
Bagaimanapun kehidupan berjalan nantinya, baik suka maupun duka, ada satu harapan yang selalu tersemogakan. Semoga kita sama-sama bisa bertahan dan saling menguatkan untuk satu sama lain.
***
Ujian kenaikan kelas kini sudah di depan mata. Besok Resha sudah harus menghadapi ujian akhir semester genap. Dan kini ia tengah bersama dengan Genathan, menemani laki-laki itu untuk meninjau bentala. Genathan memang begitu rajin meninjau bentala dan laki-laki itu juga sering mengajak Resha untuk ikut bersama dengannya.
“Setelah ini mau langsung pulang aja? Atau mau mampir dulu?” tanya Genathan saat mereka kini berjalan ke arah parkiran untuk menuju mobil mereka. Genggaman tangan Genathan tak pernah lepas dari tangan Resha, terlalu nyaman dengan genggaman tangan tersebut membuat Genathan enggan untuk melepaskannya.
“Langsung pulang aja deh kak. Mau istirahat, nanti malam harus tempur soalnya,” ucap Resha dengan cengirannya. Genathan hanya menggelengkan kepalanya sambil membukakan pintu mobil untuk Resha. Tangan Genathan menahan bagian atas dari pintu masuk mobil agar tidak membuat kepala Resha tidak sakit jika tidak sengaja terbentur.
Setelah menutup pintu mobil, Genathan mengitari mobilnya untuk masuk di bagian kemudi.
“Nanti malam kakak temenin kamu belajar ya,” ujar Genathan sambil memasang seat belt nya. Resha menoleh ke arah Genathan sambil menganggukkan kepalanya setuju. Mungkin jika belajarnya bersama Genathan ia bisa lebih semangat dan tidak malas-malasan seperti saat Resha belajar sendiri.
Genathan mulia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang masih ramai. Tangan laki-laki tersebut kini kembali menarik tangan Resha untuk ia genggam sedangkan satu tangan lainnya sibuk memegang kemudi mobil.
“Btw kakak emang gak sibuk?” tanya Resha karena biasanya Genathan sering mengerjakan tugas nya sebagai pemilik dari Bentala. Entah mencatat pembukuan atau membuat stiker, dan lain-lain untuk mengurus bentala.
“Nanti kakak sempetin buat nemenin kamu belajar. Sekalian kakak mengulang pelajaran juga kan,” ucap Genathan dengan senyumannya. Mendengar ucapan laki-laki itu Resha menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Kenapa belajar lagi kak? Kakak mau ikut SBMPTN?” tanya Resha dengan menaikkan sebelah alisnya yang dibalas dengan gidikan bahu oleh Genathan.
“Buat persiapan aja. Kakak gak mau lagi ngeremehin pendaftaran ini. Belajar dari kesalahan sebelumnya aja, kakak terlalu percaya diri kalau bakalan keterima. Nyatanya, gak lolos kan?” ucap Genathan yang masih saja tersirat kekecewaan di sana. Namun kini Genathan sudah mengikhlaskannya meskipun sulit namun perlahan ia mulai bangkit kembali.
“Iya juga sih. Terus kakak jadinya daftar di mana?” tanya Resha sambil menoleh ke arah Genathan yang kini fokus melihat ke arah jalanan di depannya.
“Universitas swasta yang ada di deket sini aja. Kakak udah daftar jalur raport sih, tapi buat persiapan tetep harus belajar jadi kalau gak lolos lagi kakak udah ada persiapan buat ikut jalur tes,” ucap Genathan yang Resha balas dengan anggukan.
“Kakak harus semangat ya, sesuai yang pernah Resha bilang. Resha bakalan nemenin kakak sampai kakak sukses. Dan sekarang ini kakak lagi ada di proses menuju sukses dan Resha akan nemenin kakak juga dukung kakak,” ucap Resha dengan senyuman lebarnya yang begitu candu bagi Genathan. Genathan juga ikut tersenyum sambil mengelus puncak kepala Resha sayang. Perjalanan mereka akhirnya dipenuhi dengan cerita juga tawa. Bagi Genathan, Resha adalah suport system terbaik, begitupun sebaliknya.
__ADS_1
*
Resha kini terlihat begitu serius menatap buku di depannya. Menandai bagian penting untuk ia pahami juga hafalkan. Bagi Resha yang terpenting dalam belajar adalah dipahami, bukan dihafalkan karena jika dihafalkan bisa saja ia lupa. Namun jika memang ada bagian yang memang harus di hafalkan Resha akan tetap menghafalkannya.
