GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)

GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)
Part 07


__ADS_3

Brayen sedang sibuk dengan setumpuk berkas yang ada di meja kerjanya. Dia membaca satu persatu isi lembaran kertas itu lalu meningalkan coretan tanda tangannya di sana.


Diteman Jayden sang asisten pribadinya yang selalu ada di sampingnya. Mereka bekerja dalam keheningan hingga suara ketukan pintu memecahkan keheningan ruangan itu.


"Masuk" ucap Brayen datar tanpa melihat siapa yang masuk ke ruangannya.


"Maaf kak. Ini ada beberapa berkas yang harus kakak tanda tangani" Anggel langsung saja meletakkan beberapa berkas yang ada di tangannya.


"Apa pekerjaanmu masih banyak?"


"Tidak kak. Pekerjaanku sudah selesai"


"Kalau begitu bantu kakak mengerjakan semua ini. Kakak akan mengabari ayah jika kamu harus lembur hari ini" perintah Brayen karna dia mulai lelah dengan pekerjaannya yang begitu menumpuk.


"Baik kak." Anggel langsung saja duduk di samping Jayden lalu membantu kedua pria tampan itu.


Setelah lulus kuliah Brayen menyuruh Anggel untuk membantunya di perusahaannya sebagai sekertarisnya. Dengan kepintaran Anggel dan juga ingin memperbaiki hubungannya dengan adik tirinya itu Brayen mempercayai Anggel untuk bekerja di perusahaannya.


Jayden terus saja melirik ke arah Anggel. Reaksi wajah Anggel yang sedang fokus bekerja di tambah lagi hijab yang melingkar di kepalanya membuat aura kecantikan Anggel semakin terpancar.


Brayen yang menyadari jika sahabatnya itu sedang mencuri pandang ke adiknya hanya bisa tersenyum. Setidaknya Brayen merasa beryukur karna Jayden telah melupakan Lea dan mau membuka hati lagi ke wanita lain.


"Kakak pesan minuman dulu ya" Brayen branjak dari bangku kuasanya lalu melangkahkan kakinya mencoba memesan makanan oline.


Anggel dan Jayden langsung saja menganguk patuh. Tak menunggu lama akhirnya pesanan mereka datang. Mereka langsung saja menyantap makanan dan minuman yang Brayen pesan lalu beristirahat sejenak untuk menghilangkan penat mereka.


"Apa dokumen yang harus di periksa masih banyak?" ucap Brayen yang sudah merindukan putra dan istringa.


"Sedikit lagi Tuan. Apa Tuan lelah?"


"Tidak kita selesaikan saja. Aku hanya merindukan putra dan istriku saja" jelas Brayen sambil mengotak atik ponselnya mencoba menghubungi seseorang dengan pangilan vidio call.


Tak menunggu lama akhirnya Ayu mengangkat pangilan suaminya. Brayen langsung saja terseyum melihat wajah cantik istrinya dan juga putranya yang imut terlihat di layar ponselnya.


"Papa. Papa belum pulang?" suara anak kecil langsung saja terdengar dari ponselnya.


"Papa lagi banyak pekerjaan sayang. Maaf ya Papa harus pulang terlambat"


"Papa sama siapa?"


"Papa sama bibi Anggel dan paman Jayden sayang"


"Bibi Anggel mana pa?"

__ADS_1


"Hai sayang" Anggel langsung saja berdiri di samping Brayen.


"Bibi kapan ke sini. Ki lindu"


"Insya Allah jika bibi cuti bibi main ke sana ya sayang"


" Yeahhh... benal ya bi"


"Ia sayang. Sudah ya bibi mau kerja lagi. Dadaah sayang bibi"


"Dadahh bibi cantik"


" Sudah ya sayang. Papa dan bibi harus bekerja lagi"


"Ia pa. Papa cepat pulang ya"


"Ia sayang."


"Jangan terlalu lelah ya sayang" Ayu terseyum menatap wajah Brayen.


"Ia sayang. Kamu juga jangan terlalu lelah ya. Jika lelah kamu tidur saja duluan ya sayang"


"Ia sayang"


"Tuan setelah menikah aku lihat hidup Tuan semakin berwarna" Jayden tersenyum menatap kebahagian Tuan mudanya.


