GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)

GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)
Part 11


__ADS_3

Zhelina terus saja berdiri bersama keluarga pasien yang sedang di tangani Galang. Dia terus saja berdoa agar Galang bisa berhasil melakukan tugasnya sebagai dokter.


Hingga akhirnya matanya beralih ketika melihat pintu ruangan oprasi di buka. Zhelina langsung saja menghampiri Galang yang keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana Lang?" Zhelina menatap wajah Galang yang lesu. Melihat ekspresi wajah Galang jantungnya langsung saja berdetak kencang pikirannya pun langsung saja melayang layang penuh pertanyaan.


"Apa lho berhasil Lang?" ucap Zhelina lagi di ikuti semua keluarga pasien yang sedang menunggu penjelasan Galang.


"Maaf Zhe, Gue..." Galang kembali menatap Zhelina. Melihat ekspresi Galang Zhelina langsung saja berpikir yang tidak tidak.


Sedangkan semua keluarga pasien semakin panik melihat ekspresi wajah Galang.


"Gue berhasil Zhe" ucap Galang bahagia.


Mendengar ucapan Galang semua Zhelina yang bahagia langsung saja memeluk Galang. Galang langsung saja dengan sigap menyambut pelukan Zhelina mereka tertawa bahagia penuh dengan rasa syukur dalam pelukan mereka.


"Dok. Terima kasih banyak karna telah mau menangani putra saya" ibu dari pasien langsung saja mendekati Galang dan Zhelina yang sedang asik berpelukan tanpa memperdulikan semua keluarga pasien yang melihat mereka.


"Berterima kasihlah kepadanya. Karna dia yang menyemangati saya untuk menjalani oprasi ini" Galang menatap Zhelina dengan lekat.


"Terima kasih ya Non. Kalian adalah pasangan yang sangat serasi" ibu itu menatap Zhelina dan Galang secara bergantian.


Mendengar ucapan Ibu ibu di depannya Galang dan Zhelina langsung saja salah tingkah.


"Ya sudah saya permisi dulu ya bu" ucap Galang melangkahkan kakinya sambil menarik tangan Zhelina.


"Hem. Orang lagi kasmaran ternyata tidak tau tempat ya" ledek Lea yang melihat semua kejadian tadi.


"Siapa yang lagi kasmaran? Lho salah lihat kali" Galang langsung saja salah tingkah.


"Gini gini mata Gue masih bisa melihat dengan jelas lho" Lea tersenyum menggoda Galang.


Sedangkan Zhelina hanya bisa menunduk malu mendengar ucapan Lea.


"Gue lapar ayo ke kantin" Galang langsung saja menarik tangan Zhelina untuk menghindari ledekan Lea.


"Gue ikut" melihat Galang dan Zhelina pergi Lea langsung saja berlari mengejar keduanya sambil terus saja mengomel.


*****


Zion yang sengaja pulang cepat dari kantornya mengingat hari ini mereka harus melakukan fhiting baju pengantin. Dia langsung saja menjemput Lea ke rumah sakit.

__ADS_1


"Maaf dokter Ghilea ada di mana?" ucap Zion kepada salah satu perawat.


"Dokter Ghilea sedang ada di kantin bersama Dokter Galang Tuan"


"Oh ia sudah. Terimakasi" Zion langsung saja melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit.


Zion langsung saja tersenyum melihat Lea sedang makan dengan begitu lahapnya. "Sayang makannya pelan pelan" Zion langsung saja mengapus noda makanan yang berselemotan di bibir Lea.


"Sayang kamu sudah pulang?" ucap Lea dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Apa kamu lupa sekarang kita sudah janji akan melakukan fhiting baju?"


"Oh. Ia aku lupa"


"Ya sudah tidak apa apa. Aku juga sudah lapar" zhion langsung saja memesan makanan untuknya.


"Kalian tidak ikut?" Lea menatap Galang dan Zhelina.


"Tadi mama Anissa telpon. Gue dan Galang di suruh ke butik juga untuk memilih gaun untuk pesta Lho" ucap Zhelina mengingat Anissa sudah menghubunginya terlebih dahulu.


"Ya sudah kita berangkat bareng saja. Bagaimana Lang?" ucap Zion menatap Galang yang sedari tadi hanya diam.


