
Keadaan di mension Rayhan tiba tiba menjadi sangat menegangkan. Orangtua mana yang terima melihat keadaan putrinya tidak berdayang dan mendapatkan luka yang cukup parah.
"Siapa yang melakukannya?" Rayhan terus menatap Jhovan tidak berdaya.
"Kami tidak mengenalnya tuan. Tapi saya mendapatkan ini dari salah satu dari mereka" Jefri menyerahkan sarung tangan dengan logo A di dalamnya.
Melihat sarung tangan yang begitu tidak asing baginya. Galang langsung saja mengambil sarung tangan yang di berikan Jefri. "Ini kan milik geng motor Kay. Setiap angota mereka akan mengunakan sarung tangan ini sebagai tanda"
Mendengar ucapan Galang, Brayen semakin terpancing. Dia langsung saja mengingat kejadian empat tahun silam. Dimana kedua adiknya berurusan dengan Kay. " Dasar bajingan itu"
"Bagaimana kejadian yang sebenarnya?" ucap Rayhan.
"Tadinya kami ingin pulang setelah bertemu dengan tuan Brayen. Tapi di perjalanan kami mendengar perkelahian dan tangisan anak kecil di sebuah gang kecil yang sangat sepi. Di saat kami periksa kami melihat gadis itu sedang bertengkan dengan segerombolan brandalan dan dia juga sudah mengalami luka yang cukup parah. Melihat Sky yang menangis kami langsung saja membantunya tuan" Jhovan menjelaskannya secara rinci tanpa ada yang ditutup tutupi.
"Kami mengucapkan banyak terimakasi karna anda telah membantu Lea" Brayen menatap Jhovan dengan lekat.
"Tidak apa apa. Itu sudah tugas kita sebagai sesama manusia" Jhovan melirik ke arah Anissa dan Rayhan.
"Ia nak. Terimakasi banyak karna kalian mau membantu putri kami" Anissa menatap Jhovan dengan penuh rasa syukur.
"Sama sama tante. Kalau begitu kami permisi dulu. Pasti putriku sedang menunggu kepulanganku" Jhovan berpamitan. Melihat hari yang sudah larut malam pasti Jasmine telah menunggu kepulangannya.
"Baiklah. Jika berkenan bawa putrimu untuk bermain kemari. Sky sudah sangat merindukannya"
"Jika ada waktu luang saya akan membawanya kemari. Putri saya juga sangat merindukan putra anda. Walaupun baru sekali bertemu tapi mereka sudah sangat dekat"
"Pintu kami akan selalu terbuka untuk anda dan juga putri anda" Brayen langsung saja menyalami Jhovan dan Jefri sambil terus mengucapkan terimakasi. Di ikuti oleh Rayhan, Anissa dan Galang.
__ADS_1
Mereka sangat bersyukur karna Jhovan telah membantu Lea jika tidak mereka tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Lea dan Sky sekarang.
Setelah kepulangan Jhovan dan Jefri mereka langsung saja kembali ke kamar Lea untuk memastikan keadaannya. Anissa terus saja menangis melihat keadaan putrinya.
"Ma. Mama istirahatlah, Lea pasti baik baik saja" Brayen mencoba menenangka Anissa.
"Ia sayang. Kamu istirahatlah biarkan Lea istirahat dengan tenang. Pasti dia sangat kelelahan" ucap Rayhan membayangkan bagaimana putrinya melawan sekelimpok pria seorang diri.
"Mama mau istirahat di sini saja" Anissa langsung saja membaringkan tubuhnya di samping Lea.
Melihat itu Rayhan langsung saja menyelimuti tubuh Anissa sambil terus menghapus air mata istrinya yang terus saja mengalir.
"Zhe. Kamu jaga Mama dan Lea ya. Papa mau lihat keadaan Sky dulu"
"Ia pa" Zhelina langsung saja mengangguk patuh. Rayhan dan Anissa memang telah mengangap Zhelina sebagai putrinya sendiri. Dengan kebaikan dan ketulusan hati mereka Zhelina sangat merasa nyaman berada di tengah tengah mereka.
