Genathan

Genathan
Berbaikan


__ADS_3

Kunci dari sebuah hubungan adalah saling mengerti dan komunikasi. Keduanya harus sama-sama berpartisipasi. Akan sulit jika hanya salah satunya saja yang sepenuh hati.


*


Sudah hampir seminggu Resha dan Genathan break. Tidak ada interaksi apapun dari keduanya. Awalnya, Genathan memang masih mengiriminya pesan. Namun, di hari ketiga pesannya tak dibalas, Genathan akhirnya berhenti. Ia mencoba menerima keputusan ini dan juga intropeksi diri. Mungkin, memang saat ini yang mereka berdua butuhkan adalah space untuk saling intropeksi.


Genathan menceritakan masalahnya kepada Gentala. Tentu saja, hanya sahabatnya yang satu itu yang bisa ia percaya. Ia belum yakin 100 persen apabila bercerita dengan teman kuliahnya. Keputusan Genathan untuk berhenti mengirim pesan pun atas saran Gentala. Hari itu, Gentala mengingatkan Genathan untuk menghargai keputusan Resha. Gentala juga meminta Genathan untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada mereka akhir-akhir ini.


Pada akhirnya, Genathan mengerti. Masalah ini bukan hanya tentang Genathan yang selalu telat menjemput, atau Genathan yang main HP ketika bersama Resha. Melainkan, ini tentang dirinya yang semakin kesini, banyak berubah. Genathan terlalu terlena dengan euforia baru di perkuliahan yang ia terima. Genathan terlalu takut kehilangan teman-teman di perkuliahannya apabila tidak ikut bermain bersama mereka. Genathan takut survive 4 tahun sendirian tanpa adanya teman untuk diajak bicara dan berjuang bersama. Ketakutan dan pikiran buruknya itu, lambat laun mengikis hubungan baiknya dengan Resha.


"Lo kenapa, Ge? Wajah lo wajah-wajah banyak pikiran," tegur Derel melihat Genathan di sebelahnya yang dari tadi hanya diam saja.


Genathan menggeleng. "Nggak papa."


Mereka sekarang berada di kelas untuk mata kuliah yang pertama. Namun, belum datang dosen sehingga kelas masih sangat ramai.


"Dih bohong banget. Kelihatan noh," ucap Derel.


"Nggak usah diliatin. Kurang kerjaan banget lo," cibir Genathan.


"Ya orang kelihatan, lo di sebelah gue gini. Kenapa? Lo ada masalah, ya, sama cewek lo?" tanya Derel.


"Nggak ada," bohong Genathan.


"Bener, pasti ada. Ini pasti sejak kejadian Tiara itu, ya?" tebak Derel.


Genathan menghembuskan napas panjang. Sudahlah, teman di sampingnya ini memang cerewet dan tidak menyerah untuk tau jawabannya. Pada akhirnya, Genathan mengangguk juga.


"Lo udah jelasin belum? Jelasin aja, Ge. Atau nggak, lo ajak gue. Gue jadi saksi deh. Nggak mau juga gue lihat temen gue sama pacarnya salah paham terus kayak gini," ujar Derel.


"Dianya minta break. Sebenarnya hubungan kami dari sebelum itu udah nggak baik-baik aja, Rel. Kita sering cekcok. Terus ditambah kejadian Tiara. Ya udah tambah jadi aja masalahnya," jelas Genathan.


"Cekcok karena apa? Dia yang nggak bisa paham apa gimana?"


Genathan menggeleng. "Dia justru orang paling pengertian yang pernah gue temuin. Tapi ini sumber masalahnya ada di gue. Gue jadi lebih sering cuekin dia dan sering juga telat kalau janjian jalan. Bahkan waktu gue buat dia rasanya berkurang banget karena gue terlalu asik sama euforia pertemanan baru ini. Gue nggak nyalahin kalian, ini emang salah gue sendiri. Sebenarnya tuh, gue takut ...." Dan setelahnya, Genathan menceritakan semuanya oleh Derel. Termasuk ketakutan-ketakutannya apabila teman-temannya menjauhinya.


"Duh, Ge, santai aja lo mah. Kita nggak bakal ninggalin lo perkara lo nggak ikut nongkrong. Asli deh. Kalau yang lain ninggalin lo, gue nggak bakal deh. Pegang ucapan gue. Nanti kalau lo ketinggalan obrolan pas nggak join nongkrong, gue ceritain secara lengkap mendetail dari a sampai z," respon Derel.


"Gue kalau di posisi pacar lo kayaknya juga sama keselnya, sih, Ge. Sekalipun gue coba ngerti kalau pacar gue nih lagi seneng-senengnya sama temen baru. Tapi tetep aja, terus waktu sama gue kapan dong kalau gini terus?" sambung Derel.

__ADS_1


Genathan diam saja karena sekarang ia juga sudah paham soal itu.


"Gue nggak nyeramahin dah, pasti lo muak nantinya. Kata lo, udah seminggu kan? Udah cukup tuh mikirnya. Samperin, Ge, jelasin. Mau diterima atau engga, nanti dulu. Kalau lo nggak mulai duluan, nanti kalian nggak ada perkembangan. Ntar kalo udah baikan, kenalin sama yang lain. Lo ada pacar cantik kagak dikenalin kebangetan lo," ujar Derel.


Tidak lama kemudian, dosen masuk dan Derel mengalihkan pandangannya ke depan. Sedangkan Genathan, masih diam dengan ucapan-ucapan Derel yang terputar di pikiran.


Namun, pada akhirnya Genathan memilih membuka ponsel.


Genathan : Halo. Maaf Kakak chat kamu lagi. Ini udah seminggu, udah cukup ya kayak gininya. Kita butuh bicara dengan baik sampai ini clear. Kakak nanti ke rumah ya jam setengah 7an. Kakak juga mau kenalin kamu ke temen-temen. See you, Resha.


