Genathan

Genathan
JANGAN SURUH MENJAUH


__ADS_3

Asal kamu bahagia, saya ikhlas menerima lara. Karenamu saya percaya, bahwa tidak semua rasa cinta akan berakhir saling punya dan bahagia.


***


Hari pembukaan Bentala store secara offline kemarin tidak akan pernah Resha lupakan. Selama ini, ia hanya menjadi penonton momen romantis orang-orang. Namun, kemarin ia menjadi tokoh utama dalam momen itu. Bersama Genathan, mimpi-mimpi Resha seolah dapat menjadi kenyataan.


"Ngelamun aja lo, mentang-mentang kemarin habis di nyanyikan," suara Delia yang tengah menggoda Resha, menyadarkannya dari lamunan. Gadis itu menghampiri Resha di kantin bersama Arik. Arik dan Delia semakin dekat, tapi masih tidak terikat.


"Iri bilang, Bos," balas Resha dengan candaannya yang membuat Resha mendengus kesal sedangkan Resha sudah tertawa melihat reaksi sahabatnya tersebut.


Mereka berdua duduk di hadapan Resha. Jam olahraga memang sudah selesai. Kelas Resha memiliki jadwal olahraga yang sama dengan kelas Arik.


"Bentar lagi Cakrawala Cup. Kalian ikut, 'kan?" celetuk Arik dengan menatap Resha dan Delia secara bergantian.


"Gue jelas ikut. Resha ikut, 'kan? Ikut dong, kan sekarang ada Gege. Uwu tuh nribun bareng," timpal Delia yang begitu bersemangat.


Resha terkekeh meski pipinya terasa memanas sekarang. "Iya tahun ini ikut. Tahun kemarin nggak sempet, soalnya malah sakit di rumah sakit."


"Siapa yang sakit? Resha habis keluar dari rumah sakit? Bukannya kemarin masih dinyanyikan Gege?" Suara seseorang yang bergabung dalam percakapan mereka membuat Resha mendongak.


Cowok beriris hitam kecoklatan itu tengah bersama seorang temannya. Ia mendudukkan diri tepat di sebelah Resha. Sedangkan temannya duduk di sebelah Arik.


"Lo sakit?" Ia meneliti wajah Resha yang tidak pucat, melainkan bingung.


"Emang lagi musim tikung menikung ini mah," kelakar Hasta membuat Resha mengerjap.


Sedangkan Gentala menatap sinis sahabatnya itu seraya membalas, "IRI BILANG BOS."


Selanjutnya, Gentala kembali mengalihkan tatapannya pada Resha. "Beneran sakit?"


Resha terkekeh geli seraya menggeleng. "Nggak, Kak. Aku sehat. Tadi lagi bahas Cakrawala Cup tahun lalu, nggak bisa ikut karena sakit. Kalau sekarang mah sehat-sehat aja."


Gentala sontak menghembuskan napas lega, "Syukur deh. Gue kira lo sakit."


"Kenapa peduli banget dah, Bang?" celetuk Arik menatap kakak kelasnya tersebut dengan tatapan curiganya.


"Emang nggak boleh peduli sama pacar sahabat sendiri?" tanya Gentala santai. Aneh memang terlalu peduli pada kekasih sahabat sendiri, malah meninggalkan kesan sedang mendekati dan ingin menikung, itulah yang dipikir orang yang melihat nya.


Seketika suasana di meja itu menghening sejenak. Mereka sama bingungnya menanggapi pertanyaan Gentala. Sedangkan Resha agak merasa tidak nyaman dengan ini. Ia takut justru membawa masalah dalam persahabatan Genathan.


Apalagi, Gentala sempat mengungkapkan perasaan padanya. Ya, Gentala pernah mengungkapkan perasaannya pada Resha. Jujur saja ia kini malah menjadi canggung dengan ucapan Gentala barusan.


"Tinggal aja terus. Orang lagi nganter barang ke kelas sebelah malah ditinggal." Genathan yang baru datang segera menyelip di antara Resha dan Gentala. Gentala hanya menghembuskan pasrah dan menggeser tubuh menjauh. Meskipun ia dan Genathan mencintai orang yang sama namun jika pilihan Resha adalah Genathan maka ia akan mengalah, demi kebahagiaan gadis yang dicintainya.


