
Sampai rumah, Foster membimbing Mina menuju kamar gadis itu. Pembantu yang ia sewa untuk menemani Mina kurang lebih seminggu ini masih ada. Sebenarnya Foster telah menyuruh pembantu itu kembali bekerja di perkebunannya, karena awalnya wanita tua tersebut bekerja di perkebunan miliknya yang ada di pinggiran kota. Tapi karena Mina tiba-tiba bermasalah dengan lambungnya dan Iren belum pulang-pulang juga, Foster menyuruh wanita tua itu datang lagi, memasak makanan yang sehat buat calon istrinya yang asli.
"Bi, nanti siang aku ingin bibi buatkan makanan khusus buat orang yang baru habis sakit lambung. Mina belum bisa makan makanan yang keras-keras, jadi aku ingin bi Rina memasak makanan yang tekstur-nya lunak, jangan lupa perbanyak sayur dan ikan tanpa lemak." ujar Foster ketika berpapasan dengan bi Rina yang tengah menyapu diruang tamu.
Baru mendengar pria itu bicara panjang lebar mengatur makanan seperti apa yang harus di masak bi Rina saja, Mina sudah lelah. Perbanyak sayur? Ya ampun, dia paling bermusuhan dengan yang namanya sayur. Tapi tidak berani bilang ke kakak iparnya kalau dia keberatan.
"Baik tuan," bi Rina menyahut. Matanya berhenti di Mina. "Non udah sehat?" tanyanya. Mina mengangguk. Kak Foster saja yang berlebihan memperlakukannya seperti orang sakit. Padahal ia sudah pulih total.
Mina ingin sekali ke kampus karena hari ini dikampus ada acara pensi, bintang tamunya beberapa penyanyi terkenal Indonesia yang tengah naik daun, sayang sekali ia harus membatalkan niatnya karena kak Foster tidak mengijinkannya keluar hari ini. Sama sekali tidak bisa. Nggak asyik.
"Ayo ke atas." ucap Foster, kembali membimbing gadis itu ke lantai dua.
"Aku mandi dulu, kau istirahat sebentar, nanti aku bangunkan kalau sudah mau makan siang." kata pria itu lagi. Mina menganggukkan kepala, tidak banyak bicara karena dirinya memang masih mengantuk. Mungkin pengaruh obat yang disuntikan dokter rumah sakit tadi pagi.
Setelah Foster keluar dari kamarnya, gadis itu bersiap-siap untuk tidur. Hampir saja ia ketiduran, namun ketukan dari luar pintu kamar membuatnya terjaga. Ia membuka mata.
Siapa?
Tidak mungkin kakak iparnya.
"Bi Rina?" hanya itu yang paling masuk akal.
"Iya non, ini bibi." sahut bi Rina dari luar. Mina bangun dan mengganti posisi yang tadinya tidur kini duduk.
"Masuk aja bi, nggak dikunci." serunya dari dalam.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka ia menatap bi Rina.
"Kenapa bi?" tanyanya.
"Gini non, tadi waktu bibi beresin kamarnya tuan Foster dompet bibi ketinggalan. Bibi mau ke pasar buat belanja bahan makan, tapi bibi nggak enak gangguin tuan Foster, bibi takut kena marah. Non bisa bantuin ambil dompetnya bibi nggak?" ujar bi Rina. Wanita paruh baya itu tahu kalau Foster paling tidak suka diganggu saat ia sedang berada dikamarnya. Ia lihat majikannya itu sangat lembut pada Mina, jadi ia berpikir kalau Mina yang mengetuk, pria itu tidak akan keberatan.
"Gimana non, bisa bantu bibi nggak?" tanyanya lagi.
Mina berpikir sebentar, kemudian turun dari kasurnya.
"Ya udah. Dompetnya bibi taroh di sebelah mana?"
"Di atas meja non." sambil mengangguk Mina melangkah keluar kamar, berhenti di depan kamar Foster dan mengetuk. Belum ada jawaban.
"Mungkin kak Fosternya lagi mandi bi. Aku akan coba buka pintunya." ucapnya. Kemudian membuka pintu kamar Foster.
