
Temu tanpa rencana dan percakapan sederhana. Sesederhana itu arti bahagia.
*****
Hari Sabtu yang tenang untuk Resha bergulat dengan selimut dan menyelami alam mimpi lebih lama. Mamanya ada arisan bersama teman-temannya. Sedangkan sang papa sudah berangkat kerja. Gadis itu belum beranjak dari tempat tidur meski matahari sudah beranjak naik. Semalaman ia membaca ******* hingga habis tiga kisah. Jam tidurnya memang berantakan jika sudah masuk weekend.
"Mbak Resha, itu di bawah ada yang cari," suara dari pembantunya tidak mendapat respon apapun dari Resha. Gadis itu hanya menggeliat dan memeluk guling erat. Suara ketukan pintu kini sudah terdengar tidak sabaran untuk terus membangunkan anak dari majikannya tersebut.
"Mbak Resha," panggil Bibi sekali lagi.
"Resha masih ngantuk, Bi. Bibi temuin aja," jawab Resha serak. Resha benar-benar masing mengantuk, hingga untuk membuka matanya saja Resha engga.
"Tapi…." Ucapan Bibi terpotong dengan suara dari luar.
"PERMISI, PAKET!" Resha langsung membelalakkan mata dan bangkit duduk dari tidurnya. Gadis berpiyama pororo itu lari ke arah jendela. Mendapati seorang pemuda yang masih menggunakan helm tampak menekan-nekan bel rumah Resha.
Ah, ya. Resha baru ingat ia memesan sepatu di online shop milik Genathan. Dengan tergesa gadis itu berlari membuka lemarinya. Mengambil asal baju yang ada di sana lalu segera menuju kamar mandi. Ia hanya membasuh wajah, gosok gigi kilat, lalu mengganti bajunya. Ternyata yang ia ambil kali ini adalah training berwarna hijau dengan dua garis memanjang berwarna putih pada bagian saku ke bawah, dan kaos berwarna merah.
"Buset ini warna kenapa nabrak banget, sih," rutuk Resha saat melihat tampilan dirinya di cermin.
"Mbak Resha, mas paketnya teriak lagi, tuh. Ini masakan Bibi hampir gosong, Mbak," teriak Bibi dari dapur.
Resha mengembuskan napas pelan. Toh yang mengantar bukan Genathan, untuk apa harus cantik-cantik? Resha mengambil dompetnya yang tergeletak di meja, lalu melangkah turun.
Rumah sebesar ini sepi. Hanya ada dirinya dan asisten rumah tangga yang pulang pukul lima nanti. Resha membuka pintu rumahnya, lalu berlari menuju gerbang. Gadis itu tampak kesusahan mendorong gerbang. Pemuda yang mengantar paket peka, ikut membantu Resha mendorong gerbang dengan helm yang masih bertengger di kepalanya.
"Maaf, Mas, nunggu lama," cakap Resha dengan mengulas senyum dan merapikan rambutnya yang masih berantakan karena Resha terlalu buru-buru dan berlari menuju gerbang.
Pengantar paket itu menuju motornya. Membuka helm dan menaruhnya ke atas jok motor. Lalu mengambil plastik putih yang sudah ada di atas jok motor. Sedangkan Resha masih mengamati baju merahnya yang nabrak dengan training hijau. Ditambah sekarang ia mengenakan sandal biru miliknya. Resha geli sendiri melihat dirinya seperti cosplay pelangi.
"Halo, saya dari toko sepatu bentala hendak mengantarkan paket sepatu Kakak."
Resha mendelik. Suara berat ini, Resha mengenalnya. Gadis itu mendongak. Pengantar paket itu tersenyum ramah berbeda dengan Resha yang sudah memelototkan matanya.
“Kak Gege?” cicit Resha pelan yang tak bisa di dengar oleh Genathan.
Bagaimana bisa cowok ini ada di sini sedangkan dari story instagramnya kemarin, sedang ada di stasiun? Resha ingin kabur saja. Apalagi penampilannya sekarang benar-benar memalukan untuk bertemu Genathan. Resha mengembuskan napas pelan dengan memejamkan mata. Merutuki kebodohannya sekarang dan mengendalikan dirinya.
"Halo?" sapa Genathan saat tak mendapatkan respon dari Resha.
Resha mengerjap. "A-ah, ya, Kak."
Genathan memiringkan kepalanya. Tampak meneliti wajah Resha dengan telunjuk yang bergerak-gerak seolah berusaha mengingat. Detik selanjutnya, cowok itu menjentikkan jari. "Lo yang kemarin nggak sengaja ketabrak gue bukan?" tanya Genathan saat menyadari wajah Resha yang terlihat tak asing.
__ADS_1
Resha mengangguk pelan dan kaku.
"Oalah anak Cakrawala juga toh ternyata," celetuk Genathan menyebut nama sekolah mereka. "Gue baru tau soalnya, jarang denger nama lo," lanjutnya.
Resha hanya tersenyum kecut. Tidak disadari sebagai murid SMA Cakrawala sudah biasa untuk Resha. Namun, rasanya tetap berbeda jika yang mengucapkannya adalah Genathan.
Genathan membuka plastik yang ia bawa. Terpampang kardus berwarna coklat dengan label kertas putih di atasnya. "Naresha, ini pesanannya. Boleh dicoba dulu, kok."
Resha menerima kardus yang diserahkan oleh Genathan. "Kok ... kok Kakak yang nganter?" tanyanya ragu.
Genathan mengangkat alis lalu terkekeh geli. "Lah? Emang kenapa kalau gue? Owner nggak boleh nganter? Atau lo mau ketemu temen gue yang lain, ya? Hayo ngaku," goda Genathan.
