
Hidup selalu punya kejutan. Beberapa hal berjalan tidak sesuai kemauan. Tetap percaya bahwa masih banyak jalan dan akan selalu ada harapan.
***
Sudah hampir pukul 12 malam, tapi Genathan tak kunjung tidur. Sejak tadi, cowok itu sudah berusaha memejamkan mata. Namun, ia tak sampai-sampai juga ke alam mimpinya. Genathan tidak mengantuk meskipun tadi siang tidak tidur siang. Sudah tidak sempat bagi Genathan untuk tidur siang. Waktunya disita oleh ujian dan belajar. Maklum, anak kelas 12.
Sejak memasuki ujian sekolah, Genathan menitipkan Bentala ke orang kepercayaannya. Ia memutuskan untuk fokus pada kepentingan akademiknya dahulu. Ketika ujian praktik, ia sempat tetap memaksa terjun mengurus Bentala. Berakhir dengan dirinya yang harus keteteran membeli barang perlengkapan ujian praktik. Oleh karena itu, di ujian sekolah ini Genathan memilih untuk sepenuhnya fokus pada ujian saja. Toh setelah ini, dirinya bisa kembali mengurus Bentala begitu ujian telah selesai. Apalagi jika dirinya lolos SNMPTN. Tidak perlu lagi repot-repot belajar untuk SBMPTN.
SNMPTN. Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri melalui nilai rapor. Di sekolahnya, terdapat kuota 40% untuk setiap jurusan yaitu IPA dan IPS. Genathan termasuk dalam 40% itu. Berada di peringkat 20 besar teratas, cukup membuat Genathan percaya diri akan lolos dalam seleksi ini. Ya, begitulah pemikirannya dulu. Sayangnya, mendekati pengumuman, Genathan malah ragu. Rasa takut dan gelisah menghantuinya.
Genathan menghembuskan nafas pelan. Guling yang semula ia peluk, kini ia alihkan ke atas sebagai bantal. Cowok itu menekuk kedua tangannya dan menjadikannya bantal. Tatapan matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Ingatannya terlempar di saat ia membaca file pengumuman murid-murid yang berhak mengikuti SNMPTN. Melihat nama Genathan, tentu saja cowok itu senang. Usahanya selama lima semester tidak sia-sia. Dengan hati yang gembira, Genathan ceritakan hal itu kepada Naresha—pacarnya. Tentu saja cerita Genathan direspon dengan sukacita oleh Naresha.
Setelahnya, hari-hari Genathan dipenuhi dengan riset jurusan yang diincarnya dan konsultasi. Cowok itu menjatuhkan hati pada 2 jurusan, yakni Manajemen Bisnis dan Ilmu Komunikasi. Di jurusan apapun jika ia lolos dalam SNMPTN ini, akan Genathan syukuri dengan senang hati.
Pengumuman SNMPTN datang esok hari. Hal itulah yang membuat Genathan tidak kunjung tidur hingga saat ini. Kepalanya terasa berisik sekali. Kecemasan, keraguan, gelisah, ketakutan, semua bercampur jadi satu memenuhi diri.
"ARGHH!" Genathan meraung terdengar sedikit frustasi. Emosinya tidak stabil akhir-akhir ini. Apalagi, menjelang pengumuman SNMPTN. Entahlah, rasanya seperti penentuan hidup dan mati.
Genathan putuskan untuk bangkit dari tidurnya. Cowok itu duduk bersila di atas kasur. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap bahu kirinya. "Inget, Ge, apapun hasilnya, lo udah berusaha. Inget, jangan terlalu berharap tinggi-tinggi. Tenang, Genathan," ucapnya pada diri sendiri, sebagai upaya untuk menenangkan diri.
Sejak awal mengikuti SNMPTN, Genathan mensugesti dirinya sendiri untuk tidak terlalu berharap apapun. Bohong jika Genathan tidak berharap. Jauh di dalam lubuk hatinya ia tetap menginginkan lolos SNMPTN dengan sangat.
Dering dari notifikasi ponsel yang tiba-tiba berbunyi, membuat Genathan alihkan fokusnya. Tangannya mengambil benda persegi panjang berwarna hitam itu. Senyumnya mengembang kala sebuah nama terpampang di sana.
Nareshayang : kak ge, udah tidur belum yaa?
Naresha mengiriminya pesan. Dan itu cukup membuat Genathan tersenyum senang. Oh ya, Genathan juga sengaja mengganti nama kontak Resha menjadi demikian. Tak menunggu lama, tangan Genathan dengan lihai menari di atas keyboard untuk memberikan balasan.
Genathan : Belum, Sayangg. Ada apaa?
Nareshayang : bobo kak, besok masih ujian lohh
Genathan : Kamu duluan ajaa.
Nareshayang : aku kan besok libur wkwk bisa begadang. kakak bobo duluan biar besok pas ujian nggak ngantuk
Genathan : Lagi ga bisa tidur.
Nareshayang : lagi mikirin apaa kak? sini bagi ke aku biar kakak nggak terlalu keberatan
Sungguh, Genathan tidak kuasa menahan senyumnya. Tak henti juga dirinya bersyukur mendapatkan Naresha sebagai kekasihnya. Kekasihnya itu sangat peka dan perhatian.
