
Banyak orang bilang, waktu dan keadaan akan mendewasakan manusia. Waktu terus berjalan, tidak berhenti barang sedetik pun. Kita tidak bisa kembali ke 1 menit yang lalu. Oleh karena itu, nikmati setiap momen yang sekarang ini masih bisa dilalui.
*
Semakin kesini, rasanya waktu semakin cepat berlalu. Itulah yang dirasakan Naresha. Rasanya baru kemarin Resha memberanikan diri mengajak Genathan foto bersama ketika dirinya masih di bangku SMP. Rasanya baru kemarin Resha membeli sepatu di Bentala—toko sepatu Genathan—yang langsung diantarkan oleh Genathan ketika COD. Rasanya baru kemarin Resha dibonceng Genathan untuk menonton pertandingan futsal. Rasanya baru kemarin Resha menonton Cakrawala Cup dengan Genathan meskipun tidak utuh sampai selesai. Rasanya, kemarin-kemarin Resha masih bisa melihat Genathan dan Gentala riwa-riwi di sekolah. Namun, sekarang sudah tidak ada Genathan di SMA Cakrawala.
Sudah tidak ada yang rajin menempeli pintu sekolah dengan stiker Bentala.
Sudah tidak ada pula Gentala yang sering bermasalah dengan guru BK. Sudah tidak ada Genathan dan Gentala di tengah anak-anak ultras. Angkatan ultras Genathan, sudah tidak lagi mengisi sekolah ini. Genathan sudah menjadi alumni.
Resha menghembuskan napas pelan. Biasanya ketika jam istirahat, Genathan akan menghampiri kelasnya dan mengajak ke kantin bersama. Namun, kali ini tidak akan ada lagi. Genathan justru di rumah, bahkan mungkin sedang mempersiapkan diri untuk OSPEK di kampusnya yang sekarang. Resha pergi ke kantin bersama Delia dan Lidia.
"Kak Gege masuk kuliahnya kapan, Res?" tanya Delia.
"Besok senin. Katanya dia masih pra-ospek gitu," jawab Resha.
"Kak Gege masuk univ mana jadinya?" Lidia ikut dalam percakapan.
"Universitas Nawasena yang deket sini."
"Lah? Deket juga ya. Gue kira bakal jadi anak rantau," celetuk Delia.
Universitas Nawasena memang tidak jauh dari SMA Cakrawala. Selisih sekitar 15-20 menitan saja jika dari SMA Cakrawala. Genathan tidak jadi lanjut sampai SBMPTN. Cowok itu mendaftar di swasta dengan nilai rapor dan akhirnya diterima. Kebetulan, disana juga ada Gentala walaupun berbeda program studi.
"Kak Gege mau sambilan ngurusin Bentala. Terus Kak Ayu kan udah di luar kota ya, jadinya dia nggak tega kalau ikutan ke luar kota juga. Jadi ya di sini-sini aja," jelas Resha.
"Dia nggak lanjut daftar UTBK, ya?" Delia masih penasaran.
Resha menggeleng. "Nggak, katanya udah di swasta aja. Lumayan juga dia dapet potongan uang gedung 50% karena nilai rapornya bagus."
Delia mengangguk-angguk paham. "Enak dong, lo nggak usah LDR. Mana deket banget, tinggal nyamper aja ke kampusnya kalau kangen."
Resha tertawa. "Ide bagus."
"Eh, di swasta ospeknya ribet nggak? Kak Gege udah nyiapin ospek gitu belum, sih?" tanya Lidia.
"Pra-ospeknya sih online, ya. Katanya udah ada penugasan buat OSPEK kayak bikin name tag gitu. Nanti dia minta temenin bikin name tag sama cari beberapa snack yang disuruh bawa," jawab Resha.
"Duh, seru ya nemenin pacar nyiapin OSPEK. Ntar review dong, Res, gimana rasanya nemenin pacar siap-siap OSPEK," gurau Lidia.
"Iya weh. Apa gue cari pacar kakak-kakak yang baru lulus SMA dan mau OSPEK ya biar bisa ngerasain juga?" sambung Delia ngawur.
