Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 57


__ADS_3

"Kalian lihat pak Foster tadi? Astaga, penampilan itu ... Aku saja masih tidak percaya kalau itu pak Foster."


"Iya aku juga. Kira-kira kenapa dia pake pakaian kayak gitu ya? Nggak banget deh.


"Kalah taruhan kali.


"Harusnya sih. Nggak mungkin juga pak selera pakaian pak Foster tiba-tiba berubah. Kasian banget dong wajah gantengnya kalo begitu."


Orang-orang tersebut terus bergosip. Mina yang kebetulan ada situ, hanya menahan senyum. Belum tahu saja mereka kalau dialah penyebab sebenarnya penampilan rusak Foster hari ini. Gadis itu merasa puas sekali.


"Siapa yang suruh kalian bergosip dikantor? Memangnya bagus menggosipkan atas kalian seperti itu hah?!" suara cempreng yang bicara dengan nada tinggi itu sontak membuat semua orang dalam ruangan tersebut hening.


Itu Dian. Wanita itu tampak marah. Semuanya menunduk. Pandangan Mina dan wanita itu bertemu, dan Mina melihat tatapan penuh kebencian terhadapnya. Tapi ia biasa saja. Toh dia tahu sekarang Dian hanya perempuan aneh yang menganggap kak Foster adalah milik dia, padahal tidak.


"Sekali lagi aku dengar kalian bergosip, jangan salahkan aku memberi kalian surat peringatan!" katanya lagi. Setelah itu pergi dari tempat itu. Semuanya langsung bernapas lega.


Mina menggeleng-geleng. Sok berkuasa sekali tuh perempuan. Hmm ...


_________


Istirahat makan siang, Mina dan Ester menyempatkan diri ke kampus. Ada yang harus mereka ambil di sana. Mina juga memang sengaja mau menghindari Foster, ia tahu pria itu sedang kesal akibat penampilannya. Jadi ia harus sembunyi biar tidak diterkam sama pria itu.


Sementara itu Matthew mengajak Foster makan siang bareng dia dan Iren di restoran biasa mereka bertiga sering makan, tapi Foster menolak. Ya jelaslah di tolak. Penampilannya sedang seperti orang gila begini malah mengajaknya masuk restoran berbintang.


"Kau yakin tidak mau ikut?" Matthew bertanya sekali lagi dengan sengaja.


"Pergilah!"


Matthew terkekeh.


"Baiklah, baiklah." lalu keluar. Setelah  laki-laki itu pergi, Foster memijit pelipisnya sambil bersandar di sandaran kursi kerja yang ia duduki.

__ADS_1


Tak sampai sepuluh menit, Matthew sampai di restoran. Iren sudah ada di sana ketika ia masuk. Wanita itu melambai padanya begitu melihat kemunculannya.


"Kau sudah lama sampai?"


"Belum terlalu. Foster dan Mina tidak kau ajak?"


Matthew menggeleng.


"Mereka sedang perang dingin. Mina kabur ke kampus setelah sukses membuat Foster kesal seharian." lelaki itu tertawa mengingat kejadian dikantor dan penampilan Foster.


Iren menatapnya tidak mengerti.


"Jelaskan dengan benar." kata wanita itu. Matthew menatapnya sebentar, lalu mulai bercerita. Iren tertawa kencang.


Lucu sekali.


"Jadi begitu. Kenapa kau tidak memotret penampilannya sih, aku ingin melihatnya." ujar Iren di sela-sela tawanya.


"Iren,"


suara itu menghentikan tawa Iren. Ia mendongak ke atas dan raut wajahnya berubah seketika. Mantan pacarnya sedang berdiri di sana, menatapnya dan Matthew bergantian.


"Iren, aku ingin bicara denganmu. Bisakah kau memberiku waktu?" kata pria itu.


"Aku tidak ada waktu. Kau tidak lihat aku sedang makan?" balas Iren ketus.


"Sebentar saja. Tidak lama."


"Bicara di sini saja."


"Tapi ..."

__ADS_1


"Tapi apa? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Sekarang aku sedang makan dengan pacarku, tolong jangan menganggu waktu makan siang kami!"


Matthew tersentak mendengar ucapan Iren. Ia tahu wanita itu asal mengatakan, karena ada sih mantan pacar. Tapi hati Matthew tetap merasa senang Iren bilang begitu.


"Pacar? Jangan bohong Iren. Aku tahu laki-laki ini sahabatmu dari kuliah. Aku tahu kau sedang berbohong." Laki-laki itu bersikukuh. Lama-lama Iren lelah juga menghadapinya.


"Memang ada masalah sahabat berubah jadi pacar?"


"Tidak ada. Tapi aku tahu kau sedang berbohong."


"Hah, kau mau bukti?" tantang Iren.


"Ya, berikan aku bukti."


Iren terdiam sebentar. Ia menatap Matthew yang sejak tadi memilih diam mendengar perdebatannya dengan mantan pacarnya. Aduh, bagaimana ini. Ia sudah terlanjur bohong, ya sudah sekalian saja. Biar laki-laki itu tidak mengganggunya lagi.


Lalu tanpa pikir panjang Iren berdiri dari kursinya, dan mencium Matthew. Bukan hanya ciuman biasa. Ia tahu kalau ciuman biasa, pria itu tidak akan percaya begitu saja. Jadi Iren  me lu mat bibir Matthew, menggigitnya pelan sehingga mulut pria itu terbuka dan lidahnya masuk ke dalam. Bermain dengan lihai di dalam sana.


Matthew kaget mendapat serangan tiba-tiba Iren. Sialan. Miliknya tegang.    Otaknya tidak mampu berpikir lagi. Laki-laki itu lalu menarik Iren ke pangkuannya dan membalas ciuman panas Iren dengan lebih berpengalaman. Tidak peduli dengan keadaan sekitar, mereka terus bercumbu sampai mantan pacar Iren itu pergi dengan sendirinya. Mereka sudah terbawa suasana, Iren merasa bibir Matthew sangat manis. Sudah lama ia tidak berciuman, dan ciuman Matthew sepertinya membuat wanita itu merasa ketagihan.


"Apa-apaan mereka? Ini tempat umum, astaga."


Begitu sadar, Iren mendorong tubuh Matthew. Ia cepat-cepat berdiri dari pangkuan laki-laki itu dan pindah ke tempat duduknya. Mantan pacarnya sudah tidak ada. Napasnya masih terengah-engah. Ia menatap Matthew canggung.


Ya ampun Iren .. Apa yang sudah kau lakukan? Dia sahabatmu sendiri.


"Ma ... Maaf, aku tidak tahan dengan laki-laki brengsek tadi. Anggap saja kau membantuku tadi." ucap Iren canggung sekali. Ia bahkan tidak mampu membalas tatapan Matthew. Tatapan itu seperti memancarkan sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.


Matthew tiba-tiba berdiri,


"Ayo berpindah tempat." pria itu menarik tangan Iren dan membawanya keluar dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2