GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)

GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)
Part 40


__ADS_3

"Kalian kenapa?" ucap wanita itu menatap penuh prihatin kepada Jhohan.


"Tidak apa apa, Nona" ucap Jhohan menunduk lalu kembali mendorong gerobak sampak.


"Tunggu, dia istri anda?" wanita itu menunjuk ke arah Ditha yang terus meraung kesakitan di dalam gerobak sampah.


"Ia, dia istri saya"


"Sepertinya dia sangat kesakitan. Lebih baik Tuan bawa dia ke mobil saya"


"Tidak usah, Nona. Terimakasi"


"Istri anda sangat kesakitan. Rumah sakit juga masih jauh dari sini. Biar saya antar saja"


"Tidak, Nona. Saya tidak mau merepotkan Anda"


"Tolong pikirkan istri anda, Tuan. Dia sangat kesakitan. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan karna dia terlambat mendapatkan penaganan"


Mendengar ucapan wanita itu Jhohan nampak berpikir sejenak.


"Sudah jangan terlalu banyak pikir, Tuan. Ayo bawa istri anda masuk sekarang" ucap wanita itu membuka pintu mobilnya. Lalu mengendong tubuh kecil Zhelina dan memdudukkannya di bangku samping supir.


Melihat ketulusan wanita itu Jhohan langsung saja menurut lalu membawa tubuh kurus Ditha kedalam mobil mewah itu.


"Sayang, kamu duduk di samping adikmu saja ya. Biar Mamamu gak kesempitan" ucap wanita itu lalu duduk di kursi pengemudi. Setelah melihat semua telah masuk wanita itu langsung saja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit keluarga adhijaya.


Tak menunggu lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dengan cepat wanita itu memanggil para perawat. Mendengar itu semua perawat langsunv saja turun tangan lalu membawa bangsal rumah sakit.


Jhohan langsung saja meletakkan tubuh Ditha ke bangsal itu. "Aaww... Sakit..hiks..hikss..." Ditha terus saja meraung sambil memegang kepalanya.


"Kamu yang sabar ya, Sayang" ucap Jhohan lirih sambil terus menghapus air matanya.


Sesampainya di ruang ICU para perawat langsung saja membawa Ditha ke dalam "Maaf kalian tunggu di luar" ucap Perawat.


"Kakak ada apa?" ucap Dokter Alex ngos ngosan karna kedatangan Anissa yang membawa keluarga Jhohan langsung saja terdengar ke seluruh rumah sakit.

__ADS_1


"Mama mereka ada di dalam. Tolong selamatkan dia" ucap Anissa menunjuk ke Jhovan dan Zhelina yang usianya sama dengan Brayen dan Lea.


"Baik, Kak. Kalian berdoa ya semoga paman bisa membantu Mama kalian" ucap Alex tersenyum ke Jhovan dan Zhelina lalu masuk ke dalam ruang ICU.


Setelah beberapa lama menunggu Jhohan melihat para perawat dan dokter sibuk keluar masuk ruang ICU tempat Ditha di rawat.


"Ded, Mommy kenapa?" ucap Jhovan melihat para perawat yang sibuk keluar masuk ruangan mamanya.


"Deddy tidak tau sayang. Kita berdoa saja semoga Mommy baik baik saja" ucap Jhohan mencoba menenangkan putranya walaupun dia sendiri sedang kepikiran keadaan istrinya di dalam.


"Kalian tenang saja ya. Kita berdoa saja semonga Mommy kalian baik baik saja" ucap Anissa mencoba menenangkan Zhelina dan Jhovan.


Jhohan langsung saj menatap haru dengan kelembutan Anissa. Dia tidak menyangka jika masih ada orang baik di sekitarnya. Namun, mereka melihat Alex keluar dari ruang ICU dengan keadaan sangat kacau.


"Bagaimana? kau berhasil menyelamatkan Mommy mereka kan?" ucap Anissa menatap Alex penuh harapan. Di ikuti Jhohan dan kedua anaknya di belakang Anissa.


Bukannya menjawab Alex malah mendekati Jhovan dan Zhelina. Dia mulai berjongkok untuk menyetarakan tubuh mereka. Alex terus saja menatap kedua bocah yang seusia keponakannya dengan mata memerah.


