
Semenjak pengakuan Foster ke Mina di kebun teh-nya Oma Winda, hubungan keduanya makin lengket. Sudah seperti suami istri beneran. Foster bahkan memaksa Mina pindah ke kamarnya. Iren sampai geleng-geleng.
"Bolehkan kalau kalian sedang berhubungan intim, kira-kira dikit sama orang jomblo. Jangan asal main di sofa. Memangnya hanya kalian yang tinggal di rumah ini? Dan ... sebaiknya urus pernikahan kalian secepatnya. Kan pernikahan kontrak denganku sudah resmi batal." celetuk Iren panjang lebar. Lama-lama panas juga telinganya karena hampir tiap malam pulang kerja ia mendengar rintihan-rintihan kenikmatan dari pasangan yang tengah kasmaran itu.Dia heran, memangnya mereka tidak capek apa bercinta terus?
Mina malu, sedang Foster tampak biasa saja. Waktu itu Foster berani melakukan di sofa karena tahu Iren tidak akan pulang hari itu. Eh, dia malah muncul tiba-tiba. Ya, apa boleh buat.
"Oh ya, papa dan mama sudah tahu tentang hubungan kalian. Aku sudah cerita. Kata papa, cari waktu kosong dalam minggu ini untuk pertemuan keluarga. Mereka ingin membahas tentang hubungan kalian." Kata Iren lagi. Foster mengangguk. Ia memang sudah berpikir akan menghadap mertuanya tersebut.
"Bukannya papa sama mama ada diluar kota kak?" Mina menatap Iren. Bahkan sampai semalam ia telponan sama mamanya, mamanya bilang masih di luar kota. Tidak bilang kapan akan balik.
"Iya, tapi mereka akan pulang dalam minggu ini." sahut Iren. Oh, mungkin mamanya lupa bilang ke Mina. Pandangan Iren berpindah ke Foster lagi.
"Aku dengar Matt akan bekerja denganmu?" ia bertanya.
"Ya, katanya dia kekurangan uang, jadi meminta pekerjaan padaku."
"Hah, siapa suruh melawan orangtua. Harusnya dia ikut kemauan orangtuanya saja kalau tidak punya pekerjaan. Dia pikir mencari uang itu gampang apa?" Iren mengomeli laki-laki yang tidak ada di sini lalu tertawa. Menurutnya sih Matthew tidak benar-benar memakai otaknya.
"Biarkan saja dia melakukan apapun yang dia mau. Aku juga tidak akan mau dijodohkan dengan wanita yang tidak aku cintai, kalau jadi dia." kata Foster terdengar membela Matthew.
"Beda kasus Fost, kau sudah menemukan cintamu, sedangkan Matt? Dia tidak pernah mencintai siapapun, tidak ada salahnya mencoba kan? Siapa yang tahu kalau wanita yang dijodohkan dengannya memang adalah jodohnya." Iren masih kekeuh. Foster hanya mengangguk-angguk malas. Biarkan saja wanita itu dengan pemikirannya.
Sekarang ia akan fokus dengan gadis yang membawa kesenangan baginya ini.
Foster meraih tangan Mina dan menautkan jari-jari mereka sambil tersenyum.
"Sweety, kakakmu jomblo. Kita jangan terlalu mengganggunya. Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar?"
Iren tertawa sumbang mendengar perkataan Foster yang sedikit meledeknya. Mina ikutan tertawa kemudian mengangguk.
"Cepat pergi sana!" ketus Iren jengkel. Mana pasangan itu menertawainya lagi. Astaga, salah apa dia pada mereka? Padahal dialah yang paling mendukung hubungan mereka selama ini.
__ADS_1
"Kak Iren, kami pergi dulu ya." pamit Mina.
"Mm."
"Perlukah aku panggil gigolo menemanimu di sini?" Foster sengaja.
"Tidak perlu!" Ya ampun, sih Foster benar-benar ya. Masih tidak habis-habisnya meledek.
____________
Pasangan itu jalan-jalan ke taman bunga di malam hari. Tangan Foster meraih pinggang Mina untuk berjalan lebih dekat dengannya. Gadis itu hanya tersenyum, mereka berjalan beriringan melewati jalan yang dikelilingi bunga tersebut.
