
Kini aku percaya, bahwa semua ada waktunya. Begitu juga, waktu untuk kita.
******
Senyuman Resha tak pernah luntur dari wajahnya. Resha terus memandangi sepatu barunya yang kemarin diantar langsung oleh Genathan.
"Woi, senyum mulu awas kesambet lo!" Suara dari belakangnya membuat Resha membalikkan badan menghadap gadis yang kini tengah tersenyum kepadanya.
"Delia!" teriak Resha saat melihat sahabatnya yang sudah empat hari ini tidak ia temui.
"Gila, gue kangen banget tau sama lo," cetus Resha dengan semangatnya.
Mereka saling berpelukan di tengah koridor membuat banyak mata memandang mereka dengan heran. "Lo betah banget, sih Del di rumah nenek lo," rajuk Resha merengut kesal sambil melepaskan pelukan mereka.
"Ya sorry, lagian acaranya baru kelar Res," balas Delia sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya udah, ke kelas yuk!" ajak Resha yang mendapat anggukan dari Delia setelahnya mereka berjalan bersama menuju kelas mereka.
"Eh tunggu, lo sepatu baru, ya? Cie, tumbenan lo mau ganti sepatu?" tanya Delia dengan seringainya menggoda Resha yang seketika blushing. Apalagi, Resha jadi mengingat kejadian dengan Genathan yang dua hari lalu mengantarkan sepatunya.
"Lo kenapa jadi blushing gitu dah?" tanya Delia mengerutkan keningnya bingung melihat Resha yang blushing. Bukannya menjawab kini Resha malah melanjutkan jalannya dengan Delia yang mengikutinya dan merangkul pundak sahabatnya tersebut.
“Resha,” panggil Delia lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu.
"Eh engga, gak papa kok. Lagian gue ganti sepatu juga gegara sepatu gue mangap mulu," gerutu Resha yang mendapat anggukan dari Delia.
"Hari ini gak ada tugas 'kan, ya?" tanya Delia setelah mereka sampai di kelas mereka.
"Kagak, udah tenang aja duduk yang manis," jawab Resha dengan kekehannya. Kini mereka sudah duduk di meja mereka yang memang bersebelahan, mereka memang sudah seperti kembar beda orang tua yang sulit dipisahkan.
"Gimana hari lo tanpa gue?" tanya Delia menaik-turunkan alisnya.
"Sepi banget, ih! Semenjak gak ada lo, gue cuma sama Lidia," terang Resha menghembuskan napasnya kasar.
"Lah tumbenan si Lidia," heran Delia. Pasalnya yang ia tahu, ketua kelasnya itu sangat jarang memiliki teman. Apalagi, banyak teman sekelas yang tidak menyukainya. Tak hanya itu Lidia juga cenderung menarik diri dari teman sekelas mereka, yang membuat mereka pun sungkan untuk mendekati gadis itu.
"Kasian tau dia tuh gak ada temen," jelas Resha yang mendapat anggukan dari Delia. Setelahnya, pembicaraan mereka terus mengalir tanpa terasa bel masuk berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai.
Tak beberapa lama setelah bel berbunyi, seorang guru laki-laki masuk ke kelas Resha dan memulai pembelajaran. Pikiran Resha melayang pada kejadian hari sabtu saat Genathan mengantarkan paket untuknya. Tanpa sadar Resha tersenyum membuat Delia mengerutkan keningnya.
"Lo kenapa dah? Aneh banget mulai tadi," bingung Delia yang hanya mendapat gelengan dari Resha. Setelahnya mereka mulai memperhatikan pelajaran dengan saksama sampai tak terasa bel istirahat sudah berbunyi.
__ADS_1
"Lidia ikut ke kantin gak?" tanya Resha pada Lidia yang kini masih berkutat dengan buku catatannya.
"Ayo, udah laper nih," jawab Lidia dan segera beranjak dari kursinya menuju Resha dan Delia yang menunggunya di depan pintu kelas.
Mereka berjalan beriringan menuju kantin. Namun, saat di koridor pandangan Resha tak sengaja bertabrakan dengan pandangan Genathan yang berjalan berlawanan arah bersama Gentala di sampingnya.
"Nah gitu dong sepatunya udah gak mangap lagi," lontar Gentala saat sudah berada di hadapan Resha dan kedua temannya.
"Hehe iya, Kak. Makasih, ya rekomendasinya. Oh iya, sandal Kakak ada di tas, nanti aku kembaliin, Kak," ucap Resha sambil tersenyum yang mendapat anggukan dari Gentala.
"Wah sepatunya udah dipakai. Gimana? Nyaman gak?" tanya Genathan yang ikut nimbrung dengan pembicaraan mereka.
"Eh iya, Kak. Nyaman kok," kikuk Resha sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Syukur deh. Oh, jadi Gentala yang rekomendasiin?" tanya Genathan yang tadi mendengar bahwa Gentala yang merekomendasikan.
"Iya gue, baik kan gue," kelakar Gentala membanggakan dirinya sendiri yang mendapat kikikan dari Resha dan kedua temannya, sedangkan Genathan memutar malas matanya.