Btw, I miss you so bad.


Terkirim!


Masalah ini harus segera diselesaikan. Genathan ingin hubungannya dengan Resha segera baikan.


Ternyata, tak perlu menunggu lama karena Resha sudah menjawab balasnya di menit ketiga setelah Genathan mengirimnya.


Reshayang : oke kak. sampai ketemu nanti malam


*


"Kakak udah bilang kayak gitu dari tadi," ucap Resha membuat Genathan terkekeh.


"Gimana hari-hari kamu kemarin?" tanya Genathan.


"Nothing special, sih, Kak. Ya kayak gitu aja. Ke sekolah, bikin tugas, makan, tidur, diulang-ulang. Kalau Kakak gimana?" balas Resha.


"Hari-hari Kakak kemarin, isinya kangen sama kamu doang," jawab Genathan.


Resha terkekeh mendengarnya.


"Resha, maaf, ya, waktu itu Kakak pasti bikin kamu kesel banget, ya. Dari yang Kakak cuekin kamu, sering telat, sampai kejadian kemarin. Pertama, Kakak mau lurusin kesalahpahaman dulu. Cewek kemarin, namanya Tiara. Dia ini dari luar kota, anak rantau. Kemarin Kakak nontonnya ramai-ramai hampir satu kelas. Pas kelar nonton, Kakak udah di foodcourt buat nunggu kamu. Terus ada kabar kalau si Tiara ini enggak ada di rombongan. Kita panik. Bagaimanapun, dia nih anak luar kota yang belum tau jalanan sini. Takutnya dia kesasar pas naik motor. Jadi Kakak dimintain tolong barangkali dia masih ada di sekitar sini. Kebetulan, ada temen Kakak juga  masih di sini dan ya udah kita cari bareng. Nggak lama HP Kakak baterainya habis, jadi nggak bisa ngabarin kamu. Terus akhirnya ketemu dia, dia refleks doang meluk Kakak. Kakak nggak ada apa-apa sama dia, beneran," jelas Genathan panjang lebar.


"Pas itu ada temen Kakak, kok Kakak yang dipeluk?" tanya Resha.


"Dia sama temen Kakak enggak begitu akur, Res," jawab Genathan.


"Kakak kemarin-kemarin berubah berarti bukan karena dia?" Resha memastikan.

__ADS_1


"Bukan, Res. Itu murni kesalahan Kakak. Kakak terlalu asik sama suasana lingkungan baru sampai maunya main terus. Kakak takut enggak punya temen atau temen-temen Kakak pada pergi kalau Kakak enggak ikut main. Makanya, Kakak jadi sering main dan tanpa sadar jadi cuekin kamu, kurang banget waktu sama kamu. Maaf, ya," ucap Genathan.


Kini semuanya jadi jelas.


"Kak, Kakak orang baik. Pasti temen-temen Kakak bakal selalu mau temenan sama Kakak. Makasih, ya, Kakak udah ceritain itu semua ke aku. Aku juga minta maaf, Kak, kemarin-kemarin aku mungkin ngeselin kesannya enggak ngertiin Kakak, sering ngambek. Aku belum terbiasa. Tapi setelah ini, aku bakal coba lebih ngertiin Kakak dan adaptasi sama ini semua," balas Resha.


"Kamu udah cukup banget dalam ngertiin Kakak. Setelah ini giliran Kakak yang ngertiin kamu. Kita sama-sama saling ngerti, ya, Res. Kita sama-sama berjuang bareng sampai beneran jadi pemenang, ya," ujar Genathan.


"Iya, Kak. Aku mau jalanin banyak hal sama Kakak. Ini ... kita resmi baikan, ya?" ucap Resha.


Genathan mengangguk sambil tersenyum. Diangkatnya jari kelingking kanannya. "Baikan dong."


Resha turut merespon dengan mengaitkan kelingkingnya.


"Widih, Genathan makanya mau berangkat duluan. Ternyata pacaran dulu!"


Sebuah suara mengalihkan perhatian Resha dan Genathan. Ada sekelompok orang di sana.


2 cowok dan 2 cewek ada di sana.


"Oit, Rel!" sapa Genathan. "Sini duduk," lanjutnya. Akhirnya merek menempatkan diri di bangku kosong yang ada di meja itu. Sedangkan Resha masih agak bingung melihat wajah-wajah asing ini.


"Eh ini pacarnya Genathan, ya?" tanya seorang cewek yang Resha lihat kemarin memeluk Genathan.


Genathan yang mengangguk. "Iya, namanya Naresha, pacar gue," aku Genathan dengan tegas dan mantap.


"Gue minta maaf, ya, atas kejadian kemarin. Gue kelewat seneng karena ketemu temen gue habis kesasar. Gue kemarin udah keluar mall, tapi karena takut makin salah jalan jadi gue balik aja ke mall. Akhirnya ketemu Niar sama Genathan," jelas Tiara.


Resha mengangguk. "Iya, Kak. Kak Gege juga udah jelasin kok."


Suasana sudah mencair. Setelahnya, teman-teman Genathan satu persatu memperkenalkan diri kepada Resha.


Niar, Derel, Tiara, dan Rika. Resha mengingatnya baik-baik. Dalam obrolan pun Resha tidak diabaikan. Mereka selalu mengajak Resha agar bisa nimbrung. Naresha merasa sangat diterima.


Dalam hatinya, Resha bersyukur karena Genathan mendapatkan teman-teman yang baik seperti mereka.


Malam itu, hubungan keduanya membaik. Kedepannya, semoga mereka selalu bisa menghadapi setiap kejutan dari semesta.


*

__ADS_1


__ADS_2