punya masalah sama arah. Dia kadang tidak bisa menghafal arah. Sampai SMA masih begitu, tidak tahu sekarang.


"Nggak, aku lagi ngambek sama mereka."


Raut wajah Mina langsung berubah begitu mendengar Oma Winda menanyakan keluarganya. Lalu ia mulai bercerita dari A sampai Z pada Oma Winda, alasan kenapa dia sampai nekat datang ke sini.


"Oh jadi begitu, ya udah kamu boleh tinggal di sini sampai kapanpun kamu mau. Tapi magang kamu nggak bakal kena masalah kan?"


"Nggak kok Oma. Besok kamis. Biasanya kamis sama Jumat aku nggak masuk kantor, itu jadwal kampus aku. Tapi dikampus juga nggak masalah kalau nggak pergi. Belum ada urusan penting yang mau aku urus besok."


"Oh ya udah kalo gitu. Anggap aja kamu liburan ke sini."


"Nyonya,"


"Kenapa Santi?" oh, namanya Santi.


Santi melirik Mina sekilas, lalu menatap Oma Winda lagi.


"Itu, di depan ada tamu. Katanya mau nyariin yang namanya Mina." Santi memandang ke arah Mina lagi. Ia tidak tahu kalau Mina adalah cucu majikannya, tapi menurut dia Mina yang dimaksud orang di depan adalah perempuan yang sedang ngobrol sama Oma Winda itu.


"Cari cucu saya? Ada yang cari kamu sayang," Oma Winda dan Mina saling berpandangan. Santi juga begitu mendengar majikannya bilang cucu, ia jadi lebih segan ke Mina.


Mina ikut heran. Siapa yang cari sih? Nggak mungkin teman-teman SMA nya langsung tahu ia sedang ada di Bandung kan?


"Aku!"


Sosok yang muncul di ujung sana sukses membuat Mina melotot kaget.

__ADS_1


Kak Foster?


Ya ampun. Cepat sekali pria itu tahu dia kabur. Bagaimana lelaki itu bisa tahu coba? Kalau begini namanya sih, percuma jauh-jauh ke sini.


Foster melangkah mendekati Mina dan Oma Winda, sedang Mina cepat-cepat bersembunyi di belakang oma-nya. Tatapan Foster begitu tajam, Mina sedikit ciut. Meski begitu ia tetap memasang wajah jengkel pada kakak iparnya. Tidak, tidak. Bukan kakak ipar. Mereka cuman nikah kontrak. Bukan suami istri beneran.


Kalau dipikir-pikir, malah hubungannya dengan pria itu yang sudah seperti suami istri. Ya, mereka kan sudah melakukan hubungan intim.


"Mina, kamu kenal dia?" tanya Oma Winda.


"Dia laki-laki yang barusan aku ceritain Oma, suami kontraknya kak Iren." bisik Mina ditelinga oma-nya. Oma Winda cukup kaget. Ia memang tidak kenal Foster, karena waktu pernikahan cucu sulungnya tersebut, ia tidak hadir karena sibuk. Pernikahan itu sendiri dilakukan secara buru-buru.


Tapi laki-laki itu memiliki tampang yang sangat baik. Tampan, tinggi, dan tampak sangat mendominasi. Persis seperti cucu mantu idamannya. Sayang sekali hanya nikah kontrak. Eh, tapi ...


Oma Winda terus memperhatikan laki-laki di depan sana yang tak melepaskan pandangannya dari cucu bungsunya sedikitpun. Ada yang beda. Sepertinya laki-laki itu menyukai cucunya yang ini. Bagus dong. Apalagi Mina juga cantik, cocok sekali bersanding dengan laki-laki tampan itu. Mereka akan menjadi pasangan yang serasi dan membuat banyak orang iri nanti.


"Kamu Foster?" tanya Oma Winda mencairkan suasana yang hening. Foster memiringkan kepala menatap Oma Winda.


"Iya Oma, perkenalkan aku Foster." pria itu berusaha terlihat baik di depan Oma Winda. Karena sebelum menyusul Mina ke sini, Iren sudah cerita sedikit tentang Oma mereka. Foster harus mengambil hati sang Oma, biar lebih gampang menaklukan Mina yang hobi ngambek.


"Nak Foster ganteng banget ya ternyata. Tapi Oma udah dengar kamu cuman nikah kontrak sama Iren. Berarti kamu bukan cucu mantu Oma dong, sayang sekali." Foster menatap Mina. Benar kata Iren, gadis itu tukang ngadu. Tapi malah bagus.


"Kan ada cucu Oma yang lain. Aku dan Iren murni hanya sahabat oma. Kalo dulu aku tahu Iren punya adik selucu cucu Oma yang ini sih, yang bakal aku nikahin pasti bukan Iren." tutur Foster panjang lebar, sambil mengedipkan sebelah matanya ke Mina.


Mina malu sekaligus gugup mendengar penuturan Foster. Dasar laki-laki itu. Tapi dia tidak akan termakan semua omongan manisnya. Siapa suruh bersekongkol menipu dia.


"Oma, Oma ngobrol aja sama tamu Oma. Aku ke kamar dulu, mau tidur." ucap Mina tak mau menatap Foster sedikitpun, lalu berlari masuk secepat kilat ke dalam rumahnya.


Foster ingin mengejarnya, tapi Oma Winda menahan.


"Nak Foster, biarin saja dia. Nanti oma ajarin gimana cara ambil hati cucu Oma yang itu."

__ADS_1


__ADS_2