
Setelah letupan bahagia yang menggebu, lagi-lagi terjebak dalam belenggu pilu yang berkombinasi oleh ragu.
***
Pertandingan sudah selesai pukul setengah tujuh malam. Tim basket Cakrawala berhasil memenangkan pertandingan melawan Bumiputera. Kini, mereka pulang dari tempat pertandingan bersama-sama. Di tengah, ada mobil sekolah yang di dalamnya adalah tim basket. Sedangkan di sekelilingnya dipenuhi oleh anak SMA Cakrawala yang berbaju hitam. Mereka melajukan kendaraan dengan hati-hati. Sangat jauh dari kesan anak ultras yang urakan.
Semilir angin malam yang menerpa turut berpartisipasi dalam menerbitkan senyum di bibir gadis itu. Ditatapnya punggung kokoh yang selama ini selalu ia lihat dalam jauh. Selalu ia dambakan untuk direngkuh. Seharian bersama Genathan, bisakah Resha anggap ini sebagai titik cerah dalam lika-liku penuh keruh? Atau hanya kenangan yang akan semu?
Sebagai pengantar dalam juangnya untuk menapaki jejak menjauh dari zona nyamannya. Melawan segala takut dan ragu yang selama ini selalu membelenggu. Apa ini saatnya untuk Resha menunjukkan perasaan yang selama ini terpenjara tenang dalam hati? Gadis itu membuang napas pelan. Soal perasaannya, biar nanti ia coba bersawala dengan semesta dulu. Barangkali, semesta mulai memihaknya dengan memberi restu untuknya dan Genathan bisa bersatu.
Lamunan Resha buyar begitu sampai di perempatan, motor yang ia tumpangi dengan Genathan justru berbelok berlawanan arah dari gerombolan SMA Cakrawala. Ia agak mendekatkan diri dan memajukan kepalanya untuk berbincang dengan Genathan. "Kok kita belok sini, Kak?" tanyanya sedikit berteriak supaya Genathan dapat mendengar suaranya.
Bukannya menjawab, Genathan malah mengangguk saja. Resha yang melihat itu mengernyitkan kening semakin tidak mengerti.
Resha mengangguk samar saat sebuah kemungkinan melintas di otaknya. Mungkin Genathan tidak mendengar, jadi hanya diangguki saja oleh cowok itu. Resha mengulang kalimatnya dengan suara yang lebih besar. "KOK KITA BELOKNYA KE SINI, KAK?"
Genathan menepikan motornya. Cowok itu membuka kaca helm, memutar badannya untuk bisa melihat Resha. "Dek, gue denger kok walau lo nggak teriak," ucapnya dengan senyuman sedangkan Resha kini malah menahan malaunya.
"Eh? Kok nggak dijawab tapi?" tanya Resha.
"Ngikut aja. Aman kok sama gue." Genathan tersenyum meyakinkan lalu kembali memutar badannya menghadap depan dan menutup kaca helmnya. Mulai melajukan motornya lagi dengan perlahan.
Meski masih digandrungi banyak pertanyaan dalam otak Resha, gadis itu memilih untuk diam. Membiarkan damainya sang bayu membawa kabur segala tanya yang terpendam. Ia cukup menikmati perjalanan tenangnya bersama Genathan. Hingga cowok itu menghentikan motor di warung sate lontong. Genathan membuka helm. Sedangkan Resha turun dari motor Genathan. Ikut membuka helm dan menyerahkannya pada Genathan.
Usai meletakkan helm, Genathan turun dari motornya. Mengajak Resha untuk duduk di atas tikar yang membentang pada bagian luar. Dengan gemintang yang bertebaran pada gelapnya bumantara, menjadi atap alami untuk mereka.
"Gue pesen makanan dulu." Genathan beranjak menuju ke dalam tenda. Resha mengamati baik-baik dari sini. Cowok itu tampak menyebutkan pesanannya dan lelaki yang tengah menyiapkan es teh menganggukkan kepalanya.