"Kamu suka tempat ini?" Foster menatap kekasihnya. Mina mengangguk.
"Nanti kalau sudah menikah, aku akan membeli rumah dengan taman bunga yang indah untukmu."
Mina tersipu. Tapi kemudian tertawa nakal.
Langkah Foster terhenti. Ia menatap Mina tajam.
"Jangan main-main denganku, nona kecil." katanya. Mina tertawa. Tidak sanggup lama-lama berbuat jahil ke pria itu.
"Bercanda. Hehe ..." Foster mengetuk hidung gadis itu gemas. Mereka kembali berjalan.
"Tapi, kenapa harus beli rumah baru? Kan rumah yang sekarang sudah ada." ucapnya. Menurutnya rumah yang mereka tinggali sekarang sudah lebih dari cukup.
"Terlalu kecil. Aku ingin saat kita menikah, rumah kita memiliki halaman yang sangat luas, ada banyak kamar untuk anak-anak kita nanti, dan pembantu yang bisa siap siaga jagain kamu sama anak-anak kalau sewaktu-waktu aku tidak ada di rumah." Foster sudah memikirkan segalanya. Kenyamanan dan keamanan Mina dan keluarga kecilnya nanti harus di utamakan. Dan ia punya uang untuk membuat semua itu terjadi.
"Bagaimana, kamu suka?" pria itu memandangi wanitanya. Mina tersenyum, dan mengangguk. Jelaslah dia senang. Kak Foster sudah memikirkan sampai sejauh itu untuk kehidupan rumah tangga mereka, membuktikan keseriusan pria itu terhadapnya. Siapa yang tidak senang coba diperlakukan seistimewa itu.
Mina masih merasa bahwa ini seperti mimpi. Dia sangat beruntung, mendapatkan seorang laki-laki yang hampir sempurna, karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan.
__ADS_1
"Kak Foster,"
"Mm?"
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"Tanyakan saja."
"Bagaimana kakak kenal kak Iren dan kak Matt, sampai akrab dengan mereka?" Mina penasaran. Ia selalu memperhatikan hubungan ketiga orang itu. Walau mereka tidak sering bertemu, tapi hubungan persahabatan mereka cukup kuat. Mina bisa melihatnya.
Foster kembali menautkan jari-jari mereka lalu mulai bercerita.
"Kami bertiga bertemu dikampus. Awalnya kami sama sekali tidak akrab, namun suatu hari ada satu pelajaran yang membuat kami jadi berkelompok. Awalnya memang sangat canggung, tapi lama-kelamaan kita bertiga merasa cocok dan menjadi akrab. Sampai sekarang."
"Murni sahabat? Kakak yakin nggak pernah suka sama kak Iren?" Mina merasa kakaknya adalah wanita yang cantik impian banyak laki-laki.
"Kalau aku pernah menyukai kakakmu, tidak akan pernah ada pernikahan kontrak, dan hubungan kita berdua benar-benar hanya sebatas saudara ipar. Aku tidak akan pernah melirikmu." benar juga. Masuk akal. Mina mengangguk-angguk.
"Kalau kau ingin bertanya, tanyakan saja pada Matthew." kata Foster lagi.
"Kak Matthew suka kak Iren?" mata Mina membulat tidak percaya.
"Ssttt ... Ini hanya rahasia antara kita. Jangan sampai kakakmu tahu. Sekarang Iren masih menganggap Matthew sahabatnya, seperti aku."
Mina mengangguk. Wah ... Ia baru tahu. Tapi dia senang. Karena kalau sampai mereka jadian, kan dia jadi punya kakak ipar yang super duper tampan.
"Foster?"
langkah Foster dan Mina terhenti. Seorang wanita tua dan seorang wanita lain seumurannya kini berdiri di depan mereka. Tentu saja Foster kenal. Karena yang berdiri di depan mereka sekarang adalah mamanya dan Dian.
Merasa tertangkap basah? Tentu tidak. Foster malah menggenggam jemari Mina makin kuat. Ingin gadis itu merasa nyaman. Karena ia tahu, Mina pasti kaget melihat Dian.
__ADS_1
"Kamu sama siapa Foster?"