
Baik atau buruk insiden yang sedang dilalui. Percayalah, akan ada suatu hal yang dapat disyukuri.
***
Resha menatap sapu tangan biru yang dibawanya dengan penuh rasa bimbang. Ia sudah memutuskan untuk menemui Genathan lagi hari ini sehabis maghrib. Gadis cantik itu bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Ayu beri kemarin. Mungkin ini saatnya untuk mencoba singgah di hati Genathan. Pelan-pelan berusaha untuk menyelipkan namanya dalam diri cowok itu.
Ia tinggal mengetuk pintu dan masuk menemui Genathan di dalam ruangan. Namun, langkahnya tertahan. Ada beberapa anak inti ultras di sana, Resha masih takut. Ia takut mengganggu waktu Genathan bersama teman-temannya. Namun, ia sudah jauh-jauh sampai ke sini. Apa iya balik kanan bubar jalan ke rumah lagi?
"Masuk enggak, ya?" gumamnya dengan tangan yang menggantung di udara. Masih ragu untuk meraih knop pintu atau tidak.
"Tapi ini bawa sapu tangan Kak Gege tuh nggak baik buat jantung gue. Deg-degan pas lihatnya auto inget Kak Gege," lanjutnya bergumam.
Resha menghembuskan napas kasar seraya tangannya kembali menggantung di samping tubuh. Tidak jadi meraih knop pintu ruangan Genathan. "Di kantin dulu kali, ya. Sekalian nunggu temen-temen Kak Gege pulang." Resha mengangguk yakin dengan pikirannya.
Begitu berbalik, Resha tercekat melihat pemuda di hadapannya tengah menatapnya bingung.
"K-kak—"
"Naresha kan, ya?" potong pemuda itu.
Resha mengangguk kaku. "I-iya. Eung ... Kak, a-aku duluan ya." Resha hampir saja kabur dari sana, tapi tangan pemuda itu justru mencekal menahan langkahnya.
"Eh mau kemana? Nggak mau masuk nengokin Gege?" tanya cowok itu.
"Nanti aja deh, Kak. Nunggu temen-temen Kak Gege pulang. Takutnya ganggu,” kilah Resha.
"Lah lo juga temennya Gege, 'kan? Lo siapanya Gege? Ah sorry, gue nyerocos tapi lo lupa nama gue kayaknya? Gue Hasta."
Betul. Resha lupa nama teman Genathan di depannya ini. "Kak Hasta masuk dulu aja—"
Ucapannya terpotong karena Hasta segera menarik tangannya dan meraih knop pintu. Membuka pintu lalu masuk dengan Resha di belakangnya. Resha mendelik terkejut. Debaran jantungnya semakin tak terkendali saat beberapa anak inti ultras cakrawala yang ada di saja menatapnya penuh tanda tanya.
"Lo bawa anak siapa woi?" celetuk salah satu anak dengan tahi lalat kecil di bawah mata kanannya—Enggar.
"Loh ini kan yang sama Gege kemarin? Lo jangan nikung temen gitu dong, Has!" sela cowok lain dengan baju ultras yang dipakai. Namanya Dito.
Hasta berdecak, melepaskan tangan Resha lalu mendekat bergabung pada mereka. Ia mencomot pocky yang dibawa Mbul dan memakannya. "Tadi dia mau masuk, tapi takut sama kalian."
"Lah? Kenapa takut?" tanya cowok yang wajahnya mirip dengan Enggar, namanya Rengga.
"Sini, Res." Akhirnya Genathan ikut angkat bicara dengan nada riang.
Teman-teman Genathan kompak mengangguk paham dengan sedikit menyoraki. Untungnya kamar Genathan ini VIP. Jadi hanya dirinya yang ada di sana. Tidak perlu ada yang terganggu karena keramaian teman-temannya.
Resha masih membatu di tempatnya. Bingung harus melangkah kesana atau diam di sini. Atau Resha putar balik saja? Baru saja hendak melangkah, suara knop pintu yang terbuka membuat mereka mengalihkan perhatian ke pintu itu. Sosok pemuda berkaos hitam polos dengan seorang gadis di belakangnya.
Resha berbinar cerah melihatnya.
"Kak Resha!" panggil gadis itu segera menghampiri Resha.
Senyum riang terbit dari bibir Resha. "Hai, Gadis! Kita ketemu lagi, nih."
__ADS_1
"Untung aku ikut Kak Tata. Eh, kok Kakak ada di sini? Kakak kenal Bang Gege?" tanya Gadis beruntun.
"Heh tunggu-tunggu!" Suara Hasta kembali menyita fokus semua orang. Hasta maju berada di tengah antara brankar Genathan dan tempat Resha berdiri.
Tidak lama, Gentala mendekat dan berdiri di samping Gadis.
"Ini gue yang nolep apa gimana, sih? Ini gimana ceritanya masa cuma gegara tebengan pas berangkat ultras, Gege sama degem ini jadi deket. Terus Genta? Adiknya Genta?" Hasta malah bingung sendiri. Cowok itu mengacak rambutnya gemas.
"Gue yang seangkatan sama dia aja kagak kenal, Bang," celetuk Mbul.
Hasta mendesis, membalikkan tubuhnya menatap Genathan yang tengah duduk dengan tangannya yang diperban. Genathan mengangkat kedua alis saat melihat tatapan Hasta.
