
Zion sedang memantau pemotretan Mitha. Dia menatap ke arah Mitha yang sedang berpose layaknya bintang di depannya. Melihat Zion sedang memperhatikannya Mitha malah semakin memperlihatkan keindahan bentuk tubuhnya dengan gerakannya.
Setelah selesai Zion langsung saja memeriksa hasilnya dengan sangat teliti. Dia tidak mau perusahaan calon Papa mertuanya rugi karna telah membayar mahal seorang Model namun tidak sesuai ekspetasinya.
"Apa pakaiannya bisa tidak terlalu terbuka? Lalu bentuk tubuhnya jangan terlalu mencolok sebab kita mempromosikan produk perusahaan kita. Bukan keindahan tubuh wanita" oceh Zion kesal karna hasilnya tidak sesuai keinginannya.
Ditambah lagi dengan pakaian Mitha yang begitu seksi dan caranya berfose dengan sangat jelas memamerkan keindahan bentuk tubuhnya.
"Maaf tuan kami akan mencobanya lagi" ucap salah satu karyawan yang bertangung jawab dalam bidang pemasaran.
"Tolong ganti pakaiannya. terus make upnya juga di ubah" perintahnya langsung karna merasa tidak enak kepada Zion.
Mereka semua tau bagaimana sifat bos mereka yang tidak terlalu suka memasang iklan dengan pakaian seksi namun Mitha yang terbiasa dengan pakaiannya yang kurang bahan tidak mau mengikuti aturan yang di berikan para karyawan Rayhan.
"Apa masalahnya dengan pakaian saya. Semua perusahaan yang menerima tenaga saya saja tidak ada yang keberatan dengan pakaian saya" oceh Mitha kesal.
"Maaf perusahaan kami beda dengan perusahaan mereka" ucap Zion menatap tajam Mitha.
"Apa kau tidak tau jika kau mengunakan foto foto seksi dalam iklan maka banyak orang yang akan tertarik melihatnya"
"Melihat keindahan tubuhmu bukan melihat produk kami. Kami di sini sedang mengiklankan produk kami bukan mengiklankan tubuhmu" ucap Zion gram mendengar ucapan Mitha.
Mendengar ucapan Zion, Mitha langsung saja mengepalkan tangannya geram.
"Kami sudah membayar Anda dengan mahal. Kami juga sudah memberitau aturan aturan di perusahaan kami sebelumnya. Apa Anda tidak membacanya terlebih dahulu?" ucap Zion mengingat dia telah memberikan aturan pemasaran produk perusahaannya.
"Maaf saya tidak butuh aturan" Mitha langsung saja menatap Zion dengan lantang.
"Jika begitu silahkan buat surat penguduran diri Anda. Karna masih banyak model di luar sana yang bersedia memberikan jasanya kepada kami" Zion langsung saja mendekat ke arah Mitha sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
__ADS_1
"Para Nabi dahulu rela mati matian untuk mengangkat drajat kaum wanita. Tapi anda malah dengan mudahnya menurunkan derajat Anda sebagai kaum wanita sampai ke level yang sangat rendah" Zion tersenyum sinis lalu pergi meningalkan Mitha.
Mendengar ucapan Zion Mitha langsung saja mengumam kesal. Dia tidak terima akan penolakan Zion yang terlihat jelas untuknya. Bahkan banyak para orang orang sukses di luar sana yang rela merogoh uang banyak agar bisa bersamanya tapi Zion malah tidak mau menatapnya sama sekali.
Mau tidak mau akhirnya Mitha mengikuti semua aturan yang Zion berikan. Bukannya takut tapi dia memilih untuk mengalah terlebih dahulu. Melihat sikap Zion yang begitu cuek dan dingin kepadanya membuat Mitha semakin tertangtang untuk bisa menghabiskan malam bersama lekaki yang berhasil membuat asratnya semakin meningkat saat pertemuan mereka yang pertama kalinya.
Setelah selesai pemotretan Mitha langsung saja meninggalkan perusahaan R.A.Grub dia menelusuri area koridor perusahaan dengan langkah anggunnya hingga membuat para kaum adam yang melihatnya akan terpesona akan kecantikannya.
"Para pria itu saja langsung terpesona melihat kecantikanku. Tapi kamu kenapa malah tidak mau menatapku?" gumam Mitha kesal mengingat sikap Zion kepadanya.
