
Sesuai apa yang dikatakan Anissa. Ditha di kebumikan dengan sangat baik. Anissa juga mengundang ibu ibu perwiritan dan juga ustads untuk melakukan pengajian. Setelah selesai acara pemakaman satu persatu pengunjung pergi dan tinggallah Jhohan dan kedua anaknya masih terdiam menatap batu nisan Ditha.
"Maaf saya terlambat" ucap Anissa merasa tidak enak karna terlambat menghadiri pemakaman Ditha.
"Tidak apa apa. Saya mengucapkan banyak terimakasi kepada nyonya. Saya tidak tau harus mengganti kebaikan nyonya dengan apa" Jhohan langsung saja berdiri sambil menunduk tak berani menatap wajah Anissa.
"Itu sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia. Allah hanya mengirimkan pertolongannya melalui saya. Jadi Tuan tidak perlu merasa tidak enak kepada saya" ucap Anissa tersenyum.
"Saya tidak menyangka jika di dunia ini masih ada orang baik seperti nyonya"
"Bukan hanya saya. Tapi masih banyak orang di luar sana yang mau membantu kita sesama manusia. Tapi, setelah ini anda dan kedua malaikat kecil ini mau kemana?" ucap Anissa tersenyum sambil mengelus puncak kepala Jhovan dan Zhelina.
"Saya mau pergi ke luar kota nyonya. Karna Riki sahabat saya mengatakan jika ada pekerjaan untuk saya di sana"
"Baguslah kalau begitu. Oh ia kenalkan ini kedua anak saya Brayen dan Zhelina" ucap Anissa memperkenalkan Brayen dan Zhelina. Brayen dan Zhelina langsung saja mencium tangan Jhohan.
"hai... aku Lea" ucap Lea tersenyum manis ke Zhelina.
"Aku Zhelina. Kamu sangat beruntung ya punya Mama sebaik tante Anissa"
"Kamu juga boleh kok ngangap Mamaku sebagai Mamamu"
"Apa kah boleh?" ucap Zhelina penuh semangat. Mendengar ucapan Zhelina Anissa dan Lea langsung menganguk.
"Kamu tenang saja mulai sekarang kita adalah keluarga. Maka keluarga akan selalu bersama dalam suka maupun duka. Oh ia, aku sampai lupa. Ini aku punya hadiah untukmu" ucap Lea memberikan boneka panda yang besar ke Zhelina.
"Ini beneran untukku?" Zhelina langsung saja menerimanya.
"Terimakasi ya, Dik. Kamu sangat baik. Tak cuma itu kau juga sangat cantik seperti Tante Anissa" ucap Jhovan memuji kecantikan Lea.
"Em. Terimakasi" ucap Lea langsung mendunduk malu.
"Ini kami ada sedikit rezeki. Kamu ambillah mungkin itu cukup untukmu membangun usaha baru" ucap Anissa memberikan amplop berisi uang lima puluh juta ke Jhohan.
__ADS_1
"Ia Paman. Ini Brayen juga sedikit tabungan. Tapi, sudah Brayen belikan cincin. Tadinya Brayen mau jadikan hadiah untuk Mama. Tapi, Brayen lihat Paman jauh lebih membutuhkannya." ucap Brayen memberikan kotak perhiasan ke Jhohan.
"Tidak, Nak. Paman tidak bisa menerimanya" Jhohan langsung saja menolak pemberian Brayen.
"Paman gak boleh lho menolak rezeki. Karna Allah sangat tidak suka. Lagian aku bisa membeli yang baru lagi untuk Mama." Brayen langsung saja meletakkan kotak perhiasan itu di tangan Jhohan.
Melihat ketulusan hati ibu dan anak itu Jhohan langsung saja neneteskan matanya penuh haru.
"Sudah paman jangan nangis lagi. Paman pakai saja pemberian Mama dan Kakak untuk buka usaha. Jika besok Paman punya banyak uang Paman boleh mengantinya. Asalkan Paman dan Kedua anak Paman bisa hidup layak dulu" ucap Lea dengan dewasa.
"Ia sayang. Paman janji akan menggunakan pemberian kalian dengan baik. Paman juga akan mengantinya suatu saat nanti." ucap Jhohan tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Lea.
"Suami saya ingin saya menyampaikan permintaan maafnya karna tidak bisa menemui kalian" ucap Anissa mengingat permintaan Rayhan.
