GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)

GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)
Part 10


__ADS_3

Sky sedang asik berlarian di loby kantor Brayen hingga Anggel yang menjaganya di buat kuwalahan olehnya. Brayen memang sengaja membawa Sky ke kantor karna Ayu harus membantu Anissa menyiapkan keperluan pernikahan Lea dan Zion.


"Sky jangan lari-lari sayang. Nanti kamu jatuh" ucap Anggel sambil terus mengejar Sky.


"Bibi kejar ki" bukannya berhenti Sky malah mempercepat larinya sehingga membuat para karyawan kantor tersenyum melihat kelakuan Sky yang begitu mengemaskan.


"Tuan kecil kamu tampan sekali" ucap salah satu karyawan wanita yang tidak sangup lagi menahan diri karna kelucuan Sky.


"Telimakasi kak. Ki memang tampan" ucap Sky penuh percaya diri sehingga membuat para karyawan semakin gemas.


"Sayang sudah jangan ganggu kakak itu dia sedang bekerja. Nanti papa marah lho" tegur Anggel.


"Kalau begitu Ki lali lagi" ucap Sky kembali berlari hingga akhirnya dia menabrak gadis kecil sampai akhirnya kedua tubuh munggil itu jatuh ke lantai.


"Sky kamu tidak apa apa sayang" ucap Anggel berusaha membantu Sky untuk berdiri.


"Ki ngak apa- apa Bi" ucap Sky sambil menatap gadis kecil yang sedang di bantu Deddynya.


"Kamu tidak apa- apa. Maafkan keponakan saja, Tuan" ucap Anggel tak enak melihat pria gagah di depannya.


"Tidak apa-apa. Putri saya juga baik- baik saja" ucap Jhovan tersenyum.


"Selamat siang Tuan Jhovandi Expender" ucap Brayen melihat Jhovan berdiri bersama putra dan adiknya.


"Selamat siang juaga Tuan Brayen Adhijaya" ucap Jhovan ramah sambil bersalaman dengan Brayen.


"Apa putra saja menganggu anda?"


"Tidak Tuan. Putra anda sangat tampan sama seperti anda" puji Jhovan melihat ketampanan Sky yang sudah terlihat jelas.


"Makasi Paman" ucap Sky tersenyum.


"Apa dia putri anda?" ucap Sky melihat gadis kecil di samping Jhovan.


"Ia Tuan kenalkan dia Jasmine putri kesayangan saya"


"Kamu cantik sekali sayang. Pasti mamamu juga cantik ia kan?"


Mendengar kata cantik dari Brayen, Sky langsung saja tidak terima "Papa ki bilang sama Mama jika Papa bilang mama Jasmine cantik"


Mendengar ancaman putranya Brayen langsung saja mengaruk kepalanya sambil terkekeh.


"Putramu sangat pintar. Sudah bisa jadi mata mata Mamanya" puji Jhovan mendengar ucapan Sky.

__ADS_1


"Dia memang seperti itu. Kenalkan di Sky putra kesayanganku" ucap Brayen memperkenalkan Sky.


"Jasmine ikut tante yuk main sama kakak Sky. Biar Papamu dan Paman Brayen bisa bekerja" ucap Anggel tersenyum manis.


Mendengar ucapan Anggel, Jasmine langsung saja menatap Jhovan meminta ijin. Melihat itu Jhovan langsung saja mengangguk tersenyum menandakan jika dia mengijinkannya.


"Kak Anggel bawa mereka ke taman belakang ya"


"Ya sudah. Sky jangan nakal sama bibi ya" ucap Brayen berjongkok untuk menyetarakan tinggi tubuhnya dan juga putranya.


"Ia pa." ucap Sky tersenyum lalu mencium wajah tampan Brayen.


"Ya sudah. Ayo sayang" Anggel langsung saja mengandeng kedua bocah kecil itu ke taman kantor.


Sedangkan Brayen langsung saja membawa Jhovan ke ruangannya untuk membahas kerja sama mereka.


*****


Zhelina sedang menemani Galang untuk mengerjakan tugasnya di dalam ruangannya. Karna tidak ada pekerjaan yang dia lakukan untuk menghilangkan jenuhnya dia memilih untuk menonton tv yang di sediakan Galang di ruangannya.


"Zhelina apa kamu bisa mengecilkan suaranya" ucap Galang kesal karna suara tv Zhelina yang begitu keras mengganggu konsentrasinya.


