Genathan

Genathan
TAMPARAN REALITA


__ADS_3

Lebih baik menangis karena mengetahui sebuah kenyataan. Daripada tertawa dengan menutup mata oleh ketidak tahuan. Setelahnya, silahkan tegas membuat keputusan. Ketidak pastianmu, bisa jadi menyakiti banyak orang.


***


Kabar putusnya hubungan Resha dan Genathan sampai di telinga Gentala. Di sekolah tadi banyak sekali yang gempar membicarakan hubungan mereka. Resha tidak menampakkan diri. Gentala menyempatkan diri saat istirahat untuk menengok Resha yang hanya diam menelungkupkan kepala. Ia ingin menghampiri, tapi ragu. Ia tidak mau semakin menambah kabar heboh di sekolah.


Meski baru mengenal Resha, Gentala tahu bahwa ini sangat jauh dari kehidupan gadis itu. Resha yang awalnya terbiasa dengan hidup tenang, damai, tanpa dicampuri hiruk pikuk orang lain, mendadak jadi bahan obrolan. Hidupnya mendadak tidak tenang, penuh dengan hujatan sana-sini.


Sialnya, pelaku yang membuat hidup Resha demikian adalah Genathan—sahabatnya sendiri. Sejak pertama kali bersua dengan Resha, ia menyadari ada desiran yang berbeda dalam dirinya. Gentala menamainya dengan cinta. Namun, ia menyadari. Bukan dirinya yang Resha mau, melainkan sahabatnya.


Gentala mengalah. Membiarkan Resha untuk bahagia bersama sahabatnya. Meski awalnya ragu, ia tetap percaya bahwa Genathan benar-benar bisa setulus hati menyayangi Resha. Apalagi, saat tahu bahwa gadis yang sering dibincangkan oleh Genathan adalah Naresha. Ya, Genathan sering bercerita tentang adik kelasnya di SMP yang tiba-tiba mengajak foto tanpa perkenalan. Gentala yang memang baru satu sekolah saat SMA juga tidak menyadari bahwa itu Naresha.


Diam-diam, Genathan menunggu kehadiran gadis itu dalam hidupnya. Barangkali memang benar dia yang ditakdirkan untuk mengeluarkan Genathan dari perasaan yang seharusnya tidak ia punya.


Tapi yang dikagetkan Gentala sekarang adalah ... mengapa sampai putus? Apa jangan-jangan Genathan kembali terjerumus dalam perasaannya untuk Ayu?


***


"Gege goblok!" Gentala buru-buru menaruh helm ke jok motor. Ia sudah sampai di tempat yang menjadi tujuannya.


Rumah orang tua Genathan. Tadi, sahabatnya itu tidak masuk sekolah berkedok acara keluarga. Gentala yang sudah tidak tahan untuk mengumpati Genathan memilih untuk mengunjungi rumahnya saja. Baru ia bersiap berjalan, seseorang menahan tangannya lalu memberi bogeman pada pipinya tanpa aba-aba. Gentala tidak siap, hingga tubuhnya terhuyung dan refleks memegang sudut bibirnya yang tampak mengeluarkan darah.


Gentala menatap marah orang itu. "MAKSUD LO APA, HAS?"


"Lo yang kenapa? Lo kenapa nyamperin Gege, dia izin ada acara keluarga dan malah lo samperin!" tegur Hasta yang ternyata membuntuti Gentala.


Gentala berdecak. "Gege di rumah! Nggak kemana-mana. Gue mau negur sahabat lo itu!"


"Nggak gini caranya, Ta. Lo nggak bisa negur kalau emosi gini, yang ada kalian malah berantem. Ayolah, Ta, ini masalah perasaan Gege nggak bisa dipaksain. Kalau memang bukan Resha yang jodohnya, ya udah terima. Bukannya ini juga jadi peluang buat lo gebet Resha lagi?" cecar Hasta menaruhkan tangannya di bahu Gentala.


