
Galang, Zion ,Zhelina dan Lea sengaja membawa Sky ke taman bermain agar Brayen dan Ayu bisa menghabiskan waktu cuti berdua.
"Sky mau Adik bayi gak?" Galang tersenyum menatap bocah gembul yang sedang asik memakan es krim.
"Adik bayi. Mau paman. Memang Paman ma Bibi mau kasi Adik bayi untuk ki?" ucap Sky polos sambil menatap Lea dan Galang.
"Bukan. Bukan Paman dan Bibi yang kasi Adik bayi buat sky. Tapi Papa dan Mama Sky" jelas Lea.
Mendengar ucapan Lea, Sky langsung saja menatap Lea bingung. Tentu saja bocah seperti Sky belum mengerti tentang maksut perkataan Lea.
"Begini Boy, nanti sampai di rumah Sky bilang sama Mama dan Papa jika Sky mau Adik bayi dari perut Mama. Terus nanti malam Sky tidur sama Kakek dan Nenek biar Papa sama Mama bisa cepat cepat kasi Adik bayi buat Sky"
Mendengar penjelasan Galang, Sky langsung saja mengaguk mengerti. "Baik paman"
"Sayang aku lapar" Lea mulai merasa jika cacing di perutnya sedang berdemo meminta makan.
"Ya sudah kita cari makanan di sana ya. Lang lho jaga Sky ya" ucap Zion lalu melangkahkan kakinya mencari makanan bersama Lea.
Setelah kepergian Lea dan Zion. Galang dan Zhelina langsung saja mengajak Sky bermain dengan bahagianya. Setiap orang yang melihat mereka merasa jika mereka adalah suami istri yang sedang bermain dengan putra mereka.
"Tante cantik Ki mau naik itu" Sky menunjuk kearah ayunan yang ada di depannya.
"Sky mau naik ayunan ya? ya sudah ayo" Zhelina langsung saja mengandeng tangan Sky di ikuti Galang yang memegang tangan Sky yang satu lagi.
"Paman yang dorong ya. Pegagan yang erat" Galang langsung saja mendorong ayunan yang di naiki Sky. Sambil sesekali membantu Zhelina mendorong ayunan yan di naikinya tepat di samping ayunan Sky.
"Ha..ha.. lagi Paman" Sky tertawa bahagia di ikuti oleh suara tawa Zhelina dan Galang.
Karna sedang asik bermain tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka.
Jhovan ya Jhovan dia terus saja menatap kebahagiaan adiknya yang tidak pernah dia lihat selama ini. Tawa yang begitu lepas hingga membuat Jhovan bahagia melihatnya walaupun hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
"Tuan, bukankah itu nona muda?" ucap Jefri Asisten pribadi sekaligus kepercayaan Jhovan.
__ADS_1
"Kau diam saja. Jangan pernah menunjukkan batang hidungmu di depan mereka dan cari cara agar Deddy tidak tau jika Zhelina ada di kota ini. Cukup kau intai saja mereka dari kejauhan"
Mendengar perintah Jhovan, Jefri langsung saja menganguk mengerti. Setelah menyuruh Jefri untuk terus mengawasi Zhelina dari kejauhan Jhovan langsung saja membawa putrinya ke apartementnya.
Jujur saja dia merasa lelah karna beberapa hari ini harus menyiapkan rencana untuk mencari keberadaan Zhelina. Dia perlu mengistirahatkan tubuhnya agar besok bisa kembali fit saat menemui pemilik perusahaan yang dia ajukan kerjasama.
"Edy elah ya?" ucap Jasmine ketika Jhovan langsung saja menghempaskan tubuhnya ke kasurnya.
"Ia sayang Deddy sangat lelah. Kamu mandi dulu ya sama Babby sister Deddy mau istirahat"
"Ia Edy. Tapi ecok Asmine ikut ya"
"Ikut kemana sayang?" Jhovan langsung saja mengerutkan keningnya.
"Ikut ma eddy. Asmine anji ndak akal di cana" ucap Jasmine menatap Jhovan dengan penuh permohonan.
