Genathan

Genathan
KEPUTUSAN


__ADS_3

Kubiarkan kau memilih. Jika hatimu bukan untukku, aku sadar diri dan segera pergi.


***


Resha menghembuskan nafasnya kasar, tersenyum getir melihat adegan di depannya. Dalam hati Resha tertawa miris melihat kisah cintanya yang ia kira akan berjalan dengan indah, nyatanya penuh liku pilu di dalamnya.


"Res, lo gak papa?" tanya Delia saat melihat arah pandang Resha. Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Bagaimana bisa setelah melihat kekasihnya yang sedang dirangkul dengan mesra Resha akan baik-baik saja?


"Ayo buru balik, kangen kasur nih gue. " Resha merangkul Delia berjalan ke gerbang sekolah. Resha melihat Genathan yang akan menghampirinya, namun dicegah oleh Ayu. Mirisnya, Genathan malah menurut dan memilih pergi bersama Ayu.


Setelah lama tidak ada kabar hingga kejadian di rumah Genathan, laki-laki itu tidak pernah menghampirinya dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama Ayu. Sekarang Resha sadar di mana posisinya harusnya berada. Harusnya ia tak terlibat terlalu jauh dengan Genathan. Cukup menjadi pengagum dalam diam, maka hatinya tidak akan sesakit sekarang.


"Jalan sambil ngelamun, hati-hati kesandung." Delia menegur Resha yang malah melamun. Resha hanya mengangguk sekilas, berjalan ke depan gerbang menunggu angkutan umum. Karena supirnya sedang mengantar mamanya, jadilah ia menggunakan angkutan umum kali ini.


"Res, Arik udah nunggu tuh gue duluan ya." Delia menunjuk Arik yang sudah menunggunya dengan motor sport berwarna merah miliknya.


Resha mengangguk lalu mengangkat jempol tangan kanannya. "Hati-hati, ya!"


"Jangan ngelamun lo, takut kesambet!" teriak Delia yang sudah berjalan menjauh sambil terkekeh. Resha spontan mengacungkan jari tengahnya pada Delia.


"Itu jari pas nunjuk gak pake bismillah dulu ya, mending gini." Seseorang tiba-tiba datang di samping Resha, sambil membentuk jari dengan tanda hati ala Korea atau yang biasa disebut finger heart.


"Kak Tata apaan, sih. Lagian ya, kak Ta tuh suka banget ya muncul tiba-tiba udah kek jin aja," cecar Resha dengan kesal karena Gentala yang selalu saja muncul dan mengagetkannya.


Gentala menggeleng. "Gue berwujud manusia tampan, bukan kayak jin, ya," protesnya.


"Terserah kakak aja deh ya," balas Resha malas. Mood-nya sedang tidak bagus untuk meladeni candaan Gentala, jadi Resha memutuskan untuk diam saja.


"Ayo balik, gue anter," ajak Gentala langsung menarik tangan Resha, menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari halte tempat Resha menunggu angkutan umum.


"Belum juga diterima udah main narik aja," sungut Resha menggelengkan kepalanya.


"Gue kan pemaksa jadi mau gak mau ya harus mau." Gentala memakaikan helm pada Resha. Resha tersenyum getir berharap yang memperlakukannya dengan romantis seperti ini adalah Genathan. Namun, itu hanya angan. Mungkin sebentar lagi Genathan tidak akan menjadi miliknya lagi atau haruskah memang ia yang mengakhirinya lebih dulu?


Resha sudah pernah mencintai laki-laki dengan hebatnya, kini ia ingin dirinya lah yang dicintai oleh laki-laki dengan hebat. Hatinya sudah terlalu hancur, air matanya sudah terlalu mengering, dan isaknya sudah tak bisa lagi terdengar karena sudah terlalu lelah dengan semua itu.


"Gak usah ngelamun, ayo buruan naik keburu sore," tegur Gentala sambil membantu Resha naik ke atas motornya.


"Mau langsung pulang atau kemana dulu?" tanya Gentala menawarkan, barangkali Resha ingin mampir ke supermarket.


