Genathan

Genathan
JEDA DAN UNGKAPAN GENATHAN


__ADS_3

Mari ambil jeda sejenak untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk buana. Tetapi, tolong berjanji untuk selalu baik-baik saja selama jeda itu ada.


*****


Ia tahu dirinya salah. Anggap saja ia pengecut karena tidak bisa menjelaskan suatu alasan. Tapi, percayalah tidak semuanya mudah disampaikan lewat kata-kata. Apalagi, Genathan bukan tipikal orang yang blak-blakan. Selama ini, ia cenderung memilih diam. Namun, diamnya justru membuat semuanya semakin rumit. Benang merah yang harusnya sudah menemukan ujung, malah kembali merambat.


Genathan serba salah. Ia menerima jika kini ia dibenci semua orang. Kehilangan orang yang ia sayangi juga konsekuensi karena ketidak tegasannya selama ini.


Genathan lelah. Ia selalu tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan. Dirinya selalu saja kalah oleh keadaan. Diusapnya batu nisan dengan penuh rasa rindu. Tangannya dengan luwes menabur bunga pada tanah makam almarhum sang bunda. "Bunda, Ge kangen. Capek, nggak ada Bunda."


Sudah lama Genathan tidak mengadu seperti ini pada sang bunda. Sekalipun datang ke makam, ia hanya mendoakan dan menabur bunga. "Bunda kenapa nggak pernah main di mimpi Genathan lagi?" tanyanya dengan satu tangan mengusap batu nisan, dan tangan yang lain menepuk tanah.


"Maafin papa, ya, Bun? Papa udah nyakitin Bunda ya dulu? Sebelumnya, Genathan pernah bilang buat nggak mau jadi kayak papa yang nyakitin hati perempuan yang tulus sayang sama dia. Tapi kayaknya, Genathan gagal, Bun. Genathan udah nyakitin orang yang tulus sayang sama Gege. Lagi-lagi, karena Gege susah buat ngejelasin. Maaf ya, Bun, karena anak Bunda ini gagal menjaga hati perempuan."


Genathan masih saja mengungkapkan isi hatinya. Seolah sang bunda benar-benar ada disampingnya dan mendengarkan keluh kesahnya. Seolah sang bunda juga mengusap lembut kepalanya. Wujudnya memang tak lagi tampak oleh mata, tetapi kasih sayangnya akan tetap terasa sepanjang nafas Genathan masih berhembus memenuhi semesta.


"Ayu adik aku, Bun. Jelas Ge nggak bisa ninggalin dia. Apalagi, keadaannya dia gampang sakit kalau kepikiran sesuatu. Genathan tau kami gak bisa bersatu, makanya Genathan memilih pergi dari rumah setahun lalu. Lalu, Genathan ketemu Naresha. Adik kelas yang ternyata selama ini Ge tunggu kapan munculnya. Naresha bukan pelarian, Bun, tapi pencarian." Nada suara cowok itu terdengar serak dan melemah.


Sejak dulu, hanya bersama sang bunda Genathan leluasa bercerita. Di saat orang lain menghakimi dan mencaci maki, hanya bunda yang bersedia mendengarnya dan mengerti.


Kehilangan sang bunda sebagai cinta pertamanya, adalah patah hati terbesar seorang anak laki-laki. Sejak bunda tidak lagi berpijak pada buana, sejak itulah Genathan mulai merasa kehilangan tonggak sandarannya. Laki-laki itu mulai goyah diombang-ambingkan keadaan.


Perlahan, Genathan mulai lelah.


Cowok itu menyandarkan keningnya pada punggung tangan yang menempel di batu nisan bunda. "Bun, ayo main ke mimpi Genathan. Ajak bentar Gege main ke dunia Bunda yang baru. Nggak ada yang ngertiin aku kalau aku susah menyampaikan."


Lagi-lagi, Genathan menapaki fase ini. Rasa rindu terberat untuk seseorang yang tak lagi bisa ia peluk erat, saat sesak mulai mendekap.


***


Genathan berdiri kaku memandang seseorang di depan sana. Ia ingin melangkah maju, tapi kakinya seolah terpaku. Melihat Genathan yang tidak ada pergerakan, membuat Gentala geram dan menabok bagian belakang kepala sahabatnya itu. Sukses membuat Genathan kaget dan mendelik seraya memegang belakang kepalanya


"Apa sih, Ta?!" kesal Genathan dengan mata yang menajam.


"Samperin, keburu gue tikung, nih?" Gentala mencoba memberi api supaya Genathan tersulut dan mau bergerak.


Tapi di luar dugaan, Genathan hanya membuang nafas pelan. "Susah, Ta."

__ADS_1


"Makanya dicoba, atulah buruan," desak Gentala.


"Lo kenapa, sih? Bukannya lo naksir Resha? Kenapa nggak elo yang perjuangin dia? Ini waktu yang tepat buat lo,Ta," cecar Genathan. Ia tak paham dengan Gentala yang malah selalu menyuruhnya mendekat pada Resha, di saat ia juga punya perasaan yang sama.


Gentala membuang nafas pelan. "Sampai sekarang yang dimau Naresha itu Genathan, bukan Gentala."


"Genathannya sadar diri, cuma bisa buat Naresha sakit hati," jawab Genathan seadanya.


Gentala berdecak kesal. Paling sebal jika Genathan sudah berpikir pesimis seperti ini. "Ge, Resha sakit hati karena lo nggak jelasin dia apapun. Kasih tau, Ge. Jangan gini ah. Lo cowok, harus berani. Gih. Gue emang suka Resha, tapi gue sadar bahagianya bukan sama gue."


Genathan memejamkan matanya. Menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Berupaya menenangkan dirinya, sebelum akhirnya melangkah maju menghampiri Naresha. Melihat itu, Gentala tersenyum lega.