Brayen, Galang dan Rayhan langsung saja pergi ke kamar Brayen untuk memastikan keadaan Sky. Sesampainya di depan pintu mereka melihat Sky telah tertidur dalam dekapan Ayu.
"Bagaimana keadaan Sky nak?" Rayhan mendekati cucu dan menantunya. Dia menatap lekat wajah tenuh Sky yang sedang terlelap.
"Dia tidak apa apa pa. Hanya saja dia masih sangat ketakutan" Ayu bangkit dari tidurnya lalu duduk di tepi ranjang sambil terus menatap haru putranya. Tanpa terasa air bening itu terus saja mengalir membasahi wajah cantiknya.
Rayhan langsung saja naik ke atas ranjang. Dia mengelus puncak kepala Sky dengan sangat lembut kemudian dia menecup kening Sky dengna sangat lembut.
Sedangkan Brayen langsung saja mendekati Ayu mencoba untuk menenangkan istrinya. Dia tau apa yang sedang di rasakan Ayu saat ini. Orang tua mana yang tega mengingat putranya yang masih balita harus melihat kekerasan tepat di depan matanya sendiri.
"Galang telah menghubungi psikiater ternama untuk memeriksa keadaan Sky" ucap Galang karna dia takut jika Sky akan mengalami trauma dan akan menganggu perkembangannya yang masih balita.
__ADS_1
Mendengar ucapan Galang mereka langsung saja menganguk tersenyum. Mereka berharap jika kejadian tragis itu tidak akan mengangu perkembangan dan pertumbuhan Sky.
Mengingat hari yang semakin larut mereka memilih untuk istirahat. Untuk berjaga jaga Galang menginap disana dan menempati tempat tidur yang sering dia gunakan saat menginap di sana.
Sedangkan Rayhan memilih untuk menemani istrinya tidur di kamar Lea. Rayhan tidak bisa tidur sama sekali. Dia terus saja menatap kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya sedang tertidur di atas ranjang.
Karna tidak bisa tidur Rayhan memilih untuk ke teras lalu menyalahkan sepuntung rokok. Cukup lama di berdiam di sana namun karna cuaca malam yang begitu dingin dia memilih untuk kembali ke dalam.
Dia membaringkan tubuhnya di atas sofa sambil terus menatap ke arah Lea dan Anissa hingga akhirnya dia terlelep dalam tidurnya.
Sama seperti Rayhan, Brayen juga tidak bisa tidur sama sekali. Dia terus saja menatap lekat eajah putranya sambil membelai lembut puncak kepala Sky. Tak lupa dia terus saja berdoa supaya putra dan juga adiknya baik baik saja.
Sedangkan Zhelina karna Rayhan dan Anissa tidur di kamar Lea maka dia memilih untuk tidur di kamar tamu. Dia terus saja menatap langit langit kamar itu dengan tatapan kosong. Dia terus saja berpikir siapa yang tega melakukan hal sekeji itu kepada sahabatnya dan juga Sky yang telah dia angap seperti keponakannya sendiri.
Ingin sekali rasanya dia menelpon Jhovan untuk menayakan kejadian sebenarnya. Namun dia mengurungkan niatnya karna takut Deddynya akan mengetahui krberadaannya dari sambungan telefon Jhovan.Dia kenal betul bagaimana deddynya, Sangat licik.
****
Setelah sampai di apartemennya Jhovan langsung saja mencari keberadaan putrinya. Namun dia telah mendapati Jasmine telah tertidur dengan lelapnya.
Dia langsung saja mendekati putrinya lalu mencium lembut kening putrinya. Setelah itu dia memilih untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah itu dia mencoba membaringkan tibuhnya di samping Jasmine. Bukannya tidur dia malah menatap langit langit kamarnya dengan tatapan kosong.
Dia termenung seorang diri. Ntah apa yang sedang ada di dalam pikirannya. walaupun badannya sangat lelah ingin istirahat tapi pikirannya selalu melayang ntah kemana.
Bersambung......
__ADS_1