Lelaki itu memang tidak ada dalam ruangan saat ia masuk. Tapi ada bunyi-bunyi air dari arah kamar mandinya. Dia benar, pria itu memang sedang mandi. Mina pun melangkah masuk ke dalam dan mengambil dompet bi Rina di atas meja.
"Ini bi dompetnya," ia memberikan dompet ditangannya ke bi Rina.
"Makasih non."
"Sama-sama bi."
"Kalo gitu bibi turun dulu ya."
__ADS_1
Mina mengangguk, ia masih melihat bi Rina sampai perempuan paruh baya itu menghilang dari balik tangga. Ketika ia hendak balik ke kamarnya, seseorang tiba-tiba menarik pinggangnya dan mengangkat tubuhnya. Menggendongnya ala koala.
"Kak Foster turunin aku ..." ucap Mina pelan. Tentu saja ia tahu siapa pelaku yang menggendongnya. Mina berusaha turun, takut bi Rina akan mendengar mereka kalau ia bersuara keras. Apalagi mereka masih berada di depan pintu. Tak menghiraukan Mina, Foster malah membawanya masuk ke dalam kamar. Masih dengan posisi yang sama.
Kedua kaki Mina melingkar di pinggang pria itu. Tangannya ikut melingkar di leher Foster karena takut jatuh. Posisi seperti ini adalah posisi yang sangat intens, biasanya hanya dilakukan oleh pasangan kekasih. Tangan kekar Foster menopang berat tubuhnya.
Mina menelan ludah begitu menyadari pria itu hanya mengenakan handuk yang terlilit dipinggangnya. Seperti di awal pertama kali ia masuk diam-diam dalam kamar ini. Oh astaga, tubuh lelaki ini sangat sexy. Kak Foster pasti rajin sekali olahraga untuk mendapatkan tubuh seindah ini.
"Kenapa belum tidur, aku menyuruhmu tidur kan tadi, hm?" pria itu bergumam di depan wajah Mina. Napasnya wangi mint. Apalagi ia baru habis mandi. Rambutnya masih basah, menambah kesan laki-laki sexy pujaan banyak wanita. Mina berusaha turun tapi Foster menopang kuat tubuhnya hingga ia tidak bisa bergerak sembarangan.
Laki-laki itu melangkah ke dekat kasur dan duduk di sana. Mina masih di atasnya, kini duduk di pangkuannya, masih dengan kedua kaki yang melilit pinggang pria itu.
"Apakah secepat itu kau sudah merindukanku?" sebelah tangan Foster terangkat membelai wajah halus Mina.
"Ta .. tadi aku mengetuk-ngetuk pintu tapi kak Foster lagi mandi, jadi aku masuk saja untuk mengambil dompet bi Rina yang ketinggalan dalam kamar kakak. Bi Rina minta tolong padaku karena takut mengganggu kakak." ucap Mina menjelaskan. Sesekali ia menutup mata akibat belaian Foster di wajahnya yang membuatnya kegelian.
"Oh, rupanya aku harus berterimakasih ke bi Rina karena secara tidak langsung sudah menolongku. Aku terus menahan diri sejak tadi untuk tidak menyentuhmu dulu. Tapi kau tiba-tiba datang. Membuat hasratku bangkit lagi." gumam pria itu parau.
Dia paling suka berduaan begini dengan wanitanya. Karena banyak yang bisa mereka lakukan. Tentu untuk bersenang-senang. Namun Foster bersenang-senang dengan Mina bukan hanya sekadar bermain-main. Dia sangat amat serius.
"Kau merasakannya?" tanya pria itu lagi. Tangannya berhenti bergerak di wajah Mina dan menatap gadis itu dengan tatapan horny.
Merasakan apa? Mina tidak mengerti. Ia menatap pria itu lama mencoba mengartikan apa maksudnya. Sesaat kemudian ia merasakan keja n tanan kakak iparnya sudah mengeras di perutnya, dan terus mendesak dari balik handuk.
Mina mengerti sekarang.
__ADS_1