Genathan

Genathan
Haruskan Berubah?


__ADS_3

Kalau boleh egois, aku mau nyamanmu cuma tentang aku.


***


Seperti hari-hari sebelumnya Genathan akan selalu mengantar Resha saat berangkat sekolah. Selagi jadwal kelas Genathan tidak bentrok dengan Resha, Genathan akan mengantarnya. Dan kini Resha tengah menunggu Genathan yang akan menjemputnya untuk pergi ke sekolah. Laki-laki tersebut kini sudah semakin sibuk. Ospek yang sudah selesai dilaksanakan membuat Genathan kini mulai aktif di kampusnya. Perkuliahan sudah dimulai dengan normal. Tak hanya sibuk di kampus dengan berbagai tugasnya sebagai mahasiswa, Genathan juga harus disibukkan dengan Bentala yang kini semakin berkembang dengan pesat.


Suara klakson mobil membuat Resha tersadar dari lamunannya, hingga senyumannya kini mengembang dengan begitu sempurna saat melihat laki-laki yang sedari tadi ia pikirkan kini sudah berada di depannya.


Melihat hal tersebut, Resha dengan segera menghampirinya lalu masuk ke dalam mobil Genathan. Karena sedari tadi Resha memang sudah menunggu Genathan di kursi depan rumahnya.


“Udah lama nunggu?” tanya Genathan yang Resha balas dengan gelengan.


Tak lama Genathan langsung melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Resha dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan mereka hanya terdiam. Tidak ada obrolan ringan yang mengiringi seperti sebelum-sebelumnya. Resha yang sibuk memperhatikan jalan di depannya sedangkan Genathan yang kini malah menyetir sambil bermain ponsel.


Resha menoleh ke arah Genathan dan menggelengkan kepalanya melihat hal tersebut. Kebiasaan Genathan yang baru-baru ini sering laki-laki itu lakukan membuat Resha kesal karenanya.


“Jangan mainin HP kalo lagi nyetir kak. Jangan ngajak-ngajak ya kalau mau membahayakan diri,” sinis Resha yang sudah mulai kesal dengan tingkah Genathan yang akhir-akhir ini begitu berbeda. Sudah berkali-kali Resha mengatakan untuk tidak bermain ponsel saat menyetir, tapi lagi-lagi Genathan akan melakukannya. Ia hanya akan berhenti saat Resha memarahinya dan kemudian mengulanginya lagi.


“Kok ngomongnya gitu sih?” ucap Genathan pada Resha terdengar tak suka. Kini laki-laki tersebut sudah meletakkan ponselnya di dasbor mobilnya.


“Lagian Kakak juga setiap dibilangin, ditaruh sebentar tapi nanti pasti di ulangi lagi,” ucap Resha dengan kekesalannya.


“Iya enggak lagi. Maaf,” ucap Genathan dan kini mulai fokus menyetir tanpa bermain ponsel. Genathan tidak mau memperpanjang masalah ini. Resha hanya memutar bola matanya malas karena sudah terbiasa mendengar ucapan tersebut tapi ujungnya akan diulangi lagi.


“Lagi chat siapa, sih, sibuk banget perasaan?" tanya Resha yang membuat Genathan menoleh sebentar ke arah Resha.


“Cuma temen kampus,” ucap Genathan singkat.


Setelahnya mereka saling terdiam sampai akhirnya mereka tiba di depan sekolah Resha. Tanpa mengatakan apapun Resha segera keluar dari mobil. Resha masih kesal dengan sikap Genathan. Akhir-akhir ini Genathan telah banyak berubahnya. Bahkan Resha berpikir laki-laki tersebut memiliki selingkuhan. Genathan yang semakin sibuk dan hanya fokus pada dunianya sendiri. Frekuensi chat mereka tidak seintens yang dulu. Genathan sering mengabari main mendadak dan pulang malam. Ketika sedang bersama pun, Genathan asik sekali dengan ponselnya. Itulah yang Resha rasakan saat ini pada Genathan.


Resha masuk ke sekolah nya dengan wajahnya yang masih terlihat cemberut. Bahkan mereka tidak LDR jauh, tapi mereka seolah sudah kembali dihadapkan dengan sebuah masalah lain.


“Woy, udah masem aja tuh muka. Masih pagi lah ini." Suara Delia menyapa indra pendengaran Resha diiringi dengan tepukan di pundaknya.


Resha sontak menoleh ke arah sahabatnya tersebut sekilas lalu kembali fokus melihat ke arah depan.

__ADS_1


“Kenapa sih Res?” tanya Delia yang akhir-akhir ini rasanya begitu sering melihat wajah Resha yang cemberut.


“Kayaknya Kak Gege beneran selingkuh deh Del,” ucap Resha yang sontak saja mendapatkan sentilan di keningnya dari sahabatnya tersebut. Resha mengerucutkan bibirnya sambil mengelus keningnya yang menjadi sasaran dari tangan sahabatnya tersebut.


“Asal aja mulut lo kalau ngomong,” ucap Delia sambil menggelengkan kepalanya.


“Ya lagian tuh Kak Gege sekarang sibuk banget sama dunianya sendiri. Siapa yang gak curiga dia punya selingkuhan kalau dia aja selalu sibuk. Bahkan pas bareng gue aja dia main hp mulu,” balas Resha menyampaikan kekesalannya pada sahabatnya tersebut.