Setelah sampai di parkiran dia langsung saja di sambut oleh supir yang di utus Rayhan. Tak banyak bicara dia langsung saja masuk ke mobil lalu duduk dengan santai di kursi belakang.
"Aku lagi pusing. Bawa aku ke Kafe dekat sini" perintah Mitha.
Supir itu langsung saja membawa Mitha ke kafe ternama yang tidak jauh dari perusahaan Rayhan. Sesampainya di sana supir itu langsung saja membukakan pintu untuk Mitha.
Mitha langsung saja memasuki kafe itu dengan anggunnya walaupun sedang kesal dia tidak tetap berusaha terlihat anggun dan elegan. Dia langsung saja duduk di sudut ruangan lalu memesan coffe hangat untuk merilekskan pikirannya.
"Ia saya Mitha" ucap Mitha tersenyum manja.
"Senang bisa bertemu anda di sini Nona. Jika boleh tau anda hanya sendiri?" pria itu melihat ke seluruh ruangan memastikan jika Mitha hanya sendiri.
"Ia Tuan. Saya hanya sendiri di sini"
"Kalau begitu apa bisa saya temani"
"Boleh saja"
Mereka langsung saja mengobrol dengan sangat dekat. Dengan kemampuan Mitha dalam memikat hati para pria membuatnya dengan mudah langsung nyaman mengoborol dengan lawan jenisnya.
__ADS_1
Mereka berbincang bincang dengan sangat akrab sampai sampai melakukan sentuhan fisik. Karna terlalu asik mengobrol mereka sampai tidak sadar jika ada sepasang mata yang terus menatap mereka.
Jhovan ia Jhovan. Dia duduk tak jauh dari meja Mitha. Jhovan yang sedang membicarakan soal bisnis denga Brayen tak sengaja melihat Mitha memasuki kafe seorang diri.
Hingga akhirnya dia melihat Mitha yang bersetatus sebagai istrinya mengobrol dengan begitu akrabnya dengan lawan jenisnya. Jhovan yang sudah terbiasa dengan itu hanya bisa diam saja tanpa ada rasa cemburu yang melekat di hatinya.
Mitha memang tidak pernah mengangap Jhovan. Bahkan dia sering dengan terang terangan mengobral keromantisannya dengan pria lain di depan Jhovan. Jhovan yang juga tidak mencintainya hanya menatap cuek kelakuan Mitha.
Bahkan setelah kelahiran Jasmine dahulu Jhovan tidak percaya jika itu adalah darah dagingnya. Tapi mengingat dia juga pernah melakukan hubungan suami istri dengan Mitha maka dia memilih untuh tes DNA.
Dia begitu terkejut ketika membaca hasilnya jika Jasmine adalah putrinya. Melihat Jasmine adalah darah dagingnya Jhovan langsung saja memilih membesarkannya seorang diri.
Mitha memang ibu kandungnya tapi dia tidak pernah peduli dengan Jasmine jangankan memberikasih sayang untuk menatap Jasmine saja bisa terhitung berapa kali.
"Dasar wanita ****** murahan" batin Jhovan menatap sinis ke arah Mitha.
"Apa anda mengenalnya?" ucap Brayen melihat tatapan Jhovan.
"Tidak. Saya tidak mengenalnya. Tapi kenapa ya ada wanita serendah dia?"
"Wanita akhir jaman biasalah. Dengan dunia yang begitu modern membuat kemaksiatan semakin merajalela. Kita sebagai kaum pria hanya bisa menasehati dan menggawasi saudara dan anak perempuan kita agar jatuh ke jurang kemaksiatan yang begitu klam"
"Saya berharap putri saja kelak tidak seperti dia"
"Berdoalah minta bantuan dari Allah. Lalu didik dia dengan baik. Dengan begitu saya yakin dia akan jadi wanita yang sholeha"
"Aamiin. Pasti keluarga anda keluarga yang sangat paham ilmu agama?"
"Allhamdullillah. Jika ada waktu datanglah ke kediaman kami bawa Putri anda pasti dia akan sangat senang"
__ADS_1
"Baiklah. Putri saya juga sangat merindukan Putra anda" ucap Jhovan tersenyum.
Bersambung....