
Terlihat seorang pria paru baya sedang memarahi seluruh pengawalnya. Tak segan segan dia memukul para pengawalnya satu persatu.
Bukk...bukkk
"Bagaimana bisa kalian tidak bisa menjaga seorang wanita ha..." teriak Jhohan Experder.
"Maaf Tuan, anda tau sendiri bagaimana lincahnya Nona muda" ucap kepala pengawal memberanikan diri.
"Aku memang salah membawanya ke dunia mafia sehingga dia bisa dengan mudahnya mengelabui kita semua." ucap Jhohan geram karna kaburnya Zhelina membuatnya gagal mendapatkan satu aset yang sangat besar.
"Arghhh" teriak jhohan frustasi sambil melempari semua barang barang yang ada di dekatnya.
Karna saking frustasinya dia sampai tidak sadar jika ada seorang pria gagah yang sedang mengendong putrinya sedang berdiri menatapnya.
"Jangan terus terusan menyalahkan Zhelina Ded" Jhovandri menatap tajam Jhohan.
"Dia bersalah jadi wajar Deddy menyalahkannya. Apa susahnya menerima Devan sebagai suaminya. Toh dia akan mendapat bayak harta dari Devan"
"Apa harta yang kita miliki belum membuat Deddy puas?"
"Tidak. Deddy sama sekali belum puas. Apa kamu lupa kejadian yang menimpa Mommymu dulu? Jadi wajar saja jika Deddy mengumpulkan banyak harta agar kejadian itu tidak terulang lagi"
"Sudah Ded. Mommy sudah tenang di sana"
"Tidak Mommymu tidak akan tenang sebelum Deddy membalas semua kelakuan orang sombong itu" Jhohan menatap putranya dengan mata memerah.
Dia tidak peduli jika cucunya sedang menyaksikan kemarahannya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah harta, harta dan harta.
"Terserah Deddy saja. Tapi untuk Zhelina, Jhovan akan mencarinya" ucap Jhovan lalu membawa putrinya dari sana.
"Kalian cari keberadaan Zhelina secepatnya. Jika kalian menemukannya bawa langsung dia kehadapanku. Jika perlu seret dia"
"Baik Tuan" para pengawal itu langsung saja menunduk patuh.
Setelah itu Jhohan langsung saja menghipaskan tangannya menandakan jika dia ingin sendiri. Melihat itu semua pengawal itu langsung saja pergi dari ruangan itu meninggalkan Jhohan seorang diri.
Setelah kepergian pengawalnya Jhohan langsung saja menatap foto wanita cantik yang tersenyum bahagia terpajang di dinding ruangan kerjanya. "Apa kabarmu sayang? Apa kamu bahagia di sana? aku harap kamu bahagia"
Tak terasa akhirnya butiran bening itu jatuh membasahai wajahnya yamg sudah mulai menua. "Apa kamu tau jika anak kita sekarang sudah tumbuh besar? Zhelina putri kita yang sangat lucu dan mengemaskan juga sudah tumbuh besar sekarang"
"Bahkan semua yang ada pada dirimu melekat di dalam tubuhnya. Bahkan keras kepalamu juga. Tapi..." Jhohan tak mampu lagi melanjutkan kata katanya.
__ADS_1
Dia terhenti karna isak tangisnya. Jhohan memang sengaja membuat ruang kerjanya tersendiri. Selain untuk mencari ketenangan, ruangan itu juga menjadi saksi kesedihannya selama ini.
Jhohan Expender pengusaha sukses bahkan terkenal sebagai Ketua mafia terkejam di kota itu ternyata menyimpan kepedihan yang sangat mendalam.
Dia memang sengaja membawa Jhovan dan Zhelina ke dalam dunia mafia agar kedua anaknya itu tumbuh menjadi manusia yang kuat dan juga di takuti agar tidak ada orang yang berani mengusik bahkan menghina mereka seperti yang di alaminya dan istrinya dahulu.
*****
"Eddy. Bibi Elina ana?" ucap Jasmine putri Jhovan dan Mitha yang masih mengginjak dua tahun.
"Bibi Zhelina sedang pergi sayang. Dia ada urusan penting jadi tidak bisa pamit dengan Jasmine" Jhovan tersenyum sambil membelai wajah imut putrinya.
"Eyus Ommy ana. Kok elum ulang uga?" ucap Jasmine karna sudah hampir seminggu dia tidak bertemu dengan sang Mommy.
"Mommy sedang bekerja sayang. Jasmine jangan nakalnya sebentar lagi Mommy pasti pulang"
Mendengar ucapan sang Deddy Jasmine langsung saja menganguk mengerti. "Elus opa napa malah malah teyus?"