Ucapan Delia itu disambut tawa dari Lidia dan Resha.
"Lo yang bener aja dah. Itu Arik mau dikemanain?" sahut Lidia.
Resha tertawa saja melihatnya.
Kemarin, Genathan memang sudah menceritakan terkait penugasan OSPEK. Genathan juga meminta Resha untuk menemaninya membuat name tag serta mencari jajanan dengan clue sedemikian rupa. Tentu saja Resha mengiyakan dengan antusias.
Sekarang, Resha jadi tidak sabar ingin buru-buru pulang sekolah dan bertemu Genathan.
*
__ADS_1
"Biskuit lebih baik itu yang ini, Kak." Resha menunjuk salah satu merk biskuit berbentuk lingkaran dengan bungkus berwarna merah dan kuning. Dengan sigap Genathan mengambil biskuit itu dan memasukkannya ke keranjang.
"Air manis itu ...." Resha menjeda ucapannya dan memajukan langkahnya hingga sampai barisan minuman. "Ini," ucapnya sambil menunjuk salah satu merk minuman. Masih sama sigapnya seperti tadi, Genathan mengambil minuman itu. Kali ini 4 botol.
"Banyak banget, Kak, ngambilnya?" heran Resha ketika melihat 4 botol yang dimasukkan ke keranjang oleh Genathan.
"Satu buat dibawa besok, satu buat diminum nanti malam, terus duanya buat kita. Apa kamu mau ganti minuman buat kita?" Genathan bertanya balik.
"Eh nggak usah. Itu aja nggak papa. Makasih, ya, Kak."
"Nanti kalau mau minta jajan lain bilang, ya. Anggap aja ucapan terima kasih karena udah nemenin Kakak hari ini," ujar Genathan dan mendapat anggukan dari Resha.
Selanjutnya, Resha dan Genathan melanjutkan kegiatan mencari barang untuk OSPEK dan membeli snack di luar snack OSPEK. Genathan juga sempat membelikan Resha coklat dan permen.
Setelah kegiatan belanja itu selesai, mereka pulang ke rumah Genathan. Resha akan menemani cowoknya itu untuk membuat nametag.
"Kak, nametagnya tuh ada templatenya atau buat manual?" tanya Resha ketika duduk di sofa ruang tamu Genathan.
"Yang ospek universitas ada templatenya, tapi yang ospek fakultas tuh bikin sendiri," jawab Genathan.
"Yang ada templatenya udah?" tanya Resha lagi.
"Udah, tinggal masang tali. Sebentar, ya, Kakak ambil dulu." Setelahnya, Genathan menghilang dari pandangan Resha untuk mengambil peralatan membuat name tag.
"Halo, Resha. Ini minum sama cemilan buat kamu. Dimakan, ya." Seorang perempuan paruh baya dengan setelan biru muda menyapa Resha seraya membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.
Resha tersenyum. Itu ibu Ayu yang juga merupakan ibu tiri Genathan. "Wah, makasih, ya, Tante. Jadi ngerepotin nih sampai dibawain cemilan."
Citra ibu Ayu dan Genathan—mengusap bahu Resha. "Nggak ngerepotin dong. Malah Tante terima kasih banget sama kamu udah mau nemenin Gege bikin name tag. Dari semalem dia ngomel mulu tau gara-gara tugas OSPEK."
Citra mengangguk. "Iya, dia ngomel kenapa kok nametagnya nggak satu aja. Kenapa dua-duaan. Terus juga bikin mind mapping gitu kayaknya. Dia bikin sambil ngomel-ngomel," jelas Citra sambil tertawa.
Resha tertawa. "Duh, dasar Kak Gege."
Tidak lama kemudian, Genathan datang dengan tangannya yang sudah membawa tote bag. Tote Bag itu berisikan kertas-kertas serta tali berwarna biru tua.
"Nah, ini anaknya udah dateng. Ya udah, Tante ke atas dulu ya." Citra berpamitan.
Tak lupa Citra juga memperingatkan Genathan untuk tidak ngomel-ngomel. Malu dong, kan ada Resha pacarnya.
