GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)

GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)
Part 37


__ADS_3

"Beraninya kau menunjukkan wajahmu di depanku" Brayen menatap Kay dengan penuh kebencian.


"Aku hanya ingin membalaskan kematian kedua orang tuaku" Kay tersenyum sinis sambil menatap remeh ke Brayen karna dia sekarang mempunyai kaki tangan yang hebat seperti Jhohan.


"Kematian orang tuamu adalah akibat dari ulahnya sendiri" ucap Rayhan terus memperhatikan satu persatu lawannya.


Jhohan hanya diam memperhatikan satu persatu keluarga Adhijaya hingga matanya terhenti ketika menatap Zhelina yang berada di belakang Galang.


"Zhelina" teriak Jhohan hingga membuat Zhelina langsung saja ketakutan karna akhirnya identitasnya yang sebenarnya di ketahui oleh keluarga Adhijaya.


Mendengar Jhohan memangil Zhelina semua mata langsung saja tertuju kepadanya kecuali Lea yang mengetahui segalanya langsung saja menebak jika pria paru baya yang sangat menyeramkan itu adalah Deddynya Zhelina.


"Zhelina akan ikut Deddy. Tapi, jangan Deddy sakiti mereka semua" ucap Zhelina pasrah sambil melangkahkan kaki mendekati Jhohan.


"Tidak, kau tidak boleh pergi" ucap Lea langsung saja menahan Zhelina.


"Tapi Le" Zhelina menatap wajah Lea penuh kehawatiran. Dia tau seperti apa Deddynya jadi dia sangat menghawatirkan keadaan keluarga barunya. Dia tidak mau jika keluarga Adhijaya yang telah memberi warna pada hidupnya akan mati mengenaskan di tangan Deddynya sendiri.


"Kau adalah keluarga kami. Maka kami akan selalu bersamamu dalam suka maupun duka." Lea menatap Zhelina dengan penuh kesedihan.


Mendengar ucapan Lea, Jhohan langsung saja mengingat seorang gadis kecil yang pernah dia temui dua puluh tahun lalu. Dia nampak berpikir sambil menatap lekat wajah Lea.


"Apa kau tidak malu? kau rela mengorbankan kebahagiaan putrimu sendiri hanya untuk kekuasaan dan juga jabatanmu. Apa pantas orang sepertimu disebut sebagai orang tua?" ucap Lea dengan penuh keberanian.


"Anak ingusan sepertimu tidak pantas menasehatiku" ucap Jhohan menatap tajam Lea.


"Di dunia ini tidak ada yang membedakan anak ingusan dengan orang tua. Yang membedakan itu adalah cara pikir mereka masing masing. Aku ingin bertanya kepadamu apa pantas kau disebut sebagai orang tua? Jika cara pikirmu jauh lebih rendah daripada anak ingusan" ucap Lea tersenyum sinis.


"Beraninya kau" teriak Jhohan penuh amarah karna ucapan Lea yang begitu tajam.


"Aku tidak pernah takut dengan orang serakah sepertimu" Lea tak mau kalah dia langsung saja melemparkan tatapan elangnya ke Jhohan.

__ADS_1


Melihat keberanian Lea, Jhohan langsung saja tersenyum sinis. Ntah mengapa setiap perkataan Lea akan menohok hatinya di tambah lagi dengan keberanian Lea yang sama persis dengan Zhelina.


"Mari kita buktikan keberanianmu itu" Jhohan menatap sinis ke arah Lea lalu menyerang Lea dengan membabi buta.


Melihat Jhohan yang menyerangnya Lea langsung saja menghindari setiap serangan Jhohan dan mencoba menyerangnya kembali walaupun tenaga mereka sangat berbeda jauh.


Melihat Lea di serang Brayen dan Zion langsung saja ingin membantinya namun Kay dan Wandi langsung saja menghalanginya. Semua anggota Kay dan juga Jhohan langsung saja menyerang keluarga Adhijaya dengan membabi buta.


Walaupun jumlah mereka kalah jauh keluarga Adhijaya terus saja menyerang dan melawan mereka semua. Di tambah lagi Brayen yang menghila karna ketika melihat wajah Kay dia kembali mengingat luka yang di alami Lea adik kesayangannya.


Melihat Brayen yang mengila Widi dan Wandi langsung saja membantu Kay hingga pertarungan tiga lawan satu itu terjadi.


