GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)

GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)
Part 21


__ADS_3

Jhovan yang sedang melintas tiba tiba mendengar suara keributan dan juga anak kecil yang sedang menangis histeris. Karna penasaran dia menyuruh Jefri asistennya untuk berhenti.


Alangkah terkejutnya dia melihat seorang wanita hijab sedang di keroyok oleh sekumpulan berandalan. Kemudian dia melihat Sky sedang menangis berdiri di dekat mobil yang sedang berhenti menatap perkelahiaan yang tidak seimbang itu.


"Itu kan Sky putranya Brayen" batin Jhovan. Tak banyak pikir dia dan Jefri langsung saja mrnghampiri perkelahian itu.


Bukkkk.....


Jhovan menendang salah satu angota Wandi dengan begitu kerasnya hingga dengan sekali tendangan pria kekar itu langsung saja jatuh tersungkur ke tanah.


Melihat itu Widi langsung saja menatap tajam ke arah Jhovan dan Jefri. "Jangan ikut campur atau kau juga akan terkena masalah"


"Apa yang kutakutkan dari banci seperti kalian. Beraninya sama wanita itupun main keroyokan" ejek Jhovan sambil menatap remeh ke widi.


"Beraninya kau. Serang mereka" Widi yang terpancing emosi langsung saja menyerang Jhovan dengan brutalnya.


Namun setiap serangan yang Widi berikan dapat dengan mudahnya di hindari oleh Jhovan. Jhovan langsung saja melayangkan tinjunya sehingga langsung mengenai tubuh Widi.


"Ternyata hanya segitu kemampuanmu? Pantas saja kau hanya berani melawan wanita" Jhovan tersenyum sinis sambil menatap remeh Widi yang sedang menahan sakit karna bekas pukulannya.


Terpancing dengan omongan Jhovan Widi yang sedang emosi kembali menyerang Jhovan dengan membabi buta. Tapi untuk Jhovan seorang ketua mafia menghadapi orang seperti Widi akan sangat mudah baginya.


Jefri bertarung dengan agresifnya melawan Wandi dan juga anggotanya. Lain dengan Jhovan yang mengajak lawannya untuk bicara. Jefri memilih untuk langsung bertarung tanpa ada kata kata sedikitpun.


Sifatnya yang pendiam dan juga dingin membuatnya enggan untuk berbicara. Walaupun kalah jumblah dia tetap saja terlihat tenang sambil menatap setiap gerakan lawannya.


Sedangkan Lea masih bertarung melawan anggota Wandi yang tersisa. Walaupun tenaganya hampir habis dia tetap berusa kuat untuk menghadapi mereka.


Tak menunggu lama Jhovan dan Jefri dengan mudahnya langsung mengalahkan wandi dan widi beserta angotanya hinga semua pria berbadan kekar itu tergeletak di tanah sambil menahan sakit.


"Ayo kita pergi. Cari keberadaan bos sekarang" perintah Widi. Mereka semua langsung saja pergi dengan tergesa gasa. Tak lupa Wandi dan Widi menatap Jhovan tajam namun karna hari yang gelap widi dan wandi tidak dapat melihat dengan jelas wajah Jhovan.

__ADS_1


Sedangkan Lea yang telah kehabisan tenaga di tambah lagi lukanya yang cukup parah langsung saja ambruk tak berdaya.


"Bibi..hiks...hikss" Sky langsung saja berlari mengjampiri Lea sambil menangis. Dia mengoyang goyangkan tubuh Lea yang sudah tidak berdaya. "Bibi bangun Sky takut hikss..."


Melihat itu Jefri dan Jhovan langsung sa menghampirinya. "Sayang Sky jangan takutnya. Sekarang ada paman di sini" Jhovan berusaha menenangkan Sky yang terus saja menangis.


Mendengar suara Jhovan yang sudah tidak asing lagi untuknya Sky langsung saja menghapus air matanya " Paman Ovan?"


"Ia sayang ini paman. Ayo ikut paman" Jhovan langsung saja membawa tubuh Lea yang sudah tidak berdaya kedalam gendongannya. Sedangkan Sky di gendong oleh Jefri.


