
Pagi-pagi sebelum berangkat kerja, kira-kira pukul delapan habis sarapan Foster membawa Mina ke rumah sakit. Rumah sakit yang sama dengan yang sebelumnya mereka. Tapi kali ini dokter yang memeriksa adalah dokter perempuan. Dan sudah cukup berumur.
Foster di suruh menunggu diluar. Pandangannya terus mengarah keruangan pemeriksaan, sesekali ia melirik ke arlojinya. Beberapa detik kemudian hapenya bergetar. Panggilan dari Matthew.
"Halo,"
"Kau di mana? Kau tidak lupakan sepuluh menit lagi ada rapat. Laya sudah menghubungi direksi." ucap Matthew di seberang.
"Aku tahu, tapi aku sedang menemani Mina di rumah sakit. Bisakah kau menggantikan aku memimpin rapat hari ini? Kemungkinan besar aku akan terlambat sampai kantor." Matthew mengernyitkan dahi begitu mendengar ucapan Foster.
"Mina di rumah sakit? Sakit apa?"
"Tidak tahu, semalam dia muntah-muntah. Mungkin masuk angin. Aku tutup dulu."
Lalu panggilan terputus. Meninggalkan rasa penasaran pada pikiran Matthew. Lelaki itu memutar-mutar hapenya sambil bersandar di meja kerja dan mulai berpikir keras.
"Muntah-muntah?" ia mengulangi perkataan Foster tadi.
"Siapa yang muntah-muntah?" Matthew mengangkat wajah menatap Laya muncul di lantai itu. Lantai khusus buat ruangan kerja Foster. Sekarang Matthew juga memiliki ruangan kerjanya sendiri di lantai itu. Laya sangat terbantu karena ada pria itu yang akhirnya Foster setujui bekerja sebagai sekretaris pria itu. Dengan begitu pekerjaan Laya sedikit berkurang. Bebannya menjadi sedikit lebih ringan.
Bekerja dengan Foster memang tidak gampang. Harus pintar, punya skill tinggi dan profesional. Itulah sebabnya tidak pernah ada orang yang dia angkat sebagai sekretarisnya. Mungkin salah satu alasannya adalah karena belum dapat yang cocok. Atau ada alasan lain. Yang pasti Laya belum memenuhi kriteria itu.
Menurut Laya Matthew adalah kandidat yang paling cocok. Karena mereka bersahabat dan pria itu yang paling tahu tentang Foster, juga memiliki skill yang sangat tinggi.
Walau Laya dengar dari Iren Matthew ini tidak ada pengalaman kerja sama sekali, tapi Iren juga bilang pria itu sangat pintar. Bahkan bisa menyamai Foster. Jadi tidak perlu ragu lagi dengan kinerjanya. Selain itu Matthew memang berasal dari keluarga berada yang memiliki banyak relasi orang kelas atas. Ia pasti akan sangat membantu bisnis mereka.
Laya masih menatap laki-laki itu. Menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi.
"Ah, ada kenalanku." sahut Matthew. Tidak penting juga dia cerita ke Laya.
"Para direksi sudah ada?" tanya lelaki itu lagi.
"Baru Iren. Ia datang mewakili papanya."
__ADS_1
Mendengar nama itu disebut sontak Matthew teringat pada peristiwa kemarin. Apa Iren mengingatnya? Foster tertawa sumbang. Apa yang kau harapkan Matthew?
"Dia di mana sekarang?"
"Kau mencariku?" Iren tiba-tiba muncul dibelakang Laya. Matthew kaget. Ia berusaha bersikap biasa. Astaga, kenapa dia jadi gugup begini sih.
"Kalau begitu kalian bicaralah. Aku turun dulu. Lima menit lagi segera berkumpul di ruang rapat." ujar Laya lalu berbalik pergi, meninggalkan dua orang itu.
"Ada denganmu? Kau menatapku seperti menatap hantu saja." kata Iren menatap lurus lelaki di depannya.
Matthew berusaha menghilangkan rasa gugupnya dengan tertawa dan bersikap seperti biasa.
"Memang kau seperti hantu." ledeknya. Iren mendengus pelan.
"Bagaimana kondisimu? Kau masih pusing? Kemarin kau menghabiskan sebotol wisky." pria itu bertanya.