Resha menghela napas samar. Dalam hati menyugestikan dirinya supaya tetap tenang. Untuk apa ia ingin bertemu teman Genathan yang lain, jika yang Resha mau hanya Genathan. Tetapi, tidak mungkin juga Resha mengungkapkan apa yang kemarin ia lihat di story instagramnya. Bisa-bisa, ketahuan kalau selama ini ia menjelma menjadi stalker.
"Hei malah ngelamun. Itu bisa dicoba dulu kalau mau. Mau dicoba nggak?" tegur Genathan yang lagi-lagi membuyarkan lamunan Resha.
"Ma-maaf, Kak. Eung ... nanti aku coba di dalem aja, deh," tolak Resha halus.
Genathan mengangguk paham. "Oke deh nggak papa."
Resha memeluk kardus itu dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain merogoh saku training untuk mengambil dompet. Ia terkesiap begitu ada yang mengambil kardus sepatu itu dari peukannya.
Ia mendongak. Menatap Genathan—si pelaku yang justru tersenyum tipis. "Kalau butuh bantuan bilang," tuturnya.
"Paketnya silakan diterima, Kakak," cetus Genathan menyerahkan lagi paket sepatu Resha yang langsung saja diterima oleh gadis itu dengan tersenyum geli.
Mereka bertukar. Sekarang, sepatu sudah di pelukan Resha, sedangkan uang sudah di genggaman Genathan. Pemuda itu tampak fokus menghitung uang dari Resha. Resha dapat mengamati dengan jelas pahatan tampan wajah pemuda yang sudah hampir empat tahun ini singgah di hatinya. Jantungnya masih saja berdebar.
"Udah pas, kok. Makasih, ya," kata Genathan.
Resha mengangguk. "Iya, Kak, sama-sama. Aku ... masuk dulu, ya," pamit Resha padahal ingin lebih lama bersama Genathan.
"Eh sebentar," cegah Genathan membuat Resha mengulum bibir menahan senyum.
"Ke-kenapa, Kak?" tanya Resha sedikit gugup juga bingung.
Genathan berdehem. Mengambil ponsel yang ada dalam saku celananya. "Boleh minta foto?"
Resha mengerjap untuk sekian kalinya. Kesadarannya selalu banyak tersisa oleh Genathan. Rasanya ia sedang terbang melayang tinggi ketika Genathan berkata demikian. Apa jangan-jangan, Genathan mulai ingat kalau dua tahun lalu mereka pernah berfoto bersama? Pikiran Resha mulai berkelana kemana-mana. Memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
Namun, semuanya diruntuhkan ketika Genathan berkata, "Ini buat testi kok, Dek. Kalau lihat di sorotan instagram online shop gue, kan ada bagian COD sama testimoni. Nah, ini buat bukti kalau COD kita berjalan lancar. Nanti soal testi, chat aja di nomor yang kemarin," imbuh Genathan menerangkan.
Runtuh semua ekspetasi Resha ketika hanya dijadikan sebatas testimoni.
__ADS_1
"Gimana? Boleh nggak?" tanya Genathan lagi.
Resha mengangguk pelan. Hitung-hitung membantu Genathan. "Tapi, setengah badan aja ya, Kak. Soalnya ..." Resha tidak melanjutkan ucapannya. Justru menunduk menatap pakaiannya.
Genathan yang mengerti terkekeh pelan. "Iya, setengah badan, kok. Kalau minta wajahnya disensor juga boleh. Kami juga menghargai privasi pelanggan, kok," papar Genathan.
Resha tersenyum. "Iya, Kak, nanti disensor, ya. Malu masuk sorotan," cengir Resha. Tanpa sadar sudah dapat mengendalikan dirinya ketika berhadapan dengan Genathan.
"Oke. Yuk, gue foto," ujar Genathan.
Resha membuka plastiknya. Kini mengangkat kedua kardus itu ke depan badannya, lalu tersenyum kaku.
"Senyumnya jangan terpaksa gitu, Dek. Enjoy aja," tegur Genathan.
"Kan nanti juga disensor, Kak," kilah Resha. Namun, tak urung ia tersenyum lebih tulus kali ini.
Genathan ikut tersenyum melihatnya. Kini mengambil potret Resha bersama dengan kardus sepatunya. "Udah, nih," tandas Genathan sembari tersenyum menatap hasil bidikannya.
"Terima kasih banyak, ya. Semoga suka dan puas sama sepatunya. Ditunggu order selanjutnya ya, Dek," cakap Genathan ramah.
Resha tersenyum. "Makasih juga ya, Kak."
"Iya, gue balik dulu, ya. Semoga hari Sabtunya menyenangkan," pungkas Genathan lalu berbalik ke motornya. Memakai helm, lalu menyalakan mesin motornya. Sebelum mengendarai, Genathan menyempatkan diri untuk melambaikan tangan pada Resha. Resha terkesiap, tak urung membalas lambaian tangan Genathan dengan kaku.
Setelahnya, Genathan menghilang dari pandangan Resha. Resha tersenyum, memeluk sepatunya dengan hati berbunga-bunga.
Metode cash on delivery bersama Genathan, sangat menyenangkan.
"Ini bukan cash on delivery. Tapi love on delivery," gumam Resha terkikik geli.
***
Devinisi cinta ya, dari suara aja bisa hapal gitu.
Btw kalau aku jadi Resha kayaknya mending menenggelamkan diri aja, malu sendiri sama penampilan pas ketemu doi.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
__ADS_1
Thanks for reading all.