Delia menghela nafasnya kasar. Ia juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun sebagai seorang sahabat ia tak ingin membuat Resha semakin memikirkan hal tersebut dan berpikir jika Genathan benar-benar selingkuh. Ia tak ingin menjadi kompor pada hubungan sahabatnya itu.


“Emang lagi sibuk aja kali Res. Lagian masih lingkungan baru, ya kali baru sebulan udah nemu yang baru,” ucap Delia berusaha untuk menenangkan dan menjadi penengah.


“Tau deh. Males gue,” ucap Resha malas untuk kembali membahas tentang hubungannya dengan Genathan.


Resha langsung saja berjalan lebih cepat dari Delia menuju kelasnya. Delia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya tersebut. Delia tak bisa sepenuhnya menyalahkan sikap Resha tersebut. Delia tahu sahabatnya itu begitu mencintai Genathan dan takut kehilangan laki-laki tersebut.


Sedangkan Genathan malah terlalu sibuk dengan dunia barunya tanpa memikirkan Resha, jadi pantas jika Resha merasa cemburu dan takut kehilangan dengan pikirannya yang kemana-mana.


*


Resha kini tengah menunggu Genathan yang akan menjemputnya di halte depan sekolahnya. Namun setelah hampir satu jam menunggu laki-laki tersebut masih saja belum menjemputnya. Kesal? Tentu saja.


“Kalau gak bisa jemput minimal kirim chat lah, ini mah namanya aku nunggu yang gak pasti,” kesal Resha dengan decakan kesalnya.


Ketika jam istirahat pertama, Genathan mengirimnya pesan. Katanya, cowok itu bisa menjemput Resha seperti itu. Oleh karena itu, sampai Sekaran ini Resha menunggunya. Namun, sejak bel pulang sekolah tidak ada kabar dari Genathan. Pesan-pesannya pun tak dapat balasan. Whatsapp Genathan hanya centang dua tanpa dibaca.


Suara deru motor yang berhentinya di depannya membuat Resha yang awalnya fokus dengan ponselnya menunggu pesan dari Genathan akhirnya menoleh ke arah depan.Kini ia mendapati Gentala yang masih berada di atas motornya tersenyum ke arah Resha.


“Udah sore kenapa belum pulang Res?” tanya Gentala sambil membenarkan rambutnya yang berantakan karena helmnya tersebut.


Resha menghela nafasnya kasar. "Kak Gege belum jemput, Kak.”


Gentala yang mendengarnya menaikkan sebelah alisnya bingung. Pasalnya tadi ia melihat Gege sudah keluar dari kampus bersama dengan teman-temannya. Ia pikir Gege akan menjemput Resha lebih dulu. Tadi ketika mampir ke cafetaria FEB, Gentala memang mendapati Genathan dan teman-teman barunya keluar bersama menuju parkiran FEB. Mereka terlibat obrolan kecil dan Genathan bilang bahwa ia sudah selesai kelas untuk hari ini. Gentala tidak satu prodi dengan Genatha. Gentala berada di ilmu komunikasi yang termasuk di Fakultas Ilmu Komunikasi, sedangkan Genathan di manajemen bisnis yang termasuk di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.


“Ayo naik. Gue anter,” ucap Gentala tanpa memberitahu Resha jika sebenarnya Genathan sudah pulang dari kampus.

__ADS_1


Resha berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dan segera berjalan ke arah Gentala. Gentala membantu Resha untuk naik ke atas motornya.


Resha memilih untuk pulang bersama Gentala. Ia sudah terlalu lama menunggu Genathan. Biarkan saja sesekali ia memberikan pelajaran pada Genathan yang sekarang semakin seenaknya sendiri.


“Kak Gege emang belum pulang, ya, Kak? Tadi ketemu di kampus nggak?" tanya Resha pada Gentala setelah laki-laki tersebut mulai melajukan motornya meninggalkan halte sekolah.


“Hm gue gak tau Res,” jawab Gentala yang terpaksa harus berbohong pada Resha karena tak ingin membuat Resha merasa semakin memikirkan tentang Genathan. Sepertinya pengaruh teman baru begitu besar bagi Genathan.


Resha menghela nafasnya kasar.


Tak lama akhirnya mereka sampai di depan rumah Resha.


“Makasih, ya, Kak,” ucap Resha yang dibalas dengan anggukan oleh Gentala.


“Gue pamit ya Resh,” pamit Gentala.


“Iya, hati-hati, Kak,” ucap Resha.


Setelah mendengar ucapan Resha, Gentala segera melajukan motornya meninggalkan rumah Resha.


Bersamaan dengan itu, ponsel Resha berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Genathan. Resha segera menjawabnya dengan kekesalannya.


“Resha. Maaf ya. Aku gak bisa jemput,” ungkap Genathan di seberang sana dengan sesalnya.


“Gak usah jemput-jemput aja sekalian. Aku sudah diantar kak Gentala," ucap Resha yang setelahnya langsung mematikan sambungan teleponnya karena terlalu kesal dengan laki-laki tersebut.


Sebenarnya, Resha semakin takut. Resha takut jika Genathan menemukan nyaman yang lain di luar sana.


***


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.

__ADS_1


See you next chapter all.


Thank for Reading All


__ADS_2