"Mungkin opa sedang banyak pikiran. Sudah Jasmine jangan banyak bertanya sekarang Jasmine tidur ya"
Jhovan langsung saja membaringkan tubuh putrinya lalu menyelimutinya. Tak lupa Jhovan membacakan dongeng pengantar tidur untuk putrinya.
Setelah melihat putrinya terlelap Jhovan langsung saja mencium lembut kening putrinya lalu bangkit dari kasurnya.
Setelah mendapatkan identitas pemilik mobil itu Jhovan langsung saja membacanya dengan teliti.
"Dr. Galang Adhijaya. Bukankah keluarga ini yang mendirikan rumah sakit di kota ini" guman Jhovan ketika membaca identitas Galang.
Dengan keahliannya di bidang IT Jhovan langsung dapat menemukan alamat beserta semua identitas Galang.
Tak banyak pikir Jhovan langsung saja menyalin identitas Galang lalu menyimpannya di tempat tersembunyi agar tidak ada yang bisa menemukannya termasuk Deddynya.
"Kita akan menjemput bibi Zhelina sebelum opa menemukannya" Gumam Jhovan sambil mengelus wajah munggil putrinya.
Setelah selesai menyusun semua rencananya dengan sempurna Jhovan langsung saja membaringkan tubuhnya di samping Jhasmine. Hingga akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.
*****
Di mension Rayhan.
Karna permintaan Anissa, Brayen akhirnya kembali tinggal di mension Rayhan. Mengingat Anissa sering kesepian di mension seorang diri akhirnya Brayen dan Ayu setuju untuk kembali ke mension itu.
__ADS_1
Lagi pula Sky sangat senang berada di sana. Selain bisa bermain dengan kakek dan neneknya Sky juga sangat senang bermain dengan Lea, Galang dan juga Zhion.
"Sayang belum tidur?" ucap Brayen melihat Sky masih sibuk dengan mainannya yang di beri oleh Lea dan Galang.
"Ki belum antuk pa. pa lihat mainan Ki banyak"
"Ia sayang. Sky senang?"
" Ia pa Ki senang. papa main yuk" Sky langsung saja menarik tangan Brayen.
"Ia sayang. Sky mau main apa?"
"Ki mau main polisi polisi. Lihat ini mobil polisi Ki"
"Memangnya Sky mau jadi apa jika sudah besar?" ucap Ayu ikut bergabung.
"Ki mau jadi polisi ma. Biar Ki bisa menangkap semua penjahat" Sky langsung saja berdiri lalu mengunakan senapang mainannya.
"Memangnya bagaimana cara Sky menangkap penjahatnya?"
"Doll...dolll Ki tembak semua penjahatnya" Sky memainkan senapangnya sama persis seperti orang yang sedang menembak.
Melihat tingkah lucu putranya Brayen dan Ayu langsung saja terkekeh. Mereka bermain bersama hingga akhirnya kamar mereka jadi taman mainan karna mainan Sky yang begitu banyak berserakan di mana mana.
Karna terlalu asik bermain akhirnya Sky tertidur di atas tumpukan mainannya. Melihat putranya yang telah tertidur Ayu langsung saja mengendong tubuh gembul putranya.
"Biar aku saja sayang" Brayen mengambil alih gendongan Ayu.
Dengan lembut Brayen meletakkan tubuh gembul putranya di atas kasur Sky yang telah Brayen disain khusus di dalam kamarnya.
Melihat mainan Sky bertebaran di mana mana Ayu langsung saja merapikan mainan itu lalu menyimpannya ke dalam box besar.
Melihat istrinya yang sedang sibuk Brayen langsung saja membantunya. Hingga akhirnya mainan itu sudah tertata rapi di tempatnya.
"Kamu pasti lelah. Ayo kita istirahat" Brayen langsung saja menarik tubuh Ayu ke atas kasur.
"Selamat malam sayang" karna lelah Ayu langsung saja tidur di pelukan suaminya.
"Kamu pasti lelahnya sayang? sampai langsung tertidur seperti ini" gumam Brayen mengelus lembut wajah istrinya.
Karna tubuhnya juga lelah Brayen langsung saja mempererat pelukannya lalu memasukkan kepalanya ke leher istrinya sehingga wangi tubuh sang istri bisa tercium olehnya.
__ADS_1
Menghirup wangi tubuh istrinya yang begitu menenangkannya Brayen langsung saja tertidur. Hingga keluarga kecil itu larut dalam mimpi mereka masing masing.
Bersambung....