"Cari cewek sana, Ta," ujar Genathan seraya menyerahkan es krim wadah kecil ke arah Resha.


Resha tersenyum dan menerimanya dengan senang hati. Gadis itu sempat melirik ke arah Delia yang tengah menatapnya iri. Resha tersenyum jahil membuat Delia mendelik sinis.


"Kemarin udah mau nyari cewek, Ge," jawab Gentala dengan seriusnya. Genathan kini juga telah mendengarkan cerita sahabatnya tersebut dengan serius


"Loh iya? Terus gimana, Ta? Dapet kagak?" timpal Hasta dengan penasarannya. Ia memang tak mengetahui tentang sahabatnya tersebut jika ternyata Gentala menyukai Resha.


Gentala memasang raut melas, "Kalah cepet gue, udah diambil orang."


Resha merasa Genathan juga ikut meliriknya, tapi gadis itu berpura-pura bersikap tidak paham. Ia memfokuskan diri pada es krim coklat yang dibelikan pacarnya.


"Cari yang lain, cewek banyak." Genathan tetap menanggapinya dengan santai walau kini ia merasa ada yang aneh dan bisa menebak siapa gadis yang Gentala maksud.


Terdengar deheman dari Gentala. Lalu cowok itu menepuk-nepuk bahu sahabatnya, "Ntar aja deh, mager. Dikira cari cewek kayak cari uang receh."

__ADS_1


"Bener Bang, cari cewek daripada nanti malah nikung Bang Gege."


Ucapan Arik sukses membuat Resha batuk karena terkejut. Secara spontan Genathan menoleh khawatir terhadap kekasihnya.


"Eh nggak papa? Makan es krim aja sampai tersedak, sih," ucap Genathan sambil mengelus punggung Resha dan menepuk-nepuk nya pelan.


Resha masih saja terbatuk, tapi matanya menangkap botol air mineral persis di hadapannya.


"Minum dulu," ucap orang itu seraya menggerakkan botol air mineral mendekat ke arah Resha.


Resha tidak menyadari sejak kapan Gentala beranjak untuk memberi minuman. Lagi-lagi, suasana di meja tampak tegang. Apalagi, tatapan Genathan kini jadi menajam.


Genathan berdehem dan mengambil botol minuman itu. Membukakan tutupnya, lalu menyodorkannya tepat di hadapan Resha, "Udah dibeliin, minum dulu."


Meski agak canggung, Resha tetap menurut dan mengambil minuman itu. Ketika merasa sudah lebih baik, Resha menaruh botol itu lalu menatap Gentala yang masih berdiri di dekatnya. "Makasih ya, Kak."


Gentala mengangguk dengan senyum manis di wajahnya. "Your welcome. Anything for you."


"HAREUDANG, HAREUDANG, HAREUDANG!" kelakar Hasta bernada dengan memukuli meja kantin rusuh.


"PANAS, PANAS, PANAS!" sambungnya lagi kini bersama Arik yang ikut-ikutan.


"Akang gendang kalau saya suruh mundur, mundur, ya. Yok mundur, mundur."


Genathan mendesis, sedangkan Gentala terbahak.


"Gue pamit kelas dulu, deh. Mau cari cewek sekalian. Duluan, ya." Gentala beranjak pergi dari kantin. Resha ikut melihat kepergian Gentala dari kantin. Punggung kokoh Gentala semakin lama semakin jauh.


***


Pulang sekolah kali ini Genathan tidak bisa mengantarnya karena ada keperluan terkait bentala. Resha memaklumi. Ia paham pasti Genathan semakin sibuk dengan bisnisnya. Sedangkan Delia ada ekstrakurikuler modern dance. Mereka memang berbeda ekskul. Resha lebih memilih english club.


Kak Gege : Lapor, pangeran sampai tempat tujuan dengan selamat. Apa tuan putri masih di sekolah?


Resha menutup mulut menahan tawanya. Benar-benar geli membaca pesan Genathan. Namun tanpa bisa ia tutupi kini jantungnya sudah berdebar membaca pesan dari Genathan.


Naresha : Syukurlah. Iya, masih di sekolah. Nunggu dijemput papa, nih.