"Kau akan mengalami luka berkali kali lipat dari apa yang di alami Lea karna ulahmu" ucap Brayen menatap Kay, Widi dan Wandi penuh kebencian.


"Kita lihat saja siapa yang akan merengang jawa terlebih dahulu" ucap wandi tersenyun meremehkan.


"Jika dia merengang jawa dengan mudah pasti tidak akan seru. Jangan bunuh dia karna kita akan menikmati keindahan tubuh adik kesayangannya tepat di depan matanya" ucap Kay tertawa sambil menatap Lea dengan penuh hasrat.


"Bajingan kau" ucap Brayen langsung saja menyerang Kay.


"Zi bantu Lea, biar kami beri celah kepadamu agar bisa membantunya" ucap Galang berusaha memberi jalan kepada Zion agar bisa membantu Lea.


Sedangkan Zhelina melawan Riki asisten pribadi Deddynya sendiri. "Nona muda mengalahlah. Aku tidak bisa melawanmu"


"Tidak, aku akan membela keluarga baruku. Jika kalian berani menyakiti mereka maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu kepada kalian" ucap Zhelina menatap tajam ke Riki dan juga angotanya yang ingin menyerangnya.


Melihat Lea yang sudah mulai kewalahan menghadapi Jhohan, Zhelina langsung saja menyerang Riki dan juga angotanya namun Riki tidak mau membalas setiap serangan Zhelina dia hanya bisa menghindari setiap serangan Zhelina sambil menatap wajah Zhelina dengan penuh rasa bersalah.


Riki memang telah mengangap Zhelina sebagai putrinya sendiri karna sejak kecil hubungan mereka sangatlah dekat bahkan jauh lebih dekat dari hubungan Zhelina dan Deddynya sendiri.


Bahkan Riki jugalah yang membantu Zhelina untuk kabur dari pertunangannya karna tidak tega melihat Zhelina harus menikah dengan orang licik seperti Devan. Namun dia hanya bisa membantu Zhelina semampunya saja karna dia hanyalah asisten pribadi dari Jhohan.

__ADS_1


Namun bagaimanapun cara Lea menghadapi Jhohan tetaplah Lea akan kalah karna tenaga Jhohan jauh lebih kuat darinya.


Bugghhh...


Lea...


Teriak semua orang melihat Lea jatuh tersungkur ke lantai sambil memuntahkan darah segar karna tumbukan Jhohan yang mengenai punggungnya.


"Menyerahlah sebelum mereka semua mati mengenaskan disini" ucap Jhohan menatap tajam ke arah Zhelina.


Zhelina yang melihat keadaan Lea langsung saja menitikkan air matanya. Sedangkan Brayen, Galang, Rayhan dan Zion mencoba untuk membantu Lea namun mereka terus saja di halangi oleh angotan Kay dan Jhohan.


"Hentikan" teriak Zhelina hingga membuat semua orang langsung berhenti sambil menatapnya.


"Aku akan ikut dengan Deddy tapi lepaskan mereka semua"


Mendengar ucapan Zhelina, Lea langsung saja menatapnya tidak percaya. " Zhe, jangan kau juga berhak untuk bahagia" ucap Lea lemas sambil merangkak ke arah Zhelina.


"Maafkan aku Le, tapi aku tidak bisa melihat kalian terluka" ucap Zhelina mendekati Lea lalu duduk dan memeluk Lea yang tergulai lemas di lantai.


Kedua sahabat itu saling berpelukan sambil meneteskan air matanya masih masing.


"Terimakasi karna telah memberi warna ke hidupku yang kelam" Zhelina menatap satu persatu keluarga Adhijaya dengan mata berkaca kaca.


"Bawa dia" perintah Jhohan tanpa ada rasa iba sedikitpun.


"Ayo nona muda" ucap Riki mencoba menarik tangan Zhelina.


"Zhelina." teriak Anissa dari lantai atas. Anissa langsung saja berlari menuruni anak tangga.


"Lepaskan Putriku" ucap Anissa menatap tajam ke arah Jhohan sambil memeluk Lea yang tergulai lemas.

__ADS_1


Jhohan langsung saja menatap Anissa dengan penuh rasa tidak percaya "Anissa"


Bersambung...


__ADS_2