"Gue mah ikut aja" ucap Galang masih pokus dengan makanannya.


"Bi...lihat jas ki bagus kan?" ucap Sky menunjukkan jasnya yang telah dia pilih.


"Bagus sekali sayang. Pasti keponakan Bibi sangat tampan memakainya" ucap Lea tersenyum.


"Tante cantik lihat ini" Sky langsung saja menarik tangan Zhelina ke arah gaun merah maron selutut yang sangat mewah.


"Tante cantik pasti sangat cantik memakai ini"


"Tapi ini mahal sayang" ucap Zhelina melihat logo harga di belakang gaun itu. Memang jika bersama Deddynya itu bukanlah seberapa baginya namun dia sadar diri jika sekarang hanya menumpang hidup dengan keluarga adhijaya.


"Tidak apa apa tante. Ki yang akan bayal. Tante kan pacal Ki" ucap Sky tidak mau di tolak.


Sedangkan Ayu dan Brayen yang mendengar ucapan Sky hanya mampu menahan tawa mereka.


"Pa. Ki mau gaun ini untuk tante cantik" ucap Sky melihat Brayen sedang melihat mereka.


"Ia sayang. Ambil saja" Brayen tersenyum.

__ADS_1


"Tapi kak" Zhelina langsung saja merasa tidak enak.


"Tidak apa apa. Kau juga adikku jadi itu tidak masalah bagiku" ucap Brayen yang telah menganggap Zhelina sebagai adiknya sendiri.


"Kak. Ki mau lihat Tante cantik memakai ini" ucap Sky ke salah satu pelayan.


"Baik Tuan kecil. Ayo nona" Pelayan itu langsung saja membawa Zhelina ke ruang ganti.


Sky terus saja menunggu Zhelina keluar dari ruang ganti. Tingkahnya yang sudah seperti orang dewasa membuat semua orang di sana langsung saja mengelengkan kepalanya.


"Lihat cucu kita. Sudah seperti orang dewasa saja yang setia menunggu kekasihnya" Rayhan tersenyum kecil melihat tingkah Sky.


"Memang benar Tuan. Sifat Tuan besar turun dengan mulusnya kepada Tuan kecil" ucap Zidan terkekeh.


Mendengar ucapan Zidan, Anissa langsung saja menatapnya tajam. Jujur saja dia tidak rela jika cucunya nanti akan menjadi seorang kazanova seperti Rayhan dahulu.


"Cucuku tidak akan sepertiku. Karna ada dua bidadari surga yang mendidiknya dengan benar" puji Rayhan mengingat cara istri dan juga menantunya mendidik cucunya.


"Amiin Tuan. Aku doakan jika Sky akan tumbuh menjadi pria sholeh"


"Amiin" semua orang langsung saja mengaminkan doa Zidan.


"Wah...Tante cantik sekali" Sky langsung saja memuji kecantikan Zhelina ketika keluar dari ruang ganti.


Tidak cuman Sky yang terpana tapi Galang juga menatap ke arah Zhelina dengan penuh kekaguman.


"Gue tidak nyangka jika Lho secantik itu Zhe" batin Galang terus saja menatap Zhelina tanpa henti.


"Sudah bungkus itu untuk putriku" perintah Anissa kepada pelayan.


"Baik nyonya" ucap pelayan itu patuh.


"Le, apa kau sudah menemukan gaun pengantinmu?" ucap Brayen mengingat adiknya yang satu itu sangat ribet dalam urusan milih memilih.


"Belum kak. Gaunnya kurang bahan semua" ucap Lea melihat gaun pengantin yang ada di depannya seksi semuanya.


"Apa tidak ada gaun pengantin untuk pembelai yang berhijab?" ucap Ayu lembut.


"Kalau yang untuk mempelai yang berhijab ada di sana nyonya" ucap pelayan itu menunjuk ke arah ruangan lainnya.


Zion dan Lea langsung saja memilih gaun pengantin untuk Lea. Lea mencoba mencoba satu persatu gaun yang dia sukai.

__ADS_1


Hingga akhirnya dia memilih gaun selayar putih yang di hiasi butiran berlian kecil hingga aura kecantikannya menjadi semakin terpancar.


Bersambung


__ADS_2