"Ya aku tahu. Aku ingat semuanya."
"Kenapa? Kau ingin aku ingat apa? Memegangi milikmu yang sudah tegang?" Mata Iren turun ke bawah, ke bagian yang berada ditengah-tengah paha Matthew. Namun hanya beberapa detik,
"Sudahlah. Tidak usah bahas itu lagi. Kau sendiri yang menolakku padahal aku sudah ingin mencobanya. Sedikit memanjakan junior-mu, mungkin lebih." kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Iren. Ia bahkan tidak menyangka bisa mengeluarkan bahasa seperti itu. Padahal Matthew adalah sahabatnya sendiri. Tapi entah kenapa semenjak kejadian kemarin ia merasa jantungnya terus berdebar-debar begitu mengingat Matthew. Seperti ada suatu ketertarikan yang tidak bisa ia artikan.
Iren sadar kalimatnya mungkin terlalu berlebihan. Karena Matthew hanya terdiam menatapnya. Ia jadi malu sendiri. Wanita itu lalu berpura-pura melirik jam tangan.
"Sebentar lagi rapat. Aku mau ke toilet sebentar. Ahhh ..."
Belum sempat melangkah, tubuh Iren sudah di dorong oleh Matthew ke dinding. Pria itu mengunci tubuh Iren dengan tubuh besarnya dan menatapnya lekat-lekat. Ia tidak tahan lagi. Ia akan mempertaruhkan dirinya hari ini, mengatakan semua yang dia rasakan terhadap wanita ini.
"Ka ... Kau ingin tidur denganku?" tanyanya tanpa pertimbangan apa-apa lagi. Tatapan Matthew penuh harap. Sudah lama ia memimpikan wanita ini.
Iren menelan ludah. Matanya mengerjap-ngerjap. Jantungnya tidak bisa kompromi. Mereka saling berpandangan lama. Ia juga tidak menyangka akan mendapatkan tawaran seperti itu dari seorang Matthew.
"A ... Apa yang akan terjadi kalau aku tidur denganmu?" ia bertanya lirih.
__ADS_1
"Kau menjadi kekasihku." Iren menggigit bibir bawahnya. Kenapa Matthew bisa seseksi ini? Kenapa dulu ia tidak pernah menatap laki-laki ini? Menjadi kekasih? Memangnya pria itu menyukainya? Tapi bukan itu yang ingin Iren tanya sekarang, ia ingin bertanya hal lain dulu.
"Kau memiliki kelainan s eks? Atau suka memakai alat-alat bantu saat berhubungan badan?" Iren bertanya. Karena ia trauma melihat benda-benda yang dipakai orang untuk kebutuhan s e k s mereka.
"Hanya orang sakit yang melakukannya." sahut Matthew. Tentu ia marah mengingat cerita Iren saat wanita itu mabuk kemarin.
"Bagaimana, mau terima tawaranku?"
"Apa kau memiliki kekasih lain di luar sana?"
Matthew membuang napas panjang. Iren terlalu banyak bertanya.
"Kau tahu aku tidak pernah benar-benar pacaran Iren. Aku pernah bilang kan ada seorang wanita yang aku sukai sejak kuliah? Sampai sekarang."
"Yang katanya kalau kau bercinta dengan wanita lain, wajah perempuan itu yang selalu kamu bayangkan?" Iren ingat Matthew pernah bilang itu.
"Ya, ternyata kau ingat. Kau mau tahu siapa dia?" Suara pria itu serak. Jantung Iren kembali berdecak tak karuan. Aduh, kenapa ia jadi segugup ini sih.
"Wanita itu adalah dirimu Iren." lalu Matthew berbisik ditelinga parau.
"Aku sudah mencintaimu diam-diam sejak lama," pria itu lega akhirnya bisa menyampaikan perasaannya.
Tak lama setelah itu Iren mendorong tubuhnya menjauh dan siap-siap pergi. Matthew tampak kaget.
"Kau menolakku?"
Iren berbalik.
"Sudah waktunya rapat. Kita bertemu nanti malam di apartemenmu." katanya sambil mengedipkan mata sebelah dan lanjut berjalan pergi dari situ.
Hening sesaat, kemudian Matthew melompat-lompat kegirangan.
"Yes!"
__ADS_1