"Langsung pulang aja, Kak." Resha hanya ingin segera sampai di rumah dan merebahkan tubuhnya di kasur. Tubuh dan pikirannya rasanya lelah. Ia hanya ingin istirahat.

__ADS_1


Mood Resha sudah rusak. Sekadar berjalan pun Resha sudah malas, yang Resha ingin hanya mengistirahatkan tubuhnya memejamkan matanya dan melupakan segala masalahnya. Setelah sampai di depan rumah Resha, gadis itu langsung turun membuka helmnya dan langsung menyerahkannya pada Gentala.


"Makasih, Kak. Hati-hati baliknya," ucap Resha setelah turun dari motor Gentala sambil membenarkan rambutnya.


"Hati gue cuma satu dan itu udah buat lo." Gentala mengerling menggodanya.


Resha memutar mata malas. Kakak kelasnya yang satu ini memang banyak sepikan. "Udah ya, Kak, ngerdusnya. Aku lagi capek, nih."


Gentala terkekeh. Ia menjulurkan tangan untuk mengusap kepala Resha. "Istirahat baik-baik, Dek. Gue duluan, ya." Gentala mulai menjalankan motornya, meninggalkan Resha yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya.


Baru saja Resha akan membuka gerbang rumahnya namun terhenti saat ada yang menghentikan tangannya.


Resha membalikkan kepalanya menatap orang yang menggenggam tangannya.


"Kak Gege ….” beo Resha saat melihat Genathan yang menggenggam tangannya.


"Kakak ngapain ke sini?" tanya Resha mengerutkan keningnya. Untuk apa Genathan menemuinya? Bukannya tadi cowok itu baru saja bersama Ayu?


Genathan memeluk Resha erat. Seolah tidak ingin kehilangan. "Aku kangen, Res ...."


"Kak, lepasin nanti dilihat tetangga." Resha meronta dan mendorong pelan Genathan.


Menurut, Genathan melepaskan pelukannya. Namun kini, ia beralih menggenggam tangan Resha erat. "Res aku mau minta maaf sama kamu," tuturnya menatap Resha tepat di matanya.


"Gak gitu Res, ada hal lain yang gak bisa aku kasih tau ke kamu sekarang," lontar Genathan pelan.


Baru saja hendak menjawab, mama Resha berteriak untuk meminta Resha masuk mengajak Genathan. Katanya, tidak enak kalau berdiri di luar.


"Genathan ayo masuk sini," ajak Andin dengan senyuman ramahnya.


"Iya, Tante." Resha pasrah saat Genathan menyelipkan jemarinya di ruang renggang antar jemarinya. Rasa   nyaman itu masih sama.


"Apa kabar, Ge? Udah lama nggak mampir lagi. Mampir atuh, sekali-kali,” sapa ibu Resha dengan senyumannya menyapa kekasih anaknya tersebut.


"Baik kok, Tan. Lagi sibuk, jadi belum sempet mampir," jawab Genathan dengan senyumannya. Resha memutar bola mata mendengar ucapan Genathan. Sibuk katanya? Bahkan laki-laki itu hanya menghabiskan waktu bersama Ayu. Setelahnya, Andin pamit membuatkan minuman untuk Genathan. Sedangkan Resha diminta untuk menemani Genathan dulu. Dalam hati, Resha merutuk. Tidakkah mamanya mengerti kalau Resha hanya ingin tidur di kasurnya?


Dengan perasaan berkecamuk, Resha duduk di sofa ruang tamu yang segera diikuti oleh Genathan. Suasana mendadak canggung. Resha yang dulu selalu memprioritaskan Genathan di atas apapun kini rasanya sudah begitu lelah dengan keadaan dan jika ditanya bahkan ia kini lebih menginginkan kasur nya ketimbang Genathan. Dulu Resha bisa tidak tidur hanya untuk Genatha.


"Res, maaf. Aku lagi ngusahain semuanya biar kita bisa balik kayak dulu." Genathan sudah mengubah posisinya menghadap Resha sepenuhnya.