Kak Gege : Sekolah masih ramai kan? Belum sepi? Kamu nunggunya nggak di luar sekolah kan?


Naresha : Iya di sekolah. Kakak fokus aja sama bentalanya. Semangat kak.


Kak Gege : Siap. Jangan keluar dari lingkup sekolah. Awas aja. Kalau setengah jam belum datang juga, chat gue ya.


Naresha : Kakak mau jemput kalau aku chat?


Kak Gege : Enggak, sih. Cuma mau nyemangatin aja wkwkwk.


Naresha : Dih ya udah.


Kak Gege : Bercanda sayang. Iya nanti aku jemput kalau papa kamu belum dateng juga.


Naresha : Oke siap komandan.


Kak Gege : Good girl. Oke, aku kerja cari modal buat kita nikah dulu ya.


Lalu pesan terakhir itu hanya Resha baca tanpa dibalas. Genathan benar-benar menggemaskan. Bahkan kini laki-laki tersebut sudah membahas pernikahan padahal SMA saja mereka belum lulus.


"Senyam-senyum sendiri. Hati-hati kesambet," ucap seseorang yang kini sudah berada di depan pintu kelasnya tersebut. Karena Resha memang menunggu di dalam kelas.

__ADS_1


Resha terperanjat kecil saat mendengar suara Gentala. Cowok itu berdiri santai di sampingnya dengan tubuh yang menghadapnya sepenuhnya.


"Loh Kak Tata?" ucap Resha dengan nada bingung.


"Genta. Jangan ikut-ikutan Gadis, ih," protesnya mengerucutkan bibir.


Resha terkikik dan mengangkat jari telunjuk beserta jari tengah tangan kanannya. "Lebih klop, Kak."


"Klop apanya? Malah kayak cewek," ucap Gentala tidak suka dengan panggilan dari Resha tersebut yang malah mengikuti adiknya.


"Iya-iya, damai. Pundungan, ih!" cibir Resha.


Gentala mengacak rambut Resha gemas, "Nggak kok, nggak pundung."


Resha berdecak, menjauhkan diri dari Gentala, "Jangan acak rambut, Kak Tataaa!"


Mendengar rajukan kesal dari Resha, Gentala malah terbahak, "Nggemesin banget sih."


Resha terdiam.  Entah kenapa merasa agak tidak nyaman seperti ini. Apalagi, masih banyak orang di sini. Tidak menutup kemungkinan ada mulut tidak bertanggung jawab yang menyebarkan ini.


"Kak Genta," panggil Resha.


"Ya? Tumben Genta? Nggak Tata?" tany Gentala menyipitkan matanya merasa bingung juga penasaran.


"Kak, aku mau serius," tegas Resha.


"Yaudah ayo kalo mau gue seriusin," kelakar Gentala yang membuat Resha berdecak mendengarnya.


Resha menggeram, "Nggak gitu Kak Genta."


Gentala terkekeh, "Iya-iya. Gimana Naresha?"


"Maaf, Kak sebelumnya. Bukan maksud apa-apa, aku nggak mau ada salah paham sama Kak Gege juga. Em ... kita bisa….” belum selesai Resha dengan ucapannya, Gentala malah lebih dulu menyela ucapannya.


"Nggak," potong Gentala bahkan belum sempat Resha menyelesaikan ucapannya.


"Lo memang pacar Gege sekarang, tapi jangan minta gue buat menjauh,” lanjut Gentala dengan begitu tegasnya.


Resha mengatupkan bibir mendengar nada tajam Gentala. Cowok itu ternyata tau apa yang ia pikirkan.


"Gue juga sadar diri, Res. Gue nggak mungkin rebut lo dari Gege. Gue menghargai persahabatan. Cukup buat gue nggak bisa singgah di hati lo, jangan buat gue untuk semakin jauh dari lo. Anggap aja lo nggak pernah tau fakta bahwa gue menyimpan rasa buat lo. Nggak usah terlalu dipusingkan, intinya gue sadar diri. Gue balik dulu, ya."


***


Mencintai orang yang di cintai sahabat.


Tapi Genta hebat bisa nerima keadaa.


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah


seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.


See you next chapter all.


Thanks for reading all.

__ADS_1


__ADS_2