"Ya lo kira gue bisa nyepik Resha pas keadaan kayak gini? Gue tau, di hati Resha itu Gege yang dimau. Ini emang Genathan yang goblok masih aja dibutain sama perasaan sialan ke Ayu!" ucap Gentala tak terima jika sampai gadis yang ia sayang terluka.


Hasta mengernyitkan keningnya tak paham. "Emang kenapa, sih kalau Gege sama Ayu saling suka? Perasaan cinta bukan kesalahan, Ta! Lo nggak bisa menghakimi seseorang karena saling cinta."


Gentala meraup wajahnya. Frustasi karena Hasta tidak kunjung menangkap maksudnya. Apa Hasta lupa?

__ADS_1


"Kalau emang bahagianya Gege sama Ayu—"


"MEREKA KAKAK ADIK!" Gentala memotong dengan berteriak dan napas yang tidak beraturan.


"Kan nggak—"


"MEREKA SATU BAPAK, HASTA! OM GINO ITU BAPAKNYA AYU SAMA GEGE! MAKANYA SELAMA INI GUE YANG PALING NGOTOT NGGAK SETUJU. YA GIMANA BISA SAHABAT GUE JADIAN SAMA ADIK KANDUNGNYA SENDIRI?!" Urat-urat tampak di leher Gentala.


Ini alasannya ia selalu menentang. Hubungan Ayu dan Genathan bukanlah sahabat biasa. Bukan pula kakak-adik tiri. Melainkan saudara kandung satu ayah. Genathan pernah menceritakan ini pada dirinya. Satu tahun lalu saat almarhum mamanya meninggal, lalu beberapa minggu kemudian papanya mengatakan akan menikahi Arlin—mama Ayu. Tidak peduli sekeras apapun Genathan menolak, nyatanya sang papa tetap menikahi mama sahabatnya.


Di saat yang sama, Genathan mengaku pada Gentala kalau dia punya perasaan yang lebih dari sahabat untuk Ayu.


"Heh, Tata, jangan ngadi-ngadi lo!" ucap Hasta tak percaya.


Gentala berdecak saja, lalu berjalan mengabaikan Hasta yang masih tampak kaget. Dengan langkah penuh emosi, ia menghampiri kediaman orang tua Genathan. Segera saja Gentala mengetuk pintu grasak-grusuk. Ingin berteriak, tapi rasanya malas. Untungnya, tak berapa lama pintu terbuka. Menampilkan sosok ia cari-cari untuk diumpat.


Karena sudah kepalang emosi, Gentala melayangkan tinjuan pada pipi Genathan. "Yang ngajarin lo brengsek kayak gini siapa sih, Ge?"


Genathan bangkit tanpa merespon apapun


Tatapan Genathan terangkat untuk menatap Gentala nyalang. "Gue udah hapus semua perasaan buat Ayu, Ta. Karena gue sadar, sekalipun gue memaksa juga nggak akan bisa buat kami bersatu," balasnya serak.


"Terus apa? Kenapa lo sampe putus? Lo tau nggak, di sekolah nyebar cerita tentang Naresha dibuang sama Genathan demi Ayu!" sentak Gentala dengan tangan terkepal kuat. Itulah yang semakin membuat Gentala marah. Ia hanya tak ingin orang yang ia cintai di fitnah dan menjadi bahan pembicaraan yang buruk.


"Resha yang mutusin gue. Gue tau gue salah, tapi gue bingung jelasinnya gimana. Hari ini gue disuruh kesini sama bokap, karena Ayu sakit lagi. Dia gampang drop, Ta. Apalagi kemarin dia udah tau kalau orang yang selama ini dianggep papa kandungnya dari lahir, ternyata bukan. Gue nggak bisa ninggalin Ayu, bukan sebagai cowok ke ceweknya. Melainkan kakak ke adiknya, Ayu adik kandung gue Ta.. Gue kira, gue cuma perlu waktu buat jelasin ke Resha tentang ini, tapi nyatanya ... gue kehabisan waktu." Genathan mengungkapkan semuanya.