"Maafkan Paman. Paman tidak bisa menolong Mommy kalian." ucap Alex lirih tak terasa air matanya bercucuran. Alex merasa dia gagal sebagai Dokter karna baru kali ini pasiennya meninggal di tanggannya.


"Deddy, Mommy tidak meninggalkan kita kan? Mommy tidak akan meninggalkan kita secepat ini" ucap Zhelina menangis memeluk Jhohan.


"Apa kami bisa melihatnya?" ucap Jhohan dengan tatapan kosongnya.


"Silahkan" Alex dan Anissa lanhsung saja membawa keluarga Jhohan untuk melihat Ditha untuk terakhir kalinya.


"Mommy. Mommy bangun jangan tinggalkan Zhelina Mommy" ucap Zhelina langsung saja memeluk tubuh Ditha yang telah kaku.


"Mommy. Mommy tidak boleh pergi secepat ini" ucap Jhovan mengikuti Zhelina yang menangis di atas tubuh Ditha.


"Sayang, kenapa kau meninggalkan kami secepat ini? bukankah kita sudah berjanji untuk membesarkan anak anak kita bersama" Jhohan langsung saja mengelus puncak kepala Ditha sambil menciumi wajah pucat Ditha sambil mengangis kesegukan.


"Sayang, kalian jangan nangis lagi ya. Tante yakin Allah sudah merencanakan yang terbaik untuk Mommy kalian. Lihatlah Mommy kalian pergi dengan tersenyum menandakan dia tidak kesakitan lagi" ucap Ana mencoba memberi pengertian ke Zhelina dan Jhovan.


"Kalian mau tidak memberi hadiah yang paling istimewa untuk Mommy kalian?"

__ADS_1


"Hadiah? hadiah apa Tante?" ucap Jhovan mengapus air matanya lalu menatap ke arah Anissa.


"Ia hadiah. Hadiah yang paling berharga untuk Mommy kalian adalah doa dari kalian anak anaknya. Apa kalian tau setelah orang tua meninggal hal yang paling berharga yang selalu mereka nantikan adalah doa dari anak anak mereka. Dengan doa kalian yang tidak ada penghalangnya, tante yakin Allah akan menempatkan Mommy kalian di surga Allah yang paling indah" Anissa tersenyum lalu menghapus air mata Zhelina dan Jhovan.


"Jika Zhelina berdoa, apa Zhelina bisa bertemu lagi dengan Mommy?"


"Ia, sayang. Suatu saat nanti kalian akan kembali berkumpul bersama Mommy kalian di surga tempat yang paling abadi"


"Zhelina tidak akan nangis lagi. Zhelina akan berdoa agar suatu saat nanti Zhelina bisa kembali bertemu dengan Mommy" ucap Zhelina langsung saja menghapus air matanya.


Sedangkan Jhohan hanya terdiam sambil menatap kedua anaknya dan juga jenazah istrinya. Dia binggung bagaimana caranya melakukan pemakaman untuk istrinya karna dia sudah tidak memiliki uang sama sekali.


"Lex, apa kamu bisa menggurus pemakaman Mommy mereka?" ucap Anissa melihat Alex hanya dia saja.


"Bisa, Kak." ucap Alex langsung menatap ke Jhohan.


"Lakukanlah pemakamannya sebaik mungkin"


"Baik, Kak. Alex akan mencari ustadz dan juga orang yang bisa memandikan jenazahnya" ucap Alex langsung saja pergi untuk menyiapkan pemakaman Ditha.


"Tapi, Nyonya" ucap Jhohan merasa tidak enak.


"Sudah. Kita ini saudara jadi harus saling membantu satu sama lain." ucap Anissa tersenyum.


Mendengar ucapan Anissa, Jhohan langsung saja tersenyum sambil menghapus air matanya.


"Sus, tolong belikan pakaian dan makanan untuk mereka" ucap Anissa ke salah satu suster.


"Baik, Nyonya muda" Suster itu langsung saja pergi meninggalkan mereka.


"Maafnya, Tante pulang dulu. Karna Tante harus menjemput anak anak Tante di sekolah. Kalian di sini saja ya. Sebentar lagi makanan datang jadi kalian harus makan yang banyak biar cepat besar dan menjadi anak kebanggaan Mommy kalia." ucap Anissa pamit.


Jhovan dan Zhelina langsung saja menganguk patuh.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2