__ADS_1
Genathan : Kepikiran hasil SNMPTN besok. Takut....
Nareshayang : kak ge, apapun hasilnya pokoknya kakak udah ngelakuin yang terbaik!!! cowo aku keren banget berhasil sampai ikut seleksi SNMPTN❤️
Genathan : Ahahahah makasih yaaa. Oh iya, besok mau nemenin aku buka hasil pengumumannya nggak?
Ide meminta Naresha untuk menemaninya membuka hasil pengumuman SNMPTN datang begitu saja tanpa direncanakan sebelumnya.
Nareshayang : MAUUU BANGETTT KAKK. aku mau jadi orang pertama yang ngucapin selamat buat kakak
Genathan : Kamu juga jadi yang pertama hibur aku kalau aku nggak lolos.
Nareshayang : kak, apapun hasilnya besok, aku bakal selalu nemenin kakak. sekalipun belum rezeki, besok kakak boleh nangis sepuasnya. nggak papa kak, nggak usah malu ya.
Genathan : Pacar siapa ini kok manis banget.
Nareshayang : AHAHAHA. btw kakak mau call nggak? kakak boleh bagi apapun itu yang lagi ganggu kakak. boleh bagi berisiknya kepala kakak ke aku, biar kita bisa dengerin bareng-bareng dan kakak nggak keganggu sendirian.
Tanpa berpikir panjang, Genathan segera memencet ikon telepon di sana. Malam itu, dihabiskan dengan Genathan yang menceritakan apapun yang mengganggu pikirannya. Di seberang sana, Resha dengan setia mendengarkan.
*
"Asli aku deg-degan banget, Res." Sudah berulang kali Genathan mengucapkan kata-kata itu. Hasil SNMPTN akan diumumkan pada pukul 3 sore. Namun, sejak pukul 2 siang, Genathan sudah berada di rumah Resha.
"Kakak atur napas dulu. Ini airnya diminum. Udah, berdoa aja," ucap Resha menenangkan. Tangan Resha mengusap punggung tangan sang kekasih. Seolah menyalurkan ketenangan dari sana.
"Eh tau nggak, tadi Gentala mau ikutan kesini masa," celetuk Genathan tiba-tiba.
"Iya? Terus kenapa nggak kesini?" tanya Resha.
"Nggak ah. Kan maunya sama kamu doang. Nanti kalo aku nangis, ada dia malah diejekin."
Resha terkekeh saja mendengarnya. Gentala memang tidak mengikuti SNMPTN karena dirinya tidak termasuk siswa eligible di sekolahnya. Katanya, Gentala mau langsung ke swasta saja.
"Res, jam 3 masih lama, 'kan?" tanya Genathan.
"Lima menit lagi, Kak. Ini ada countdown-nya kok."
"Res, nanti yang buka kamu aja, ya?" pinta Genathan.
"Kalau buka sama-sama gimana, Kak? Kita hadapin apapun hasilnya bareng-bareng, ya?"
__ADS_1
Sebenernya, Resha sendiri juga takut untuk membuka hasilnya. Ia seolah turut merasakan segala perasaan yang dialami Genathan saat ini. Hanya saja, Resha mencoba untuk mengendalikannya. Kekasihnya ini juga perlu penenang. Jika dirinya menunjukkan panik dan gelisah, siapa yang akan menenangkan Genathan?
Detik waktu berlalu dengan ketegangan yang semakin terasa di rumah itu. Alarm yang sengaja Genathan setel sejak kemarin sudah berbunyi. Menandakan bahwa pengumuman sudah benar-benar tiba.
"Res ...." Genathan deg-degan bukan main. Tangannya agak bergetar begitu mengisikan nomor pendaftaran dan tanggal lahirnya.
"Nggak apa-apa, Kak, ayo kita lihat hasilnya dulu. Tenang aja, ada aku," ucap Resha seraya mengusap bahu Genathan berupaya menenangkan. Percobaan pertama eror. Terlalu banyak yang mengakses website tersebut sehingga Genathan juga kesulitan untuk masuk.
"Duh eror lagi. Bikin makin deg-degan," gerutu Genathan.
"Coba lagi, Kak," suruh Resha.
Genathan mengangguk. Kembali merefresh website tersebut. Sayangnya, percobaan kedua masih gagal juga.
"Ini yang udah lihat pengumuman minggir dong, gue nggak bisa login," omel Genathan. Resha tersenyum kecil melihatnya.
Kini Genathan melakukan percobaan Genathan. Loading cukup lama. Genathan dan Naresha sama-sama menahan napas. Bahkan Genathan sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Percobaan ketiga berhasil. Hasilnya sudah tertera di sana, tetapi Genathan masih menutup wajahnya.
Resha yang melihat hasil di layar itu, tidak berkedip. Ia mencoba mencerna apa yang sedang ia lihat. Membaca betul-betul tulisan di sana meskipun matanya terasa sakit melihat warna yang menyala di sana.
"Res, gimana?" tanya Genathan pelan.
"Kak ...."
"Iya? Gimana, Res?"
"Kak Ge ...."
***
Aku pernah nih ada di posisi Genathan. Emang sakit banget pas di tolak SNMPTN tuh
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
__ADS_1
Thank for Reading All