Sekali lagi, Gentala tidak apa-apa. Ia sadar, tidak boleh memaksa.


Kembali ke Genathan, cowok itu menghampiri Resha yang tengah terduduk di bangku putih dengan memangku bekal. "Halo, Dek!" sapanya tersenyum kecil.


Resha juga membalas tersenyum kecil. "Hai, Kak!"


Resha cukup terkejut melihat kedatangan Genathan apa lagi dengan senyuman yang mengembang di wajah laki-laki tersebut. Meskipun perasaannya masih terluka saat melihat Genathan namun ia berusaha untuk memberikan senyuman terbaiknya.


"Apa kabar? Sehat-sehat aja, 'kan?" tanya Genathan yang mendapat anggukan oleh Resha.


Resha menggeleng dan menutup wadah bekalnya. "Nggak. Sampaikan apa?"


"Sebelumnya, Kakak mau minta maaf, Dek. Selama ini Kakak pasti sering nyakitin kamu, ya? Kamu pasti ngerasa dinomor duakan dibanding Ayu." Genathan memulai penjelasan. Laki-laki tersebut menarik nafasnya dalam menundukkan kepalanya sebentar berusaha untuk menetralkan dirinya.


"Nggak papa, Kak. Aku sadar kok, perasaan Kakak buat Kak Ayu," sergah Resha dengan kekehan kecil.


"Iya, perasaan seorang abang ke adiknya. Dek, Ayu itu adik gue. Bukan cuma sahabat, kita satu papa. Apalagi, dia sering drop kalau kebanyakan pikiran. Beberapa hari terakhir, dia banyak pikiran karena sikap papanya yang berubah. Sejak kecil, Ayu paling deket sama papanya. Bukan papa gue, papanya. Tapi sejak papanya tau kalau Ayu bukan anak kandungnya, papanya berubah. Apalagi, papanya punya istri baru," jelas Genathan.


Resha membelalak. Terkejut karena baru tahu fakta itu. "Loh? Berarti—"


Genathan memotongnya dan menjelaskan semuanya. Penjelasan yang kemarin juga ia dapat dari sang papa. Sejujurnya, Genathan malu menceritakan itu karena baginya ini adalah aib keluarganya. Tapi, ia tidak mau ada kesalahpahaman lagi.


Hanya pada Resha ia menceritakannya dan ia berharap Resha bukan orang yang memiliki pikiran kolot jika anak di luar nikah adalah anak haram dan hina. Ia hanya tak ingin adiknya mendapatkan julukan itu.


Sekalipun mereka tidak bisa bersama lagi, setidaknya mereka selesai dengan baik-baik tanpa ada kesalah pahaman.

__ADS_1


Resha mendengarkan penjelasan Genathan dengan saksama. Beban yang dibawa bos bentala di hadapannya ini ternyata tidak semudah itu. Ia bisa melihat tatapan lelah yang terpancar dari netra Genathan. Resha tak tega, ingin sekali rasanya merengkuh punggung kokoh yang sebenarnya rapuh.


Ia salah paham selama ini. Namun jangan salahkan dirinya, jelas ini juga karena Genathan yang tak ingin menjelaskannya lebih awal.


"Kak, maaf ... selama ini aku malah mikir yang aneh-aneh," cicit Resha.


Genathan menggeleng dan tersenyum menenangkan. "Nggak papa. Gue juga salah karena baru jelasin sekarang. Kemarin-kemarin, gue bingung mau jelasin gimana. Gue ... malu. Gue mau bilang sesuatu lagi boleh?"


Resha mengangguk mempersilakan.


"Jangan pernah anggap kalau lo itu pelampiasan atau apalah itu. Gue ngungkapin perasaan hari itu, karena perasaan itu emang benar-benar ada. Bukan karena kasihan atau apa. Orang sebaik lo nggak pantas buat dijadikan sekadar pelarian," tutur Genathan pelan tapi tegas.


"Gue selama ini nunggu adik kelas yang ngajak foto dua tahun lalu, tapi gue malu gimana tanyanya. Hingga akhirnya hari itu tiba. Lo hadir lagi, dan gue nggak mau lo hilang lagi. Tapi, nyatanya gue kehilangan lo karena ulah gue sendiri. Sekali lagi, maaf. Gue ngaku salah."


Resha menelan saliva susah payah mendengar penjelasan Genathan. Hatinya masih berdebar. Suara Genathan masih membuat berdesir. Resha tidak mengelak, perasaannya masih bertuan pada Genathan.


"Gue paham, kita sama-sama perlu jeda buat mengerti ini semua. Silahkan jalani hidup tanpa gue dulu, Res. Gue juga perlu berdamai menerima ini semua. Gue nggak mau ngegas ngajak balikan, karena gue paham lo juga perlu waktu. Tapi, lo harus janji untuk selalu baik-baik aja." Genathan menunduk dengan tangan yang menggenggam tangan mungil Resha. Sedangkan Resha rasanya kelu untuk bersuara.


"Kakak mau kemana?" tanya Resha serak.


"Nggak kemana-mana kok. Gue tetep ada di sekitar lo. Gue cuma mau nenangin diri dulu, karena gue yakin lo juga perlu jeda itu. Hati gue tetep buat lo. Gue nggak mau memaksakan, gue mau memantaskan diri dulu,” jelas Genathan dengan lebih lirih.


Resha paham. Benar kata Genathan, jeda itu perlu.


***


Kalau lagi ada di fase ini, emang jeda itu perlu gak sih? Gak nyangka kan ternyata hidup Genathan sesulit itu.


Lukanya terlalu besar.


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.


See you next chapter all.

__ADS_1


Thanks for reading all.


__ADS_2