"Kenapa ngerjain sambil ngomel-ngomel, sih, Kak?" goda Resha seraya turun dari kursi sofa untuk duduk lesehan di karpet bulu.
Genathan mendudukkan dirinya di hadapan Resha. Kini posisi mereka berhadapan dengan meja di tengah-tengah.
"Ah, mama nih ngadu pasti," decak Genathan.
Resha tertawa, dan hal itu membuat Genathan justru kesal.
"Udah ah, kamu jangan ikutan ngejek Kakak, ya," kesal Genathan.
"Iya-iya, sini aku bantu."
Akhirnya Resha turut membantu Genathan membuat name tag selagi cowok itu melanjutkan tugas mind mapping-nya. Nametag untuk OSPEK universitas tidak membutuhkan waktu lama karena Resha hanya tinggal memasangkan tali saja.
__ADS_1
Untuk OSPEK fakultas, Resha tinggal menggunting saja karena ternyata Genathan sudah menyelesaikan gambar polanya.
"Itu mind mapping soal apa, sih, Kak?" celetuk Resha ingin tahu.
"Rencana hidup, Res. Sebenarnya gampang kalau digital. Tapi ini tugasnya diminta manual," balas Genathan.
Resha mengangguk-angguk saja. Dapat Resha dengar beberapa kali Genathan mengomel entah karena salah tulis ataupun tidak sengaja kecoret di gambarannya. Tentu saja Resha geli mendengar omelan Genathan. Pacarnya itu kalau mengomel lucu juga.
Akhirnya, Resha menyelesaikan name tag Genathan. Foto Genathan juga sudah ia tempelkan di name tag itu. Tinggal dilaminating dan dipasang tali saja.
"Kak, ini nanti laminating dulu ya. Habis itu tinggal dipasang tali aja. Foto Kakak yang ganteng ini udah aku tempelin," ucap Resha.
"Oke, makasih, ya. Kakak emang ganteng kok."
Resha mencibir walaupun dalam hatinya mengiyakan. Selanjutnya, gadis itu memberikan fokusnya pada mind mapping yang sedang digambar Genathan. Di setiap tahun yang tertulis di situ, ada rancangan apa yang mau dilakukan Genathan dan harapan-harapannya.
"Emang boleh ya, Kak, nikah dicantumkan juga disitu?" tanya Resha iseng.
"Boleh dong. Kan dimintanya rancangan hidup 10 tahun ke depan. Jadi ya udah, masukin aja sekalian," jawab Genathan.
"Nikah sama siapa itu kok nggak ditulis sekalian?" tanya Resha lagi.
"Ini kamu ngode ya?" Genathan memicingkan matanya.
"Dih, apaan nggak," balas Resha cepat.
"Loh kok salting?" Genathan makin gencar menggoda Resha.
"Apaan, sih, Kak? Udah buruan lanjutin aja."
Genathan tertawa. "Iya deh."
Kemudian, Resha mendelik begitu melihat namanya ditulis di sana.
"Kak kok nama aku ditulis, sih?!" omel Resha.
"Loh ya nggak apa-apa dong? Kan ini rencana hidup aku. Aku maunya nikahnya sama kamu," jawab Genathan santai.
"Nanti kalau dimarahin sama kakak panitianya gimana? Terus kalau kakak diejekin gimana?" Malah Resha yang panik.
"Nggak bakal dimarahin. Aneh aja masa ada orang yang marah karena rencana hidup yang mau aku jalani sendiri? Kalau diejekin, udahlah bodoamat. Sekali-kali satu dunia harus tau kalau seorang Genathan bisa bucin," balas Genathan.
Resha menghembuskan nafas pelan.
Sudahlah, menghadapi Genathan yang sedang keras kepala tidak ada gunanya. Suka-suka Genathan saja. Resha hanya berdoa, semoga nanti Genathan sanggup menghadapi ejekan teman-temannya. Apalagi ... mind mapping itu diposting di sosial media.
***
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
__ADS_1
See you next chapter all.
Thank for Reading All