Resha tersenyum simpul. Dinginnya malam hari mulai menyapa kulitnya. Tidak lama kemudian, Genathan sampai di depannya.
"Laper banget pasti, ya? Habis teriak-teriak tadi," ujar Genathan mendapat anggukan dari Resha dengan senyuman canggung nya.
"Seru, 'kan? Kapan-kapan mau ikut nribun lagi? Yang futsal juga nggak kalah seru," lanjut Genathan.
Resha mengangguk semangat. "Cakrawala Cup tahun ini harus ikut. Tahun kemarin aku malah sakit, jadi nggak bisa gabung."
"Yah, padahal tahun kemarin gue bantu naikin koreo tiga dimensi,” ucap Genathan membanggakan.
Kerutan di dahi Resha terlihat. "Itu apa, Kak?"
__ADS_1
"Koreo tiga dimensi. Jadi gambar di kain gitu, nah di samping-sampingnya ntar dikaitkan sama tongkat. Terus bareng-bareng diangkat," jelas Genathan.
Resha menganggukan kepalanya mengerti.
"Dek, wajah lo kayak nggak asing buat gue."
Resha menegang. Menelan saliva susah payah begitu Genathan berkata demikian. Apa kali ini Genathan akan mengingat tentang Resha yang meminta?
"Tapi ... masa, sih? Kayak adik kelas gue pas SMP. Lo dari SMP mana?"
Resha mengatupkan bibir rapat. Ia bimbang antara ingin jujur atau memendamnya rapat-rapat. Sepertinya kali ini Resha sudah ketahuan.
"A-aku—" Belum selesai Resha menyelesaikan perkataannya, dering telepon Genathan terdengar. Membuat fokus cowok itu berpaling sepenuhnya.
Senyum manis terbit di bibir cowok itu. Ia mengambil ponselnya. Menerima telepon itu lalu mendekatkannya ke telinga. Selanjutnya, suara bahagia Genathan terdengar menggema di telinga Resha. Sesak terasa menghimpit Resha. Mencekik gadis itu hingga pada akhirnya yang Resha lakukan hanya diam dengan pancaran sayu dari netranya.
Genathan terlihat sangat bahagia saat menerima telepon dari Ayunindya. Bahkan suaranya terdengar antusias juga gembira. Untungnya, sate lontong pesanan mereka segera datang. Resha mengalihkan perhatiannya pada sepiring sate lontong. Mati-matian menahan untuk tidak melirik Genathan yang masih asik telponan.
Resha berteman dengan keheningan sampai Genathan menyudahi teleponnya dan memandang Resha yang tengah memotong lontong.
"Maaf, ya, jadi nyuekin. Tadi temen gue telepon katanya besok bakal pulang ke sini,” jelas Genthan.
"Sabtu kemarin gue nganter dia ke stasiun. Mau ketemu papanya di luar kota. Eh besok udah mau pulang lagi ke sini."
Lagi-lagi Resha mengangguk mendengar penjelasan dari Gentahan. Kini ia mengerti mengapa instastory Genathan hari itu ada di stasiun. Ternyata mengantar Ayunindya. "Cewek, ya, Kak? Kelihatannya seneng banget tuh." Resha berusaha menanggapinya dengan raut baik-baik saja, meski nyatanya tidak.
Genathan nyengir. Pipinya tiba-tiba tersipu. "Iya, cewek. Namanya Ayunindya. Kayak namanya, dia cantik."
Resha mencelos. Tatapnya menyendu begitu melihat binar bahagia Genathan saat menceritakan Ayunindya. Benar kata orang-orang, ada yang berbeda dalam diri cowok itu jika berkaitan dengan sahabatnya. Pantas saja banyak yang mengira mereka berpacaran. Tatapan Genathan saat mengingat tentang Ayunindya saja berbeda.
Resha berdehem. "Kakak ... udah sahabatan dari lama?"
