GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)

GALA ASMARA (Perjalanan Cinta Empat Sahabat)
Part 13


__ADS_3

Jhovan terus saja menatap ke arah sekolah Sky dari mobilnya. Dia berharap dia bisa bertemu dengan Zhelina. Hingga akhirnya matanya teralih ketika melihat Zhelina turun dari sebuah mobil dengan Sky.


Dia terus saja memperhatikan gerak gerik Zhelina. hingga dia melihat senyuman yang begitu indah saat mengandeng bocah kecil itu ke dalam sekolahnya. Dengan sekejap senyuman di wajah Jhovan mengikuti senyuman Zhelina yang begitu indahnya.


Setelah melihat Zhelina keluar dari sekolah Sky dengan cepat Jhovan langsung saja menghampirinya hingga akhirnya gadis kecil yang dia cari selama ini berada di hadapannya.


"Kakak?" ucap Zhelina membulatkan matanya terkejut ketika melihat Jhovan telah berada di depan matanya.


"Bisa kita bicara sebentar?" Jhovan terus saja menatap wajah cantik Zhelina dengan penuh kerinduan.


"Jangan di sini"


"Ayo ikut kakak" Jhovan langsung saja menarik tangan Zhelina dengan lembut menuju mobilnya.


Melihat kedua bosnya berjalan menghampirinya Jefri yang sedari tadi menunggu di mobil langsung saja membukakan pintu untuk majikannya itu."Silahkan Nona muda"


"Terimakasi" ucap Zhelina tersenyum menatap Jefri. Mendengar ucapan terimakasi dari Zhelina, Jefri langsung saja menatapnya tidak percaya. Tidak seperti biasanya dimana Zhelina akan selalu bersikap acuh kepada setiap anak buahnya.


Zhelina langsung saja duduk di jok belakang bersampingan dengan Jhovan dengan penuh ketegangan. Dia takut jika Jhovan akan memberitau Deddynya jika dia sedang berada di kota ini.


Hingga akhirnya mobil mewah itu berhenti di sebuah kafe ternama. Dengan sigap Jefri langsung saja membuka pintu untuk kedua majikannya.


Jhovan dan Zhelina berjalan dengan beriringan. Pesona keduanya yang begitu terpancar membuat setiap orang yang mereka lewati terpesona dengan aura kecantikan dan juga ketampanan keduanya.


Jhovan langsung saja mengambil ruangan VVIP agar mereka bisa tenang untuk berbicara. sesampainya di ruangan yang Jhovan pesan Jefri langsung saja menunggu di luar ruangan.


"Silahkan duduk, Dik" Jhovan tersenyum mempersilahkan Zhelina.


"Terimakasi kak" Zhelina langsung saja duduk di depan Jhovan hingga akhirnya keduanya saling bertatapan.


"Apa kau bahagia di kota ini?" Jhovan menatap Zhelina dengan lekat.


"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?"


"Karna saat bersama Deddy dulu Kakak tidak pernah melihat senyuman dan tawamu yang begitu lepas seperti saat kamu bersama mereka"

__ADS_1


"Apa Kakak selama ini mengikutiku?. Kakak boleh menghukumku tapi jangan lukai mereka."


"Bagaimana mungkin Kakak melukai orang yang telah memberi warna ke kehidupan Adik kesayangan Kakak" Jhovan langsung saja mengengam tangan Zhelina.


Melihat itu Zhelina langsung saja menatap Jhovan tidak percaya.


"Apa bisa Kakak memelukmu?" Jhovan menatap Zhelina penuh permohonan.


Mendengar ucapan Jhovan, Zhelina langsung saja memeluk Jhovan dengan eratnya. Dia menelungkupkan wajahnya di dada bidang sang kakak sambil menangis kesegukan.


"Apa Zhelina pernah melarang Kakak untuk memeluk Zhelina sehingga Kakak harus meminta izin terlebih dahulu"


"Maafkan Kakak karna tidak bisa melindungimu dari keserakahan Deddy" Jhovan langsung saja mencium puncak kepala Zhelina hingga tak terasa butiran benih itu membasahi wajah tampannya.


"Apa Kakak kemari atas perintah Deddy?" Zhelina menatap wajah Jhovan dengan penuh kecemasan.


"Tidak. Tapi kakak kemari untuk mencarimu"


"Zhelina telah bahagia di sini"


"Kakak tau. Tapi kamu harus berhati hati karna Deddy telah menghirip para anggota mafianya untuk mencarimu"


"Kakak akan membantumu"


"Melawan Deddy?" Zhelina menatap Jhovan tidak percaya.


"Apapun akan kakak lakukan untuk kebahagiaanmu. Maafkan kakak karna selama ini tidak bisa membantumu"


"Terimakasih kak. Zhelina tau alasan Devan ingin mengikat hubungan dengan keluarga kita"


Mendengar ucapan Zhelina, Jhovan langsung saja menatapnya tidak percaya.


"Apa?"


"Ini" Zhelina langsung saja memberikan Flash dish kecil ke Jhovan.

__ADS_1


Jhovan langsung saja menerimanya lalu menyimpannya di saku kemejanya.


"Sudah Zhelina harus pergi" ucap Zhelina sambil melirik jam tangannya.


"Kakak aka mengirim orang kepercayaan kakak untuk melindungimu"


"Terima kasih Kak" Zhelina langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


Melihat zhelina telah pergi Jhovan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan kafe itu. sesampainya di mobil Jhovan menatap flach dish yang di berikan Zhelina.


"Kakak bersumpah akan menghancurkan orang yang berani memanfaatkanmu"


*****


Zhelina berlari ke arah rumah sakit dengan tergesa gesa. Dia takut akan terkena omelan Galang karna terlambat datang.


Bughkkk....


Karna terburu buru tanpa sadar Zhelina menabrak seorang pria gagah yang berdiri di depannya.


"Kamu dari mana saja?" Galang menatap Zhelina dengan penuh kekesalan.


"Hehe... maaf tadi ban mobilku bocor" ucap Zhelina cengegesan.


Mendengar penjelasan Zhelina Galang langsung saja menatapnya dengan penuh selidik. Melihat tatapan Galang Zhelina hanya mampu menutup mulutnya rapat rapat.


"Hai Lang. Ayo cepat" Lea langsung saja menarik kerah jas kuasa Galang.


"Baju gue Le. Lepas gak?" ucap Galang kesal.


"Upss maaf. Ayo buruan nanti kakek marah" ucap Lea mengingat pagi ini mereka ada jadwal memeriksa keadaan para pasien.


"Ayo. Malah bengong" Galang mengendus kesal karna Zhelina masih betah berdiri pada tempatnya.


"Ayo Zhe. Tidak usah peduliin Playboy cap kapak itu" Lea langsung saja mengandeng tangan Zhelina sambil bercanda gurau bersama.

__ADS_1


"Satu ruba betina saja sudah membuatku sangat pusing. ini malah nambah satu lagi. bisa bisa mati muda gue" batin Galang menatap kedua wanita di depannya.


Bersambung.....


__ADS_2