"Banyak gaya lo. Ayo lanjut jalan lagi, kasihan anak-anak pada nungguin," ucap Genathan yang mendapat anggukan dari Gentala.
"Duluan ya Res," pamit Gentala dan segera pergi bersama Genathan yang tak lupa tersenyum pada Resha sebelum meninggalkan Resha.
"Tau ah, gue duluan." Resha salah tingkah dan langsung saja pergi meninggalkan Delia dan Lidia yang masih menertawakannya.
Setelah sampai di kantin, mereka membagi tugas. Resha yang mencari tempat, Delia memesan makanan, dan Lidia yang memesan minuman untuk mereka. Tak beberapa lama setelah pesanan mereka datang, mereka langsung melahap makanan mereka dengan semangat sesekali mereka saling bercanda dan bertukar cerita.
"Eh Res, lo pesen sepatu di toko Bentala, ya?" tanya Lidia penasaran yang justru membuat Resha blushing.
"Lah nih bocah ditanya malah blushing," gerutu Delia yang masih memakan makanannya.
"Iya pesen di sana, Kak Gege sendiri yang nganter ke rumah gue dong," ungkap Resha kelewat senang saat menceritakan tentang kejadian menyenangkan sekaligus memalukan yang menimpa dirinya.
***
Bel pulang sekolah sudah berbunyi 20 menit yang lalu dan Resha masih setia berada di kelas untuk mencatat materi yang belum sempat ia tulis. Sekaligus mengerjakan tugas dari guru sejarahnya, yang harus dikumpulkan sepulang sekolah. Tadi, Resha tidak sempat mengerjakan tugasnya karena ia dipanggil oleh wali kelas.
"Akhirnya kelar juga," monolognya setelah menyelesaikan tugasnya. Resha meregangkan ototnya. Setelahnya, ia langsung berjalan keluar kelas menuju ruang guru yang letaknya tidak terlalu jauh dari kelasnya.
Saat melewati lapangan, mata Resha tak sengaja menangkap sosok laki-laki yang disukainya, Genathan. Laki-laki itu tengah serius melatih basket. Sesekali, bermain mencontohkan pada adik kelasnya. Senyuman Resha terbit melihat Genathan yang terlihat sangat menawan dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Apalagi, laki-laki itu hanya menggunakan kaos polos berwarna putih yang mencetak bentuk tubuh atletisnya.
"Resha lo apaan, sih? Ya ampun buruan ngumpul tugas terus pulang," serunya pada dirinya sendiri dan segera menuju ruang guru.
__ADS_1
Setelah selesai mengumpulkan tugasnya, dengan segera Resha menuju gerbang sekolah dan menunggu angkutan umum yang akan ia tumpangi. Sudah lima belas menit Resha menunggu, namun tak ada satupun angkutan umum yang lewat. Resha merengut kesal. Hendak memesan ojek online atau meminta jemput, baterai ponsel Resha malah habis. Kesialannya sungguh menumpuk hari ini.
Suara deru motor yang berhenti di samping Resha membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya dari sepatu yang terus dipandangnya, pada laki-laki yang masih bertengger di motor sport-nya dan menggunakan helm full face.
"Belum pulang?" tanya laki-laki tersebut yang membuat Resha mengerutkan kening. Lasalnya Resha merasa tak mengenal laki-laki tersebut. Toh, suaranya juga tidak jelas.
Laki-laki itu segera membuka helmnya, mengerti ekspresi bingung Resha.
Resha yang sebelumnya bingung, jadi mendelik kaget. "Eh Kak Gege, ehm... belum kak lagi nunggu ... angkutan," gugup Resha yang sebenarnya salah tingkah.
"Jam segini mah jarang ada angkutan yang lewat, kalau ada juga pasti penuh. Gue anter aja yuk," tawar Genathan yang malah membuat detak jantung Resha berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Eh, gak usah kak, nanti ngerepotin," tolak Resha yang sebenarnya hanya penolakan di mulut saja. karena hatinya sudah menyorakkan kata 'mau.'
"Santai aja kali, udah sore juga mending lo sama gue," desak Genathan yang akhirnya membuat Resha mengangguk.
"Sini gue bantu," ucap Genathan sambil mengulurkan tangannya agar Resha menjadikannya sebagai pegangan.
"Makasih Kak," tutur Resha yang pipinya sudah seperti kepiting rebus.
"Pegangan, gue bukan tukang ojek," seru Genathan sambil terkikik geli. Namun, tak urung Resha mengikuti ucapan Genathan dan berpegangan pada pundak laki-laki itu.
Setelahnya, Genathan langsung melajukan motornya. Membelah padatnya ibu kota dengan Resha di jok belakang yang sudah mati kutu dengan perasaan yang hendak meledak. Hari ini akan menjadi sejarah baru untuk Resha. Karena akhirnya, ia bisa pulang bersama laki-laki yang sudah lama ia sukai.
Untuk kali ini, Resha bersyukur. Semesta sedang memihaknya.
***
Devinisi cinta ya, dari suara aja bisa hapal gitu.
Btw kalau aku jadi Resha kayaknya mending menenggelamkan diri aja, malu sendiri sama penampilan pas ketemu doi.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
Thanks for reading all.
__ADS_1