
Terkadang, perlu jeda untuk memahami, "Sebenarnya kita ini kenapa?"
*
Resha masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Genathan. Ia kira marahnya dapat dimengerti oleh Genathan. Namun, cowok itu masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di antara hubungan mereka. Marahnya Resha, seolah bukan masalah besar. Pesannya yang terakhir ketika bilang tidak usah antar jemput Resha sebelum Genathan sadar diri, tidak digubris. Cowok itu justru mengalihkan topik di malam harinya. Menciptakan kesan seolah chat sebelumnya tidak pernah ada.
Resha yang sudah kepalang kesal, memilih merespon chat seadanya. Toh intensitas interaksi keduanya di chat tidak seintens dulu. Genathan yang bertanya apakah sudah makan. Genathan bilang setelah kelas akan main bersama teman-teman. Genathan mengabari akan ke bioskop bersama teman-temannya secara mendadak.
Resha rasanya sudah bosan. Ia jadi kepikiran, sebenarnya di sini hanya dirinya kah yang merasa hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja? Merasa tidak seharusnya hubungan ini begini-begini saja, Resha menghubungi Genathan. Resha ingin mereka berdua berbicara dengan benar. Resha sebenarnya tidak suka dengan keadaan seperti ini lama-lama. Rasanya Genathan jadi jauh padahal cowok itu tidak kemana-mana.
Malam itu ketika dirinya menolak bertemu Genathan, Resha akui dia memang salah. Genathan sudah berusaha menemuinya, tetapi ia masih enggan. Oleh karena itu, sekarang Resha bertekad memulai menghubungi Genathan. Ia singkirkan segara perasaan gengsi dan kesal.
Resha memulai panggilan telepon. Berharap Genathan meresponnya dengan segera. Namun, sampai dua kali percobaan pun belum ada respon dari Genathan. Sebelumnya Genathan tidak bilang hendak kemana dan bagaimana kegiatan cowok itu, jadi Resha tidak tahu.
"Res, mau ikut nggak ntar malem?" tanya Delia membuat Resha mengerjap kaget.
"Kemana?" Resha bertanya balik.
"Nonton bioskop. Biar nggak sumpek ini kelas 12 kok gini banget, ya," oceh Delia
"Ntar ya gue mikir dulu. Gue pengen ketemu Kak Gege hari ini," jawab Resha.
Delia mengangguk-angguk paham. "Oke deh, ntar lo kabarin lagi. Gue mau ke BK dulu ye mau konsultasi," pamit Delia lalu beranjak dari kursinya. Akhir-akhir ini memang Delia lebih sering ke BK untuk konsultasi jurusan perkuliahan nantinya.
Tidak lama kemudian, ponsel Resha berbunyi. Dengan antusias Resha mengecek siapa nama yang tertera di sana. Akhirnya, Genathan menghubungi juga. Tidak banyak mikir, Resha langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo," ucap Resha
"Halo, Res. Tadi ada apa nelpon? Sorry, ya, Kakak ada kelas pengganti tadi. Enggak sempet ngabarin juga." Genathan memberikan penjelasan.
"Oh iya, nggak papa, Kak. Aku mau bicara sama Kakak aja," jawab Resha.
"Bicara soal apa?" tanya Genathan.
"Banyak hal, Kak," balas Resha.
"Oke, Kakak dengerin." Genathan dengan senang hati mendengarnya.
"Boleh ketemu aja nggak, Kak? Nanti Kakak luang nggak?" pinta Resha.
"Ketemu, ya?" ulang Genathan. Setelahnya hanya ada keheningan. Sepertinya Genathan sedang berpikir.
"Sebenarnya tadi Kakak udah iyain ajakan temen-temen main," jawab Genathan.
Itu bukan jawaban yang diinginkan Resha. Resha maunya Genathan mengiyakan ajakannya. Baru saja Resha hendak menjawab, tapi Genathan terlebih dahulu berbicara.
"Kalau sehabis Kakak main mau? Jadi biar waktunya lebih banyakan sama kamu. Nanti Kakak sama temen-temen sampai sore doang kok jam 5. Habis maghrib, ya, kita ketemunya. Gimana?"
Setidaknya, Genathan memberikan alternatif solusi dan itu membuat Resha menjadi lebih senang.
"Oke, Kak. Kakak main kemana?"
__ADS_1
"Ke mall, Res, nonton bioskop. Ini ditraktir temen Kakak yang ulang tahun."
"Oh, nanti ketemunya di mall aja gimana, Kak? Biar Kakak nggak usah jauh-jauh pindah tempat. Aku ke sana sendiri bisa kok." Resha memberikan penawaran.
"Boleh-boleh. Makasih, ya, udah ngertiin Kakak. Nanti kamu hati-hati di jalannya."
Dan begitulah percakapan mereka. Resha berharap, kali ini dapat benar-benar memperbaiki hubungan mereka. Resha merasa asing. Resha ingin kembali seperti yang dulu lagi.
*
"Habis maghrib kan isya, ya. Makanya sampai sekarang Kak Gege belum dateng," oceh Resha entah pada siapa.
Resha sudah sampai sejak pukul 18.30. Ia juga sudah mengabari kekasihnya bahwa ia menunggu di foodcurt. Namun, hingga pukul 19.15 belum juga ia lihat sosok Genathan. Pesannya tidak dibalas. Sepertinya, Genathan mematikan data selulernya karena pesannya hanya centang satu.
Kalau sudah begini, bagaimana Resha tau bahwa Genathan tidak lupa akan janji yang sudah mereka buat sebelumnya?
"Loh, lo belum ketemu Kak Gege, Res?" Suara Delia yang tiba-tiba menyapa indra pendengarannya membuat Resha menengok.