Sesampainya di mobil Jhovan langsung saja meletakkan tubuh Lea di kursi belakang. Dia melihat darah segar terus saja mengalir dari kepala Lea. Dia langsung saja membuka kemejanya lalu mengikatnya di kepala Lea.


Melihat wajah Lea dari dekat tiba tiba dia melihat wajah seseorang dari diri Lea. Di menatap wajah Lea dengan lekat mencoba untuk mengingat sesuatu. Namun melihat Sky yang terus menangis dia berusaha menepis pikirannya lalu mendudukkan Sky ke kursi depan.


"Kamu bawa mobil mereka." perintah Jhovan. Jefri langsung saja menganguk patuh.


Jhovan langsung saja melajukan mobilnya menuju mension Rayhan dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di sana Jhovan langsung saja menurunkan Sky.


"Kamu kenapa sayang?" Ayu langsung saja menghampiri putranya dengan begitu cemas di tambah lagi baju Sky yang terkena noda darah Lea membuat semua orang langsung panik.


"Kamu kenapa sayang?" Brayen memeriksa seluruh tubuh Sky di ikuti Galang dan Zhelina.


"Pa. Bibi" ucap Sky kesegukan sambil menunjuk ke arah pintu.


Mereka berempat langsung saja melihat ke arah yang di tunjukkan Sky. Mereka langsung saja membulatkan matanya terkejut melihat Lea tak berdaya di gendongan Jhovan di ikuti Jefri di belakannya.


"Apa yang terjadi kepada adikku?" ucap Brayen panik sambil mengambil alih tubuh Lea dari gendongan Jhovan.


"Ceritanya panjang. Lebih baik kalian obati saja lukanya"


Mendengar ucapan Jhovan, Brayen langsung saja membawa Lea ke kamarnya. Di ikuti oleh Ayu yang mengendong Sky dalam dekapannya.

__ADS_1


"Zhe ambil perlengkapan medisku di dalam mobil" perintah Galang lalu mengikuti Brayen.


Zhelina langsung saja menganguk patuh lalu berlari ke luar. Di saat dia melewati Jhovan dia langsung saja menatapnya lalu menepis pikirannya karna sekarang keselamatan Lea yang terpenting.


Galang merawat luka di kepala Lea dibantu oleh Zhelina. Brayen dan Ayu yang manatap keadaan Lea hanya mampu menatap sedih keadaan adik kesayangan mereka.


"Di mana Lea?" ucap Anissa berlari di ikuti Rayhan di belakangnya. Tadinya Anissa dan Rayhan sedang beristirahat di dalam kamarnya namun salah satu pelayan mengabarinya tentang keadaan Lea.


Mendengar putrinya terluka Anissa langsung saja berlari untuk memeriksa keadaan Lea. "Ma.. mama tenang saja Lea pasti baik baik saja" Brayen mencoba untuk menenangkan Anissa.


"Siapa yang berani melukai putriku?" teriak Anissa penuh amarah. Ibu mana yang bisa melihat putrinya tergeletak tak berdaya dengan luka yang cukup parah seperti Lea.


Sedangkan Jhovan yang melihat kedatangan Anissa dan Rayhan tiba tiba dia mengingat sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah dia lupakan dan akan selalu tersimpan di memorinya.


"Mari kita bicara di luar saja. Biarkan Lea istirahat" ucap Galang yang telah selesai mengobati Lea.


Mereka langsung saja menganguk patuh. Mereka semua langsung saja keluar sedangkan Ayu mencoba menenagkan Sky yang masih saja ketakutan. Sedangka Zhelina menemani Lea yang masih tidak sadarkan diri.


"Pakai ini" ucap Sky memberikan kemejanya kepada Jhovan karna kemeja Jhovan tadi telah dia gunakan untuk membalut luka Lea.


"Mari duduk" ucap Rayhan dingin tanpa ekspresi.


Jhovan dan Jefri langsung saja menganguk patuh dia duduk di sofa berhadapan dengan Rayhan dan Brayen sedangkan Anissa duduk di samping Galang.


"Bagaiman keadaan gadis tadi" ucap Jhovan.


"Dia baik baik saja tapi akibat benturan yang begitu kuat di kepalanya membuat kepalanya sedikit robek" Jelas Galang.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Rayhan menatap tajam ke arah Jhovan dan Jefri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2