"Ge maksud lo apa? Papa kandung gue itu ... papa lo?" Genathan dan Gentala sontak mendelik mendengar suara Ayu yang bergabung dalam obrolan mereka. Di saat yang bersamaaan, Hasta akhirnya ikut mendekat setelah mendengar semua faktanya.


Ayu menggoncangkan lengan Genathan. "Ge? Kenapa lo nggak bilang ini ke gue? Gue ... udah terlanjur jatuh sama perasaan gue ke elo sebagai perempuan ...." Ayu kini mulai menangis sedangkan Genathan masih terdiam di tempatnya.


"Nggak boleh, Yu! Kalian satu darah," sela Gentala membantu sahabatnya tersebut untuk menjawab pertanyaan Ayu.


Ayu tak menggubris kata-kata Gentala. Ia terus meminta penjelasan pada Genathan. "Ge? Kita cuma saudara tiri, 'kan? Kita masih bisa bersatu, 'kan? Jawab gue, Ge!" Ayu mulai memukuli dada Genathan.


Genathan memegang tangan Ayu untuk menghentikan pukulannya. "Maaf, Yu. Tapi kenyataannya ... lo adik kandung gue. Gue ... nggak tau kalau papa gue diem-diem emang ada main sama mama lo. Sejak gue tau kalau lo adik kandung gue, gue—" ucapan Genathan lebih dulu terpotong.

__ADS_1


"Lo pergi dari rumah dengan alasan mau belajar mandiri, padahal kenyataannya lo jauhin gue. Iya kan? Kenapa lo nggak bilang dari awal, sih, Ge?" marah Ayu merasa frustasi dengan semua fakta yang baru diketahuinya tersebut. Laki-laki yang ia cintai ternyata kakak kandungnya sendiri.


"Ya elo, kenapa juga dikit-dikit drop. Nyusahin tau nggak!" sergah Gentala lagi yang kini mendapat tatapan tajam Hasta dan Genathan.


Hasta ikut angkat bicara kali ini. "Ta, nggak boleh ngomong gitu. Dia cewek, dia—"


"Gue muak, ya! Heh, Ayu! Dulu lo bilang ke gue, kalau lo nggak maksain perasaan lo ke Gege karena status kalian yang saudara. Walau saat itu lo taunya kalian sebatas saudara tiri. Keputusan lo buat pergi dan ngerelain Genathan buat cewek lain udah bener! Kenapa balik lagi pas Gege sama Resha udah jadian, ha?!" tentang Gentala dengan sorot matanya yang jelas menyiratkan amarah. Meskipun ia mencintai Resha namun ia tak akan memanfaatkan situasi dan tambah membuat Resha sedih karena yang ia ingin mengembalikan kebahagiaan Resha meskipun bukan lagi bersamanya.


Genathan mendelik. "Loh? Pergi? Gimana?"


"Pas lo sakit, Ge, dia sempet ngaku ke gue. Dia emang suka sama lo. Tapi, dulu dia sadar dan nggak maksain. Makanya dia pergi, dan lo mulai deket Resha. Tapi sekarang dia malah balik dan coba rebut lo lagi dari Resha. Maksudnya apa?! Itu cewek yang gue sayang, gue relain buat bahagia sama Genathan, bukan buat jadi korban masalah kalian berdua!" marah Gentala ia benar-benar tidak terima jika nyatanya Resha hanya tameng penengah untuk Ayu juga Genathan.


Hasta mencoba menenangkan Gentala.


"Ta, ayo balik," bujuk Hasta.


Gentala membuang nafas kasar. "Jangan jadi Genathan yang brengsek. Tolong tegas sama semuanya. Ketidak tegasan lo justru nyakitin semuanya, Ge."


Gentala segera pergi setelah mengatakan hal tersebut.


***


Nah Ayu ternyata adik kandung Genathan dong.


Gentala ini emang definisi cowok yang sekali sayang ke orang kebahagiaan orangf itu prioritasnya sekalipun bahagianya bukan sama dia.


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.


See you next chapter all.


Thanks for reading all.

__ADS_1


__ADS_2