Ujian pertama besok bagi Resha cukup mudah, kecuali Biologi yang memang harus menghafalkan nama latin ataupun nama dari bagian tubuh lainnya.
“Tubuh memproduksi CO2 karena metabolisme respirasi sel dan nitrogen yang berasal dari hasil metabolisme protein.” Resha membaca dan memahami materi yang tengah dipelajarinya tersebut dengan begitu serius.
“Tumben belajar di ruang tamu, Res? Biasanya belajar di kamar.” Suara ibunya tersebut menyapa telinga Resha yang sontak membuat Resha menoleh ke arah sumber suara sambil menyengir ke arah ibunya.
“Lagi nunggu Kak Gege, Mah, katanya mau dateng dan belajar bareng,” jelas Resha yang membuat Andin mengerutkan keningnya lalu segera duduk di sofa samping anaknya tersebut. Resha kini tengah duduk di karpet berbulu yang berada di bawah sofa agar lebih nyaman dan dekat dengan meja.
“Oh, Gege mau persiapan buat SBMPTN, ya?” tanya Andin yang Resha balas dengan gelengan.
“Cuma buat persiapan aja, Ma, Kak Gege ambil swasta dan udah daftar jalur Raport. Katanya biar lebih santai dan bisa ngurus Bentala juga Ma,” ucap Resha menjelaskan yang Andin balas dengan anggukan.
Hingga tak lama suara ketukan pintu membuat mereka kompak menoleh ke arah sumber suara. Hingga senyuman Resha mengembang, ia begitu yakin jika yang datang adalah Genathan.
Andin segera berjalan menuju dapur sedangkan Resha kini berjalan ke arah pintu untuk membukakan tamunya itu pintu. Dan benar saja saat membuka pintu ternyata yang datang adalah Genathan.
“Ayo masuk, Kak,” ajak Resha yang sudah berjalan lebih dulu diikuti oleh Genathan di belakangnya.
Mereka segera duduk di ruang tamu dengan bersisian. Resha duduk di tempatnya semula.
“Udah persiapan ya, belajarnya disini?!” ucap Genathan dengan senyumannya yang membuat Resha menyengir mendengarnya karena memang itu sebuah fakta.
“Sekalian, Kak, biar gak ribet gotong-gotong lagi,” ucap Resha yang membuat Genathan terkekeh lalu mengelus puncak kepala Resha gemas.
“Mama sama Papa kamu mana?” tanya Genathan yang ingin menyapa kedua orang tua Resha.
__ADS_1
“Mama lagi buat minum. Papa udah istirahat. Lagi capek,” jawab Rehsa yang Genathan balas dengan anggukan.
“Ayo diminum dulu nak,” ucap Andin yang baru datang dan meletakkan minuman di depan Genathan juga Rehsa.
Melihat kehadiran Andin, Genathan segera menyalami tangan wanita tersebut. Sambil menyodorkan martabak yang dibawanya.
“Makasih ya, Ma,” ujar Resha yang Andin balas dengan anggukan.
“Wah ini untuk tante?” tanya Andin yang Genathan balas dengan anggukan.
“Iya, Tan. Ini untuk Resha sama Genathan udah ada,” ucap Genathan sambil menunjuk martabak yang berada di ata meja.
“Kalian belajar ya, mama ke dalam dulu,” pamit Andin yang dibalas dengan anggukan oleh sepasang kekasih tersebut.
“Yuk langsung belajar. Nanti kalau kamu ada yang bingung atau gak ngerti tanya aja ya,” ujar Genathan yang Resha balas dengan anggukan.
Akhirnya malam itu mereka habiskan dengan belajar bersama. Saat tak mengerti Resha akan bertanya pada Genathan. Di luar dugaan Resha, ternyata Genathan memang pintar. Namun karena ada nilai raport nya yang anjlok membuatnya akhirnya tak lolos SNMPTN mengingat syarat lolos adalah nilai yang harus terus naik dari semester ke semester dan tak boleh turun.
Tetapi tidak apa-apa. Bagi Resha, Genathan sudah lebih dari hebat. Di manapun Genathan nanti melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, Resha akan selalu mendukung dan menyemangati.
*
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
__ADS_1
Thank for Reading All