"Lo tuh dari kemarin di sini, tapi kenapa baru nanya sekarang, sih?" tanya Genathan dengan suaranya yang serak.
"Gue mau introgasi lo kemarin, tapi nggak tega! Coba jelasin, kalian berdua tuh sama-sama sahabat gue. Kok bisa-bisanya gue kagak tau apa-apa." Hasta gantian menatap Gentala yang memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Kak Tata, tolong dijelaskan ya," tuturnya dengan meniru Gadis saat memanggil Gentala.
Gentala menghembuskan napas pelan. "Kepo, ih. Gue kenal Resha gegara dia nolongin adik gue pas kekurangan duit di minimarket. Kalo ke Gege, gak tau dah."
"Ge?" tanya Hasna menuntut penjelasan.
"Tangan gue lagi sakit, males ngomong. Udah, ah. Kalian semua ke kantin sana. Gantian jenguknya," usirnya pada teman-temannya yang segera mendapat sorakan.
Meski diiringi sorakan dan sedikit umpatan, tak urung semuanya keluar dari ruangan. Katanya, mau ke kantin minta traktiran Hasta.
Kini hanya tersisa Resha, Genathan, Gentala juga Gadis.
"Dah sepi, sini." Genathan melambai dengan satu tangannya yang bebas.
"Halo, Dek. Kangen Abang, ya?" tanyanya ramah dan manis yang langsung saja diangguki oleh Gadis.
"Bang Ge, kok bisa sampai kayak gini?" tanya Gadis.
"Bucin tuh makanya kayak gitu. Nanti kalau udah besar kamu jangan bucin, Dek," sahut Gentala.
Resha hanya diam memandangi ketiganya yang terlibat percakapan. Ia bimbang antara tetap bungkam atau imut menimpali obrolan?
"Kak Resha kenal Bang Gege?" Gadis mengulangi pertanyaan yang sebelumnya.
"Iya, Bang Ge kenal sama Kak Resha." Suara Genathan yang justru menyela dan menjawab pertanyaan Gadis.
"Dis, ke kantin sama Hasta, yuk. Ditraktir Hasta tuh," celetuk Gentala. Gadis memang sudah kenal dengan Hasta dan beberapa anak inti ultras yang lain. Tetapi dari sekian teman-teman kakaknya, Gadis paling suka dengan Genathan. Genathan tipe orang yang tenang, tidak berisik seperti kakaknya. Genathan juga tidak menyebalkan.
Andai bisa, Gadis ingin tukar tambah Gentala dengan Genathan.
"Tapi—"
"Dek, si Gege lagi mau PDKT. Jangan diganggu. Ayo," ucap Gentala dengan melingkarkan tangan di leher adiknya, lalu membawanya pergi.
Resha terkekeh melihat pemandangan kakak beradik itu.
"Tadi kenapa nggak langsung masuk?" tanya Genathan begitu ruangan hanya tersisa mereka.
__ADS_1
Resha mengerjap. "Ta-tadi ramai. Takut ganggu."
Genathan terkekeh. Suaranya masih terdengar serak. "Nggak papa, biar tadi dikenalin sekalian. Jadi mereka nggak ngepoin gue mulu."
"Malu, Kak," cicit Resha menunduk.
Genathan tersenyum. Entah kenapa merasa gemas dengan adik kelas di hadapannya ini.
"Kak Ge, aku mau kembaliin ini." Resha menyerahkan sapu tangan biru yang tempo hari Genathan pinjamkan karena cowok itu tidak sengaja menabraknya, dan membuat lengan Resha basah karena cipratan minumannya.
"Kenapa nggak disimpan aja?" Gege malah bertanya tanpa menerima sapu tangan itu.
"Kan punya Kakak."
Masih tersenyum, Genathan meraih sapu tangan itu dengan tangannya yang tidak diperban.
"Kakak udah mendingan?" Resha menanyakan keadaan Genathan.
Cowok itu mengangguk. "Iya, udah mendingan walau sakitnya masih kerasa. Tapi semenjak kecelakaan, apa cuma gue yang ngerasa kita makin deket?"
Resha menahan diri tidak berteriak.
"Lo nemenin gue, nyuapin gue kemarin, sekarang jenguk gue. Padahal sebelumnya, gue nggak tau lo. Makasih, ya," tuturnya dengan senyum tulus membuat lutut Resha terasa lemas.
"Kembali kasih, Kak."
"Gue nggak nyesel kecelakaan kalau akhirnya bisa dekat sama orang setulus lo, Naresha."
Resha mengatupkan bibir rapat. Detak jantungnya berpacu cepat. Ucapan Genathan benar-benar berhasil membawanya terbang tinggi. Resha berdehem sejenak sekaligus menetralkan debaran jantungnya. "Udah, Kakak jangan ngomong aneh-aneh deh. Sekarang Kakak pokoknya harus cepet sembuh, ya."
Seulas senyum terbit di bibir Genathan. "Iya, pasti cepet sembuh kok ini. Nanti kalau udah sembuh, jalan-jalan ya."
Semoga saja, kali ini Resha tidak jatuh lagi.
Asanya sudah merekah, semoga saja berbuah cerah.
***
Semangat terus ya Resha jangan hancurin kesempatannya.
Kudu cepet official nih mereka.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
Thanks for reading all.
__ADS_1