"Kayak dulu gimana, Kak? Sebelum kita dekat? Udahlah, Kak. Jujur aku capek. Ini memang salah aku yang dari awal terlalu berharap tinggi ke Kakak dan hubungan kita. Harusnya aku sadar, selamanya aku nggak bisa mengisi hati Kakak. Bukan aku yang Kakak mau," ungkap Resha yang kini sudah menghadap Genathan sepenuhnya.

__ADS_1


"Gak gitu Resha, aku sayang sama kamu. Tapi ada sesuatu yang belum bisa aku kasih tau ke kamu." Genathan mengusap wajahnya kasar. Ia tidak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa pada Resha.


"Yang suka sama Kakak bukan cuma aku, yang mencintai Kakak bukan cuma aku, dan yang mengagumi Kakak bukan cuma aku. Jadi, Kakak enggak perlu kasihani aku dengan mau menerima aku." Resha tersenyum masam yang tambah membuat Genathan frustasi. Mengapa semua jadi sangat rumit?


"Res, aku mohon dengerin aku dulu, aku…." Ucapan Genathan terpotong karena teleponnya yang berdering. Resha mendengus kesal, sudah bisa ditebak siapa yang menelpon.


Setelah melihat panggilan telepon tersebut, Genathan langsung menatap Resha dengan tatapan bersalahnya. Jujur saja Resha merasa begitu kesal pada Ayu yang tidak bisa konsisten dengan ucapannya sendiri. Yang memiliki andil besar dalam rasa sakit dan hatinya yang terluka adalah Ayu. Gadis tersebut yang menyerahkan Genathan padanya namun kini malah gadis tersebut juga lah yang ingin mengambil Genathan kembali dan merusak hubungannya.


Apa Ayu pikir ia hanya tempat penitipan tanpa perasaan.


"Res, maaf aku—" Ucapan Genathan kembali terpotong. Kali ini bukan karena telepon, melainkan Resha.


"Angkat aja nggak papa, Kak. Aku udah biasa kok. Barangkali lebih penting dari aku itu telponnya,” sinis Resha yang terdengar begitu menyinggung.


"Res, aku mohon ngertiin aku," ujar Genathan dengan tatapan sendunya.


Resha menghembuskan napas panjang seiring dengan tangan yang awalnya terkepal kuat, kini mulai melonggar. "Aku kurang ngertiin apa lagi, Kak?" tanyanya pelan dan serak.


Genathan terhenyak mendengar nada yang terdengar sangat lelah dan tatapan yang mengungkap semuanya.


"Tapi kali ini, aku bener-bener capek. Kalau bisa, aku ingin kembali di waktu saat aku masih sebatas mengagumi Kakak dalam diam tanpa Kakak tau. Aku kira, udah cukup. Seharusnya dari awal aku nggak terlalu berharap banyak. Aku nggak minta apa-apa lagi, selain ... udahan. Maaf, Kak, aku nggak bisa bertahan. Semoga Kakak lebih bahagia sama Kak Ayu. Makasih, Kak, udah pernah wujudin mimpiku tentang gimana rasanya merajut kisah bersama seorang Genathan."


Resha menahan tubuhnya yang bergetar dengan tangan terkepal erat. "Ayo kembali ke masa sebelum kita dekat."


Genathan terdiam mendengar ucapan Resha.


Genathan dan Naresha, benar-benar berakhir.


Mungkin memang itu yang terbaik. Daripada saling menyakiti lebih lama lagi, lebih baik berhenti sampai di sini, 'kan? Lagipula, bukannya  cinta itu tidak harus selalu memiliki?


Sama kamu sakit tapi kalau gak sama kamu lebih sakit. Akhirnya Resha memilih opsi terakhir karena baginya sakit saat melepaskan Genathan perlahan akan membaik. Namun jika terus bersama Genathan ia tak tahu kapan rasa sakit tersebut akan berakhir.


***


Putus juga kan akhirnya. Mangkanya Ge, kalau udah jadi hak milik tuh di jaga baik-baik.


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.

__ADS_1


See you next chapter all.


Thanks for reading all.


__ADS_2