"Baiklah. Tapi Jasmine janji gak akan nakalnya"
"Yaechhh...ia Edy Asmine anji ndak akal di cana"
Mendengar ucapan Jhovan, Jasmine langsung saja mengangguk mengerti. Dia langsung saja keluar dari kamar sang Deddy lalu mencari keberadaan Babby sisternya.
Setelah kepergian putrinya Jhovan langsung saja pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selasai dia langsung saja duduk bersender di kasurnya sambil memainkan ponselnya.
Seketika senyum di wajahnya melingkar indah ketika melihat foto Zhelina dan Jasmine yang sedang tersenyum bahagia di layar ponselnya.
Namun berbeda dengan senyuman dan tawa Zhelina yang dia lihat di taman tadi. Dimana senyuman dan tawa yang begitu lepas tanpa ada beban dan tekanan sama sekali.
Di dalam foto itu terlihat raut kesedihan dan penuh tekanan yang terpancar di dalam mata Zhelina. Ajaran sang Deddy yang begitu tegas membuat Zhelina hanya bisa memendam semua keinginannya sebagai gadis remaja.
Masa masa remajanya dia habiskan di dalam kelamnya dunia mafia tanpa ada kebahagian dan kelembutan di dalamnya. Yang ada hanya kekerasan dan juga keberutalan yang tak pernah memandang siapa lawannya.
__ADS_1
Jhovan sebagai kakaknya tidak bisa membantu Zhelina untuk keluar dari kerasnya didikan sang Deddy karna dia juga mengalami hal sama Dimana dia tidak bisa bersatu dengan Wanita pujaan hatinya demi menuruti sang Deddy yang memaksanya menikah dengan Mitha yang sekarang menjadi istrinya yang hanya dalam status saja.
*****
Zion dan Lea terus saja memperhatikan kebahagian Zhelina dan Gaalng yang sedang bermain bersama Sky di bangku taman tak jauh dari mereka bermain.
"Sayang apa kau tidak melihat kebahagian yang terpancar di wajah Galang saat ini" Zion menunjuk ke arah Galang.
"Ia sayang. Dia sangat bahagia tidak seperti saat bersama wanita lainnya"
"Ia aku juga melihat itu. Apa Galang diam diam menyimpan rasa pada Zhelina, ya sayang?" tebak Zion mengingat kelakuan Galang pada Zhelina sama seperti saat dia diam diam menyimpan rasa pada Lea dahulu.
"Tapi jika Galang mencintainya pasti dia sudah menyatakannya langsung kepada Zhelina"
"Kau tidak tau bagaimana cara kami para pria memperlakukan wanita yang benar benar kami cinta dengan wanita yang sama sekali kami tidak cintai"
Mendengar ucapan Zion, Lea langsung saja menatapnya sambil mengerutkan keningnya binggung.
"Jika pria benar benar tulus mencintai wanitanya maka dia akan selalu membuat wanitanya bahagia dan nyaman bersamanya. Sama seperti ku dulu Galang pasti tidak mengungkapkan perasaannya karna takut Zhelina akan menghindar darinya" Jelas Zion.
"Kalau begitu kita bantu saja mereka agar cepat bersatu"
"Setuju. Kita akan segera menyatukan mereka."
Zion dan Lea langsung saja bergabung bersama mereka. Mereka bermain bersama sebagai penghilang penat karna selama enam hari ini mereka harus lalui dengan bekerja.
Karna terlalu asik bermain mereka sampai tidak sadar jika matahari mulai terbenam.
" Tante cantik lihat" Sky menunjuk ke arah matahari terbenam. Walaupun tidak terlihat jelas tapi keindahannya masih terlihat dari tempat mereka.
"Indah sekali. Jika kita bisa lihat dengan jelas pasti lebih indah" ucap Zhelina penuh kekaguman.
Beda dengan ke tiga temannya yang sudah biasa menelusuri keindahan dunia. Zhelina bahkan bermain seperti ini di luar perkarangan rumah baru kali ini.
__ADS_1
Biasanya dia hanya bermain di taman rumahnya bersama Jasmine keponakannya itu pun dengan awasan para pengawal yang di utus Deddynya untuk mengawasi pergerakan Zhelina.
Bersambung....