
Di saat semua orang sedang bercanda ria bersama Zhelina malah termenung seorang diri. Dia terus saja menatap Galang yang sedari tadi menjauhinya. Ntah mengapa Zhelina merasa ada yang kurang di dalam hidupnya karna Galang tidak mau berbicara dengannya.
Hingga akhirnya Zhelina melihat Galang keluar dari ruang rawat Lea. Dengan cepat Zhelina mengejarnya lalu mencoba menghentikan langkah Galang.
"Lang. Tunggu" teriak Zhelina berlari kearah Galang.
"Apa?" ucap Galang datar tanpa ekspresi bahkan Galang tidak mau melihat wajah Zhelina.
"Lho marah kepada gue?" tak terasa mata Zhelina langsung saja berkaca kaca melihat perubahan sikap Galang kepadanya.
"Lho pikir?"
"Maafin gue karna gue telah membawa keluarga lho kedalam masalah" Zhelina langsung saja merasa bersalah terhadap apa yang di alami Lea.
"Sudah?" ucap Galang lalu krmbali melanngkahkan kakinya.
"Kenapa lho tidak mau menatap gue, Lang?" ucap Zhelina lirih melihat Galang yang tidak mau menatap wajahnya.
"Karna gue paling tidak suka melihat wajah seorang pembohong" Galang langsung saja meningalkan Zhelina tanpa memperdulikan Zhelina yang terus menatap kepergiannya.
"Maafkan gue, Lang. Tapi jika lho tidak ingin melihat gue lagi maka gue tidak akan memaksa lho untuk kembali menatap gue" batin Zhelina lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu ke arah yang berlawanan dengan Galang.
Di saat Zhelina telah pergi Galang mencoba menoleh dan berharap Zhelina akan terus mengejarnya. Namun Zhelina terus saja berjalan tanpa menoleh ke arah Galang. Melihat itu Galang langsung saja kembali berjalan dengan pikiran yang sangat kacau.
__ADS_1
Begitu juga Zhelina dia mencoba menoleh dengan harapan Galang akan mengejarnya. Tapi Galang terus saja pokus berjalan kedepan tanpa menoleh ke Zhelina. Zhelina langsung saja membuang napasnya kasar lalu kembali pokus dengan masalah keluarganya sekarang.
Dimana dia harus mengagalkan pernikahannya dengan Devan tapi dengan persetujuan Deddynya. Zhelina langsung saja kembali ke ruang rawat Lea.
Sesampainya di ruang rawat Lea, Zhelina melihat Anggel dan kedua orang tuanya sudah berada di ruangan Lea. Tak lupa dengan Sarah dan juga Zion mertua Lea dan juga Jayden.
"Eh, Zhelina. Kamu tidak akan kembali ke kotamu sebelum pernikahanku dan Jayden kan?" Angel langsung saja mendekati Zhelina. Karna dari pembicaraan para orang tua di sana Anggel tau jika Zhelina akan segera kembali ke kotanya.
Mendengar ucapan Anggel, Zhelina langsung saja menatap kearah Jhovan dan Jhohan. "Tentu, saja! Zhelina akan pulang setelah pernikahan sahabatnya" ucap Jhohan lalu merangkul tubuh putrinya.
"Paman, serius?" ucap Lea dan Anggel serentak.
Melihat kebahagiaan kedua sahabat putrinya Jhohan langsung saja tersenyum menganguk. Mereka langsung saja bercengkrama bersama sambil membicarakan pernikahan Anggel yang tinggal beberapa hari lagi.
Namun, Jhohan langsung saja mendekati Jhovan lalu mengajaknya berbicara berdua. Jhovan langsung saja menganguk patuh. Jhovan langsung saja menitipkan Jasmine ke Zhelina lalu mengikuti langkah Jhohan.
"Apa kau sudah mengamankan bocah pecundang itu?" ucap Jhohan membuka suara.
"Sudah, Ded! Jhovan menyuruh Jefri untuk menahan mereka semua di markas mereka sendiri dengan penjagaan yang sangat ketat agar satupun dari mereka yang bisa kabur"
"Apa kau tau, apa masalah pecundang itu dengan keluarga Adhijaya?"
"setelah Jhovan cari tau Kaya adalah putra dari Dedi Wijaya. Mereka juga pernah bermain licik dan membuat perusahaan R.A Grub bangkrut. Tapi, berkat tuan Brayen akhirnya perusahaan paman Rayhan bisa bangkit lagi dan mendapatkan bukti dengan perbuatan licik Dedi. Disitu juga Kay mencoba memperkosa adik tiri tuan Brayen yaitu nana Anggel. Tuan Brayen yang murka atas perbuatan keluarga Wijaya yang selalu mencari masalah dengan keluarganya langsung saja mencebloskan mereka semua kedalam penjara, Ded"
__ADS_1
"Jadi bocah pecundang itu putra pria bajingan itu" ucap Jhohan penuh amarah mengingat semua hinaan Dedi kepadanya.
"Ia, Ded"
"Kalau begitu berikan pelajaran kepada mereka semua." Jhohan langsung saja tersenyum sinis. Berlahan tatapannya berubah menjadi tatapan yang penuh amarah dan dendam yang membara.
******
Terlihat tiga orang pria bertubuh kekar sedang menahan sakit karna luka yang mereka miliki. Kedua tangan mereka di ikat mengunakan rantai besi dengan posisi keatas.
Tubuh kekar mereka di penuhi dengan darah segar yang mengalir dengan derasnya. Tak hanya itu saja dengan keadaan di ikat mereka juga menyaksikan satu persatu angota mereka mati dengan begitu tragis di tangan Jefri dan juga Riki.
Jlep... Akhhh...
Suara tusukan dan juga teriakan terdengar bersamaan bahkan banyak yang bersujud meminta ampun agar kedua malaikat pencabut nyawa itu mengampuni nyawa mereka.
"Baru sekarang kalian meminta ampun, ha! Seharusnya kalian mencari tau dulu siapa lawan kalian melempar api" ucap Jefri tersenyum sinis. Senyuman dan juga tatapannya sangatlah menakutkan hingga membuat semua orang yang berada di sana hanya bisa menunduk ke takutan.
Hingga akhirnya detakan suara sepatu yang begitu keras terdengar dengan jelas di sana. Sehingga membuat keadaan di sana semakin mencengkram.
"Kalian bersiaplah malaikat pencabut nyawa kalian yang sebenarnya telah tiba..Haa..ha.." Jefri langsung saja tertawa dengan lepas.
Tapi dari tawanya tidak ada menandakan kelucuan sama sekali yang ada hanya tawa yang menakutkan dan membuat semua orang yang ada di sana langsung saja keringat dingin mendengarnya.
__ADS_1
Kay, Wandi dan Widi langsung saja menatap ke arah pria yang baru datang dengan tatapan kosong. Mau tau mau mereka harus menyiapkan diri untuk mendapatkan giliran.
Bersambung....