Ada Delia dengan tangannya yang memegang popcorn bioskop. Ada juga Arik di sampingnya.
"Gue kaget. Lo bisa nggak, nggak usah ngagetin gue?" omel Resha.
Delia meringis.
"Tadi kayaknya kita udah lihat Bang Gege keluar deh," celetuk Arik.
Resha mengalihkan tatapannya ke Arik. "Hah? Gimana-gimana? Lo lihat dimana?"
"Beneran Kak Gege?" Resha memastikan lagi.
"Iya, beneran. Tadi gue sempet sapa dia juga kok. Walaupun nyapa-nyapa doang, nggak ada interaksi lagi. Tuh Delia saksinya." Arik meyakinkan dan Delia pun menganggukkan kepalanya.
"Terus dia kemana, ya? Di chat centang satu doang," bingung Resha.
"Ya udah ini kita temenin di sini, ya, Res, sampai ketemu Kak Gege," tawar Delia.
"Eh, nggak usah. Ngerepotin, kalian kan mau pacaran," tolak Delia.
"Nggak papa, Res, santai," timpal Arik.
Baru saja Delia dan Arik duduk, teriakan seseorang membuat mereka sontak mengalihkan pandangan.
"GE!"
Resha membulatkan matanya melihat pemandangan itu. Seorang perempuan tiba-tiba saja datang memeluk seorang pemuda yang sedang bersama satu temannya. Dan pemuda yang dipeluk itu ... adalah pacarnya alias Genathan.
"Gue ... salah lihat nggak?" lirih Resha yang masih bisa didengar Delia dan Arik.
Delia dan Arik hanya bisa mengangguk kaku.
Resha tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Genathan, tetapi cowok itu terlihat khawatir.
__ADS_1
"Gue kesini tuh mau balikan yang beneran sama dia. Kok malah gini?" ucap Resha masih lemas.
"BANG GE!" Arik ikut berteriak. Tidak peduli Resha setuju atau tidak, yang terpenting Genathan menyadari bahwa ada kekasihnya yang menunggu cowok itu di sini.
Genathan menoleh. Di sana ia melihat Resha yang juga tengah menatapnya. Sedangkan satu tangan Genathan masih memegang pundak gadis yang ada di sana.
Saat itu, waktu seolah berhenti. Mata keduanya saling terkunci. Namun, makna tatap itu berbeda. Ada tatapan kecewa. Ada juga tatapan terkejut dan bersalah.
Begitu menyadari keadaan, Genathan melepaskan tangannya. Ia berpamitan kepada kedua temannya lalu segera menghampiri tempat Naresha berada.
Resha tidak berlari atau menghindar. Gadis itu tetap berada di posisinya. Tenaganya rasanya terkuras habis. Ia sudah menunggu lama-lama, tetapi hal seperti ini yang harus ia terima.
"Resha," panggil Genathan begitu sampai di depannya dengan nafas yang ngos-ngosan.
Delia dan Arik yang merasa perlu memberikan ruang untuk pasangan itu, memilih beranjak. Tidak lupa pamitan sejenak terhadap Resha. Meskipun sebenarnya Delia sangat khawatir dengan sahabatnya itu. Namun, Arik menenangkan dan bilang akan menunggu Resha di tempat lain saja.
"Resha, sorry," ucap Genathan yang sudah duduk di bangku terdekat Resha.
"Ini apa lagi, sih, Kak?" tanya Resha dengan nada lelah.
"Aku ajak Kakak ketemu, mau bicarain tentang kita. Masalah yang kemarin aja belum selesai, ini Kakak ngapain lagi?" sambung Resha.
"Res, sorry. Kakak nggak maksud aneh-aneh. Tadi itu teman Kakak doang," bales Genathan.
"Temen apaan yang tiba-tiba peluk Kakak kayak gitu? Temen apaan yang Kakak sampai harus pegang pundaknya? Kak, Kakak tuh sebenernya sadar nggak, sih, kita ini juga lagi nggak baik-baik aja. Kita masih belum bisa beradaptasi dengan baik. Kita nggak pernah bener-bener baik aja, kita cuma pura-pura seolah nggak ada apa-apa. Aku ajak Kakak mau bicara baik-baik, biar sama-sama tau maunya apa. Aku nunggu Kakak dari tadi, hampir 1 jam dan Kakak nggak ada kabar sama sekali. Terus aku malah lihat kayak gini. Kak ... aku capek," ungkap Resha dengan melirihkan kalimat terakhirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Meski begitu, ia tetap tidak mengungkapkannya dengan nada berteriak. Ia cukup sadar diri untuk tidak membuat kericuhan yang kelihatan jelas di tempat umum.
"Resha, kali ini dengerin penjelasan Kakak, ya? Kakak juga punya banyak hal yang mau disampaikan ke kamu, termasuk yang kamu lihat tadi," mohon Genathan.
"Perasaan Kakak masih sama nggak ke aku?" Tiba-tiba saja Resha bertanya demikian.
"Kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu?" Genathan bertanya balik dengan nada terkejut.
"Jawab aja, Kak."
"Masih dan akan selalu sama. Kamu enggak ada gantinya, Resha," jawab Genathan mantap.
"Kak, aku pengen denger penjelasan Kakak. Aku pengen denger sudut pandang Kakak. Aku juga masih pengen ungkapin yang lain. Aku pengen kita nggak kayak gini berkelanjutan. Tapi, Kak, kali ini aku rasanya capek banget dan nggak ada tenaga untuk itu semua," ujar Resha.
Resha menjeda sejenak ucapannya sebelum akhirnya berkata, "Kak, kita break dulu aja, ya."
*
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
Thank for Reading All
__ADS_1