Genathan mengangguk santai. Menggigit daging pada satu sunduk sate. "Banget. Dari SD sampai sekarang. Dari zaman waktu rumah kita masih jauhan, sampai jadi deket banget kayak sekarang."
"Wah, pasti banyak yang dilalui bareng-bareng dong." Resha berusaha mengendalikan nada suaranya agar tidak terdengar getir atau bergetar. Meskipun terdengar antusias namun jelas perasaannya menyatakan sebaliknya.
Genathan tertawa. "Banyak banget. Dulu gue bantu ajarin dia naik sepeda kalo gue main ke rumahnya, sampai sekarang dia udah bisa naik mobil sendiri. Kita tumbuh bareng-bareng. Jadi ya saling tau kekurangan masing-masing. Nggak bisa bayangin kalo nanti dia punya pacar terus ngejauh dari gue. Bisa nggak ya gue jalani hari tanpa dia? Mungkin memang dia masih ada di sekitar gue, tapi pikirannya udah nggak sepenuhnya bakal buat gue,” cerita Genathan dengan begitu antusiasnya. Resha bisa mendengar nada khawatir yang terselip di sana saat laki-laki tersebut memikirkan tentang kekasih sahabatnya nanti.
"Kalau dia punya pacar, gue mau bilang ke pacarnya," tandas Genathan dengan serius.
__ADS_1
"Bilang apa?" tanya Resha dengan menaikkan sebelah alisnya. Gadis tersebut kini terlihat begitu fokus dengan makanannya walau sebenarnya resha melakukan hal tersebut hanya untuk menutupi kesedihannya saja.
"Bilang untuk jangan suruh Ayu ngejauh dari gue,” tegas Genathan.
"Lalu, kalau ternyata Kakak yang punya pacar duluan?" Resha bertanya lagi.
Genathan malah terkekeh. "Ya kali."
"Loh? Kan bisa aja. Atau jangan-jangan, Kakak naksirnya sama Kak Ayu? Kata orang nggak ada persahabatan murni antara cowok dan cewek tanpa salah satunya yang menyimpan rasa,” ucap Resha. Resha begitu penasaran dengan perasaan Genathan. Walau jika akhirnya yang Resha dapatkan adalah jawaban yang membuatnya terluka, Rehsa tak masalah.
Genathan menghembuskan napas berat lalu menyeruput es tehnya. "Rumit, Dek. Walaupun gue suka dia, kita nggak akan bisa bersama."
"Friendzone? Terobos aja, Kak." Resha terkekeh. Menyembunyikan nada getir di sana.
"Lebih rumit dari friendzone. Udahlah, asal ada dia di sisi gue juga udah lebih dari cukup. Apapun statusnya, asal Ayunindya tetap ada, gue nggak masalah,” terang Genathan dengan senyumannya.
Resha tersenyum getir. Pedih dan sesak kembali memeluknya erat. Resha tak bisa berontak. Membiarkan dirinya bersama pelukan nestapa yang semakin sesak.
"Nggak usah ikut sedih, Dek. Cukup gue aja. Maaf, tadi malah curhat. Dah, lanjut makan lagi."
Tetapi, Genathan tidak menyadari. Sedihnya juga menjadi kesedihan untuk Resha. Kebahagiannya seharian ini mendadak runtuh karena obrolan sate lontong bersama Genathan dengan Ayunindya sebagai topiknya. Kali ini Resha tidak bisa mengelak. Perasaan Genathan untuk Ayunindya memang ada. Menjadi pukulan telak bagi Resha untuk menyadarkannya pada kenyataan yang ada.
Gadis biasa sepertinya, apa bisa menggantikan Ayunindya dan bersanding dengan Genathan yang menjadi definisi sempurna?
***
Pasti sakit ya ada di posisi Resha.
Aku pernah ngerasain ini, rasanya pengen aku cabik-cabik aja tuh cowok.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
Thanks for reading all.
__ADS_1