
Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena masing-masing orang jelas berbeda. Cukup syukuri dan tetap mencintai diri sendiri.
***
Tangannya masih saja betah bergerak menyelusuri akun instagram seseorang. Dari postingan paling awal hingga terakhir, tidak ada satupun yang luput dari pandangannya. Sesekali, ia iseng melihat isi komentar. Sangat penuh dengan pujian. Resha mengakui, orang yang sedang ia stalk itu memang sangat cantik. Ia sangat jauh di bawah orang itu. Wajahnya biasa-biasa saja. Tubuhnya tidak se-goals itu. Senyumnya tidak semanis itu.
Semuanya serba sederhana untuk Resha.
Ayunindya memang gadis yang cantik seperti namanya. Yang dikatakan Genathan dalam obrolan sate lontong tempo hari memang benar. Toh Resha juga sempat melihat langsung. Salah satu postingan Ayunindya di instagram membuat percaya diri Resha lagi-lagi menciut. Potret Ayu dan Genathan yang tengah memakai kaos couple putih polos terlihat sangat bahagia. Keduanya sama-sama tersenyum lebar, begitu serasi.
Apalagi, isi komentarnya. Banyak yang mengatakan mereka sangat cocok sebagai sepasang kekasih. Sedangkan saat hubungannya dan Genathan dikonfirmasi malah begitu banyak yang menghujatnya. Namun Resha cukup sadar diri jika ia memang tidak sebanding dengan Ayu.
"Rakyat kentang kayak gue bisa apa coba?" gumamnya lemah merasa insecure dengan dirinya yang tak sebanding oleh Ayu. Padahal, baru tadi Genathan menelponnya dan menyemangatinya. Tapi Resha malah patah semangat lagi sekarang. Ia sudah menahan mati-matian keinginannya, tapi tetap tidak bisa.
Pada akhirnya jari-jarinya berseluncur di akun instagram Ayunindya.
"Ini waktu jatah pembagian cantik dia maju paling depan kali, ya. Skincare-nya apa coba? Nggak ada bruntus gitu di wajahnya. Kinclong. Mana bisa dari Kak Ayu terus Kak Gege jadiannya malah sama gue?"
Bukannya tidak bersyukur, hanya saja Resha merasa tidak percaya diri sekarang. Notifikasi yang masuk membuat Resha mengernyitkan kening bingung. Saking asiknya stalk instagram orang, ia sampai tak sadar banyak notif yang masuk. Dipencetnya tombol berbentuk hati di sebelah lambang profil. Lagi-lagi banyak yang menyebutnya di komentar.
Serius pacarnya Gege?
Kak Gege seleranya turun dari Kak Ayu jadi ini cewek.
Cantik gue.
Heh jangan rebut dari Kak Ayu dong.
Adik kelas ganjen.
Lho gue nggak nyadar ada ini cewek di sekolah.
Debaran jantung Resha berpacu lebih cepat saat membaca komentar-komentar itu. Keringat dingin tanpa sadar mengalir membasahi wajahnya. Tangannya gemetaran bahkan sudah basah. Ini salah satu alasan Resha lebih memilih 'tenggelam' tanpa menyita perhatian. Komentar dari menfess sekolah benar-benar banyak yang menyebutnya.
Belum lagi, ada banyak direct message yang masuk. Beberapa ada yang memberinya selamat. Sedangkan sebagian besar sisanya justru menghujat. Resha tau apapun bentuk bullying sangat tidak mengenakkan. Tapi, Resha tidak menyangka bahwa dirinya kini menjadi targetnya.
Baru kali ini ia menerima hujatan sebanyak ini. Resha mulai takut. Bahkan ini baru hari pertamanya menjadi kekasih seorang Genathan. Setidak pantas itukah dirinya untuk Genathan?
Apakah mencintai dan menjadi kekasih Genathan adalah sebuah kesalahan?
