
Hari ini Lea dinyatakan sembuh dan telah dapat pulang. Zhelina dan Jhovan langsung berniat langsung saja bersiap siap ingin menjemput Lea ke rumah sakit.
"Zhe, apa kau sudah selesai?" ucap Jhovan langsung saja masuk ke kamar Zhelina. Jhovan langsung saja terdiam ketika melihat Zhelina sedang duduk termenung di depan kaca riasnya.
Melihat adiknya yang sepertinya ada masalah Jhovan langsung saja mendekatinya "Siapa yang membuat adik kesayangan seorang mafia besedih seperti ini? katakan kepada kakakmu ini! Biar kakak beri pelajaran orang itu"
Mendengar ucapan sang kakak, Zhelina langsung saja tersadar dari lamunannya lalu menatap sang kakak yang berdiri di belakangnya "Sejak kapan kakak ada di dalam kamarku?"
"Sejak kamu menatap cermin dengan begitu lekat." jhovan langsung saja duduk di tepi ranjang Zhelina.
Melihat sang kakak terus saja menatapnya, Zhelina langsung saja merapikan rambutnya.
"Ada, apa? kakak lihat beberapa hari ini kau sering melamun" Jhovan menatap Zhelina dengan tatapan penuh selidik.
"Ti..tidak, Zhelina tidak apa apa" ucap Zhelina gugup.
Mendengar ucapan Zhelina, Jhovan langsung saja tersenyum. Jhovan langsung saja berjalan mendekati Zhelina lalu menganbil sisir yang di pegang Zhelina.
"Jika kamu menyisirnya seperti itu, maka rambutmu tidak akan rapi rapi" ucap Jhovan tersenyum sambil menyisir rambut adik perempuan satu satunya itu dengan sangat lembut.
Melihat sikap sang kakak yang begitu perhatian kepadanya, Zhelina langsung saja tersenyum "Terima kasih, kak"
"Apa pantas seorang adik berterima kasih kepada kakaknya hanya dengan hal sepele seperti ini? Maafkan kakak ya karna selama ini tidak terlalu memperhatikanmu. Kakak belum bisa menjadi kakak yang terbaik untukmu." Jhovan menatap lekat pantulan adiknya di dalam cermin.
"Siapa bilang? kakak adalah kakak yang terbaik untuk Zhelina. Zhelina bangga mempunyai seorang kakak seperti kakak" ucap Zhelina tersenyum sambil membalikkan tubuhnya menatap Jhovan
"Kakak janji, mulai sekarang kakak akan menjadi kakak terbaik untukmu" Jhovan tersenyum sambil mencubit hidung mancung Zhelina.
"Edy, ibi Ajmine dah iap" ucap Jasmine dengan semangat menghampiri Jhovan dan Zhelina.
"Putri Deddy cantik sekali" Jhovan langsung saja tersenyum menatap kecantikan putrinya.
"Ia eddy. Asminen tan au etemu engan atak Ki"
"Jadi, keponakan bibi ini dandan secantik ini hanya untuk Sky?" Zhelina langsung saja menatap Jasmine dengan tatapan penuh selidik.
"He..he..dah ibi, eddy ayo ita igi" Jasmine langsung saja terkekeh kecil lalu menarik tangan Jhovan dan Zhelina karna sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sky.
Melihat sikap Jasmine, Zhelina dan Jhovan hanya mempu mengelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
*****
Di rumah sakit.
Anissa dan Sarah sedang sibuk menyimpan barang barang Lea. Kedua besan sekaligus sahabat itu dengan penuh semangat membereskan barang barang Lea.
"Sudah selesai" ucap Anissa ketika barang barang Lea sudah tersimpan rapi semuanya.
"Atalam wallaikum" ucap Jasmine dengan semangat masuk kedalam kamar Lea.
Wallaikum sallam.
"Eh, ada calon cucu mantu" ucap Rayhan tersenyum sambil mengoda Jasmie.
"Ih, atek isa aja" ucap Jasmine tersenyum malu malu.
Melihat tingkah Jasmine semua orang langsung saja terkekeh. Sedangkan, Jasmine hanya tersenyum lalu duduk di samping Sky.
"Lea, gue rindu" Zhelina langsung saja mendekati sahabatnya itu lalu memeluknya dengan erat.