"Ia Jay. Itu makanya kamu juga harus cepat cepat nyusul"


"Pengennya juga gitu Tuan. Tapi sayang pasangannya gak ngudeng ngudeng" Jayden tersenyum sambil melirik Anggel.


"Itu makanya jadi pria itu harus jentel, ia kan Gel" Brayen terkekeh kecil. Sedangkan Anggel yang di ajak bicara hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.


"Sudah ayo lanjutkan pekerjaan kita. Nanti keburu malam" ucap Brayen mengingat hari yang semakin larut.


Mereka langsung saja kembali bekerja dengan fokusnya. Hingga tanpa mereka sadari jika pekerjaan mereka telah beres semuanya.


"Akhirnya selesai juga" ucap Jayden sambil merenggangkan otot ototnya yang dudah kaku.


"Jay kamu antar Anggel ya" perintah Brayen mengingat hari yang sudah larut malam.


"Ia Tuan. Ayo Gel" Jayden langsung saja merdiri bersiap untuk pulang.


Anggel langsung saja menganguk patuh lalu mengikuti langkah kedua pria gagah itu. Setelah menitipkan Anggel ke Jayden, Brayen langsung saja menaiki mobilnya.

__ADS_1


Tak lupa Brayen mencoba memainkan ponselnya mencona untuk mengirim pesan kepada seseorang.


****


Jayden terus saja fokus menyetir sambil sesekali melirik Anggel yang sedang fokus menatap ke arah luar jendela.


Hingga akhirnya ponselnya berbunyi. Dengan cepat Jayden menatap layar ponsel itu.Ketika membaca pesan yang masuk seketika senyuman mengungkir indah di wajahnya.


^^^Aku tau kau mencintainya. Jadi nyatakanlah cintamu sebelum kau keduluan oleh orang lain. Aku akan selalu mendukungmu. Terimakasi karna telah mau melupakan Lea dan mulai membuka hatimu kepada Anggel adikku. ~Tuan Muda bucin~^^^


Setelah mendapatkan jalur kuning dari calon kakak iparnya Jayden menjadi percaya diri. Dia yakin kali ini cintanya tidak akan pertepuk sebelah tangan lagi.


"Anggel" ucap Jayden mencoba memberanikan diri.


"Iya kak" Anggel langsung saja menatap Jayden.


"Di usia kamu yang sekarang apa kamu tidak kepikiran untuk menikah?"


Mendengar pertanyaan Jayden, Anggel langsung saja mengerutkan keningnya binggung.


"Kakak tidak pernah melihatmu bersama kekasihmu. itu makanya kakak bertanya seperti itu"


Mendengar penjelasan Jayden, Anggel langsung saja tersenyum lalu mencoba menarik napasnya dalam dalam.


"Kakak pernah menjelaskan kepadaku jika seorang wanita harus menjaga kehormatannya dan menjaga jarak dengan pria yang bukan mahramnya"


Mendengar penjelasan Anggel, Jayden langsung saja menatapnya penuh kekaguman.


"Dulu aku berpikir jika seorang pria yang menyatakan cinta dan berjanji akan selalu berada di sisi seorang wanita itu akan benar apa adanya."


"Tapi setelah kejadian empat tahun lalu aku menyadari jika pria yang menyatakan cinta kepada seorang wanita tapi hanya memacarinya saja itu karna dia hanya mencintai wanitanya hanya karna nafsu semata"


"Jadi pria seperti apa yang kau inginkan?" Ucap Jayden langsung saja menepikan mobilnya.


"Pria yang mencintaiku karna Allah" jelas Anggel penuh keyakinan.


"Maksudnya?"


"Jika pria mencintai seorang wanita karna nafsunya maka pria itu hanya memacarinya saja lalu mengiming imingkan pernikahan yang belum pasti. Tapi, jika seorang pria mencintai wanitanya karna Allah maka dia akan membawa wanitanya ke jalan Allah. Mengikatnya kedalam tali suci pernikahan hingga semua yang mereka lakukan akan menjadi pahala yang barokah bukan dosa dan kemaksiatan"


Mendengar penjelasan Anggel Jayden langsung saja tersenyum. Dia semakin yakin Anggel adalah wanita yang tepat untuk menemani hidupnya.


"Kalau begitu aku akan segera mengikatmu dalam tali suci pernikahan. Melakukan sunnah rassul dan menabung bayak pahala untuk kita berdua"

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2