***
Resha sengaja berangkat pagi untuk menghindari pusat perhatian. Ia tidak siap. Resha takut. Bahkan di kelas, beberapa murid perempuan terlihat agak berbeda dengannya. Dari tatapan mereka seolah merendahkan Resha. Seolah menghujat lewat tatap. Pesan dari Genathan ia balas agak singkat. Ajakan untuk berangkat bersama ia tolak dengan alasan sudah siap dan hendak berangkat bersama sang papa. Ia tidak mau Genathan malu.
__ADS_1
Sedari malam, perasaanya tidak karuan. Gadis itu terus saja memikirkan perkataan orang sekalipun ia mencoba kuat untuk tidak peduli. Resha tidak fokus mengikuti pelajaran. Hal itu ditangkap oleh Delia. Ia mencolek tangan Resha dengan bolpoin yang hanya mendapat tengokan tak bersemangat.
"Lo masih ... kepikiran?" tanyanya dengan nada pelan. Takut jika Pak Bambang mendengar. Resha hanya membuang napas dan menurunkan bahu lemas.
"Udah sarapan belum?" Tanya Delia saat melihat ada yang aneh dengan sahabatnya tersebut.
Resha menggeleng saat mendengar pertanyaan sahabatnya tersebut..
"Lemes gitu, lo pusing? Di UKS aja kalau pusing. Gue anter, deh. Sekalian biar bolos pelajaran Pak Bambang," cetus Delia dengan menyengir kecil.
Lagi-lagi Resha menggeleng. Hanya saja kali ini ia berkata, "Nggak papa. Gue lagi males ngomong."
"Ya udah gue chat aja,” ucap Delia begitu polosnya.
"Gue matiin HP,” ucap Resha acuh.
"Naresha!" suara panggilan tersebut sontak membuat Resha agak menenggelamkan dirinya pada buku yang kini sudah ia bentangkan untuk menutupi wajah. Pasalnya, suara Delia tadi terbilang keras bahkan bisa disebut berteriak. Kini bukan hanya Pak Bambang, tapi seisi kelas memandang mereka kaget. Sedangkan Resha merasa malu dan merutuk dalam hati.
"Delia kenapa teriak-teriak? Ini di kelas, bukan di hutan. Itu Naresha ada di sebelah kamu, nggak usah teriak. Sekali lagi kamu berulah, tidak usah ikut pelajaran saya dua kali pertemuan," semprot Pak Bambang.
Delia mengangguk kikuk. Lalu perhatian mulai kembali kepada tugas matematika masing-masing.
"Gara-gara lo," desis Delia menuduh Resha.
Sisa pelajaran matematika hari itu, Resha memilih memejamkan mata hingga bel istirahat tiba. Delia agak menggoyangkan bahu Resha untuk membangunkan gadis itu. "Res, kantin yuk."
Resha mendongak dengan mengusap matanya. "Nggak deh, gue di sini aja."
"Sendirian? Nggak papa?" tanya Delia khawatir. Ia juga tak tega meninggalkan sahabatnya tersebut sendiri di kelas Apa lagi dengan keadaan Resha yang menurutnya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Gue di kelas aja, masih ngantuk," balas Resha.
"Beneran nggak papa?" Delia memastikan lagi.
Resha mengangguk dengan mengulaskan senyum tipis untuk menangkan Delia. Meski masih enggan, pada akhirnya Delia pergi ke kantin sendiri karena Lidia ada panggilan untuk berkumpul. Resha membuang napas pelan. Kelasnya sepi, hanya ada dirinya seorang diri. Ponselnya masih posisi mati. Ia belum berani membuka ponsel lagi.
Ia mengangkat tangan menutupi wajah. Agak lama sebelum akhirnya meraupnya seraya membuang napas panjang. Namun, Resha dikejutkan dengan sosok pemuda yang sudah duduk di bangku depannya. Sengaja membalikkan badan dan menopang dagu menatap Resha seraya tersenyum.
"Loh Kak Ge? Kok di sini?" Resha mengerjap bingung sekaligus terkejut saat melihat Genathan yang kini sudah berada di depannya dengan senyumannya.