"Memangnya kenapa?" ucap Zhelina polos.


"Ya sudah kau tutup saja telingamu"


Mendengar ucapan Zhelina Galang yang kesal langsung saja berdiri lalu mematikan tv.


"Kenapa kau matikan tvnya" ucap Zhelina kesal dengan cemilan yang penuh di mulutnya.


"Aku di sini untuk bekerja. Jika kau ingin bersantai maka di rumah saja" ucap Galang tanpa memperdulikan wajah kesal Zhelina.


Zhelina yang kesal hanya hanya menghentakkan kakinya sambil memayunkan bibirnya. Dia menatap Galang yang sedang sibuk membaca dokumen seorang pasien dengan begitu seriusnya.


"Kenapa?" Zhelina duduk di kursi tepat di depan Galang.


Bukannya menjawab Galang terus saja pokus membaca dokumen di depannya dengan rasa cemas. Hingga akhirnya Zhelina ikut membacanya lalu tersenyum.


"Apa kamu takut gagal menangani oprasinya?" mendengar ucapan Zhelina, Galang langsung saja menatapnya binggung.


"Dari sini Gue tau jika pasien yang akan lho tangani mengalami penyakit kanker usus stadion empat"


"Tidak ada dokter yang berani menanganinya. Gue tidak bisa melihatnya terus terbaring lemah di rumah sakit ini" ucap Galang penuh dilema.

__ADS_1


"Itu sebabnya lho memberanikan diri untuk menanganinya sendiri?"


"Ia. Tapi gue takut gagal"


"Jika lho melakukannya melalu hati nurani lho, gue yakin lho pasti berhasil" Zhelina menepuk punggung Galang sambil tersenyum.


"Kita sebagai manusia hanya bisa menetapkan tapi bukan menentukan. Jika para medis mengatakan dia telah menderita penyakit kanker tahap akhir tapi para medis tidak bisa menentukan ini adalah akhir dari hidupnya"


"Berdoalah dan minta bimbingan dari Allah. Karna hanya dialah yang mahatau dari apa yang kita ketahui"


Mendengar ucapan Zhelina, Galang langsung saja menatapnya tidak percaya. "Dari mana lho dapat kata kata bijak seperti itu?"


"Dari mama Anissa" ucap Zhelina tersenyum mengingat kesabaran dan ketulusan Anissa mengajarinya tentang ilmu agama.


"Mama Anissa?" ucap Galang binggung dengan sebutan mama dari Zhelina.


"Gue sedari kecil hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Semenjak gue kenal dengan mama Anissa gue merasakan kasih sayang ibu yang begitu tiada akhirnya."


"Dia mengajariku banyak hal dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Dia juga memperbolehkanku memangilnya dengan sebutan mama" ucap Zhelina dengan mata berkaca kaca.


"Tante Anissa memang memiliki hati bagaikan malaikat. Tapi gue semakin kasihan kepadanya" ucap Galang menatap Zhelina dengan serius.


"Kenapa?" ucap Zhelina bingung.


"Karna dia harus memiliki dua putri gila seperti lho dan Lea" ucap Galang terkekeh.


Mendengar ucapan Galang, Zhelina yang kesal langsung saja menjewer telingga Galang. "Lho mau tau seberapa gilanya gue ha?"


"Ampun Zhelina. Nanti ketampanan gue hilang karna telinga gue lho putusin" ucap Galang memegang tangan Zhelina.


"Biarin aja biar gue tidak perlu lagi capek capek mengurusi semua cewek genit itu"


"Lho cantik jika marah ya Zhe"


Mendengar ucapan Galang, Zhelina langsung saja menunduk malu. Tak lupa dengan wajah tomatnya yang membuat wajahnya semakin mengemaskan.


"Tapi sayang jelmaan singga betina. Huaaa" ucap Galang memperaktekkan suara singa lalu berlari menghindari amukan Zhelina.


"Galang" Teriak Zhelina mengejar Galang namun sayng yang di kejar terlebih dulu berlari jauh.


Galang langsung saja pergi ke mushola rumah sakit. Seperti yang di katakan Zhelina, Galang meminta petunjuk dan juga kekuatan dari Allah SWT.


Setelah selesai sholat dia berdoa dengan begitu khusuknya dia terus saja berdoa agar oprasi yang akan di jalaninya bisa berhasil.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2