
Hari yang digadang-gadang akan berlalu dengan bahagia, nyatanya menjadi awal terbukanya gerbang lara. Lagi-lagi, harapku kalah oleh tamparan realita.
***
Beberapa hari terakhir, Genathan lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-teman ultras. Cakrawala Cup sudah di depan mata. Resha sendiri tidak ambil pusing. Ia paham kesibukan Genathan. Apalagi mengingat ini menjadi tahun terakhirnya sebelum mengubah status menjadi alumni, cowok itu pasti ingin ikut berpartisipasi memeriahkan event sekolah.
Tentang Resha yang melihat Genathan justru jalan dengan Ayu sampai membatalkan janji, gadis itu memilih diam dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Mungkin saja, pacarnya memang butuh waktu untuk main dengan sahabatnya setelah lama tidak berjumpa. Pun dengan bersikap seolah tidak tahu apa-apa inilah yang membuat hubungan keduanya masih tampak baik-baik saja.
Jika diamnya akan selalu membuat semuanya baik-baik saja, Resha menerima.
"Habis ini cek sound, ya. Kalian semua jangan cabut." Lidia memeringati teman-teman sekelasnya. Setiap kelas memang punya satu perwakilan yang bergabung dalam grup untuk menyampaikan info seputar ultras.
Cek sound di sini adalah mereka berkumpul dan menyanyikan lagu-lagu untuk malam puncak dan mempersembahkan mahakarya Cakrawala Cup besok. Sekalian untuk mengiringi proses menyuguhkan koreo tiga dimensi yang dibuat oleh anak-anak ultras beberapa hari terakhir.
"Tiket kapan dibagi, Lid?" tanya salah satu teman sekelas Resha.
"Katanya bentar lagi anak ul—"
"Pararunten adik-adik, Kak Hasta mau bagi tiket Cakrawala Cup, nih, karena kelas ini udah bayar lunas!" Teriakan Hasta memotong perkataan Lidia. Dengan santainya cowok itu masuk bersama Gentala. Lidia yang posisinya sedang berdiri di depan kelas akhirnya mengangguk. Lalu si ketua kelas itu kembali ke tempat duduknya. Membiarkan kakak kelasnya ini yang membagikan tiket.
Resha agak mengerutkan kening karena tidak menemukan Genathan di antara keduanya.
"Habis dapet tiket, simpen baik-baik, ya. Jangan hilang, cukup doi yang hilang, tiketnya jangan," peringat Gentala dengan kekehan membuat para gadis sontak tersenyum. Suara Gentala ketika tertawa terdengar menenangkan di telinga.
"Kak Genta ketawanya sopan banget, sih. Masuk telinga gue pakai permisi dulu, nih," celetuk salah satu siswi. Namanya Dhea, memang terkenal blak-blakan.
Lagi-lagi Gentala tertawa. "Boleh masuk hati kamu kapan, Dek?"
Seisi kelas langsung heboh sedangkan Dhea malah cengar-cengir. Resha ikut tertawa mendengarnya.
"GAS AJA, TA, BELUM ADA YANG PUNYA!" kelakar Hasta meramaikan suasana.
"Iya, Bang, daripada kena fitnah ngerebut pacar sahabat sendiri, mending sama Dhea aja. Pawangin gih," celetuk Ilyas, cowok yang sering debat dengan Dhea.
Gentala hanya menanggapi dengan tawa dan kembali membagikan tiket, hingga sampai di meja Resha. "Kali ini, lo udah nggak bingung cari tebengan."
Resha tersenyum manis, mengambil tiket yang disodorkan Gentala. "Makasih, Kak Tata."
Gentala mendesis. Percuma juga ia protes, Resha akan selalu memanggilnya 'Tata' seperti Gadis. "Gege lagi clear area kelas 12, makanya nggak ikut ke sini."
Resha mengangguk paham. Usai membagikan tiket, Hasta dan Gentala mengajak semuanya untuk turun ke bawah. Mereka mengangguk patuh. Lapangan ternyata sudah ramai. Banyak orang yang turut berkumpul. Beberapa ada yang berganti dengan baju ultras, padahal besok dipakai lagi.
__ADS_1
Tiga anak ultras naik di podium luas menyerupai panggung yang ada di sekolah. Sedangkan sisanya menyebar dan kebanyakan di tempat. Sorak-sorak mulai ramai. Apalagi, saat Hasta ikut naik di atas panggung dan memulai semuanya. Mereka berteriak mengikuti alunan lagu yang semakin membara seiring dengan iringan drum yang didapat dari hasil patungan satu sekolah.
Resha yang dasarnya kalem, memilih di bagian agak belakang. Tidak terlalu histeris seperti lainnya. Ia bingung saat gerakan yang dicontohkan Hasta adalah saling merangkul. Masalahnya, orang di sebelahnya itu laki-laki. Tapi, ia jadi tersentak saat seseorang tiba-tiba merangkulnya.
"Aku aja yang rangkul, jangan rangkulan sama cowok lain."
Entah dari mana datangnya cowok itu.