"Ya nggak papa. Kok chat gue nggak dibales? Ponsel lo kemana? Kenapa nggak mau diajak ke kantin sama temen lo tadi?" tanya Genathan memberondong. Ia tadi begitu khawatir dengan gadis tersebut. Genathan tahu pasti jika Resha masih merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi.
Genathan tentu tau jadi gadisnya tersebut di serang secara Verba dan ia begitu khawatir karena hal tersebut. Semua ini pasti baru untuk Resha mengingat gadis tersebut memang sebelumnya bukanlah orang yang menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Ponselku mati, Kak. Terus lagi mager jadi nggak ke kantin," jawab Resha yang tentu saja berbohong dan Genathan dapat menangkap kebohongan tersebut. Tidak ada lagi senyum di wajah Genathan. Hanya ada raut wajah datar yang tidak bisa didefinisikan.
"Di instagram ada fitur blokir, sama report,” ucap Genathan dengan datarnya. Resha agak mendelik. Apa Genathan akan membahas tentang 'itu' sekarang?
"Cewek gue dihujat, masa gue nggak tau?" jelas Genathan memberitahu Resha jika ia mengetahui semuanya dan Resha tidak bisa menyembunyikannya dari Genathan. Resha menunduk. Ia agak tersentak saat tangan Genathan menyentuh punggung tangannya.
Genathan memandang lembut gadis di hadapannya ini, "Jangan mikir yang aneh-aneh. Mereka cuma orang-orang sirik yang kurang perhatian."
"Tapi, mereka bener. Harusnya emang aku nggak hadir di antara Kakak sama Kak Ayu," cicit Resha.
Genathan sontak menjauhkan tangannya, Resha mendongak takut jika Genathan marah dan tersinggung akan ucapannya tersebut. Namun, laki-laki itu malah berdiri dari duduknya dan berpindah ke tempat duduk Delia.
Genathan memiringkan tubuhnya persis menghadap Resha. Dengan penuh kasih sayang, ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Resha ke belakang telinga, "Gue sama Ayu cuma temenan. Gue sadar, rasa sayang gue ke Ayu bukan sebagai seorang cowok ke cewek. Tapi seperti seorang kakak ke adiknya. Beda cerita kalau sama lo."
Kini Resha memberanikan diri untuk menatap Genathan, "Aku cuma cewek biasa. Bahkan kehadirannya seringkali nggak disadarin banyak orang."
Belum sempat Genathan menjawab, beberapa teman sekelasnya kini mulai berdatangan dengan jajanan di tangannya. Genathan bisa menangkap raut panik dari Resha. Ia mengusap lembut punggung tangan gadis itu. "Selama ada gue, lo nggak perlu khawatir. Gue nggak akan biarin lo disakitin." Genathan menjeda ucapannya.
"Jangan pernah dengerin omongan orang sirik lagi. Namanya hidup pasti banyak orang yang nggak suka. Biarin, karena hubungan ini tentang kita, bukan mereka." Genathan sengaja agak mengeraskan suaranya. Terselip emosi dari nada suaranya.
Genathan menghembuskan nafas pelan, "Gue nggak butuh orang yang luar biasa. Orang yang sederhana tapi bisa mencintai dan menerima gue apa adanya, udah lebih cukup buat gue."
"Aku ... nggak secantik Kak Ayu," cicit Resha lagi.
Genathan tersenyum lembut. "Jangan dibandingin, kalian dua orang yang berbeda. Gue menganut kepercayaan kalau semua perempuan itu cantik. Kalau memandang fisik, itu bukan cinta, tapi nafsu. Udahan ya insecure-nya, Naresha tetep cantik di mata Gege."
***
Bully secara verba itu emang gak enak banget.
Pembullyan padahal udah di larang ya. Lagian harusnya sebagai fans itu gak perlu terlalu ikut campur dengan kehidupan sang idola.
Ngehujat tuh bisa bikin orang yang di hujat mental nya jadi rusak.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
Thanks for reading all.
__ADS_1