"Gue juga rindu, Zhe. Kamu sih gak mau menemai aku di sini" ucap Lea mode ngambek sambil memayunkan bibirnya.
"Tante, semuanya sudah siap?" ucap Galang tiba tiba masuk. Melihat Galang hadir di sana Zhelina langsung saja menatapnya dengan lekat. Sama seperti Zhelina, Galang langsung saja mentap Zhelina yang beberapa hari ini sangat dia rindukan.
Namun, Galang langsung saja membuang muka lalu mendekati Brayen dan Jhovan yang sedang duduk di sofa. Lea dan Zion yang melihat kecangungan itu langsung saja saling lempar tatapan.
"Sudah, kita pulang sekarang?" ucap Anissa.
"Horee.. akhirnya aku pulang juga" ucap Lea semangat empat lima.
"Tapi, kamu pulang kerumah kami" ucap Sarah tersenyum.
"Siap, Ma" Zion langsung saja membantu Lea untuk berdiri. Mereka semua langsung saja kembali ke kediam Zion dengan cara beriringan.
Jhovan melirik Zhelina yang duduk termenung di sampingnya. Melihat sikap adiknya setelah bertemu dengan Galang, Jhovan langsung tau apa penyebab Zhelina seperti sekarang.
Jhovan langsung saja tersenyum. Satu ide cemerlang melintas di pikirannya. Setelah itu Jhovan menatap ke kursi belakang dan melihat Jasmine dan Sky sedang bercanda ria bersama.
Melihat kedekatan Sky dan Jasmine, Jhovan langsung saja melempar senyumannya. Setelah memastikan semuanya telah berada di dalam mobil. Jhovan langsung saja melajukan mobilnya mengikuti mobil Zion dan Brayen yang ada di depannya.
__ADS_1
Sedangkan Lea yang berada di mobil yang sama dengan Galang dan Zion terus saja menatap Galang dengan tatapan penuh selidik. Hingga akhirnya membuat orang yang di tatapnya merasa sangat terganggu.
"Kenapa lho menatap gue seperti itu? apa gue sangat tanpan, ha?" ucap Galang kesal dengan tatapan Lea.
"Idih, pede amat lho" Lea langsung saja memutar matanya memelas.
"Lang, ada masalah apa lho dengan Zhelina?" ucap Zion to the poin.
Mendengar ucapan Zion, Galang langsung saja terdiam. "Tidak ada" ucap Galang datar.
"Jadi kenapa kalian diem dieman?" ucap Lea tiba tiba.
"Karna gue kesal saja sama dia"
"Kesal kenapa?"
"Gue merasa di bohongi sama Zhelina. Sama lho juga, Lho nyembunyiin idendentitas Zhelina dari gue. Padahal lho sudah tau yang sebenarnya" ucap Galang kesal.
"Memangnya siapa Zhelina pun yang sebenarnya, apa urusannya sama Lho? lagian dia hanya pengawal lho"
"Tapi, dia membahayakan kita semua"
"Tapi, sekarang semuanya sudah beres. Terus kenapa lho masih marah sama dia?" ucap Lea menatap Galang dengan penuh selidik.
"Gue tidak suka aja di bohongi"
"Zhelina tidak membohongi lho. Dia tidak pernah berbohong. Dia hanya menyembunyikan cerita yang sebenarnya kepada lho"
"Itu sama saja" ucap Galang mulai kesal dengan semua ucapan Lea.
"Hem, gue tau sekarang. Lho suka kan sama Zhelina" ucap Lea tersenyum sambil mengoda Galang.
Mendengar ucapan Lea, Galang langsung saja salah tingkah. "Punya bukti apa lho? sembarangan saja kalau ngomong"
"Terserah lho mau bilang apa. Yang pasti lho harus menyatakannya kepada Zhelina sebelum Paman Jhohan kembali menjodohkan Zhelina dengan pria itu lagi"
Mendengar ucapan Lea. Galang langsung saja terdiam. Galang mulai memikirkan ucapan Lea, Bagaimana jika Zhelina kembali di jodohkan. Apa Zhelina akan menerimanya karna Galang terlalu cuek kepadannya akhir akhir ini. Pikiran pikiran yang tidak tidak langsung saja mengelilingi pikiran Galang.
Bersambung....
__ADS_1