**
Gelanggang olahraga yang menjadi tempat diselenggarakannya Cakrawala Cup sudah ramai. Genathan tidak melepaskan genggaman tangannya meski sudah duduk di bangku tribun. Sebelum masuk ke GOR tadi, mereka berdua sempat foto bersama. Tribun di bagian utara benar-benar penuh oleh anak-anak SMA Cakrawala. Sedangkan tribun bagian selatan berisi anak-anak SMA lain yg baru saja selesai mendukung tim sekolah mereka. Sengaja untuk tidak pulang dulu karena hendak menyaksikan mahakarya dari SMA Cakrawala.
"Kak Ge." Genathan sontak menengok ke arah Resha, tapi ternyata gadisnya sedang jahil dengan mengarahkan kamera ke arahnya.
Refleks Genathan menutupi wajah dan menjauhkan ponsel Resha. "Apa sih, jahil banget," gerutu Genathan.
Resha tertawa. "Lucu, Kak."
Genathan berdecak. Cowok itu mengambil ponsel Resha tanpa aba-aba dan mengotak-atiknya. Ia merapat ke arah Resha dan melingkarkan tangannya ke bahu gadis itu.
"Sini buat boomerang."
"Kak Gege, ih! Aku lagi jelek itu!" protes Resha sambil mengambil ponselnya.
"Loh? Ini akun Kakak?" tanya Resha kaget karena snapgram itu justru menyebut akunnya.
Genathan mengangguk santai. "Iya."
Selanjutnya, mereka terlibat percakapan hingga datangnya puncak untuk menunjukkan mahakarya mereka. Kali ini Genathan memilih menjadi penonton biasa saja. Berbeda dengan tahun lalu, dimana ia turut mengangkat koreo tiga dimensi.
Beberapa pensi sudah ditampilkan. Pentas seni itu menampilkan perpaduan berbagai ekstrakurikuler, dengan berkonsep drama musikal. Modern dance, cheers, basket, bahkan paskibra turut bergabung dalam drama itu. Tapi Delia tidak ada di sana, gadis itu memang tidak berminat pentas. Ia memilih menjadi penonton di samping Resha.
Usai penampilan ekskul, kini saatnya sorakan dari anak Cakrawala untuk menggemparkan gelanggang olahraga. Seiring dengan proses pengangkatan koreo. Mereka diminta mulai menyanyikan lagu-lagu yang sudah dicover dan dinyanyikan saat cek sound kemarin. Resha sangat bersemangat. Ini pertama kalinya ia mengikuti acara sekolah sebesar dan seasik ini.
"Ciee seneng banget," goda Genathan mendekatkan diri di telinga Resha.
"Iya dong. Apalagi mau lihat koreonya," jawab Resha agak keras supaya suaranya tidak tenggelam.
"Kita nonton pengangkatan koreonya sama-sama, ya. Malem ini bener-bener quality time kita bareng lainnya."
Resha mengangguk semangat. Ia bahagia sekali bisa menikmati acara ini dengan orang yang ia sayang di sampingnya. Beberapa kali ponsel Genathan berdering membuat Resha ikut menoleh. Telepon dari Ayunindya. Perasaan Resha mulai tidak enak.
__ADS_1
"Kak, flash-nya dinyalain, bentar lagi koreonya diangkat, nih." Resha mencoba mengalihkan perhatian Genathan.
"Ha? Oh i-iya." Genathan tampak bingung.
"Kakak nggak papa?"
Genathan mengangguk cepat. "Nggak papa kok."
Suasana hening sejenak. Hanya ada flash yang menyala dan beberapa anak ultras yang menaikkan koreo. Hasta dan Arik ada di sana. Sesuai dengan rencana, lagu mars Cakrawala akan menjadi pengiring dinaikkannya koreo tiga dimensi berbentuk sayap putih yang lebih besar dari tahun sebelumnya.
Keadaan kembali ramai dengan nyanyian mars Cakrawala. Lagi-lagi ponsel Genathan berbunyi. Fokus Resha mulai terpecah, apalagi jari-jari Genathan yang membalas pesan seperti sedang dikejar sesuatu. Resha tersentak saat tiba-tiba bertemu tatap dengan Genathan.
"Res, maaf, ya. Gue harus pergi sekarang, ada urusan."
"Loh? Ini lagi naikin koreo, katanya Kakak mau nonton koreo ini sama aku," protes Resha.
Wajah Genathan benar-benar cemas. "Maaf, nggak bisa, Ayu butuh gue. Tolong ngertiin, ya."
"Tapi, Kak—"
"Nanti gue balik buat jemput lo." Genathan melangkah meninggalkan tribun.
Resha hanya bisa menahan air mata melihat kepergian Genathan. Segala ekspektasinya malam ini hancur. Quality time seperti apa yang dimaksud Genathan? Sepenting apa hingga Genathan meninggalkannya untuk menemui Ayunindya? Kenyataan malam ini menamparnya, bahwa meski sekarang yang berstatus pacar adalah Resha, prioritas utama tetaplah Ayunindya.
Di tengah teriakan lagu mars Cakrawala yang dilantunkan dengan bahagia, sesak dan lara justru menghujam Naresha.
Malam ini, realita menamparnya sebegitu sakitnya. Ekspektasi indahnya hancur lebur. Tidak ada Genathan yang bersamanya sampai akhir acara ini.
Malam ini, Resha harus menelan kekecewaan kesekian kali.
***
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
Thanks for reading all.
__ADS_1