"Tidak apa apa. Tolong ucapkan terima kasih saya kepadanya." ucap Jhohan tersenyum.
"Baiklah. Kalau begitu kami pamit dulu" Anissa melihat hari yang sudah sore.
"Paman Lea pulang dulu ya." Lea menatap Jhohan sambil tersenyum lalu beralih menatap Jhovan.
Jhovan langsung saja menerimanya lalu menatap Lea yang terus melambaikan tangannya kepadanya. Jhovan terus saja menatap lekat Lea yang terus melemparkan sengumanya kepadanya.
*****
"Lea, maafkan paman sayang." ucap Jhohan langsung saja memeluk Lea yang tergetak lemah di pangkuan Anissa.
"Jho..Jhohan" ucap Anissa tak percaya menatap perubahan Jhohan.
Melihat itu, Key dan juga anggotanya langsung saja gugup. Mereka mencoba melangkahkan kakinya mundur hendak melarikan diri. Namun, Jhovan dan juga anak buahnya datang di waktu yang tepat.
"Tangkap mereka semua" tegas Jhovan yang baru memasuki mension mewah keluarga Adhijaya.
"Jangan banyak bicara. Ayo kita bawa Lea ke rumah sakit" ucap Zhelina melihat keadaan Lea.
__ADS_1
Brayen langsung saja membawa tubuh Lea kedalam gendongannya lalu membawa Lea ke rumah sakit di ikuti oleh seluruh keluarga Adhijaya dan juga Jhohan dan Jhovan.
Sedangkan Rilki dan Jefri dan juga anggota King Snake lainnya mwnguruh si pecundan Kay dan anggotanya. "Kamu salah karna berani mempermainkan Tuan besar" ucap Jefri tersenyum sinis melihat wajah Kay yang pucat pasi.
*****
Sesampainya di rumah sakit Alex dan Bram langsung saja turun tangan menangani Lea. Sedangkan Jhohan terus saja duduk meringkuk di kursi tunggu menyesali perbuatannya. Karna kecerobohannya dia melukai orang yang telah menyelamatkan kehidupannya dulu.
"Maafkan aku tuan Adhijaya. Maafkan aku" ucap Jhohan penuh penyesalan kepada Rayhan yang sedari tadi duduk dengan cemas karna menghawatirkan keadaan putrinya.
"Kau pasti terkena mulut berbisa Kay kan?" ucap Brayen menatap tajam Jhohan.
"Aku menyesal karna terlalu percaya kepada anak licik itu. Aku mohon maafkan aku" Jhohan terus saja menatap Brayen penuh penyesalan.
"Sudah. Lebih baik kita berdoa agar Lea baik baik saja" ucap Rayhan membuka suara.
Tak menunggu lama akhirnya Bram dan Alex keluar dari ruang rawat Lea. "Bagaimana keadaan Lea kek. Paman?" ucap Zion dengan wajah khawatir.
"Lea tidak apa apa. Tidak ada luka parah yang di alaminya. Namun, karna pukulan yang keras di punggungnya. Tulang belakannga mengalami sedikit retak." Jelas Bram.
Mendengar Lea baik baik saja semua orang langsung saja merasa lega dan tak lupa mengucapka syukur kepada Allah SWT.
"Lebih baik kalian pulang dulu. Biarkan Lea istirahat" ucap Alex melihat Rayhan dan Anissa.
"Aku mau melihat putriku terlebih dahulu" ucap Anissa langsung saja masuk kedalam ruangan Lea di ikuti oleh Brayen.
"Tuan Brayen. Maafkan saya karna tidak bisa menghentikan perbuatan Deddy saya" ucap Jhovan mendekati Brayen dan juga Ayu.
Mendengar nama Brayen di panggil Jhohan langsung saja menatap pria tampan dan berbadap tegap itu. "Kamu Brayen?"
"Ia Paman. Saya Brayen" Mendengar ucapan Brayen, Jhohan langsung saja memeluknya lalu menangis di pelukan Brayean.
"Maafkan paman, Nak. Paman terlalu di butakan dendam dan juga kekuasaan. Sehingga paman dengan mudahnya terkena hasutan orang licik itu"
__ADS_1
Mendengar ucapan Jhohan Galang langsung saja menatap Jhohan dan Zhelina "Sebenarnya apa yang terjadi?"
Bersambung...